Senin, 31/8/26 | 11:44 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Lapang Dada di Ruang Sempit

Minggu, 09/2/25 | 15:45 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Duduak samo randah, tagak samo tinggi. Duduak basamo balapang-lapang, duduak surang basampik-sampik. Pepatah Minang ini begitu indah, menggambarkan semangat kebersamaan dan berbagi ruang dengan lapang dada. Namun, bagaimana jika semangat itu diuji dalam situasi nyata, seperti perjalanan panjang dalam sebuah bus yang penuh sesak?

Perjalanan ini dimulai dari kota yang dikenal sebagai “kotanya para penyair” menuju kota pendidikan yang dijuluki “kota tercinta.” Ketika itu, jalanan dipadati kendaraan, dan bus begitu sulit ditemukan. Keadaan yang sudah terprediksi, tapi tetap memaksa saya bergantung pada keberuntungan. Saat bus kecil dengan nama samar-samar di kaca depannya berhenti, tanpa pikir panjang, saya naik dan memilih tempat duduk dekat pintu. “Siapa cepat, dia dapat,” begitu kiranya nasihat yang saya pegang saat itu.

BACAJUGA

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB
Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

Seiring perjalanan, bus semakin penuh. Penumpang yang naik pun beragam: mulai dari anak-anak, remaja, hingga pasangan suami-istri. Ketika sopir memberi tahu bahwa bangku serap adalah satu-satunya pilihan, banyak penumpang dengan enggan tetap memilih naik. “Bus susah dicari, Buk! Mau menunggu lama?” ujar sopir, membuat penumpang tak punya pilihan selain menerima keadaan.

Di tengah perjalanan, seorang mahasiswi, tampaknya seusia saya, juga naik dengan harapan sama: duduk sementara di bangku serap. Namun, seperti biasa, janji sopir bahwa bus akan segera lapang hanyalah harapan kosong. Setiap kali ada penumpang turun, selalu saja ada yang naik menggantikan. Kondisi bus makin sumpek, udara pengap, dan ruang gerak terbatas.

Rasa kesal mulai menjalar di antara para penumpang. Wajah-wajah masam mendominasi suasana. Tak ada tegur sapa, tak ada senyuma, hanya keluhan dalam hati masing-masing. Bau keringat yang menyeruak dari tubuh penumpang menambah suasana semakin tak nyaman. Di tengah kepenatan itu, saya teringat kembali pada pepatah Minang tadi.

Sayangnya, filosofi itu terasa mustahil diterapkan di bus ini. Apakah sopir yang terlalu memaksakan penumpang, atau penumpang yang tetap memaksa naik meski bus sudah penuh? Entahlah. Yang jelas, semangat kebersamaan seolah terkikis dalam ruang sempit ini.

Lalu, saya berpikir, apakah pepatah hanya sekadar rangkaian kata yang indah diucapkan tapi sulit diwujudkan? Atau mungkin, di luar sana ada kisah lain yang berhasil mempraktikkan maknanya?

Mungkin, dalam perjalanan hidup ini, melapangkan hati adalah langkah pertama. Tapi melapangkan hati saja tidak cukup tanpa tindakan nyata. Pepatah Minang ini seharusnya menjadi pengingat untuk selalu berbagi, bukan hanya ruang, tetapi juga pengertian dan empati, bahkan di ruang sesempit sebuah bus.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Memaksimalkan Potensi Bahasa melalui Tradisi Pantun

Berita Sesudah

Hari Pers Nasional, Ketua DPRD Dharmasraya: Pers Pilar Demokrasi

Berita Terkait

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa hari belakangan, saya membeli beberapa buku cerita bergambar...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah) Belajar sesuatu yang baru ternyata bukan hanya soal seberapa...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Belajar Lagi dari Tombol Undo

Minggu, 02/8/26 | 18:43 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Beberapa minggu terakhir ini, ada satu kegiatan baru yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Banyak Mendengar, Banyak Belajar

Minggu, 19/7/26 | 19:50 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu waktu, saya dan tim melakukan penelitian lapangan di...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Makan Dulu, Baca Kemudian

Minggu, 12/7/26 | 20:03 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Setelah beberapa kali memperhatikan slogan-slogan di rumah makan, saya mulai menyadari bahwa tulisan-tulisan itu...

Tentang Kipas Angin dan Perbedaan yang Sederhana

Minggu, 28/6/26 | 20:08 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Tinggal bersama orang lain dalam satu ruang yang sama sering kali memperlihatkan hal-hal...

Berita Sesudah
Ketua DPRD Dharmasraya Ucapkan Selamat Ramadan

Hari Pers Nasional, Ketua DPRD Dharmasraya: Pers Pilar Demokrasi

POPULER

  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepala Biro PBJ Akui Ada dalam Rekaman Video Mesra dan Mundur dari Jabatan, Sekda : Tetap Diperiksa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ibu Kota Nusantara (IKN)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026