Sabtu, 27/6/26 | 17:19 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Bon atau Bien? Dua Kata yang Sering Tertukar, tetapi Tidak Pernah Sama

Minggu, 01/2/26 | 14:54 WIB

Oleh: Nani Kusrini
(Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung)

 

Bon [bɔ̃] dan bien [bjɛ̃] adalah dua kosakata dalam bahasa Prancis yang sangat produktif.  Keduanya berfungsi untuk mengapresiasi dan mengekspresikan kualitas suatu objek atau tindakan secara positif. Tidak mengeherankan jika keduanya kerap diterjemahkan sama dalam bahasa Indonesia, seperti bagus, baik, enak, atau benar.  Meskipun keduanya memiliki bentuk yang relatif sederhana (hanya satu silabel) serta kemiripan secara semantis, kedua kata ini justru sering menjadi “kerikil” bagi para pemelajar bahasa Prancis. Dalam komunikasi lisan, penggunaan keduanya sering saling menggantikan, padahal bon dan bien sebenarnya menghadirkan nuansa makna yang berbeda dalam banyak konteks. Penguasaan keduanya dengan demikian bukan hanya soal ketepatan gramatikal, tetapi juga menjadi salah satu kunci komunikasi yang alami.

BACAJUGA

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Perbedaan kata “bantu” dan “tolong”

Minggu, 21/6/26 | 13:50 WIB
Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kesalahan Bahasa yang Diproduksi AI

Minggu, 07/6/26 | 22:48 WIB

Seperti halnya dalam banyak bahasa, satu kata dalam bahasa Prancis dapat memiliki lebih dari satu kategori gramatikal. Bon lebih umum dipahami sebagai adjektiva yang berfungsi untuk menerangkan nomina misalnya un bon repas ‘makanan yang enak’.  Dalam frasa ini, bon menjelaskan nomina repas.  Sebagai bahasa berfleksi, adjektiva bahasa Prancis mengalami penyesuaian terhadap jumlah dan jenis nomina yang diterangkannya.   seperti dalam Emma est bonne en maths ‘Emma jago dalam matematika’ dan Ce sont de bons élèves ‘mereka siswa yang baik’.  Bon menjadi bonne karena menerangkan nomina feminin (Emma) dan bon menjadi bons karena diikuti nomina jamak (élèves).   Sebaliknya, bien berkategori sebagai adverbia yang dapat memodifikasi verba, adjektiva, atau adverbia lain.  Tidak seperti bon, bien tidak mengalami deklinasi, misalnya Elle danse bien ‘Dia bisa menari dengan baik’ dan Ils sont bien contents ‘Mereka sangat senang’. Sebagai adverbia, bien juga dapat berfungsi untuk penguat (intensifier), misalnya C’est bien possible ‘Hal ini sangat mungkin’ atau Il est bien gentil ‘dia benar-benar baik hati’.

Dalam konteks terbatas (pengecualian), bon dan bien dapat muncul dalam kategori kata yang berbeda. Bon dapat berfungsi sebagai adverbia, terutama setelah verba tertentu seperti sentir, faire, dan tenir misalnya Il fait bon dans le sud de la France ‘Cuacanya bagus di bagian selatan Prancis’ atau pada ungkapan pour de bon yang artinya ‘benar-benar/untuk selamanya’.  Sebagai nomina, bon memiliki makna yang sama sekali berbeda, yakni ‘kupon’ atau ‘voucher’ seperti dalam J’ai un bon d’achat de 10 euros ‘Saya memiliki kupon seharga 10 euro’. Sementara itu, bien dapat berfungsi sebagai adjektiva misalnya Cette programme est bien ‘Program ini bagus’dan sebagai nomina misalnya  Le prix des biens a augmenté ‘Harga barang-barang meningkat’ atau Je fais ça pour ton bien ‘Saya melakukan ini untuk kebaikanmu’.

Sampai disini, perbedaan keduanya masih cukup jelas.  Namun, dalam praktiknya banyak pemelajar yang masih mencampuradukkan keduanya terutama dalam contoh pasangan kalimat seperti Le film est bon atau Le film est bien serta C’est bon d’aider les personnes démunies atau C’est bien d’aider les personnes démunies.  Salah satu cara untuk membedakannya adalah dengan melihat sudut pandang penilaian. Bon pada umumnya berkaitan dengan sensasi fisik atau kualitas konkret seperti rasa makanan, bau, dan mutu benda, sedangkan bien digunakan untuk menilai tindakan, perilaku, atau proses dari sudut pandang intelektual maupun moral (intellectual or moral judgement). Jadi untuk menyatakan ‘dia laki-laki yang terhormat/jujur’, ‘film ini bagus’, ‘kuenya enak’, ‘dia siswa yang pintar’, serta ‘menolong orang yang kurangan adalah hal baik’ menjadi c’est un homme bien, le film est bien, ce gâteau est bon, c’est un bon élève, dan c’est bien d’aider les personnes démunies.

Petunjuk lain untuk membedakan penggunaan bon dan bien adalah dengan mengamati struktur kalimat, khususnya dalam ungkapan c’est bon atau c’est bien.  Jika diletakkan di akhir kalimat, pemilihan keduanya kembali bergantung pada jenis penilaian yang ingin disampaikan yaitu sensasi fisik atau penilaian secara intelektual/moral misalnya Manger équilibré, c’est bien! ‘Makan makanan seimbang itu baik’ dan Le fromage, c’est bon! ‘Keju itu enak’.  Namun dalam struktur C’est ….+ pour + nomina, hanya bon yang dapat digunakan tanpa melihat apakah mengenai penilaian konkret atau intelektual, misalnya Manger équilibré, c’est bon pour la santé ‘Makan makanan seimbang baik untuk kesehatan’ atau Le fromage, c’est bon pour une femme enceinte ‘Keju baik untuk wanita hamil’.

Pada tingkat yang lebih lanjut, pola C’est bon/bien de + verba juga menuntut kepekaan konteks, misalnya C’est bon/bien de faire du sport.  Bon digunakan untuk mengekspresikan kesenangan atau kenikmatan (plaisir), sedangkan bien menyatakan penilaian, kesan atau pendapat.  Dengan demikian, C’est bon de faire du sport berarti ‘Olahraga itu menyenangkan’, sedangkan C’est bien de faire du sport yang artinya ‘Olahraga itu baik untuk dilakukan’.

Selain itu, bon dan bien juga memainkan peran penting dalam konteks diskursif, khususnya dalam sebagai interjeksi atau penanda wacana. Dalam percakapan, bon sering digunakan untuk menandai transisi, kesimpulan, atau perubahan topik seperti contoh di bawah ini.

+ Bon! je tourne, d’accord?    ‘Baiklah, saya belok ya?’
–  Euh non, pardon, attends…. ‘Euh maaf jangan, tunggu …’

Ungkapan ah bon? dapat menunjukkan keterkejutan (la surprise) atau ketidakpercayaan, tergantung intonasi.

+  J’ai gagné le tournois d’échecs.    ‘Saya menang turnamen catur.’
–   Ah bon?… Félicitations!   ‘Benarkah? Selamat ya!’

Sementara itu, eh bien! kerap digunakan untuk menyatakan sikap reflektif atau penyesuaian pendapat.

+  Est-ce que vous savez bien parler anglais?   ‘Apakah Anda bisa bicara dalam bahasa Inggris?’
–   L’anglais? Eh bien, ça dépend. C’est du téléphone ou par e-mail? ‘Bahasa Inggris? Sebenarnya bisa, tapi tergantung. Lewat telepon atau e-mail?’

Intonasi juga memegang peranan penting dalam membentuk makna.  Ungkapan c’est bon dengan intonasi datar dapat menandakan persetujuan, sedangkan dengan intonasi meninggi dapat menunjukkan bahwa sesuatu sudah cukup.

+   On se retrouve à 18h? C’est bien pour toi? ‘Kita ketemuan jam 6 sore? Kamu bisa?’
–   Oui, c’est bon pour moi.  ‘Baiklah.  Aku setuju.’ dan,

+   C’est bon…j’ai compris ‘Cukup… Aku sudah mengerti.’

Sebagai penutup meskipun tampak sederhana, bon dan bien memiliki dampak signifikan dalam komunikasi. Makna keduanya tidak hanya ditentukan secara leksikal tetapi juga oleh sudut pandang, struktur kalimat, konteks dan intonasi. Jadi, setelah membaca tulisan ini hingga baris akhir, apakah Anda sudah bien compris atau bon saja?

Tags: #Nani Kusrini
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Kelompok SAD Diduga Resahkan Warga, Tokoh Adat dan Aktivis Minta Oknum Diserahkan ke Hukum

Berita Sesudah

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Berita Terkait

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Perbedaan kata “bantu” dan “tolong”

Minggu, 21/6/26 | 13:50 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Kata bantu dan tolong...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kesalahan Bahasa yang Diproduksi AI

Minggu, 07/6/26 | 22:48 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Beberapa waktu lalu, saya menyunting beberapa buku....

Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

Memahami Makna Peribahasa “Muluik Manih Kucindan Murah”

Senin, 01/6/26 | 08:57 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra (Guru SMA 1 Ranah Pesisir, Kabupaten Pesisir Selatan)   Minangkabau memiliki banyak peribahasa. Peribahasa merupakan kelompok...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Bahasa Estetik dalam Luka “Gaza Tak Pernah Sunyi” Karya Hardi

Senin, 25/5/26 | 00:01 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Di tanah ini, sejarah bukan hanya di...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Konteks Kata “Kali” dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 17/5/26 | 13:37 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Kata kali dikenal...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Cerita Mahasiswa Arab tentang Bahasa Indonesia

Senin, 27/4/26 | 06:18 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Saat mengawas UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer)...

Berita Sesudah
Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Representasi Perempuan dalam Novel "Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme"

POPULER

  • DPRD Kota Padang prihatin, terhadap semrawutnya Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di Kota Padang, khususnya berpusat pada kendala sistem aplikasi yang error.

    Ketua DPRD Kota Padang Muharlion Menilai Kurangnya Persiapan Disdik Dalam Pelaksanaan Sistem SPMB Tahun 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jelang Pemungutan Suara, Firdaus Minta Warga Jaga Kondusivitas dan Tolak Politik Uang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Peduli di Layar, Abai di Jalan: Ironi Aktivisme Lingkungan di Era Digital

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Fraksi PKB-UMMAT Minta Pemko Padang Percepat Belanja, Waspadai SiLPA

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Jenis-jenis Pola Pikir Manusia, Begini Penjelasan Para Ahli Psikologi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Fungsi Kata Ya dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026