Jumat, 17/4/26 | 03:09 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Lapang Dada di Ruang Sempit

Minggu, 09/2/25 | 15:45 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Duduak samo randah, tagak samo tinggi. Duduak basamo balapang-lapang, duduak surang basampik-sampik. Pepatah Minang ini begitu indah, menggambarkan semangat kebersamaan dan berbagi ruang dengan lapang dada. Namun, bagaimana jika semangat itu diuji dalam situasi nyata, seperti perjalanan panjang dalam sebuah bus yang penuh sesak?

Perjalanan ini dimulai dari kota yang dikenal sebagai “kotanya para penyair” menuju kota pendidikan yang dijuluki “kota tercinta.” Ketika itu, jalanan dipadati kendaraan, dan bus begitu sulit ditemukan. Keadaan yang sudah terprediksi, tapi tetap memaksa saya bergantung pada keberuntungan. Saat bus kecil dengan nama samar-samar di kaca depannya berhenti, tanpa pikir panjang, saya naik dan memilih tempat duduk dekat pintu. “Siapa cepat, dia dapat,” begitu kiranya nasihat yang saya pegang saat itu.

BACAJUGA

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

Seiring perjalanan, bus semakin penuh. Penumpang yang naik pun beragam: mulai dari anak-anak, remaja, hingga pasangan suami-istri. Ketika sopir memberi tahu bahwa bangku serap adalah satu-satunya pilihan, banyak penumpang dengan enggan tetap memilih naik. “Bus susah dicari, Buk! Mau menunggu lama?” ujar sopir, membuat penumpang tak punya pilihan selain menerima keadaan.

Di tengah perjalanan, seorang mahasiswi, tampaknya seusia saya, juga naik dengan harapan sama: duduk sementara di bangku serap. Namun, seperti biasa, janji sopir bahwa bus akan segera lapang hanyalah harapan kosong. Setiap kali ada penumpang turun, selalu saja ada yang naik menggantikan. Kondisi bus makin sumpek, udara pengap, dan ruang gerak terbatas.

Rasa kesal mulai menjalar di antara para penumpang. Wajah-wajah masam mendominasi suasana. Tak ada tegur sapa, tak ada senyuma, hanya keluhan dalam hati masing-masing. Bau keringat yang menyeruak dari tubuh penumpang menambah suasana semakin tak nyaman. Di tengah kepenatan itu, saya teringat kembali pada pepatah Minang tadi.

Sayangnya, filosofi itu terasa mustahil diterapkan di bus ini. Apakah sopir yang terlalu memaksakan penumpang, atau penumpang yang tetap memaksa naik meski bus sudah penuh? Entahlah. Yang jelas, semangat kebersamaan seolah terkikis dalam ruang sempit ini.

Lalu, saya berpikir, apakah pepatah hanya sekadar rangkaian kata yang indah diucapkan tapi sulit diwujudkan? Atau mungkin, di luar sana ada kisah lain yang berhasil mempraktikkan maknanya?

Mungkin, dalam perjalanan hidup ini, melapangkan hati adalah langkah pertama. Tapi melapangkan hati saja tidak cukup tanpa tindakan nyata. Pepatah Minang ini seharusnya menjadi pengingat untuk selalu berbagi, bukan hanya ruang, tetapi juga pengertian dan empati, bahkan di ruang sesempit sebuah bus.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Memaksimalkan Potensi Bahasa melalui Tradisi Pantun

Berita Sesudah

Hari Pers Nasional, Ketua DPRD Dharmasraya: Pers Pilar Demokrasi

Berita Terkait

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Berita Sesudah
Ketua DPRD Dharmasraya Ucapkan Selamat Ramadan

Hari Pers Nasional, Ketua DPRD Dharmasraya: Pers Pilar Demokrasi

POPULER

  • Afrina Hanum

    Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tim Lupak Polres Dharmasraya Sikat 5 Pelaku Narkoba di Sungai Kambut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Meriah! Dharmasraya Gelar CFD dan Bazaar UMKM 18–19 April

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KAN Pauh Kamba Diduga Cegah Pencalonan Warga, Status Adat Jadi Penghalang Pilwana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waspada Psikolog Gadungan, HIMPSI Sumbar Imbau Masyarakat Cek Keabsahan dan Legalitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 65 Kandidat Ketua DPC PKB se-Sumbar Bakal Ikuti UKK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oleh sebab itu, Oleh karena itu, atau Maka dari Itu?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026