Minggu, 01/11/26 | 14:07 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Proses Eksperimen Unit 731 dalam Perspektif Sosiologi Sastra

Minggu, 01/11/26 | 12:42 WIB

Oleh: Tri Sutrisman
(Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

Bagaimana jika sebuah laboratorium yang seharusnya digunakan untuk menyelamatkan kehidupan justru menjadikan manusia sebagai bahan percobaan? Pertanyaan tersebut membawa kita pada salah satu halaman paling kelam dalam sejarah Perang Dunia II, yaitu Unit 731 milik Kekaisaran Jepang. Unit ini bukan sekadar fasilitas penelitian medis, melainkan bagian dari program perang biologis Jepang yang beroperasi di Manchuria yang digambarkan melalui novel dan film. Di tempat tersebut, pengetahuan medis, kekuasaan militer, dan kepentingan perang bertemu dalam sebuah sistem yang menjadikan manusia sebagai objek penelitian. Jika dilihat melalui sosiologi sastra, tragedi Unit 731 tidak hanya dapat dipahami sebagai kekejaman individu, tetapi gambaran tentang sebuah sistem sosial yang dapat mengubah cara manusia memandang manusia lainnya.

Awal perkembangan Unit 731 berkaitan erat dengan Shirō Ishii, seorang dokter dan perwira medis Jepang. Pada masa setelah Perang Dunia I, perkembangan senjata biologis mulai menjadi perhatian berbagai negara. Ishii melihat bahwa penyakit dapat digunakan sebagai bagian dari strategi perang. Ketika Jepang memperluas kekuasaannya ke Manchuria pada awal 1930-an, wilayah tersebut memberikan kesempatan bagi pengembangan penelitian secara rahasia. Ishii kemudian memperoleh dukungan dari lingkungan militer untuk membangun fasilitas penelitian di wilayah pendudukan Jepang.

Fasilitas penelitian awal berkembang menjadi kompleks besar di Pingfang, dekat Harbin. Pada 1936, organisasi tersebut secara resmi menjadi bagian dari struktur Angkatan Darat Kekaisaran Jepang dengan nama yang berkaitan dengan pencegahan epidemi dan penyediaan air. Nama resmi tersebut memberikan kesan bahwa kegiatan mereka berhubungan dengan kesehatan masyarakat. Di balik nama tersebut, terdapat program penelitian yang berkaitan dengan pengembangan perang biologis. Kompleks Pingfang kemudian memiliki ribuan personel, termasuk dokter, ahli mikrobiologi, teknisi, dan anggota militer.

BACAJUGA

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Paradoks Representasi Subaltern dalam Novel Saman

Minggu, 01/11/26 | 12:50 WIB
Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

Minggu, 01/11/26 | 12:26 WIB

Proses eksperimen dimulai dengan penangkapan manusia yang kemudian ditempatkan sebagai tahanan. Para korban berasal dari berbagai kelompok, terutama penduduk Tiongkok di wilayah pendudukan Jepang. Ada pula korban dari Korea, Uni Soviet, Mongolia, serta tawanan perang lainnya. Mereka tidak memberikan persetujuan untuk menjadi subjek penelitian. Identitas mereka juga dihilangkan dalam sistem penahanan. Dalam sejumlah kesaksian, para tahanan disebut dengan istilah maruta, yang berarti “batang kayu”. Istilah tersebut bukan sekadar sebutan, melainkan memperlihatkan proses dehumanisasi karena manusia diperlakukan seperti benda yang dapat digunakan dan dibuang.

Setelah ditahan, korban ditempatkan dalam fasilitas yang terpisah dari masyarakat umum. Para peneliti kemudian menentukan jenis penelitian yang akan dilakukan. Salah satu perhatian utama Unit 731 adalah penyakit menular. Mereka meneliti berbagai penyakit seperti pes, kolera, tifus, antraks, dan penyakit lainnya. Tujuannya bukan hanya memahami penyakit, tetapi juga mengetahui kemungkinan penggunaannya dalam peperangan.

Dalam penelitian tersebut, tubuh manusia diperlakukan sebagai sumber informasi biologis. Para peneliti mengamati perkembangan penyakit dan perubahan kondisi tubuh korban. Beberapa penelitian dilakukan untuk mengetahui bagaimana suatu penyakit berkembang dari tahap awal sampai tahap yang lebih berat. Pemeriksaan medis dilakukan tanpa persetujuan korban. Dalam sejumlah kasus, korban tidak diberikan kesempatan untuk mendapatkan perawatan sebagaimana pasien biasa karena tujuan utama penelitian adalah memperoleh data.

Selain penelitian penyakit, Unit 731 juga melakukan penelitian mengenai kemampuan tubuh manusia bertahan terhadap berbagai kondisi ekstrem. Penelitian tersebut berkaitan dengan kebutuhan militer, terutama mengenai bagaimana tubuh dapat bereaksi terhadap kondisi lingkungan tertentu. Ada pula penelitian yang berkaitan dengan bahan kimia dan agen biologis. Semua kegiatan tersebut menunjukkan bahwa tubuh manusia ditempatkan sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan yang dapat dimanfaatkan oleh militer.

Salah satu bagian penting dalam sistem Unit 731 adalah pengembangan perang biologis. Peneliti tidak berhenti pada eksperimen di laboratorium. Pengetahuan yang diperoleh kemudian digunakan untuk mengembangkan kemampuan penyebaran penyakit dalam konteks perang. Dengan demikian, terdapat hubungan antara laboratorium, militer, dan medan perang. Penelitian manusia menjadi bagian dari rantai yang lebih besar: korban digunakan untuk memperoleh pengetahuan, pengetahuan dikembangkan menjadi teknologi perang, kemudian teknologi tersebut dapat digunakan terhadap masyarakat yang lebih luas.

Di sinilah tragedi Unit 731 menjadi persoalan sosial. Kekerasan tidak hanya terjadi karena adanya individu yang melakukan tindakan kejam, tetapi karena terdapat struktur yang memungkinkan tindakan tersebut berlangsung. Militer menyediakan kekuasaan, fasilitas, dan perlindungan. Para peneliti menyediakan pengetahuan. Sementara itu, para korban berada dalam posisi yang hampir tidak memiliki kekuatan untuk menolak. Hubungan tersebut menunjukkan adanya relasi kuasa yang sangat tidak seimbang antara pelaku dan korban.

Jika menggunakan perspektif sosiologi sastra, proses tersebut dapat dibaca sebagai gambaran hubungan antara karya sastra dan kondisi sosial. Sastra tidak hanya berfungsi sebagai cerita, tetapi juga menjadi media untuk mempertanyakan sistem yang berada di balik suatu peristiwa. Karya yang mengangkat Unit 731 dapat memperlihatkan bahwa kekejaman tidak selalu lahir dari kebencian pribadi. Kekejaman juga dapat terbentuk melalui ideologi, institusi, hierarki, dan kepatuhan terhadap perintah.

Persoalan lain yang sangat penting adalah dehumanisasi. Ketika korban disebut sebagai “maruta”, identitas mereka sebagai manusia menjadi kabur. Mereka tidak lagi dipandang sebagai anak, orang tua, saudara, pekerja, atau anggota masyarakat. Mereka berubah menjadi “bahan penelitian”. Dalam perspektif sosiologi sastra, perubahan bahasa tersebut dapat dianalisis sebagai bagian dari mekanisme kekuasaan. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi dapat digunakan untuk membangun cara pandang tertentu terhadap kelompok lain.

Dehumanisasi tersebut membuat batas moral menjadi semakin mudah dihapus. Ketika seseorang tidak lagi dipandang sebagai manusia yang memiliki hak, tindakan yang seharusnya dianggap tidak dapat diterima dapat diposisikan sebagai bagian dari pekerjaan. Di sinilah hubungan antara bahasa, kekuasaan, dan kekerasan menjadi sangat penting. Sastra dapat membongkar proses tersebut dengan mengembalikan pengalaman korban ke dalam bentuk narasi yang memungkinkan pembaca melihat mereka sebagai manusia.

Penelitian Unit 731 juga memperlihatkan persoalan mengenai penyalahgunaan ilmu pengetahuan. Dokter dan peneliti memperoleh pendidikan untuk memahami kehidupan manusia, tetapi pengetahuan tersebut ditempatkan dalam kepentingan militer. Dalam kondisi tersebut, ilmu pengetahuan kehilangan fungsi kemanusiaannya. Pengetahuan tidak lagi diarahkan untuk mengobati penyakit, tetapi untuk memahami bagaimana penyakit dapat digunakan sebagai senjata.

Keadaan tersebut memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat dilepaskan dari masyarakat. Pengetahuan selalu berada dalam lingkungan sosial dan politik tertentu. Ketika institusi yang memiliki kekuasaan mengarahkan pengetahuan untuk kepentingan perang, hasilnya dapat berbeda dari tujuan kemanusiaan. Oleh karena itu, Unit 731 dapat menjadi bahan kajian sosiologi sastra untuk membahas hubungan antara ilmu pengetahuan, institusi, ideologi, dan kekuasaan.

Pada 1945, keadaan berubah ketika Jepang semakin terdesak dalam Perang Dunia II. Uni Soviet melancarkan serangan terhadap pasukan Jepang di Manchuria. Kekalahan Jepang semakin dekat. Dalam keadaan tersebut, keberadaan Unit 731 terancam terbongkar. Kompleks Pingfang kemudian dihancurkan dan sejumlah bukti mengenai kegiatan mereka dimusnahkan. Penghancuran fasilitas tersebut menjadi salah satu alasan mengapa jumlah korban secara pasti sampai sekarang sulit diketahui.

Berakhirnya perang tidak serta-merta mengakhiri persoalan Unit 731. Sejumlah personel kemudian diperiksa oleh pihak Amerika Serikat, sementara beberapa lainnya dibawa ke Uni Soviet dan menghadapi proses hukum dalam Pengadilan Khabarovsk pada 1949. Namun, tidak semua orang yang terlibat dalam program tersebut menerima hukuman melalui proses pengadilan. Situasi tersebut menimbulkan persoalan mengenai keadilan, kepentingan politik, dan perebutan informasi mengenai perang biologis.

Jika dibaca melalui sosiologi sastra, bagian setelah perang sama pentingnya dengan eksperimen itu sendiri. Ketika fasilitas dihancurkan dan dokumen dimusnahkan, sejarah menjadi tidak lengkap. Korban kehilangan kesempatan untuk menyampaikan pengalaman mereka secara langsung, sedangkan generasi berikutnya harus berusaha memahami masa lalu melalui kesaksian, dokumen yang tersisa, dan karya budaya. Dalam kondisi tersebut, sastra dapat berfungsi sebagai ruang ingatan.

Karya sastra yang mengangkat Unit 731 dapat memberikan sudut pandang yang berbeda dari buku sejarah. Sejarah dapat mencatat tahun, tempat, jumlah korban, dan nama tokoh, sedangkan sastra dapat menghadirkan pengalaman manusia di balik fakta tersebut. Melalui tokoh, konflik, dialog, ingatan, dan narasi, pembaca dapat memahami bagaimana kekuasaan memengaruhi kehidupan manusia.

Oleh karena itu, Unit 731 tidak seharusnya hanya dipahami sebagai cerita eksperimen medis yang mengerikan. Di baliknya terdapat persoalan sosial yang lebih luas: bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana manusia dapat didehumanisasi, bagaimana ilmu pengetahuan dapat disalahgunakan, bagaimana institusi dapat melegitimasi kekerasan, dan bagaimana masyarakat berusaha mengingat tragedi setelah peristiwa tersebut berakhir.

Dalam kajian sosiologi sastra, tragedi Unit 731 dapat ditempatkan sebagai contoh bagaimana karya sastra berhubungan dengan realitas sosial dan sejarah. Karya sastra yang mengangkatnya tidak hanya menceritakan masa lalu, tetapi juga mengajak pembaca melihat hubungan antara individu dan struktur sosial yang membentuk kehidupannya. Korban tidak lagi sekadar angka dalam catatan sejarah, melainkan manusia yang memiliki identitas, keluarga, dan pengalaman.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar yang muncul dari tragedi Unit 731 bukan hanya bagaimana eksperimen tersebut dilakukan, tetapi bagaimana sebuah masyarakat dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan manusia diperlakukan sebagai benda. Pertanyaan tersebut menjadikan Unit 731 relevan untuk dikaji melalui sosiologi sastra. Sastra dapat menjadi ruang untuk membongkar relasi kuasa yang tersembunyi di balik sejarah, menghidupkan kembali suara korban, dan mengingatkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan dapat berubah menjadi alat kekuasaan. Dengan demikian, mempelajari Unit 731 bukan sekadar mempelajari masa lalu, melainkan memahami bagaimana masyarakat, kekuasaan, dan manusia saling berhubungan dalam membentuk tragedi.

Tags: #Tri Sutrisman
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

Berita Sesudah

Paradoks Representasi Subaltern dalam Novel Saman

Berita Terkait

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Paradoks Representasi Subaltern dalam Novel Saman

Minggu, 01/11/26 | 12:50 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

Minggu, 01/11/26 | 12:26 WIB

Oleh: Rizky Amelya Furqan (Dosen Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas) Matilah kau mati, kau akan lahir...

Dari Sagu ke Pasar Digital: Peluang UMKM Lokal Menembus Batas

Dari Sagu ke Pasar Digital: Peluang UMKM Lokal Menembus Batas

Minggu, 25/10/26 | 20:14 WIB

Oleh: Maryatul Kuptiah (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Di Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki potensi alam...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Peran Ibu Tunggal dalam Film “Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu?”

Minggu, 25/10/26 | 18:30 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya dan Anggota Labor Penulisan Kreatif, Universitas Andalas) Ada film yang berakhir...

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Minggu, 18/10/26 | 16:21 WIB

Oleh: Lili Herlina (Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas) Ketika membicarakan masalah pertanian, perhatian sering kali tertuju pada...

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Minggu, 18/10/26 | 15:52 WIB

Oleh: Puspandhari Ilsa Pinasty (Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas)   Bayangkan seorang anak rantau yang akhirnya mampu...

Berita Sesudah
Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Paradoks Representasi Subaltern dalam Novel Saman

POPULER

  • Pemprov Sumbar Terapkan Syarat Inovasi untuk Kenaikan Jabatan ASN

    Pemprov Sumbar Terapkan Syarat Inovasi untuk Kenaikan Jabatan ASN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perempuan Bangsa Sumbar Soroti PPN Pembalut, Cempaka Tanjung: Kebutuhan Menstruasi Bukan Barang Mewah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satlantas Polres Pariaman Siap Laksanakan Operasi Patuh Singgalang 2026, Kerahkan 26 Personel

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Annisa Percepat Pembangunan Asam Jujuhan, Infrastruktur Jalan Jadi Prioritas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Paradoks Representasi Subaltern dalam Novel Saman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hadapi Ancaman Banjir, Pemkab Dharmasraya Cek Kesiapan Armada dan Logistik BPBD

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Firdaus Sosialisasikan Perda Koperasi dan Usaha Kecil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026