Minggu, 26/7/26 | 00:20 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Memaknai Ulang Istilah ‘Kampung Halaman’ dalam Novel Apfelkuchen und Baklava

Minggu, 28/4/24 | 10:49 WIB

Dalam Apfelkuchen und Baklava, kehidupan Leila, ibunya, dan kedua kakaknya jauh lebih baik ketimbang di Suriah. Doch hier fallen keine Bomben, denkt sie. Hier ist es still. Hier … ist es sicher. Und das ist gut! (Rohmann, 2016, hlm. 19) – disini tidak ada bom. Disini tenang, aman. Dan ini menyenangkan! Meskipun begitu, Leila tetap merasakan ada sesuatu yang hilang. Kerinduannya terhadap ayah dan neneknya yang masih berada di Suriah tidak terbendung lagi. Terlebih sejak ia kehilangan biji kenarinya itu. Ia pun makin merasa tercerabut dengan satu-satunya benda yang menghubungkannya dengan kampung halamannya, dan orang-orang yang ditinggalkannya.

Siapa sangka, orang yang paling dapat memahami situasi Leila mewujud dalam sosok Getrud, alias nenek Max. Tokoh Getrud ternyata pernah menjadi seorang Fluchtlinge di masa kecilnya. Perang Dunia II mengakibatkan wilayah Pommerania, sebuah kota yang terletak di Jerman bagian utara terbelah menjadi dua. Sebagian menjadi wilayah Jerman, sebagian lagi menjadi wilayah negara Polandia. Di Pomerania terdapat kota kecil bernama Juchowo yang merupakan asal usul dari nenek Getrud. Ia bersama ibu dan adik perempuannya harus mengungsi ke Jerman meninggalkan ayah, kakek dan neneknya. Pekerjaan ayah Getrud sebagai seorang tentara membuatnya memilih untuk menetap di Juchowo. “Sie wollten eher sterben als Juchow zu verlassen” (Rohmann, 2016, hlm. 125) – “mereka lebih memilih mati, ketimbang meninggalkan Juchowo”.

Situasi perang menyebabkan timbulnya perselisihan di antara keluarga Getrud, “meine Mutter hat sehr laut mit ihnen gestritten” (Rohmann, 2016, hlm. 125) – “ibuku dulu sering bertengkar hebat dengan mereka”. Perpisahan tidak dapat dihindari, pada akhirnya ayah dan kakek-nenek Getrud harus merelakan ketiganya pergi meninggalkan Juchowo. Sebagai kenang-kenangan, nenek Getrud memberikan kenang-kenangan berupa sebuah resep kue lebkuchen, sebuah kue jahe khas Jerman yang dihidangkan saat natal. Max sudah sering diceritakan mengenai resep kue lebkuchen, namun ia baru mengetahui asal usul neneknya ketika tidak sengaja menguping pembicaraan Getrud dengan Leila.

Tokoh Leila dan Getrud memiliki persamaan, yaitu sama-sama merupakan sosok yang melakukan pelarian diri dari kampung halaman dan mencari suaka di Jerman. Gertud dapat memahami perasaan Leila karena keduanya sama-sama memiliki satu hal yang dapat menghubungkan mereka terhadap kampung halaman mereka. Biji kenari dan resep kue jahe memiliki makna simbolis, yaitu masa lalu, termasuk kampung halaman dan orang-orang yang mereka tinggalkan. Hilangnya biji kenari Leila dimaknai sebagai perpisahan terhadap masa lalu, sekaligus kerinduan terhadap kampung halamannya. Tokoh Getrud sudah sering membuatkan kue jahe dan menceritakan tentang resep kue jahe itu, menandakan upayanya untuk terus mengingat kampung halaman, sekaligus bentuk penerimaan nenek Max terhadap kehidupannya di masa sekarang.

BACAJUGA

Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

Menguji Sila Kemanusiaan: Representasi Pancasila dalam Polemik Pride Month SUMA UI

Minggu, 19/7/26 | 22:26 WIB
Batu dan Zaman

Mencari Kehangatan di Era AI Melalui Boyfriend on Demand dan Esok Tanpa Ibu

Minggu, 19/7/26 | 21:31 WIB
Halaman 2 dari 3
Prev123Next
Tags: #Andina Meutia Hawa
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Perbedaan Awalan ber- dan me-

Berita Sesudah

Obrolan Perempuan Tidak Selalu Merumpi

Berita Terkait

Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

Menguji Sila Kemanusiaan: Representasi Pancasila dalam Polemik Pride Month SUMA UI

Minggu, 19/7/26 | 22:26 WIB

Oleh: Nikicha Myomi Chairanti  (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Pada awal Juni 2026, jagat media sosial Indonesia bergolak akibat...

Batu dan Zaman

Mencari Kehangatan di Era AI Melalui Boyfriend on Demand dan Esok Tanpa Ibu

Minggu, 19/7/26 | 21:31 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Beberapa tahun ke belakang, kemunculan kecerdasan buatan (Artificial...

Teknologi Digital Mengubah Cara Berbelanja

Teknologi Digital Mengubah Cara Berbelanja

Senin, 13/7/26 | 07:52 WIB

Oleh: Minas Salihin Iskandar (Mahasiswa Prodi Manajemen FEB Universitas Andalas) Bayangkan toko kelontong kecil di sudut jalan. Dulu, toko itu...

Dominasi Penggunaan Frasa Berdasarkan Tujuan Berbahasa

Dominasi Penggunaan Frasa Berdasarkan Tujuan Berbahasa

Senin, 13/7/26 | 07:38 WIB

Oleh : Hazizah Jafitra (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Penggunaan bahasa bukan hanya sebatas berfungsi...

Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

Mantra Dunia Bocah, Analisis Stilistika Cerita “Ciku Si Penyihir Cilik”

Senin, 13/7/26 | 07:19 WIB

Oleh: Nikicha Myomi Chairanti (Mahasiswa Sastra Indonesia  FIB Universitas Andalas)   Apa jadinya kalau matematika yang rumit harus bertarung melawan...

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Senin, 06/7/26 | 05:56 WIB

Oleh: Abdul Hamid Sajidurrahman (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Mahasiswa FEB Universitas Andalas)   Di era digital seperti sekarang, cara...

Berita Sesudah
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Obrolan Perempuan Tidak Selalu Merumpi

Discussion about this post

POPULER

  • Kecelakaan Kerja Maut di Pabrik CPO Dharmasraya, Karyawan Tewas Digulung Konveyor

    Kecelakaan Kerja Maut di Pabrik CPO Dharmasraya, Karyawan Tewas Digulung Konveyor

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko-DPRD Bukittinggi Resmi Setujui Revisi Perda Pajak Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Vania Kharizma dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polres Dharmasraya Selidiki Kematian Karyawan PT DSL di Area Mesin Konveyor

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Definisi Kata Lucu bagi Perempuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026