Senin, 10/8/26 | 12:02 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Sintaksis Gen Z di X & Threads: Keren atau Malah Berantakan?

Senin, 10/8/26 | 10:24 WIB

Oleh: Kevin Amnur Jonata
(Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

 

Buka X sekarang dan hampir dapat dipastikan ada postingan seperti ini: “Literally gue lagi overthinking banget sama situasi ini no cap, tapi yaudah lah gaspol aja sih bestie, mana yang bisa bantu? šŸ˜­šŸ”„”. Kalimat itu terasa hidup dan ekspresif bagi sesama pengguna Generasi Z (Gen Z). Maknanya langsung tersampaikan tanpa perlu berpikir dua kali. Namun, apabila kalimat tersebut dibaca dari sudut pandang linguistik, muncul pertanyaan yang cukup menarik: apakah tulisan Gen Z di platform, seperti X dan Threads masih memiliki struktur sintaksis yang jelas atau justru terlalu longgar hingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman?

BACAJUGA

Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

Hakikat Merantau dalam Tradisi Minangkabau

Senin, 10/8/26 | 08:36 WIB
Stilistika pada Cerpen “Hasrat George” dalam Majalah Bobo

Stilistika pada Cerpen “Hasrat George” dalam Majalah Bobo

Senin, 03/8/26 | 05:23 WIB

Berbicara tentang sintaksis, kita melihat sekilas definisinya. Sintaksis merupakan cabang linguistik yang mengkaji susunan kata, frasa, dan klausa dalam sebuah kalimat sehingga menghasilkan makna yang dapat dipahami. Chaer (2010) menyatakan bahwa sintaksis menguraikan fungsi unsur kalimat seperti subjek (S), predikat (P), objek (O), dan keterangan (Ket). Pola dasar bahasa Indonesia cukup fleksibel S-P, S-P-O dan S-P-Ket. Namun, fleksibel bukan berarti sepenuhnya bebas. Perubahan urutan kata dapat mengubah makna secara signifikan. Contoh sederhana: “Gue suka lu banget” dan “Lu suka gue banget” terlihat serupa secara struktur, tetapi maknanya berbalik 180 derajat. Inilah yang menjadi inti persoalan ketika membahas gaya bahasa GenZ di media sosial.

Gambar: geminiAI

Fenomena Bahasa GenZ di X dan Threads

Di X dan Threads, Gen Z memiliki kebiasaan berbahasa yang khas, seperti code-mixing (mencampur bahasa Indonesia dan Inggris), singkatan seperti cmiiw (correct me if I’m wrong) atau tbh (to be honest), pengulangan huruf untuk penekanan emosi (lamaaa, parahhh), serta partikel seperti “sih”, “dong”, “no cap”, dan “bestie” yang disisipkan hampir di mana saja dalam kalimat.

Kalimat seperti “Gue literally mager banget hari ini bestie” sebenarnya masih memiliki struktur yang cukup terbaca: subjek “gue” diletakkan di awal, diikuti predikat “mager” dengan penanda intensitas “literally” dan “banget”. Namun, ketika kalimat menjadi lebih kompleks, strukturnya mulai kabur, contohnya “Chaos banget ini, no cap, overthinking parah, send help plis.” Dalam kalimat tersebut, hampir tidak ada struktur S-P-O yang terbentuk. Yang ada hanya rangkaian kesan yang dilempar secara berurutan dan pembaca diharapkan dapat menyusun sendiri maknanya berdasarkan konteks. Kasus yang lebih menarik adalah ambiguitas struktural, seperti pada kalimat “Temen gue bilang yang lagi gabut kuy.” Kalimat ini dapat diartikan dengan dua cara: (1) teman yang sedang gabut mengajak kuy, atau (2) teman mengatakan bahwa siapa pun yang gabut bisa kuy. Tanpa tanda baca yang jelas, pembaca di X atau Threads sering kali harus menebak maksud penulis.

Dua Sisi yang Perlu Dipertimbangkan

Fenomena ini sebenarnya memiliki dua sisi yang sama-sama perlu diakui. Di satu sisi, gaya bahasa Gen Z di media sosial mencerminkan kreativitas linguistik yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Pengulangan huruf, bukan sekadar kesalahan ketik, adalah penanda intensitas emosi. Partikel “sih” yang bukan sekadar pengisi kosong. Partikel itu menyampaikan nuansa keraguan atau keakraban yang sulit diungkapkan dengan cara lain. Para ahli sosiolinguistik pun sepakat bahwa bahasa gaul di media sosial merupakan bentuk evolusi bahasa yang wajar di era digital. Di sisi lain, struktur yang terlalu longgar memang berisiko.

Hasan Alwi dkk.(1993) dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia menekankan pentingnya pola kalimat yang jelas agar komunikasi berjalan efektif. Ketika gaya bahasa Threads terbawa ke dalam laporan kuliah, atau pesan kerja magang yang penuh “anyway” dan “vibe”, bukan hanya kesan yang tidak profesional yang muncul, tetapi pesannya pun tidak jelas.Berbagai penelitian tentang ragam bahasa Gen Z di media sosial yang juga berbentuk code-mixing dan struktur longgar kerap menyebabkan kalimat menjadi rancu, terutama bagi pembaca di luar komunitas yang sama. Di kalangan sesama Gen Z, hal ini jarang menjadi masalah karena konteks sudah dipahami bersama. Namun, dalam komunikasi yang lebih luas, kejelasan pesan tetap menjadi hal yang tidak bisa dikesampingkan.

Dari uraian di atas, struktur sintaksis kalimat Gen Z di X dan Threads lebih tepat disebut kreatif daripada berantakan selama digunakan dalam konteks yang sesuai dengan situasi danĀ  kondisi. Platform media sosial menjadi ruang bagi generasi muda untuk bereksperimen dengan bahasa, membangun identitas, dan menciptakan komunitas. Hal itu sah saja dan tidak perlu dihakimi secara berlebihan. Namun, pemahaman terhadap sintaksis dasar tetap diperlukan. Kemampuan untuk beralih antara gaya bahasa Threads yang santai dan bahasa akademik yang terstruktur justru merupakan tanda kematangan linguistik, bukan kelemahan berbahasa. Bagian penting bukan seberapa baku atau seberapa gaul gaya bahasa seseorang, melainkan seberapa tepat pemilihan register bahasa sesuai konteks dan tujuan komunikasi. Bahasa memang tidak pernah berhenti berkembang. Struktur sintaksis kalimat Gen Z di media sosial adalah bukti nyata bahwa bahasa bersifat dinamis dan adaptif. Selama kreativitas itu diimbangi dengan kesadaran akan kejelasan pesan dalam kalimat, mengetik pesan di X dan Threads dengan bahasa yang lebih santai, tidak hanya terasa bebas, keren, tetapi juga efektif.

Referensi
Alwi, Hasan, dkk. (1993). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Chaer, Abdul. (2009). Sintaksis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Tags: #Kevin Amnur Jonata
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Hakikat Merantau dalam Tradisi Minangkabau

Berita Terkait

Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

Hakikat Merantau dalam Tradisi Minangkabau

Senin, 10/8/26 | 08:36 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra, S.Hum., Gr. (Guru SMAN 1 Ranah Pesisir)   Minangkabau merupakan sebuah suku bangsa di Sumatera Barat...

Stilistika pada Cerpen “Hasrat George” dalam Majalah Bobo

Stilistika pada Cerpen “Hasrat George” dalam Majalah Bobo

Senin, 03/8/26 | 05:23 WIB

Oleh: Indri Rahmadani (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Sastra anak tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga...

Merantau untuk Ilmu: Belajar dari Ibnu Waddah al-Qurthubi

Merantau untuk Ilmu: Belajar dari Ibnu Waddah al-Qurthubi

Senin, 03/8/26 | 05:10 WIB

Oleh: Aruusalkhofiqoni Bahri Chaniago, Lc. (Alumni Dirasat Islamiyah, Ibn Tofail University, Kenitra, Maroko dan Aktif Mengkaji Hadis, Tradisi Keilmuan Islam,...

Jorong Mapun: Ruang Bertemunya Bahasa Mandailing Budaya dan Adat Minangkabau

Jorong Mapun: Ruang Bertemunya Bahasa Mandailing Budaya dan Adat Minangkabau

Minggu, 26/7/26 | 22:02 WIB

Oleh: Tomi Pratama (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Pada saat ini, zaman semakin maju. Orang tua yang...

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Minggu, 26/7/26 | 18:47 WIB

Oleh: Maharani Syifa Ramadhan (Alumni Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Praktik-praktik kapitalis seperti penguasaan lahan, pembangunan infrastruktur, dan ekspansi...

Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen ā€œMariaā€ Karya A.A Navis

Menguji Sila Kemanusiaan: Representasi Pancasila dalam Polemik Pride Month SUMA UI

Minggu, 19/7/26 | 22:26 WIB

Oleh: Nikicha Myomi ChairantiĀ  (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Pada awal Juni 2026, jagat media sosial Indonesia bergolak akibat...

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran saat meresmikan jembatan Helsheim di Batang Arau

    Wali Kota Padang Resmikan Jembatan Hildesheim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata ā€œbapakā€ dan ā€œibuā€ Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026