Jumat, 25/9/26 | 05:35 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Hakikat Merantau dalam Tradisi Minangkabau

Senin, 10/8/26 | 08:36 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra, S.Hum., Gr.
(Guru SMAN 1 Ranah Pesisir)

 

Minangkabau merupakan sebuah suku bangsa di Sumatera Barat yang dikenal memiliki tradisi adat dan budaya yang kuat. Masyarakat Minangkabau juga dikenal memiliki semangat kemandirian, kecintaan terhadap ilmu, dan komitmen yang tinggi dalam menjaga tatanan sosial. Namun, salah satu ciri yang menonjol dari masyarakat Minangkabau adalah kebiasaan merantau.

BACAJUGA

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Mengenal Polisemi dan Homonimi dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 20/9/26 | 15:43 WIB
Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Menyusuri Luka Kanak-kanak dalam Kumpulan Puisi “Belajar Menanggalkan Bulan”

Minggu, 13/9/26 | 22:05 WIB

Sejak dahulu, merantau tidak hanya sekadar upaya mencari penghidupan yang lebih baik, melainkan merantau sudah menjadi bagian dari jati diri orang Minangkabau. Tradisi ini diwariskan dari genarasi ke generasi. Setiap pemuda Minangkabau didorong untuk meninggalkan kampung halaman demi menimba pengalaman, memperluas wawasan, dan mencari ilmu. Mereka diharapkan kembali dengan membawa keberhasilan, pengalaman, dan pengetahuan yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat. Akan tetapi, tujuan dari merantau sesungguhnya lebih luas dari sekadar mencari nafkah. Ada misi besar yang diemban, yaitu membawa nilai-nilai kehidupan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat di rantau.

Berdasarkan falsafah adat Minangkabau, orang Minang senantiasa berusaha membangun kehidupan yang harmonis, adil, dan saling menghormati. Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa pengaruh orang Minang pernah menjangkau di wilayah Nusantara. Salah satu kisah yang dikenal adalah tentang Raja Sulaeman yang disebut sebagai seorang bangsawan yang pernah memimpin wilayah di Filipina. Dalam kisah tersebut, Raja Sulaiman tidak hanya membangun kekuasaan, tetapi juga memperkenalkan tatanan sosial yang mengedepankan kebersamaan. Ia mampu berbaur dengan masyarakat setempat dan menghormati adat istiadat yang telah ada sehingga tercipta kehidupan yang harmonis.

Tak hanya di Filipina, pengaruh orang Minangkabau juga terasa di Malaysia dan Brunei Darussalam. Di berbagai daerah perantauan, orang Minangkabau membawa nilai-nilai kehidupan yang berasal dari kampung halamannya. Mereka memperkenalkan prinsip-prinsip keadilan, musyawarah, persamaan derajat, dan saling menghargai tanpa mengabaikan adat dan budaya masyarakat setempat—karena kemampuan beradaptasi inilah yang membuat masyarakat Minangkabau mudah diterima di mana pun mereka berada.

Alasan lain yang mendorong orang Minangkabau merantau adalah semangat menyebarkan ajaran Islam. Sejak dahulu, banyak ulama, pedagang, dan tokoh Minangkabau yang berperan dalam penyebaran Islam ke berbagai Nusantara. Mereka tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan nilai-nilai akhlak, persaudaraan, dan toleransi yang selaras dengan budaya lokal.

Melalui dakwah tersebut, masyarakat Minangkabau tidak hanya menyebarkan ajaran Islam, tetapi juga berupaya membentuk karakter masyarakat yang religius, terbuka, dan menghargai perbedaan. Prinsip “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” yang menjadi pedoman hidup yang senantiasa mereka pegang dan terapkan di tanah rantau sebagai landasan dalam membangun kehidupan bermasyarakat.

Hal yang menarik, meskipun membawa nilai-nilai adat dan falsafah Minangkabau, orang Minangkabau tidak pernah bersifat eksklusif. Sebaliknya, mereka selalu mampu beradapsi dengan lingkungan baru dan menghormati adat, serta budaya setempat. Dengan demikian, nilai-nilai yang mereka bawa dapat diterima, dipadukan, dan berkembang bersama budaya masyarakat di daerah rantau.

Berkat sikap tersebut, masyarakat Minangkabau tidak hanya berhasil secara pribadi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi daerah tempat mereka menetap. Mereka berperan dalam pembangunan berbagai bidang, seperti ekonomi, pendidikan, sosial, pemerintah, maupun keagamaan. Oleh sebab itu, merantau bukan hanya menjadi perjalanan untuk mengubah nasib, melainkan juga menjadi sarana untuk memberi manfaat bagi masyarakat luas.

Jadi, terdapat beberapa alasan utama mengapa orang Minangkabau suka merantau. Pertama, mereka ingin membawa semangat dakwah untuk menyebarkan nilai-nilai Islam ke berbagai daerah. Kedua, mereka ingin memperkenalkan ilmu pengetahuan, pengalaman, dan nilai-nilai kehidupan yang berakar pada falsafah Minangkabau dengan tetap menghormati budaya masyarakat setempat. Ketiga, mereka memiliki tekad yang kuat untuk berkontribusi dalam membangun daerah rantau melalui berbagai bidang kehidupan. Oleh karena itu, bagi masyarakat Minangkabau, merantau tidak hanya sekadar untuk meninggalkan kampung halaman, melainkan merantau adalah sebuah perjalanan untuk mencari ilmu, pengalaman, mengembangkan diri, dan mengabdi kepada masyarakat, serta meninggalkan jejak kebaikan di mana pun mereka berada.

Tags: #Yori Leo Saputra
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Bimtek Peningkatan Kompetensi Guru, Muhidi Dorong Tendik jadi Motivator dan Inspirator Bagi Peserta Didik

Berita Sesudah

Pendidikan Khusus Sumbar Masih Hadapi Sejumlah Tantangan, Ketua DPRD Sumbar Soroti Teknologi Pembelajaran.

Berita Terkait

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Mengenal Polisemi dan Homonimi dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 20/9/26 | 15:43 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Pernahkah Anda mendengar kalimat "kepala sekolah itu sedang memegang kepalanya...

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Menyusuri Luka Kanak-kanak dalam Kumpulan Puisi “Belajar Menanggalkan Bulan”

Minggu, 13/9/26 | 22:05 WIB

Oleh: Rosidatul Arifah (Alumni S1 Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)  Awal September 2026 ini memberikan angin ceria pada...

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Modernisme dan Dunia yang Dinamis dalam Karya Sastra

Minggu, 13/9/26 | 09:35 WIB

Oleh: Maharani Syifa Ramadhan (Alumni Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Mahasiswa Program Magister Sastra Kontemporer, Universitas Padjajaran)   Modernisme...

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Minggu, 13/9/26 | 08:48 WIB

Oleh: Ahmad Hamidi dan Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)    Seekor anjing sedang menggonggong di...

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Minggu, 06/9/26 | 11:00 WIB

Oleh: Hasbi Witir (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Kata pulang merupakan kata yang sangat dekat dengan kehidupan...

Puisi-puisi M. Subarkah

Jangan Tunggu Hutan Habis untuk Sadar

Minggu, 06/9/26 | 10:37 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik FIB Universitas Andalas) Kita sering baru mengingat hutan ketika bencana datang. Ketika hujan turun...

Berita Sesudah
Pendidikan Khusus Sumbar Masih Hadapi Sejumlah Tantangan, Ketua DPRD Sumbar Soroti Teknologi Pembelajaran.

Pendidikan Khusus Sumbar Masih Hadapi Sejumlah Tantangan, Ketua DPRD Sumbar Soroti Teknologi Pembelajaran.

POPULER

  • Afrina Hanum

    Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Telkomsel Gerak Cepat Pulihkan Jaringan Komunikasi di Kantor Bupati Solok Pascagalodo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanggungjawab SPPG terhadap Siwa MTsN 1 Pariaman Keracunan MBG: Jenguk Korban dan Tanggung Biaya Perawatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rumah Dinas Wabup Solok Dibuka untuk Pengungsi, Warga Diminta Hindari Lokasi Rawan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satu Korban Galodo Solok Ditemukan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026