Selasa, 07/4/26 | 15:30 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

Hal yang Dinanti Itu Bernama Oleh-Oleh

Minggu, 17/9/23 | 12:24 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Hal paling saya tunggu dari seorang teman yang pulang melancong adalah oleh-oleh. Tidak harus perjalanan jauh luar negeri atau provinsi, cukup luar kota dalam provinsi saja kehadiran oleh-oleh sungguh sangat dinanti. Tentu saja tanpa menyampingkan faktor keselamatannya pulang-pergi. Sebagai seorang teman, bertemu dengannya sepulang melancong dalam keadaan sehat dan selamat merupakan hal utama.

Bagi saya, oleh-oleh merupakan hal penting dalam mempererat hubungan silaturahmi. Oleh-oleh merupakan suvenir atau hadiah yang dibawa oleh seseorang dari tempat ia berkunjung (wisata) untuk diberikan kepada keluarga, teman, atau rekan kerja sebagai tanda perhatian dan kenang-kenangan. Biasanya hal yang dibawa mencerminkan budaya tempat yang ia kunjungi, seperti makanan atau produk khas dari daerah tersebut.

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Seorang teman pernah menyatakan kalau jenis oleh-oleh yang diberikan dapat mempengaruhi psikologi penerima. Biasanya kalau si pemberi ingin si penerima mengenang pemberiannya dengan waktu yang lama, maka jangan berikan makanan. Bisa saja itu berupa aksesoris atau pakaian.

Namun, jika ingin suasana keakraban oleh-oleh yang cocok adalah makan karena dapat disantap secara bersama-sama. Tentu saja dengan minuman dan cerita tentang pengalaman liburannya. Tidak semua kita juga setuju dengan pernyataan itu, karena bermacam pula pengalaman tentang oleh-oleh ini.

Namun begitu, oleh-oleh dapat dimaknai sebagai cara untuk berbagi dan mengenang pengalaman perjalanan. Dengan oleh-oleh kita dapat memperkuat hubungan sosial, menghormati budaya dan produk lokal tempat yang dikunjungi. Dengan memberikannya berarti kita berbagi kebahagian dengan rekan-rekan.

Begitu pula sebaliknya, jika saya bepergian tentu harus ada oleh-oleh pula yang dibawa. Tidak elok pula kiranya jika hanya menerima pemberian oleh-oleh dari teman saja. Jangan sampai pula muncul stigma “kalau menerima oleh-oleh cepat, tapi untuk memberi begitu sulit”, sungguh sangat memalukan. Mungkin saja akan menjadi “bahan” pembicaraan oleh rekan-rekan.

Jangan sampai oleh-oleh yang kita bawa selepas melancong hanya “carito masiak” saja. Panjang-lebar kita bercerita tentang pengalaman liburan di suatu tempat. Bahkan dengan semangat berapi-api, begitu detail dan lengkap kita menyampaikannya. Mungkin saja sebagian tidak suka mendengarkannya. Jangan sampai pula keluar ucapan “oleh-olehnya saya pulang dengan selamat saja sudah cukup, bisa kembali berkumpul bersama”. Jangan-jangan ada menginginkannya untuk tidak kembali lagi. Sungguh tidak baik pula.

Lain lagi bila oleh-oleh yang sudah dibeli belum sampai kepada si penerima. Tentu saja sebagai “buah tangan” dari kunjungan ke suatu daerah kita perlu untuk membelikan oleh-oleh. Bisa saja oleh-oleh itu khusus untuk yang teristimewa. Mirisnya, oleh-oleh itu belum sampai ke tangannya dengan berbagai macam kendala. Kira-kira apakah oleh-oleh itu masih tetap istimewa?

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Bercanda sebagai Eufemisme Kritik

Berita Sesudah

Representasi Hubungan Perempuan dan Ayahnya dalam Drama Korea Hello, My Twenties! Season 2

Berita Terkait

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kecamatan Gunuang Omeh, khususnya Nagari Talang Anau bukan tempat...

Berita Sesudah
Penggambaran Perempuan Muda dalam Serial Hello, My Twenties! Season 1

Representasi Hubungan Perempuan dan Ayahnya dalam Drama Korea Hello, My Twenties! Season 2

Discussion about this post

POPULER

  • Capaian Pembangunan di Dharmasraya Tahun 2025 Dinilai Progresif

    Capaian Pembangunan di Dharmasraya Tahun 2025 Dinilai Progresif

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kehilangan Ijazah Bukan Akhir Segalanya, Ini Prosedur Resmi Dapatkan SKPI yang Sah di Mata Hukum.

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bentuk-Bentuk Singkatan dalam Surat Resmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oleh sebab itu, Oleh karena itu, atau Maka dari Itu?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026