Selasa, 13/1/26 | 18:43 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

Minggu, 07/12/25 | 16:20 WIB

Oleh: Nikicha Myomi Chairanti
(Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

 

Cerpen “Maria” (1999) karya A.A. Navis menghadirkan dialog dan narasi yang tajam dan kritis mengenai ketidaksetaraan gender dan dominasi patriarki dalam masyarakat. Narasi tersebut menggambarkan perjuangan perempuan untuk memperoleh hak dan kesempatan yang setara dengan laki-laki, sekaligus menentang berbagai bentuk pelecehan dan penindasan yang mereka hadapi. Sejalan dengan semangat feminisme yang mengedepankan kesetaraan dan keberanian perempuan untuk melawan penindasan, cerita ini memperlihatkan realitas pahit yang kerap dialami perempuan. Salah satu dialog yang menggambarkan kritik sosial adalah ketika tokoh Maria mengatakan:

BACAJUGA

Psikologi Kekuasaan dalam Cerpen “Seekor Beras dan Sebutir Anjing”

Psikologi Kekuasaan dalam Cerpen “Seekor Beras dan Sebutir Anjing”

Minggu, 06/7/25 | 10:56 WIB

“Aku ingin rumah bersih, halaman bersih. Apa salahnya kalau aku mengerjakannya? Begitu pun pekerjaan dapur. Tapi jangan anggap itu pekerjaan khusus perempuan.”

Sebagaimana ditegaskan Woolf dalam A Room of One’s Own, “a woman must have money and a room of her own if she is to write fiction.” Kutipan ini bukan hanya tentang ruang fisik, tetapi simbol kebebasan perempuan dari batasan domestik yang dibentuk budaya patriarki. Pandangan ini mendukung kritik Maria bahwa pembagian kerja rumah tangga bukan kodrat, melainkan konstruksi sosial. Lebih lanjut saat Maria menguatkan argumennya:

“Perbedaan antara laki-laki dengan perempuan hanyalah biologis. Tapi tidak dalam fungsi sosial,” katanya menguatkan pendiriannya.

Kalimat itu menegaskan bahwa pembagian fungsi bukan sesuatu yang tetap dan tidak kaku terhadap tradisi yang sebenarnya menjelma menjadi kekangan. Pemikiran ini sangat selaras dengan konsep Virginia Woolf yang menuntut perempuan memiliki ruang dan kesempatan yang setara untuk berkembang, bukan dibatasi oleh norma sosial patriarki. Maria secara tegas juga mengkritik sikap dominasi dan pelecehan yang dilakukan laki-laki di tempat kerja. Ia bertanya:

“Mengapa setiap atasan mesti memperlihatkan keperkasaannya? Padahal, mereka toh sama jadi orang gajian negara? Mengapa laki-laki tidak memandang pegawai perempuan itu sama dengan laki-laki secara sosial? Kalau saling jatuh cinta, itu normal. Tapi, jika ingin menggagahi atau menyalurkan birahi, sungguh tidak beradab.” Komentar Maria dengan perasaan getir.

Kritik Maria ini sejalan dengan analisis Woolf mengenai dominasi laki-laki dalam ruang publik. Woolf menuliskan bahwa perempuan selama berabad-abad “have served all these centuries as looking-glasses possessing the magic and delicious power of reflecting the figure of man at twice its natural size.” Pandangan Woolf ini menegaskan bahwa perilaku atasan laki-laki di kantor merupakan bagian dari struktur kuasa yang mengagungkan maskulinitas dan merendahkan perempuan. Namun, cerpen ini juga menyajikan dialog-dialog yang kontradiktif yang menampilkan kompleksitas realitas sosial, misalnya tokoh Aku yang menyindir:

“Ya, memang terlalu. Tapi perempuan juga terlalu, kalau perempuan yang jatuh, apalagi laki-laki, tidak ada perempuan mau menolong. Itu pekerjaan laki-laki, kata mereka,”

Kalimat itu mengindikasikan stereorotip yang lumrah dalam masyarakat. Begitu juga dengan pernyataan:

“Kalau tidak ada respons atau pancingan dari perempuan, laki-laki tidak akan bisa berbuat apa-apa?” kataku tanpa bermaksud membela si Tajak.

Pertanyaan yang sekaligus pernyataan untuk divalidasi oleh tokoh Aku menunjukkan bagaimana norma sosial dan tanggung jawab moral seringkali dipinggirkan atau dipertanyakan oleh lelaki dalam dinamika gender. Di sisi lain, narasi tentang kebudayaan yang dibangun oleh laki-laki seperti dalam kalimat berikut:

“Maka itu semua norma, bahkan peraturan kenegaraan disusun berdasarkan pandangan dari kepentingan laki-laki. Meskipun beragam undang-undang telah menetapkan kesetaraan laki-laki dengan perempuan, banyak peraturan pelaksanaannya yang tetap meletakkan posisi perempuan sebagai bagian dari laki-laki, bukan mitranya. Itulah kebudayaan,”

Pandangan tersebut diperkuat oleh Woolf yang menyatakan bahwa sejarah dan institusi sosial “are all made by men” sehingga pengalaman perempuan jarang dijadikan dasar penyusunan norma. Dalam A Room of One’s Own, ia menunjukkan bahwa perempuan tidak pernah menjadi subjek utama dalam struktur pengetahuan maupun hukum, sebuah ketimpangan yang tercermin jelas dalam cerpen Maria.

Dialog lain yang menunjukkan kontradiksi antara feminisme dan kenyataan sosial yakni pada dialog tokoh Aku:

“Tak kuduga seorang gadis yang emansipatif, masih memerlukan laki-laki yang mampu memerintah dia.”

Kontradiksi ini dapat dipahami melalui konsep Woolf tentang patriarki. Woolf menulis bahwa budaya maskulin membuat perempuan “think back through their mothers” yakni memandang diri melalui nilai yang diwariskan masyarakat, bukan berdasarkan kebebasan personal. Artinya, kebutuhan untuk “diatur laki-laki” bukan sekadar keinginan pribadi, tetapi akibat konstruksi sosial yang mengakar. Narasi dalam cerpen juga memaparkan bagaimana perempuan sering dipandang sebagai objek seksual oleh laki-laki, seperti terlihat dalam kalimat:

“Menurut hematku, jalannya yang menantang sehingga buah dadanya kian provokatif dan badannya yang gempal, yang menjadikan faktor utamanya. Rambutnya yang ikal semarak, merah gincu bibirnya dan raut alisnya yang lengkung, menjadi daya pikat tersendiri.”

Objektifikasi ini sesuai dengan gagasan Woolf bahwa perempuan sering dijadikan cermin bagi laki-laki, yaitu objek yang dipakai untuk menegaskan harga diri dan superioritas maskulin. Dengan demikian, tubuh perempuan tampil bukan sebagai subjek, tetapi alat atau objek untuk memenuhi hasrat laki-laki, persis seperti kritik Woolf terhadap budaya patriarki. Selain itu, kesetaraan yang digambarkan dalam narasi:

“Orang-orang yang berdesakan macam itik keluar kandang itu memberi jalan kepadanya seraya memelototkan mata seperti hendak lepas dari kelopaknya. Laki-laki perempuan berbuat sama,”

Menunjukkan bahwa tingkah laku laki-laki dan perempuan bertindak setara, tetapi dalam ranah pandangan dan penghormatan, ketimpangan itu tetap ada. Hal ini menandakan bahwa kata “kesetaraan” disalah pahami dan ditunjukkan dalam tingkah laku yang dianggap setara, tetapi sebenarnya malah menyimpang dari esensi feminisme yang dijunjung Woolf. Kesetaraan harus mengacu pada penghargaan dan keadilan sejati, bukan sekadar kesamaan dalam hal tindakan.

Cerpen “Maria” karya A.A. Navis menunjukkan bagaimana ketimpangan gender dan dominasi patriarki bekerja dalam ruang domestik, profesional, dan kultural. Melalui kritik Maria terhadap pembagian kerja domestik, perilaku seksual atasan laki-laki, serta norma sosial yang mengutamakan kepentingan maskulin, cerpen ini mengungkap struktur kuasa yang menempatkan perempuan sebagai objek. Membaca cerpen ini melalui perspektif Virginia Woolf memperlihatkan bahwa ketidakadilan tersebut bukan sekadar persoalan individual, tetapi bagian dari sistem patriarki yang telah lama mengatur ruang sosial.

Woolf menegaskan bahwa perempuan selama berabad-abad berfungsi sebagai “cermin” yang memperbesar dan menegaskan ego laki-laki sehingga pengalaman perempuan selalu diposisikan di pinggir. Kemunculan kontradiksi dalam diri tokoh perempuan juga menegaskan penghayatan nilai patriarkal yang dibahas Woolf sebagai warisan budaya yang mengikat perempuan dari dalam dirinya sendiri. Dengan demikian, cerpen Maria tidak hanya menyajikan kritik sosial, tetapi juga memperkuat relevansi teori feminisme khususnya pemikiran Woolf dalam memahami bagaimana struktur patriarki terus beroperasi dan mempengaruhi kehidupan perempuan dalam masyarakat.

Tags: #Nikicha Myomi Chairanti
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Keterlibatan TNI dalam Program MBG: Kebijakan Tepat atau Alasan Politik?

Berita Sesudah

Puisi-puisi Indri Rahmadani

Berita Terkait

Jejak Peranakan Tionghoa dalam Sastra Indonesia

Dinamika Masyarakat dalam Tradisi Basapa

Minggu, 04/1/26 | 22:15 WIB

Oleh: Hasbi Witir (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Setiap bulan Safar dalam kalender Hijriah, Ulakan di Pariaman,...

Perubahan Makna Cerita Rakyat di Era Digital

Gambaran Berlin Era 1920-an pada Roman Emil und die Detektive

Minggu, 04/1/26 | 22:05 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Latar tempat merupakan salah satu unsur...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Minggu, 04/1/26 | 21:31 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen di Program Studi Sastra Jerman, Universitas Padjadjaran)   Karya sastra merupakan salah satu bentuk karya seni...

Menggali Citra Feminisme dalam Fotografi di Instagram @darwistriadiartgallery

Menggali Citra Feminisme dalam Fotografi di Instagram @darwistriadiartgallery

Minggu, 28/12/25 | 20:13 WIB

Oleh: Aldrizi Salsabila 1; Ike Revita 2; Fajri Usman 3; Sawirman 4 (Mahasiswa dan Dosen Program Studi Magister Linguistik, Fakultas...

Belenggu Perempuan pada Cerpen “Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara” Kritik Feminis

Belenggu Perempuan pada Cerpen “Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara” Kritik Feminis

Minggu, 28/12/25 | 19:58 WIB

Oleh: Fatin Fashahah (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)    Semua pekerjaan yang tiada habisnya itu akan...

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Persebaran Surau di Sekitar Makam Syekh Burhanuddin

Minggu, 21/12/25 | 10:40 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Indri Rahmadani

Puisi-puisi Indri Rahmadani

POPULER

  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tuntut Hak Plasma 20 Persen, Ribuan Warga Asam Jujuhan Unjuk Rasa ke PT TKA

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Padang Usulkan Proyek Lingkungan Hidup Pada Negara Jerman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cerpen “Rimbo Nan Tak Luko” Karya Tasya Syafa Kamila dan Ulasannya Oleh Azwar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Sawah ke Timeline: Kisah Kata “Ani-ani” yang Berubah Arti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Tinjau Jalan Berlubang di Ampang Kuranji, Gerak Cepat dengan PU Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024