Minggu, 26/7/26 | 23:19 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Jorong Mapun: Ruang Bertemunya Bahasa Mandailing Budaya dan Adat Minangkabau

Minggu, 26/7/26 | 22:02 WIB

Oleh: Tomi Pratama
(Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

 

Pada saat ini, zaman semakin maju. Orang tua yang mengikuti perkembangan globalisasi berusaha mendidik anaknya menggunakan dua bahasa. Biasanya, dua bahasa yang diajarkan orang tua kepada anaknya, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa asing  walaupun mereka masih kurang bisa menggunakannya. Hal tersebut biasanya dilatarbelakangi pemikiran orang yang menggunakan bahasa daerah dianggap bahasa tertinggal karena menganggap kosakata daerah “kampungan” terutama di kalangan Gen Z. Upaya yang dilakukan orang tua agar anak mereka bisa menggunakan dua bahasa dengan memberi video edukasi anak-anak, berbicara di rumah, dan mengikuti les bahasa.

BACAJUGA

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Minggu, 26/7/26 | 18:47 WIB
Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

Menguji Sila Kemanusiaan: Representasi Pancasila dalam Polemik Pride Month SUMA UI

Minggu, 19/7/26 | 22:26 WIB

Bahasa adalah alat komunikasi berupa bunyi yang disampaikan manusia untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Masyarakat yang menggunakan dua bahasa disebut dengan bilingual atau dwibahasa. Menurut Mackey dalam Chaer (2010:884), dwibahasa diartikan sebagai penggunaan dua bahasa yang digunakan oleh penutur sebagai bahasa ibu sebagai bahasa pertama penutur dan juga menguasai bahasa kedua yaitu bahasa asing yang diperoleh dari lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat.

Salah satu daerah di Kabupaten Pasaman Provinsi Sumatera Barat, tepatnya di Nagari Sundata Utara Jorong Mapun memiliki keunikan yang berbeda dari daerah lain. Kebanyakan masyarakat yang tinggal di Jorong Mapun mampu menggunakan lebih dari satu bahasa. Salah satu alasan mengapa masyarakat Mapun bisa lebih dari satu bahasa karena mayoritas masyarakat Jorong Mapun bermarga Mandailing sehingga masyarakat Jorong Mapun yang tinggal di tengah-tengah lingkungan masyarakat Minangkabau bisa berbahasa Minangkabau.

Jorong Mapun memiliki cerita unik tersendiri tentang asal-usul nama menurut beberapa masyarakat setempat. Pada zaman dahulu orang-orang marga Mandailing dari daerah Tapanuli bermigrasi menuju selatan hingga sampai di salah satu daerah Kabupaten Pasaman sekarang disebut dengan Nagari Sundata Utara. Ketika itu masyarakat yang bermigrasi atau bisa disebut dengan istilah pendatang meminta lahan kosong untuk mereka tempati. Pada saat bernegosiasi antara pendatang dengan penduduk asli salah satu dialog dipercaya asal-usul nama Jorong Mapun “di mapun jadi”.

Jorong Mapun mayoritas marga Mandailing terletak di tengah-tengah masyarakat Minangkabau menimbulkan budaya yang unik. Orang Minangkabau tinggal di dekat Jorong Mapun menyerap bahasa Mandailing salah satunya “sumpu”  yaitu sungai dan begitupun sebaliknya orang Mandailing menyerap budaya Minangkabau.  Wali Jorong Mapun Bapak Arwin Lubis mengatakan orang Mandailing di Mapun memakai budaya dan adat Minangkabau karena pada saat itu pendatang pertama kali tidak terlalu mengenal budaya dan adat sehingga menyerap dari Minangkabau. Hal tersebut bisa dilihat dari ranji yang dipakai orang Mapun sudah sampai lima sampai enam turunan saat tulisan ini dibuat. Tidak hanya ranji saja mulai dari makanan, pernikahan,falsafah sudah menjadi bagian dari masyarakat Mapun.

Sampai saat ini masyarakat Mapun masih mempertahankan budaya dan adat yang mereka pakai sejak pertama kali datang ke Nagari Sundata Utara. Kisah Jorong Mapun menjadi bukti bahwa bahasa dan budaya yang b erbeda dapat hidup berdampingan dan saling memperkaya dengan begitu bahasa dan budaya menjadi jembatan untuk melestarikan budaya untuk generasi yang akan datang.

Tags: #Tomi Pratama
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Berita Terkait

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Minggu, 26/7/26 | 18:47 WIB

Oleh: Maharani Syifa Ramadhan (Alumni Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Praktik-praktik kapitalis seperti penguasaan lahan, pembangunan infrastruktur, dan ekspansi...

Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

Menguji Sila Kemanusiaan: Representasi Pancasila dalam Polemik Pride Month SUMA UI

Minggu, 19/7/26 | 22:26 WIB

Oleh: Nikicha Myomi Chairanti  (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Pada awal Juni 2026, jagat media sosial Indonesia bergolak akibat...

Batu dan Zaman

Mencari Kehangatan di Era AI Melalui Boyfriend on Demand dan Esok Tanpa Ibu

Minggu, 19/7/26 | 21:31 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Beberapa tahun ke belakang, kemunculan kecerdasan buatan (Artificial...

Teknologi Digital Mengubah Cara Berbelanja

Teknologi Digital Mengubah Cara Berbelanja

Senin, 13/7/26 | 07:52 WIB

Oleh: Minas Salihin Iskandar (Mahasiswa Prodi Manajemen FEB Universitas Andalas) Bayangkan toko kelontong kecil di sudut jalan. Dulu, toko itu...

Dominasi Penggunaan Frasa Berdasarkan Tujuan Berbahasa

Dominasi Penggunaan Frasa Berdasarkan Tujuan Berbahasa

Senin, 13/7/26 | 07:38 WIB

Oleh : Hazizah Jafitra (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Penggunaan bahasa bukan hanya sebatas berfungsi...

Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

Mantra Dunia Bocah, Analisis Stilistika Cerita “Ciku Si Penyihir Cilik”

Senin, 13/7/26 | 07:19 WIB

Oleh: Nikicha Myomi Chairanti (Mahasiswa Sastra Indonesia  FIB Universitas Andalas)   Apa jadinya kalau matematika yang rumit harus bertarung melawan...

POPULER

  • Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

    Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Luncurkan Program Smart Surau untuk Makmurkan Masjid

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kecelakaan Kerja Maut di Pabrik CPO Dharmasraya, Karyawan Tewas Digulung Konveyor

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tradisi Makan Bajamba Jadi Cara Sekolah Tanamkan Budaya Minang Sejak Dini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026