Dua hari sudah berlalu sejak kejadian itu, Bulan masih belum sadar dan masih dirawat dirumah Kiai Langit, sang Kiai sendiri yang merawatnya. Pagi ini Matahari dan Bumi tidak ada jadwal apa-apa, Kiai Langit mengizinkan mereka menjenguknya. Sebenarnya Kiai Langit sendiri yang mengatur supaya jadwal mereka berdua kosong agar mereka bisa menemani Bulan yang masih belum siuman.
Matahari menunggui Bulan dengan telaten, pagi ini saat dia baru datang dia melihat jari Bulan yang sepertinya bergerak sedikit. “Eh yang bener, itu jarinya gerak kan?” Tanyanya pada Bumi disampingnya. Perlahan Bulan membuka matanya, punggungnya terasa perih. Perlahan dia berusaha duduk, Matahari membantunya sedangkan Bumi mengambilkan segelas air.
Mereka berdua menunggu dengan sabar sampai Bulan selesai minum.
“Jadi kenapa aku disini, aku nggak terlalu inget kejadian kemarin setelah perampok menyerang pondok kita?” Tanya bulan. “Kamu nyelamtin aku dari seorang perampok yang nyerang aku dari belakang pake golok, nuwun yo[6]” Jawab Bumi. Bulan mengangguk mengerti, karena itu punggungnya terasa perih. Dia menoleh kearah Matahari, wajahnya terlihat senang dan bersinar seperti biasa, tapi ada sesuatu yang berbeda dimatanya, sama seperti malam itu.
Sudah seminggu sejak Bulan siuman, lukanya sudah mulai kering. Siang itu saat Bulan sedang mengambilkan rambutan untuk santri-santri yang masih kecil, Matahari datang menghampirinya. “Bisa kita ketemuan nanti sore Lan, ada yang mau ku omongin?” Tanyanya langsung. “Bisa, tepi kenapa gak sekarang aja?” Tanya Bulan balik. Matahari tidak menjawab, tapi dari kilatan matanya bulan paham kalo ini sesuatu yang penting, kilatan matanya sama dengan saat dia siuman dan saat sebelum kejadian perampokan. Bulan mengangguk.
Matahari sudah menunggunya di bawah pohon rambutan dekat gerbang keluar pondok, Bulan menghampirinya perlahan. “Assalamualaikum” Sapa Bulan padanya. “Waalaikumsalam” Jawabnya, Bulan duduk disampingnya. Mereka berdua duduk terdiam beberepa saat sambil melihat santri-santri kecil yang berlarian. Bulan menunggu Matahari siap, apapun yang ingin dikatakan oleh Matahari pasti berat.










Discussion about this post