Senin, 10/8/26 | 09:54 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Hakikat Merantau dalam Tradisi Minangkabau

Senin, 10/8/26 | 08:36 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra, S.Hum., Gr.
(Guru SMAN 1 Ranah Pesisir)

 

Minangkabau merupakan sebuah suku bangsa di Sumatera Barat yang dikenal memiliki tradisi adat dan budaya yang kuat. Masyarakat Minangkabau juga dikenal memiliki semangat kemandirian, kecintaan terhadap ilmu, dan komitmen yang tinggi dalam menjaga tatanan sosial. Namun, salah satu ciri yang menonjol dari masyarakat Minangkabau adalah kebiasaan merantau.

BACAJUGA

Stilistika pada Cerpen “Hasrat George” dalam Majalah Bobo

Stilistika pada Cerpen “Hasrat George” dalam Majalah Bobo

Senin, 03/8/26 | 05:23 WIB
Merantau untuk Ilmu: Belajar dari Ibnu Waddah al-Qurthubi

Merantau untuk Ilmu: Belajar dari Ibnu Waddah al-Qurthubi

Senin, 03/8/26 | 05:10 WIB

Sejak dahulu, merantau tidak hanya sekadar upaya mencari penghidupan yang lebih baik, melainkan merantau sudah menjadi bagian dari jati diri orang Minangkabau. Tradisi ini diwariskan dari genarasi ke generasi. Setiap pemuda Minangkabau didorong untuk meninggalkan kampung halaman demi menimba pengalaman, memperluas wawasan, dan mencari ilmu. Mereka diharapkan kembali dengan membawa keberhasilan, pengalaman, dan pengetahuan yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat. Akan tetapi, tujuan dari merantau sesungguhnya lebih luas dari sekadar mencari nafkah. Ada misi besar yang diemban, yaitu membawa nilai-nilai kehidupan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat di rantau.

Berdasarkan falsafah adat Minangkabau, orang Minang senantiasa berusaha membangun kehidupan yang harmonis, adil, dan saling menghormati. Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa pengaruh orang Minang pernah menjangkau di wilayah Nusantara. Salah satu kisah yang dikenal adalah tentang Raja Sulaeman yang disebut sebagai seorang bangsawan yang pernah memimpin wilayah di Filipina. Dalam kisah tersebut, Raja Sulaiman tidak hanya membangun kekuasaan, tetapi juga memperkenalkan tatanan sosial yang mengedepankan kebersamaan. Ia mampu berbaur dengan masyarakat setempat dan menghormati adat istiadat yang telah ada sehingga tercipta kehidupan yang harmonis.

Tak hanya di Filipina, pengaruh orang Minangkabau juga terasa di Malaysia dan Brunei Darussalam. Di berbagai daerah perantauan, orang Minangkabau membawa nilai-nilai kehidupan yang berasal dari kampung halamannya. Mereka memperkenalkan prinsip-prinsip keadilan, musyawarah, persamaan derajat, dan saling menghargai tanpa mengabaikan adat dan budaya masyarakat setempat—karena kemampuan beradaptasi inilah yang membuat masyarakat Minangkabau mudah diterima di mana pun mereka berada.

Alasan lain yang mendorong orang Minangkabau merantau adalah semangat menyebarkan ajaran Islam. Sejak dahulu, banyak ulama, pedagang, dan tokoh Minangkabau yang berperan dalam penyebaran Islam ke berbagai Nusantara. Mereka tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan nilai-nilai akhlak, persaudaraan, dan toleransi yang selaras dengan budaya lokal.

Melalui dakwah tersebut, masyarakat Minangkabau tidak hanya menyebarkan ajaran Islam, tetapi juga berupaya membentuk karakter masyarakat yang religius, terbuka, dan menghargai perbedaan. Prinsip “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” yang menjadi pedoman hidup yang senantiasa mereka pegang dan terapkan di tanah rantau sebagai landasan dalam membangun kehidupan bermasyarakat.

Hal yang menarik, meskipun membawa nilai-nilai adat dan falsafah Minangkabau, orang Minangkabau tidak pernah bersifat eksklusif. Sebaliknya, mereka selalu mampu beradapsi dengan lingkungan baru dan menghormati adat, serta budaya setempat. Dengan demikian, nilai-nilai yang mereka bawa dapat diterima, dipadukan, dan berkembang bersama budaya masyarakat di daerah rantau.

Berkat sikap tersebut, masyarakat Minangkabau tidak hanya berhasil secara pribadi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi daerah tempat mereka menetap. Mereka berperan dalam pembangunan berbagai bidang, seperti ekonomi, pendidikan, sosial, pemerintah, maupun keagamaan. Oleh sebab itu, merantau bukan hanya menjadi perjalanan untuk mengubah nasib, melainkan juga menjadi sarana untuk memberi manfaat bagi masyarakat luas.

Jadi, terdapat beberapa alasan utama mengapa orang Minangkabau suka merantau. Pertama, mereka ingin membawa semangat dakwah untuk menyebarkan nilai-nilai Islam ke berbagai daerah. Kedua, mereka ingin memperkenalkan ilmu pengetahuan, pengalaman, dan nilai-nilai kehidupan yang berakar pada falsafah Minangkabau dengan tetap menghormati budaya masyarakat setempat. Ketiga, mereka memiliki tekad yang kuat untuk berkontribusi dalam membangun daerah rantau melalui berbagai bidang kehidupan. Oleh karena itu, bagi masyarakat Minangkabau, merantau tidak hanya sekadar untuk meninggalkan kampung halaman, melainkan merantau adalah sebuah perjalanan untuk mencari ilmu, pengalaman, mengembangkan diri, dan mengabdi kepada masyarakat, serta meninggalkan jejak kebaikan di mana pun mereka berada.

Tags: #Yori Leo Saputra
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Moment Hari Ulang Tahun Kota Padang, Wawako Padang Maigus Nasir Besuki Warga  Sakit

Berita Terkait

Stilistika pada Cerpen “Hasrat George” dalam Majalah Bobo

Stilistika pada Cerpen “Hasrat George” dalam Majalah Bobo

Senin, 03/8/26 | 05:23 WIB

Oleh: Indri Rahmadani (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Sastra anak tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga...

Merantau untuk Ilmu: Belajar dari Ibnu Waddah al-Qurthubi

Merantau untuk Ilmu: Belajar dari Ibnu Waddah al-Qurthubi

Senin, 03/8/26 | 05:10 WIB

Oleh: Aruusalkhofiqoni Bahri Chaniago, Lc. (Alumni Dirasat Islamiyah, Ibn Tofail University, Kenitra, Maroko dan Aktif Mengkaji Hadis, Tradisi Keilmuan Islam,...

Jorong Mapun: Ruang Bertemunya Bahasa Mandailing Budaya dan Adat Minangkabau

Jorong Mapun: Ruang Bertemunya Bahasa Mandailing Budaya dan Adat Minangkabau

Minggu, 26/7/26 | 22:02 WIB

Oleh: Tomi Pratama (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Pada saat ini, zaman semakin maju. Orang tua yang...

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Minggu, 26/7/26 | 18:47 WIB

Oleh: Maharani Syifa Ramadhan (Alumni Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Praktik-praktik kapitalis seperti penguasaan lahan, pembangunan infrastruktur, dan ekspansi...

Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

Menguji Sila Kemanusiaan: Representasi Pancasila dalam Polemik Pride Month SUMA UI

Minggu, 19/7/26 | 22:26 WIB

Oleh: Nikicha Myomi Chairanti  (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Pada awal Juni 2026, jagat media sosial Indonesia bergolak akibat...

Batu dan Zaman

Mencari Kehangatan di Era AI Melalui Boyfriend on Demand dan Esok Tanpa Ibu

Minggu, 19/7/26 | 21:31 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Beberapa tahun ke belakang, kemunculan kecerdasan buatan (Artificial...

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran saat meresmikan jembatan Helsheim di Batang Arau

    Wali Kota Padang Resmikan Jembatan Hildesheim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026