
Oleh: Andina Meutia Hawa
(Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)
Beberapa tahun ke belakang, kemunculan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) telah merambah pada hampir semua aspek kehidupan. Semenjak kemunculannya, AI digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari mencari referensi tugas sekolah dan kuliah, menyusun ide bisnis, hingga menghasilkan desain visual. Cukup dengan mengetikkan prompt, hasil yang diinginkanpun dapat muncul hanya dalam hitungan detik. Sekilas, AI tampak menawarkan solusi yang praktis dan efisien.
Fenomena ini tidak terlepas dari kemajuan digital dan teknologi yang telah berlangsung beberapa tahun sebelumnya. Hal tersebut diulas oleh Iskandar (2026) dalam artikel berjudul “Teknologi Digital Mengubah Cara Berbelanja”. Ia menunjukkan bagaimana kemunculan teknologi QRIS telah menggeser kebiasaan masyarakat dalam bertransaksi. Orang tidak lagi repot membawa dompet dan uang tunai sebab hampir semua pembayaran dapat diselesaikan melalui gawai. QRIS bahkan telah menjangkau pelaku usaha kecil dan menengah hingga ke berbagai daerah. Menurut Iskandar, perilaku inovatif dan adaptif menjadi tuntutan dalam menjalankan kehidupan modern.
Perubahan akibat kemajuan tidak hanya mengubah cara kita bekerja atau berbelanja. Lambat laun, teknologi juga mulai mengambil peran dalam memenuhi kebutuhan emosional manusia. Bagaimana kita mencari teman bicara, mengusir kesepian, memperoleh dukungan, hingga merasakan penerimaan mulai bergeser ke ruang digital. Tidak jarang, orang-orang kini beralih memilih untuk mencurahkan isi hati mereka kepada AI karena responsnya cepat, tidak menghakimi, memberikan validasi, sekaligus menawarkan solusi instan. Dalam situasi tertentu, AI memang dapat membantu seseorang mengurai pikiran dan emosinya. AI juga dapat membantu manusia memahami dirinya. Namun, apakah AI benar-benar mampu memenuhi kebutuhan dasar manusia?
Fenomena tersebut salah satunya direpresentasikan serial Korea Boyfriend on Demand (2026). Tokoh utamanya, Seo Mi Rae (Kim Jisoo), merupakan seorang produser webtoon yang yang lelah karena tekanan pekerjaan dan persaingan dengan rekan kerjanya, Park Kyeong Nam (Seo In Guk). Suatu hari, sepulang dari kantor, Seo Mi Rae mencoba sebuah perangkat bernama Monthly Issue Boyfriend. Melalui simulasi virtual tersebut, AI menjelma menjadi sosok kekasih yang hadir dengan perhatian, pujian, dan memberinya afirmasi berupa kata-kata. AI seolah mampu menutup celah emosional dalam diri tokoh utama dan menghadirkan rasa nyaman yang tidak pernah ditemukannya di dunia nyata.
Sekilas, premis serial ini dapat dilihat sebagai kebutuhan pemenuhan manusia akan kasih sayang dalam sosok keasih. Seiring berjalannya cerita, Mi Rae mulai menyadari bahwa seluruh perhatian dan kasih sayang yang ia terima merupakan hasil pemrograman. Kekasih-kekasih virtualnya hanya mengatakan hal-hal yang ingin didengar Mirae, selalu menyetujui tindakan dan perkataannya, tetapi tidak memiliki kedalaman emosi seperti manusia, sehingga hubungan pun terasa hambar. Walaupun AI memberikan kepuasan emosional instan, hubugan Mirae justru berujung pada kehampaan. Sejatinya, dalam setiap aspek dalam hubungan manusia, akan selalu dihiasi konflik dan berpedaan pendapat. Namun, hal-hal tersebut tidak akan pernah dapat dihindari karena di sanalah terbentuk proses saling memahami dan ruang untuk bertumbuh.
Fenomena serupa juga hadir dalam film Indonesia Esok Tanpa Ibu (2026). Film ini menceritakan tokoh Rama (Ali Fikry) yang tengah bersedih karena ibunya (Dian Sastrowarodyo) sedang koma. Suatu hari, ia menemukan teknologi AI bernama i-Bu. Melalui rekonstruksi wajah, suara, dan kebiasaan ibunya, AI tersebut dapat seolah menghidupkan kembali sosok ibu yang ia rindukan. Sesaat, kesedihan Rama hilang. Namun seperti Mi Rae, Rama menyadari bahwa secanggih apapun AI, teknologi tersebut tidak pernah mampu menggantikan kehangatan pelukan, sentuhan tangan, ataupun ikatan batin yang hanya dimiliki antara ia dan ibunya. Pada akhirnya, Rama dipaksa menerima kenyataan bahwa rasa sedih dan berduka tidak dapat dihilangkan melalui teknologi. Kehilangan tetap harus dihadapi sebagai bagian dari perjalanan hidup manusia.
Jika dibaca melalui Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow, kedua karya tersebut memperlihatkan bagaimana AI mulai memasuki wilayah kebutuhan manusia akan kasih sayang dan rasa memiliki. Ketika dunia nyata terasa melelahkan, AI menawarkan validasi instan, respons cepat, dan bebas dari penilaian. Namun, melalui kedua karya pula, pemenuhan kebutuhan tersebut – Seo Mi Rae akan hubungan romantis dan kedekatan, serta Rama akan kehangatan dan kasih sayang – hanya bersifat ilusi dan bukan sesuatu yang nyata. Kebutuhan dasar menurut Maslow yang lain, seperti penghargaan, hanya dapat diperoleh melalui interaksi dengan manusia lain, serta terbentuk dari nilai-nilai dasar seperti kejujuran, ketulusan, dan saling menghargai. Adapun pemenuhan aktualisasi diri, lahir melalui proses belajar, menghadapi kegagalan, memperbaiki kesalahan, dan membangun hubungan yang nyata. Semua proses itu tidak dapat digantikan oleh mesin yang memang dirancang untuk memberikan respons yang paling mudah dan menyenangkan bagi penggunanya.
Ketergantungan terhadap AI juga muncul di dunia pendidikan. Semakin banyak siswa dan mahasiswa yang menyerahkan proses berpikir kepada AI sebelum berusaha mengembangkan gagasan mereka sendiri. AI memang membantu memunculkan ide, menyusun kerangka tulisan, hingga merapikan struktur kalimat. Namun, apabila seluruh proses berpikir dialihkan kepada mesin, kemampuan bernalar dan menyusun argumen secara mandiri perlahan akan melemah.
Hal ini sejalan dengan ulasan Febrina (2026) dalam artikel berjudul Kesalahan Bahasa yang Diproduksi AI. Menurutnya, AI sangat andal dalam membantu menyusun tulisan, tetapi masih kerap menghasilkan kesalahan sintaksis dan belum mampu menghadirkan kedalaman rasa dalam bahasa. Bahasa bukan sekadar rangkaian kata yang benar menurut tata bahasa, melainkan sesuatu yang lahir dari pengalaman manusia. Febrina memaparkan bahwa AI bekerja berdasarkan pola dan probabilitas data, bukan pengalaman hidup. Terlebih, AI belum tentu tercipta dari seorang ahli bahasa. Oleh sebab itu, AI mungkin dapat merapikan struktur kalimat, tetapi belum tentu mampu menghadirkan makna dan muatan emosi seperti kata-kata yang berasal dari pikiran manusia.
Dengan demikian, perkembangan digital dan teknologi seperti QRIS dan AI telah mengubah cara manusia beinteraksi, berperilaku, berpikir, bahkan cara kita memandang dunia dan hubungan interpersonal. AI mungkin dapat menjadi alat yang bermanfaat untuk membantu manusia dalam mengurai emosi dan memahami dirinya, tetapi ia tidak dapat menggantikan pengalaman menjadi manusia itu sendiri. Serial Boyfriend on Demand dan film Esok Tanpa Ibu menunjukkan bahwa pada akhirnya kita tetap harus berani menghadapi kehidupan nyata, menghadapi konflik, menerima kehilangan, dan menjalani hubungan dengan manusia lain. Secanggih apapun AI, kemampuan berpikir, berbahasa, dan interaksi sosial tetap akan menjadi kebutuhan dasar manusia yang tidak akan terpenuhi oleh kecerdasan buatan.







