Kamis, 03/9/26 | 10:43 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

Menyadari Keterbatasan Tidak Selalu Buruk

Minggu, 21/7/24 | 20:55 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Seorang teman bercerita bahwa kemampuan menulisnya begitu-begitu saja. Bahkan terkadang ia merasa tulisannya semakin buruk dan terasa tidak enak dibaca.

“Aku saja tidak tertarik membacanya, apa lagi orang lain?” tuturnya agak cemberut.

BACAJUGA

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB
Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

Di waktu yang lain, seorang teman juga pernah mengeluhkan hal yang sama, namun di bidang yang berbeda. Ia tengah menjejaki karier sebagai illustrator pemula. Namun, menyadari kemampuannya yang terasa begitu-begitu saja membuatnya maju mundur untuk meneruskan kariernya.

Keterbatasan memang sering kali membuat kita merasa tidak percaya diri. Namun, menyadari keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, itu bisa menjadi titik awal untuk kita berkembang. Mengapa? Karena dengan menyadari kekurangan, kita tahu area mana yang perlu diperbaiki. Itu adalah langkah pertama menuju perbaikan.

Seorang penulis terkenal pernah berkata, “Penulis yang baik bukanlah mereka yang tidak pernah membuat kesalahan, tetapi mereka yang terus memperbaiki diri.” Sama halnya dengan bidang lainnya. Seorang illustrator mungkin merasa gambarnya tidak sehebat karya orang lain. Tapi itu bukan alasan untuk menyerah. Itu justru panggilan untuk belajar lebih banyak, mencoba teknik baru, dan berlatih lebih giat.

Kita hidup di era di mana informasi dan pembelajaran sangat mudah diakses. Jika kita merasa kemampuan kita begitu-begitu saja, ada banyak sumber daya yang bisa kita manfaatkan untuk memperbaikinya. Buku, kursus online, workshop, dan komunitas adalah beberapa contoh sumber daya yang bisa membantu kita berkembang. Jangan takut untuk mencari bantuan dan belajar dari orang lain. Setiap orang yang sukses pernah berada di posisi kita saat ini.

Selain itu, penting juga untuk memberikan waktu pada diri sendiri. Proses belajar dan berkembang tidak terjadi dalam semalam. Butuh waktu dan kesabaran. Jangan terlalu keras pada diri sendiri jika hasilnya belum sesuai harapan. Ingatlah bahwa setiap usaha yang kita lakukan, sekecil apapun itu, akan membawa kita lebih dekat pada tujuan.

Sebagai contoh, mari lihat seorang penulis dan illustrator yang berbagi pengalaman mereka. Penulis tersebut awalnya merasa tulisannya tidak menarik dan sulit dipahami. Namun, dengan rutin menulis setiap hari, membaca berbagai jenis buku, dan meminta masukan dari teman, tulisannya mulai mengalami peningkatan. Sementara itu, sang illustrator terus berlatih menggambar setiap hari, menonton tutorial online, dan mengikuti komunitas seni. Perlahan tapi pasti, karyanya semakin baik dan mendapatkan pengakuan.

Dari cerita-cerita tersebut, kita bisa belajar bahwa menyadari keterbatasan tidak selalu buruk. Itu adalah langkah pertama menuju perubahan. Setiap orang memiliki potensi untuk berkembang, asalkan mereka mau berusaha dan tidak mudah menyerah. Jadi, jika kita merasa kemampuan kita begitu-begitu saja, jangan putus asa. Gunakan itu sebagai motivasi untuk belajar lebih banyak, berlatih lebih keras, dan terus berusaha.

Terakhir, ingatlah bahwa perjalanan menuju kesuksesan tidak selalu mulus. Akan ada rintangan dan tantangan yang menghadang. Namun, dengan tekad yang kuat dan sikap pantang menyerah, kita pasti bisa mengatasinya. Jadi, jangan takut untuk menyadari keterbatasan kita. Sebaliknya, jadikan itu sebagai pendorong untuk terus belajar dan berkembang. Dengan begitu, kita bisa mencapai potensi terbaik yang kita miliki.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Refleksi Pemikiran Hamka dalam Karya Fiksinya

Berita Sesudah

Meneroka Permukiman Masa Lalu Lembah Seribu Mejan

Berita Terkait

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa hari belakangan, saya membeli beberapa buku cerita bergambar...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah) Belajar sesuatu yang baru ternyata bukan hanya soal seberapa...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Belajar Lagi dari Tombol Undo

Minggu, 02/8/26 | 18:43 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Beberapa minggu terakhir ini, ada satu kegiatan baru yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Banyak Mendengar, Banyak Belajar

Minggu, 19/7/26 | 19:50 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu waktu, saya dan tim melakukan penelitian lapangan di...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Makan Dulu, Baca Kemudian

Minggu, 12/7/26 | 20:03 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Setelah beberapa kali memperhatikan slogan-slogan di rumah makan, saya mulai menyadari bahwa tulisan-tulisan itu...

Tentang Kipas Angin dan Perbedaan yang Sederhana

Minggu, 28/6/26 | 20:08 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Tinggal bersama orang lain dalam satu ruang yang sama sering kali memperlihatkan hal-hal...

Berita Sesudah
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Meneroka Permukiman Masa Lalu Lembah Seribu Mejan

Discussion about this post

POPULER

  • Ketua PKC PMII Sumatera Barat, M. Yusur Rahman.[foto: ist]

    Ketua PKC: Rekomendasi PMII pada Musda KNPI Pasaman Tidak Legal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Padang Terima Audiensi Kepala  BNNP  Sumbar,  Terkait  Peredaran Gelap Narkotika di Kota Padang.

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Teks, Ko-teks, dan Konteks dalam Wacana Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kebohongan dan Manipulasi Tanda dalam Film Keadilan (The Verdict): Analisis Semiotika Forensik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepala Biro PBJ Akui Ada dalam Rekaman Video Mesra dan Mundur dari Jabatan, Sekda : Tetap Diperiksa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Sawah ke Timeline: Kisah Kata “Ani-ani” yang Berubah Arti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026