Selasa, 01/9/26 | 03:29 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Disana atau Di sana?

Minggu, 18/4/21 | 08:15 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra
(Mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)

Manakah bentuk penulisan yang benar, disana atau di sana? Tentunya sebelum menjawab pertanyaan ini, kita terlebih dahulu mengetahui proses pembentukannya.

Dalam bahasa Indonesia, ada dua bentuk penulisan di, yakni di sebagai kata depan dan di- sebagai awalan. Kata depan di sering disebut dengan preposisi. Preposisi adalah kata yang biasa terdapat di depan nomina (kata benda), misalnya dari, dengan, di, dan ke (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi V). Dalam buku Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia, edisi kedua (1886), preposisi adalah kategori yang terletak di depan kategori lain (terutama nomina) sehingga terbentuk frase eksosentris direkstif (Kridalaksana, 1986:95). Kata depan di termasuk ke dalam jenis preposisi yang berdiri sendiri dan berupa kata dasar. Adapun aturan yang digunakan dalam penulisan kata depan di, yaitu sebagai berikut:

BACAJUGA

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Bianglala: Menelusuri Makna, Sejarah, dan Jejak Kebudayaan dalam Sebuah Kata

Minggu, 30/8/26 | 16:29 WIB
Puisi-puisi M. Subarkah

Eksistensi Bahasa Melayu Riau di Tengah Dominasi Bahasa Indonesia di Era Digital

Selasa, 25/8/26 | 22:59 WIB

 Pertama, untuk menyatakan ‘keberadaan tempat’, kata depan di ditulis di depan kata benda yang menyatakan tempat. Contoh: Musyawarah besar Ikatan Mahasiswa Pesisir Selatan (IMAPES) berlangsung di Convention Center, Painan. Selain menyatakan keberadaan tempat, kata depan di juga menunjukan bagian-bagian dari tempat, misalnya, di atas, di bawah, di dalam, di samping, di sekeliling, dan di barat.

 Kedua, kata depan di juga digunakan untuk menyatakan aspek ‘berhenti’, kata depan di ditulis di depan kata keterangan tempat. Contoh: Kami  sedang beristirahat di Pantai Carocok, Painan. 

 Ketiga, kata depan di tidak digunakan di depan nama diri. Kata ganti orang, nama jabatan, ataupun pada nama waktu. Namun, hal yang sering terjadi dalam penulisan ialah kata depan di ditulis untuk menyebut waktu, misalnya, di malam hari, di saat, di tanggal, di tahun, dan di zaman. Padahal, penulisan tersebut adalah contoh penulisan yang keliru, karena di pada kata tersebut tidak menunjukan keterangan tempat, tetapi menunjukan waktu. Oleh karena itu, penulisan yang tepat menggunakan kata depan pada, seperti, pada malam hari, pada saat, pada tanggal, pada tahun, dan pada zaman.

Keempat, kata depan di juga ditulis di depan kata yang menyatakan tulisan, nama buku, karangan, koran, dan majalah. Contoh: di dalam buku Bumi Manusia, di majalah tempo, dan di koran Singgalang.

Sementara itu, dalam buku Tata bahasa Indonesia, dijelaskan bahwa kata depan di, ke, dan dari hanya digunakan untuk kata-kata yang menyatakan tempat atau sesuatu yang dianggap tempat (Keraf, 1984:81), sedangkan dalam Pedoman Umum  Ejaan Bahasa Indonesia (2016) yang diresmikan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia, yakni juga diatur tata cara penulisan kata depan, seperti di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Contohnya: di mana, di dalam, ke tengah, ke kantor, ke sana, dari pulau, dan dari emas.

Selanjutnya, di- sebagai awalan. Istilah ini sering disebut dengan prefiks. Prefiks merupakan imbuhan yang ditambahkan pada bagian awal sebuah kata dasar atau bentuk; awalan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi V), sedangkan menurut Kridalaksana (1996:28), prefiks adalah afiks yang diletakkan di muka dasar. Dalam bahasa Indonesia bahwa kita mengenal tujuh bentuk prefiks, yaitu ber-, me-, per-, di-, ke-, pe-, dan se-. Salah satu bentuk prefiks tersebut ialah di-. Dalam ilmu morfologi, di- sebagai prefiks ditulis serangkai tanpa memberi spasi pada kata dasar dan imbuhannya. Biasanya, prefiks di- diikuti dengan kata kerja yang menggambarkan perbuatan, proses, dan keadaan. Pada dasarnya, awalan di- berfungsi untuk membentuk kata kerja pasif. Kata kerja pasif ialah kebalikan dari kata kerja aktif, yakni bentuk kata kerja yang subjeknya mengalami atau menderita. Contohnya Ikan digoreng Ibu, Andi dikejar orang gila, dan Tersangaka ditangkap polisi.

Setelah menyimak penjelasan di atas, selanjutnya kita kembalikan pada topik semula. Manakah penulisan yang benar, disana atau di sana? Apakah kata sana tersebut dipadankan dengan awalan di- atau kata depan di? Untuk menemukan jawabannya, kita perlu menganalisis kata sana.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi V), kata sana merupakan kata pronomina yang memiliki makna petunjuk tempat yang jauh (atau dianggap jauh) dari pembicaraan. Saya mengartikan kata tersebut masih berhubungan dengan keterangan tempat, yakni sebagai petunjuk tempat (arah tempat), tetapi kata tersebut tidak tergolong ke dalam kelas kata nomina (benda). Namun, ketika kata sana dipadankan dengan di, makna kata tersebut menjadi kata petunjuk untuk menyatakan tempat yang agak jauh (KBBI, Edisi V). Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri menulis kata tersebut dengan dipisah (tidak serangkai). Artinya, kata tersebut merupakan bentuk preposisi atau kata depan. Jadi, penulisan yang benar dari kedua kata tersebut ialah di sana, bukan disana.

Kemudian, mengapa penulisan kata di sana masih ada yang ditulis dengan serangkai? Jawabannya tentu tidak. Penulisan seperti itu adalah bentuk penulisan yang keliru karena tidak sesuai dengan kaidah dan standardisasi penulisan bahasa Indonesia yang benar. Demikianlah penjelasan singkat tentang kata disana dan kata di sana. Semoga bermanfaat dan mencerahkan. Sekian dan terima kasih.

Tags: #Yori Leo Saputra
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Terjebak di Ruangan Kakek

Berita Sesudah

Kecerdasan Metafora dalam Menulis Fiksi

Berita Terkait

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Bianglala: Menelusuri Makna, Sejarah, dan Jejak Kebudayaan dalam Sebuah Kata

Minggu, 30/8/26 | 16:29 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif FIB Universitas Andalas)   Ketika melihat lengkungan warna-warni yang...

Puisi-puisi M. Subarkah

Eksistensi Bahasa Melayu Riau di Tengah Dominasi Bahasa Indonesia di Era Digital

Selasa, 25/8/26 | 22:59 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)    Bahasa Melayu Riau tidak sekadar kumpulan kata yang digunakan...

Makna Pulih dalam Lagu “Seperti Tulang” Karya Nadin Amizah

Makna Pulih dalam Lagu “Seperti Tulang” Karya Nadin Amizah

Minggu, 23/8/26 | 22:08 WIB

Oleh: Indri Rahmadani (Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Di tengah padatnya aktivitas dan tekanan yang dihadapi anak...

Sintaksis: Sulit, tetapi Diam-Diam Menyenangkan

Sintaksis: Sulit, tetapi Diam-Diam Menyenangkan

Minggu, 16/8/26 | 23:09 WIB

Oleh: Bunga Amelia (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Bagi sebagian orang, mendengar kata sintaksis mungkin terasa menakutkan. Mata...

Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

Batagak Gala Mudo dalam Adat Minangkabau

Minggu, 16/8/26 | 22:50 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra, S.Hum., Gr. (Guru SMAN 1 Ranah Pesisir)   Batagak gala mudo menjadi salah satu tradisi penting...

Modal Sosial Kunci Utama Kinerja Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis

Modal Sosial Kunci Utama Kinerja Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis

Senin, 10/8/26 | 16:12 WIB

Oleh: Devi Analia (Dosen Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Andalas)   Akses pembiayaan kerap menjadi hambatan utama bagi petani kecil...

Berita Sesudah
Penyimpangan Sosial dalam Ramuan Penangkal Kiamat Analisis Wacana Kritis

Kecerdasan Metafora dalam Menulis Fiksi

Discussion about this post

POPULER

  • Lele Raksasa (Foto: Ist)

    Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepala Biro PBJ Akui Ada dalam Rekaman Video Mesra dan Mundur dari Jabatan, Sekda : Tetap Diperiksa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menimbang Sekda Kabupaten Solok: Mengapa Vivi Fortuna Layak Diperhitungkan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026