
Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)
Ada banyak benda kecil yang sering diremehkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengisi daya, atau yang lebih akrab disebut casan, termasuk salah satunya. Bentuknya sederhana, kabelnya sering kusut, kadang mulai rusak pada bagian tertentu. Namun, benda kecil itu justru menjadi salah satu penopang ritme aktivitas saya.
Saya mulai menyadari hal itu ketika kembali menjalani kehidupan sebagai mahasiswa. Di perantauan, hampir seluruh aktivitas berjalan melalui perangkat digital. Laptop menjadi ruang utama untuk belajar, mengerjakan tugas, sekaligus menyimpan berbagai kebutuhan akademik. Sementara itu, smartphone tentu menjadi “pusat” aktivitas saya.
Dalam situasi seperti itu, keberadaan casan menjadi jauh lebih penting dibanding ukurannya yang kecil. Ia bukan lagi sekadar pelengkap perangkat elektronik, melainkan bagian dari kebutuhan harian. Kehilangannya, atau sekadar lupa membawanya, dapat mengubah suasana hari secara drastis.
Saya pernah melewati satu pagi yang berjalan begitu terburu-buru. Hari itu, saya telah berjanji untuk bertemu dengan supervisor guna membahas perkembangan akademik saya. Laptop dan botol minum sudah tersimpan rapi di dalam tas. Saat membuka laptop, saya langsung sadar bahwa casan tertinggal di kamar.
Indikator baterai di layar laptop mulai berubah merah. Angkanya menunjukkan tiga belas persen. Saat itu saya baru teringat bahwa semalam laptop belum sempat diisi daya setelah digunakan menonton siaran bola. Saya sebenarnya sudah berniat mengisinya sepulang makan malam, tetapi rasa lelah membuat saya langsung tertidur hingga akhirnya benar-benar lupa.
Kepanikan kecil itu mulai muncul saat saya membuka laptop sebelum sesi konsultasi dimulai. Perhatian saya perlahan tidak lagi tertuju pada bahan diskusi bersama supervisor, melainkan pada indikator baterai yang terus menurun. Tanpa sadar, saya mulai melakukan berbagai penyesuaian kecil, mulai dari mengurangi kecerahan layar, menutup aplikasi yang tidak diperlukan, hingga menghemat penggunaan internet, hanya untuk memastikan laptop itu mampu bertahan sampai pertemuan selesai.
Pengalaman sederhana itu membuat saya menyadari bahwa casan bukan lagi sekadar pelengkap perangkat elektronik. Dalam kondisi saat ini yang hampir seluruh aktivitasnya bergantung pada laptop dan ponsel pintar, benda kecil itu diam-diam memiliki peran yang sangat penting. Kehadirannya sering diabaikan ketika tersedia, tetapi segera dicari saat daya mulai menipis dan pekerjaan belum selesai.
Saya mulai memahami mengapa casan selalu memiliki tempat di dalam tas beberapa teman. Benda kecil itu bukan hanya menjaga perangkat tetap menyala, tetapi juga menghadirkan rasa tenang di tengah aktivitas yang padat. Mungkin karena itulah colokan listrik kini sering menjadi hal pertama yang dicari di perpustakaan, kafe, atau ruang tunggu kampus, seolah-olah daya baterai telah menjadi bagian penting dari ritme kehidupan moder



