Selasa, 26/5/26 | 08:34 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KREATIKA

Cerpen “Angkasa” Karya Bramstya Argadewa Bima Ryandie dan Ulasannya oleh Azwar

Minggu, 30/6/24 | 04:50 WIB

Dua hari sudah berlalu sejak kejadian itu, Bulan masih belum sadar dan masih dirawat dirumah Kiai Langit, sang Kiai sendiri yang merawatnya. Pagi ini Matahari dan Bumi tidak ada jadwal apa-apa, Kiai Langit mengizinkan mereka menjenguknya. Sebenarnya Kiai Langit sendiri yang mengatur supaya jadwal mereka berdua kosong agar mereka bisa menemani Bulan yang masih belum siuman.

Matahari menunggui Bulan dengan telaten, pagi ini saat dia baru datang dia melihat jari Bulan yang sepertinya bergerak sedikit. “Eh yang bener, itu jarinya gerak kan?” Tanyanya pada Bumi disampingnya. Perlahan Bulan membuka matanya, punggungnya terasa perih. Perlahan dia berusaha duduk, Matahari membantunya sedangkan Bumi mengambilkan segelas air.

Mereka berdua menunggu dengan sabar sampai Bulan selesai minum.

“Jadi kenapa aku disini, aku nggak terlalu inget kejadian kemarin setelah perampok menyerang pondok kita?” Tanya bulan. “Kamu nyelamtin aku dari seorang perampok yang nyerang aku dari belakang pake golok, nuwun yo[6]” Jawab Bumi. Bulan mengangguk mengerti, karena itu punggungnya terasa perih. Dia menoleh kearah Matahari, wajahnya terlihat senang dan bersinar seperti biasa, tapi ada sesuatu yang berbeda dimatanya, sama seperti malam itu.

BACAJUGA

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara dan Ulasannya oleh Azwar

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara dan Ulasannya oleh Azwar

Minggu, 08/6/25 | 16:36 WIB
Puisi-puisi Puti Fathiya Azzahra dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Puisi-puisi Puti Fathiya Azzahra dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Minggu, 01/6/25 | 06:46 WIB

Sudah seminggu sejak Bulan siuman, lukanya sudah mulai kering. Siang itu saat Bulan sedang mengambilkan rambutan untuk santri-santri yang masih kecil, Matahari datang menghampirinya. “Bisa kita ketemuan nanti sore Lan, ada yang mau ku omongin?” Tanyanya langsung. “Bisa, tepi kenapa gak sekarang aja?” Tanya Bulan balik. Matahari tidak menjawab, tapi dari kilatan matanya bulan paham kalo ini sesuatu yang penting, kilatan matanya sama dengan saat dia siuman dan saat sebelum kejadian perampokan. Bulan mengangguk.

Matahari sudah menunggunya di bawah pohon rambutan dekat gerbang keluar pondok, Bulan menghampirinya perlahan. “Assalamualaikum” Sapa Bulan padanya. “Waalaikumsalam” Jawabnya, Bulan duduk disampingnya. Mereka berdua duduk terdiam beberepa saat sambil melihat santri-santri kecil yang berlarian. Bulan menunggu Matahari siap, apapun yang ingin dikatakan oleh Matahari pasti berat.

Halaman 5 dari 9
Prev1...456...9Next
Tags: Azwar Sutan MakalaBramstya Argadewa BRFLP SumbarKreatika
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Asyilah Nurhafidza dan Ulasannya oleh Dara Layl

Berita Sesudah

Eksotisme dalam Wacana Pariwisata

Berita Terkait

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara dan Ulasannya oleh Azwar

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara dan Ulasannya oleh Azwar

Minggu, 08/6/25 | 16:36 WIB

  Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara Alienasi Hidup Kita hanya seorang pelancong Yang mengembara segala tempat Lalu tinggal – termenung Di...

Puisi-puisi Puti Fathiya Azzahra dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Puisi-puisi Puti Fathiya Azzahra dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Minggu, 01/6/25 | 06:46 WIB

Puisi-puisi Puti Fathiya Azzahra Gambar Diri Ini gambar diri. Aku yang berjalan tak selalu lurus, kadang tersandung bayangan sendiri, cerobohku...

Cerpen “Seberkas Titik yang Masih Tertinggal” Karya Arifah Prima Satrianingrum dan Ulasannya oleh Azwar

Cerpen “Seberkas Titik yang Masih Tertinggal” Karya Arifah Prima Satrianingrum dan Ulasannya oleh Azwar

Minggu, 25/5/25 | 09:15 WIB

Seberkas Titik yang Masih Tertinggal Cerpen Oleh: Arifah Prima Satrianingrum   Siang itu, matahari dengan terik mengambang di Padang. Ruas-ruas...

Puisi-puisi Karya Farha Nabila dan Ulasannya Oleh Dara Layl

Puisi-puisi Karya Farha Nabila dan Ulasannya Oleh Dara Layl

Minggu, 11/5/25 | 07:10 WIB

Puisi-puisi Farha Nabila   Kanak-Kanak dalam Diri Tatkala kutemukan diriku dalam relung kesepian Yang disana takkan kutemukan dengungan sumpah serapah...

Cerpen “Sejauh Apapun, Kau Akan Selalu Hebat” karya Balqin Adzra dan Ulasannya oleh M. Adioska

Cerpen “Sejauh Apapun, Kau Akan Selalu Hebat” karya Balqin Adzra dan Ulasannya oleh M. Adioska

Minggu, 04/5/25 | 08:40 WIB

Sejauh Apapun, Kau Akan Selalu Hebat Karya: Balqin Adzra   “Silahkan mampir! Kami mempunyai mochi varian baru!” teriak sang penjual...

Puisi-puisi Feiruzy Azzahra dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Puisi-puisi Feiruzy Azzahra dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Minggu, 27/4/25 | 16:31 WIB

Puisi-puisi Feiruzy Azzahra   Merindu Nagari Nan Jauh Tiap langkah yang menapak Meninggalkan rindu yang menjejak Risau nan gulandah memenuhi...

Berita Sesudah
Metafora “Paradise” dalam Wacana Pariwisata

Eksotisme dalam Wacana Pariwisata

Discussion about this post

POPULER

  • Diksi Cantik sebagai Identitas Perempuan di Instagram

    Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bahasa Estetik dalam Luka “Gaza Tak Pernah Sunyi” Karya Hardi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Roni Aprianto Terpilih Aklamasi Jadi Ketua PWI Dharmasraya Periode 2026-2029

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Duka Cita atau Dukacita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026