Selasa, 26/5/26 | 06:18 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KREATIKA

Cerpen “Angkasa” Karya Bramstya Argadewa Bima Ryandie dan Ulasannya oleh Azwar

Minggu, 30/6/24 | 04:50 WIB

Suatu malam, setelah shalat Isya, seorang ustadz bercerita tentang kisah tiga sahabat: Bulan, Matahari, dan Bumi. Kisah ini membawa pembaca kembali ke masa lalu, ketika mereka masih remaja di pesantren. Ketiga sahabat ini menjalani kehidupan sehari-hari dengan penuh kebersamaan dan persahabatan yang erat. Mereka sering belajar dan bermain bersama, menunjukkan bagaimana persahabatan mereka berkembang. Konflik utama cerita terjadi ketika pondok pesantren diserang oleh perampok. Dalam situasi yang penuh ketegangan ini, Bulan menunjukkan keberanian luar biasa dengan melindungi Bumi dari serangan. Bulan terluka parah dalam upaya ini, tetapi tindakannya menyelamatkan sahabatnya membuatnya akhirnya merasa berharga.

Setelah kejadian tersebut, Bulan mulai menyadari bahwa dirinya tidak perlu selalu membandingkan dengan Matahari. Ia menyadari bahwa setiap orang memiliki keunikan dan kekuatan masing-masing. Dengan dukungan dari Kyai Langit dan sahabat-sahabatnya, Bulan belajar menerima dirinya sendiri dan menemukan kedamaian dalam hatinya. Cerita berakhir dengan Bulan yang telah memahami nilai sejati dari persahabatan dan penerimaan diri. Ia merasa lebih percaya diri dan siap menghadapi masa depan dengan semangat baru, menunjukkan bahwa perjalanan menemukan jati diri adalah proses yang penuh makna dan penting untuk pertumbuhan pribadi.

Secara struktural dalam dilihat bahwa judul cerpen ini menggambarkan keluasan dan ketinggian, memberikan kesan kebebasan dan imajinasi yang luas. Angkasa juga bisa mengindikasikan aspirasi atau mimpi yang tinggi. Sementara itu tema utama dari cerpen ini adalah perjuangan untuk menemukan jati diri dan nilai persahabatan. Kisah ini menggambarkan perjalanan karakter Bulan dalam mengatasi rasa tidak percaya diri dan bagaimana dia berjuang untuk menjadi lebih baik.

Tokoh dan perwatakan masing-masing tokoh dapat dilihat Bulan yang merupakan tokoh utama yang memiliki rasa tidak percaya diri. Ia digambarkan sebagai karakter yang pemalu dan merasa rendah diri dibandingkan dengan sahabatnya, Matahari. Matahari adalah sahabat Bulan yang selalu bersinar ceria dan menjadi idolanya. Matahari digambarkan sebagai karakter yang penuh semangat dan optimis. Bumi juga sahabat Bulan dan Matahari yang juga digambarkan sebagai pendukung dan teman setia. Serta tokoh Kyai Langit seorang Guru bijak yang memimpin pondok pesantren dan memberikan nasihat berharga kepada Bulan.

BACAJUGA

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara dan Ulasannya oleh Azwar

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara dan Ulasannya oleh Azwar

Minggu, 08/6/25 | 16:36 WIB
Puisi-puisi Puti Fathiya Azzahra dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Puisi-puisi Puti Fathiya Azzahra dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Minggu, 01/6/25 | 06:46 WIB

Latar tempat cerita terjadi di Pondok Pesantren di tengah hutan, langgar, dan musholla yang menjadi tempat utama berlangsungnya cerita. Waktu kejadian cerita malam hari, terutama setelah shalat Isya dan Maghrib, dengan beberapa kilas balik ke masa lalu saat Bulan dan sahabat-sahabatnya masih remaja. Suasana yang digambarkan dalam cerpen ini cenderung tenang, reflektif, dan penuh makna, dengan momen-momen ketegangan saat perampokan terjadi.

Alur Maju-Mundur: Cerpen ini menggunakan alur maju-mundur untuk menggambarkan perjalanan Bulan dari masa kecil hingga dewasa. Cerita dimulai dengan adegan setelah Isya di mana seorang ustadz menceritakan kisah tentang Bulan, Matahari, dan Bumi, kemudian berlanjut ke masa lalu mereka di pondok pesantren. Klimaks cerita terjadi saat perampokan di pondok pesantren, di mana Bulan terluka parah saat melindungi Bumi. Sementara itu antiklimaks terjadi setelah kejadian perampokan, Bulan akhirnya memahami bahwa dia tidak perlu selalu membandingkan dirinya dengan Matahari dan menemukan kedamaian dalam dirinya sendiri.

Halaman 8 dari 9
Prev1...789Next
Tags: Azwar Sutan MakalaBramstya Argadewa BRFLP SumbarKreatika
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Asyilah Nurhafidza dan Ulasannya oleh Dara Layl

Berita Sesudah

Eksotisme dalam Wacana Pariwisata

Berita Terkait

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara dan Ulasannya oleh Azwar

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara dan Ulasannya oleh Azwar

Minggu, 08/6/25 | 16:36 WIB

  Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara Alienasi Hidup Kita hanya seorang pelancong Yang mengembara segala tempat Lalu tinggal – termenung Di...

Puisi-puisi Puti Fathiya Azzahra dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Puisi-puisi Puti Fathiya Azzahra dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Minggu, 01/6/25 | 06:46 WIB

Puisi-puisi Puti Fathiya Azzahra Gambar Diri Ini gambar diri. Aku yang berjalan tak selalu lurus, kadang tersandung bayangan sendiri, cerobohku...

Cerpen “Seberkas Titik yang Masih Tertinggal” Karya Arifah Prima Satrianingrum dan Ulasannya oleh Azwar

Cerpen “Seberkas Titik yang Masih Tertinggal” Karya Arifah Prima Satrianingrum dan Ulasannya oleh Azwar

Minggu, 25/5/25 | 09:15 WIB

Seberkas Titik yang Masih Tertinggal Cerpen Oleh: Arifah Prima Satrianingrum   Siang itu, matahari dengan terik mengambang di Padang. Ruas-ruas...

Puisi-puisi Karya Farha Nabila dan Ulasannya Oleh Dara Layl

Puisi-puisi Karya Farha Nabila dan Ulasannya Oleh Dara Layl

Minggu, 11/5/25 | 07:10 WIB

Puisi-puisi Farha Nabila   Kanak-Kanak dalam Diri Tatkala kutemukan diriku dalam relung kesepian Yang disana takkan kutemukan dengungan sumpah serapah...

Cerpen “Sejauh Apapun, Kau Akan Selalu Hebat” karya Balqin Adzra dan Ulasannya oleh M. Adioska

Cerpen “Sejauh Apapun, Kau Akan Selalu Hebat” karya Balqin Adzra dan Ulasannya oleh M. Adioska

Minggu, 04/5/25 | 08:40 WIB

Sejauh Apapun, Kau Akan Selalu Hebat Karya: Balqin Adzra   “Silahkan mampir! Kami mempunyai mochi varian baru!” teriak sang penjual...

Puisi-puisi Feiruzy Azzahra dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Puisi-puisi Feiruzy Azzahra dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Minggu, 27/4/25 | 16:31 WIB

Puisi-puisi Feiruzy Azzahra   Merindu Nagari Nan Jauh Tiap langkah yang menapak Meninggalkan rindu yang menjejak Risau nan gulandah memenuhi...

Berita Sesudah
Metafora “Paradise” dalam Wacana Pariwisata

Eksotisme dalam Wacana Pariwisata

Discussion about this post

POPULER

  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    Bahasa Estetik dalam Luka “Gaza Tak Pernah Sunyi” Karya Hardi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Roni Aprianto Terpilih Aklamasi Jadi Ketua PWI Dharmasraya Periode 2026-2029

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Duka Cita atau Dukacita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026