
Oleh: Andina Meutia Hawa
(Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)
Jagat media sosial belakangan diramaikan oleh potongan video klip Naksir, single terbaru penyanyi Andien. Selain menandai kembalinya Andien dengan karya musik terbaru, video klip tersebut menarik perhatian berkat konsep visualnya yang menampilkan 13 selebritas laki-laki Indonesia dari berbagai generasi dan bidang seni. Mulai dari Adrian Maulana, Amink, Ario Bayu, Dion Wiyoko, Rony Parulian, trio Laleilmanino, Wijaya 80, Kev, Adrian Khalif, Bertrand Antolin, Ariyo Wahab, Basboi, hingga Ippe, suami Andien sendiri; semuanya hadir dalam satu frame dengan persona yang beragam.
Konsep video klip ini cukup sederhana. Para selebritas tersebut mengenakan kaus hitam atau putih dan celana jins, lalu berganti ke berbagai kostum. Mereka tersenyum, berpose di depan kamera, melompat, dan bertingkah lucu. Sesekali, kamera menyorot bahu, perut, atau bagian tubuh lain yang menjadi daya tarik visual. Sementara itu, Andien hadir seolah-olah sedang mengamati mereka, layaknya seorang casting director yang sedang memilih pemeran untuk filmnya. Respons warganet pun bermunculan. Salah satu komentar di kanal YouTube resmi Andien menyebut video tersebut sebagai “puncak female gaze dalam artian positif”.
Di Threads, pengguna lain membuat utas berisi pilihan selebritas laki-laki yang ingin mereka masukkan jika berkesempatan membuat versi alternatif video klip tersebut. Nama-nama seperti Nicholas Saputra dan Iqbaal Ramadhan ikut disebut. Saya pun tidak ketinggalan meramaikan utas tersebut. Namun, bagaimana jika seorang penyanyi laki-laki menghadirkan 13 selebritas perempuan dengan konsep serupa? Akankah warganet memberikan respons yang sama?
Industri hiburan telah lama menampilkan perempuan sebagai daya tarik visual. Sampul majalah, iklan kecantikan, kontes kecantikan, film, hingga video musik kerap menempatkan penampilan fisik perempuan sebagai salah satu unsur utama untuk menarik perhatian. Fenomena ini tidak serta-merta bermasalah. Persoalan terletak pada bagaimana perempuan direpresentasikan, siapa yang menentukan cara mereka ditampilkan, dan apakah mereka memiliki agensi atau hanya diposisikan untuk memenuhi perspektif pihak lain.
Dalam kajian film, persoalan tersebut kerap dibaca melalui konsep male gaze yang diperkenalkan oleh Laura Mulvey dalam esainya berjudul Visual Pleasure and Narrative Cinema (1975). Mulvey mengkritik cara sinema mainstream membangun perspektif yang menempatkan laki-laki sebagai subjek yang melihat dan bertindak, sementara perempuan diposisikan sebagai objek yang dilihat dan dinikmati. Dengan demikian, male gaze tidak hanya terkait dengan siapa yang memandang siapa, tetapi juga bagaimana kamera, narasi, dan sudut pandang membentuk pengalaman menonton.
Kritik terhadap male gaze membantu kita memahami mengapa representasi perempuan tidak cukup dinilai hanya dari penampilan mereka di layar. Perempuan dapat tampil cantik, menarik, atau sensual. Namun, kita juga perlu mempertanyakan apakah mereka ditampilkan sebagai individu dengan kehendak dan pengalamannya sendiri, atau sebatas sebagai objek tatapan. Keragaman representasi di media menjadi penting agar perempuan tidak terus-menerus dibatasi oleh satu standar kecantikan atau peran tertentu.
Pembatasan terhadap ekspresi hasrat perempuan juga bukan sesuatu yang muncul begitu saja. Priyatna (2013) mencatat bahwa hasrat perempuan yang diekspresikan di luar ruang privat dan ranah domestik kerap digambarkan sebagai penyimpangan, kesalahan, bahkan dosa. Perempuan tentu memiliki hasrat dan preferensi visual, tetapi ekspresinya kerap berhadapan dengan tuntutan sosial agar tidak terlihat terlalu agresif atau terang-terangan. Dalam konteks tersebut, kehadiran Naksir menjadi menarik karena memperlihatkan perempuan sebagai pihak yang dapat menunjukkan ketertarikan dan menikmati daya tarik laki-laki.
Dari sini, kita dapat memahami female gaze sebagai cara pandang yang menantang dominasi male gaze dengan membuka ruang bagi pengalaman, perspektif, dan hasrat perempuan sebagai subjek yang memandang, bukan hanya sebagai objek yang dipandang.
Dalam konteks Naksir, para selebritas yang menjadi model dalam video klip tersebut menunjukkan berbagai persona yang lekat dengan citra mereka di dunia hiburan sekaligus menghadirkan beragam bentuk maskulinitas. Representasi laki-laki yang ditampilkan di video tidak terpaku pada satu gambaran ideal tentang maskulinitas maupun standar ketampanan yang seragam. Masing-masing memiliki karakter dan daya tarik tersendiri, sehingga menawarkan beragam kemungkinan tentang sosok laki-laki yang dapat menarik perhatian perempuan.
Lirik dan visual dalam Naksir berkelindan dalam menggambarkan pengalaman perempuan ketika mengagumi seseorang. Video klip ini memperlihatkan bahwa perempuan boleh tertarik pada senyum, penampilan, atau tingkah seseorang tanpa harus merasa malu atau bersalah karenanya, sebagaimana halnya ketika mengagumi laki-laki karena prestasi, kecerdasan, atau kepribadiannya. Naksir seolah merayakan perasaan kagum tersebut sekaligus menegaskan bahwa perempuan boleh mengungkapkan ketertarikannya kepada laki-laki, tanpa perlu meminta maaf karena memiliki hasrat. Sejatinya, mengagumi seseorang karena penampilannya pun tidak serta-merta menjadikan perempuan dangkal.
Meskipun demikian, kehadiran laki-laki sebagai objek tatapan tidak lantas berarti relasi kuasa telah berbalik. Menampilkan laki-laki yang menarik secara visual tidak dengan serta-merta dapat dimaknai sebagai tindakan objektifikasi, sebagaimana menampilkan perempuan yang cantik juga tidak selalu berarti mereduksi mereka menjadi objek. Satu hal yang juga perlu diperhatikan adalah bagaimana seseorang dibingkai: apakah ia tetap hadir sebagai individu yang utuh atau hanya sebagai tampilan fisik yang ditujukan untuk dinikmati penonton.
Kembali pada pertanyaan di awal tulisan. Jika seorang penyanyi laki-laki membuat video klip dengan konsep serupa, menghadirkan selebritas perempuan yang berganti busana, berpose, bercanda, dan sesekali ditampilkan melalui sorotan bagian tubuh tertentu, apakah akan direspons dengan cara yang sama?
Bisa jadi sebagian penonton memandang konsep video klip tersebut sebagai sesuatu yang menyegarkan. Namun, tidak sulit membayangkan kemunculan kritik tentang objektifikasi perempuan, standar kecantikan, atau kebiasaan industri hiburan menjadikan tubuh perempuan sebagai komoditas visual. Apakah perbedaan respons tersebut menunjukkan standar ganda?
Tidak selalu. Representasi laki-laki dan perempuan memiliki sejarah yang berbeda. Ketika perempuan telah lama menghadapi penilaian berdasarkan penampilan fisik, perubahan posisi dalam satu video musik tidak serta-merta menghapus ketimpangan yang telah ada. Oleh sebab itu, kedua situasi tersebut tidak dapat disamaratakan hanya berdasarkan siapa yang muncul di depan kamera.
Meski begitu, pertanyaan tersebut tetap penting. Ketika kita merayakan Naksir sebagai bentuk female gaze, apa sebenarnya yang dirayakan? Apakah kebebasan perempuan untuk menjadi subjek yang memiliki hasrat, atau kesenangan karena mereka untuk sesaat menempati posisi yang lebih sering diberikan kepada laki-laki? Keduanya dapat hadir bersamaan. Video klip ini menawarkan pengalaman visual yang menyenangkan sekaligus membuka ruang bagi perempuan untuk menunjukkan siapa yang menarik bagi mereka.
Pada akhirnya, kritik terhadap male gaze tidak harus selalu berujung pada pertukaran posisi antara pihak yang memandang dan pihak yang dipandang. Perempuan dapat memiliki hasrat dan mengungkapkan ketertarikan, sementara laki-laki juga tetap boleh hadir sebagai individu yang tidak hanya dinilai dari wajah atau tubuhnya.
Barangkali, Naksir tidak perlu diperlakukan sebagai seruan feminis untuk dapat dinikmati. Video klip ini tetap menjadi hiburan sekaligus bahan percakapan tentang gender dan budaya populer. Daya tariknya tidak hanya terletak pada kehadiran 13 selebritas laki-laki dalam satu video, tetapi juga pada respons yang muncul ketika perempuan diberi ruang sebagai pihak yang memilih dan menikmati.
Video klip Naksir mungkin dapat memberikan kesejukan pada mata melalui kehadiran para laki-laki yang tampil di layar. Namun, boleh jadi kita juga memaknainya sebagai bagian dari upaya membangun budaya visual yang memungkinkan perempuan memandang, menginginkan, dan menentukan pilihan, tanpa mereduksi siapa pun menjadi sekadar tontonan.








