Kamis, 10/9/26 | 17:34 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Jorong Mapun: Ruang Bertemunya Bahasa Mandailing Budaya dan Adat Minangkabau

Minggu, 26/7/26 | 22:02 WIB

Oleh: Tomi Pratama
(Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

 

Pada saat ini, zaman semakin maju. Orang tua yang mengikuti perkembangan globalisasi berusaha mendidik anaknya menggunakan dua bahasa. Biasanya, dua bahasa yang diajarkan orang tua kepada anaknya, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa asing  walaupun mereka masih kurang bisa menggunakannya. Hal tersebut biasanya dilatarbelakangi pemikiran orang yang menggunakan bahasa daerah dianggap bahasa tertinggal karena menganggap kosakata daerah “kampungan” terutama di kalangan Gen Z. Upaya yang dilakukan orang tua agar anak mereka bisa menggunakan dua bahasa dengan memberi video edukasi anak-anak, berbicara di rumah, dan mengikuti les bahasa.

BACAJUGA

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Minggu, 06/9/26 | 11:00 WIB
Puisi-puisi M. Subarkah

Jangan Tunggu Hutan Habis untuk Sadar

Minggu, 06/9/26 | 10:37 WIB

Bahasa adalah alat komunikasi berupa bunyi yang disampaikan manusia untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Masyarakat yang menggunakan dua bahasa disebut dengan bilingual atau dwibahasa. Menurut Mackey dalam Chaer (2010:884), dwibahasa diartikan sebagai penggunaan dua bahasa yang digunakan oleh penutur sebagai bahasa ibu sebagai bahasa pertama penutur dan juga menguasai bahasa kedua yaitu bahasa asing yang diperoleh dari lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat.

Salah satu daerah di Kabupaten Pasaman Provinsi Sumatera Barat, tepatnya di Nagari Sundata Utara Jorong Mapun memiliki keunikan yang berbeda dari daerah lain. Kebanyakan masyarakat yang tinggal di Jorong Mapun mampu menggunakan lebih dari satu bahasa. Salah satu alasan mengapa masyarakat Mapun bisa lebih dari satu bahasa karena mayoritas masyarakat Jorong Mapun bermarga Mandailing sehingga masyarakat Jorong Mapun yang tinggal di tengah-tengah lingkungan masyarakat Minangkabau bisa berbahasa Minangkabau.

Jorong Mapun memiliki cerita unik tersendiri tentang asal-usul nama menurut beberapa masyarakat setempat. Pada zaman dahulu orang-orang marga Mandailing dari daerah Tapanuli bermigrasi menuju selatan hingga sampai di salah satu daerah Kabupaten Pasaman sekarang disebut dengan Nagari Sundata Utara. Ketika itu masyarakat yang bermigrasi atau bisa disebut dengan istilah pendatang meminta lahan kosong untuk mereka tempati. Pada saat bernegosiasi antara pendatang dengan penduduk asli salah satu dialog dipercaya asal-usul nama Jorong Mapun “di mapun jadi”.

Jorong Mapun mayoritas marga Mandailing terletak di tengah-tengah masyarakat Minangkabau menimbulkan budaya yang unik. Orang Minangkabau tinggal di dekat Jorong Mapun menyerap bahasa Mandailing salah satunya “sumpu”  yaitu sungai dan begitupun sebaliknya orang Mandailing menyerap budaya Minangkabau.  Wali Jorong Mapun Bapak Arwin Lubis mengatakan orang Mandailing di Mapun memakai budaya dan adat Minangkabau karena pada saat itu pendatang pertama kali tidak terlalu mengenal budaya dan adat sehingga menyerap dari Minangkabau. Hal tersebut bisa dilihat dari ranji yang dipakai orang Mapun sudah sampai lima sampai enam turunan saat tulisan ini dibuat. Tidak hanya ranji saja mulai dari makanan, pernikahan,falsafah sudah menjadi bagian dari masyarakat Mapun.

Sampai saat ini masyarakat Mapun masih mempertahankan budaya dan adat yang mereka pakai sejak pertama kali datang ke Nagari Sundata Utara. Kisah Jorong Mapun menjadi bukti bahwa bahasa dan budaya yang b erbeda dapat hidup berdampingan dan saling memperkaya dengan begitu bahasa dan budaya menjadi jembatan untuk melestarikan budaya untuk generasi yang akan datang.

Tags: #Tomi Pratama
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Mahyeldi: Perlindungan Anak Jadi Alarm Menuju Indonesia Emas

Berita Sesudah

PKB Sumbar Bantu Pemulihan Kebakaran Ponpes Bustanul Yaqin

Berita Terkait

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Minggu, 06/9/26 | 11:00 WIB

Oleh: Hasbi Witir (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Kata pulang merupakan kata yang sangat dekat dengan kehidupan...

Puisi-puisi M. Subarkah

Jangan Tunggu Hutan Habis untuk Sadar

Minggu, 06/9/26 | 10:37 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik FIB Universitas Andalas) Kita sering baru mengingat hutan ketika bencana datang. Ketika hujan turun...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Bianglala: Menelusuri Makna, Sejarah, dan Jejak Kebudayaan dalam Sebuah Kata

Minggu, 30/8/26 | 16:29 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif FIB Universitas Andalas)   Ketika melihat lengkungan warna-warni yang...

Puisi-puisi M. Subarkah

Eksistensi Bahasa Melayu Riau di Tengah Dominasi Bahasa Indonesia di Era Digital

Selasa, 25/8/26 | 22:59 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)    Bahasa Melayu Riau tidak sekadar kumpulan kata yang digunakan...

Makna Pulih dalam Lagu “Seperti Tulang” Karya Nadin Amizah

Makna Pulih dalam Lagu “Seperti Tulang” Karya Nadin Amizah

Minggu, 23/8/26 | 22:08 WIB

Oleh: Indri Rahmadani (Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Di tengah padatnya aktivitas dan tekanan yang dihadapi anak...

Sintaksis: Sulit, tetapi Diam-Diam Menyenangkan

Sintaksis: Sulit, tetapi Diam-Diam Menyenangkan

Minggu, 16/8/26 | 23:09 WIB

Oleh: Bunga Amelia (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Bagi sebagian orang, mendengar kata sintaksis mungkin terasa menakutkan. Mata...

Berita Sesudah
PKB Sumbar Bantu Pemulihan Kebakaran Ponpes Bustanul Yaqin

PKB Sumbar Bantu Pemulihan Kebakaran Ponpes Bustanul Yaqin

POPULER

  • Wabah

    Wabah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Paket Data Masih Aktif, Telkomsel Blokir Internet karena Tagihan Pulsa Darurat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Judul-judul Berita yang Melanggar Kaidah Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepala Biro PBJ Akui Ada dalam Rekaman Video Mesra dan Mundur dari Jabatan, Sekda : Tetap Diperiksa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dampak Kecerdasan Buatan (AI) bagi Dunia Pendidikan di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026