Kamis, 16/4/26 | 03:47 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand)

Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk mewawancarai para maestro, petani sepuh, tokoh adat, dan pelaku tradisi yang masih menjaga praktik kebudayaan pertanian Minangkabau. Saya mendengarkan kisah tentang tradisi lisan seperti ratik tolak bala, kaue, malimauan padi, dan manantang ari dan lainnya. Dari pertemuan-pertemuan itu, saya belajar bagaimana tradisi lisan tetap hidup dalam keseharian dunia pertanian.

Di Minangkabau, bertani bukan sekadar menanam dan memanen. Di balik setiap ayunan sabit dan langkah di sawah, ada kata-kata yang hidup: doa-doa, pantun, mantra, nyanyian rakyat, dan pepatah adat. Ungkapan-ungkapan itu bukan hanya hiasan bahasa, melainkan bagian dari cara masyarakat memahami alam, menghormati tanah, dan menjaga hubungan antarsesama.

Namun, tradisi lisan yang tumbuh di dunia pertanian ini semakin jarang terdengar. Banyak di antara tradisi itu, kini hanya diingat oleh para petani lanjut usia. Perubahan zaman, pergeseran pola kerja, dan melemahnya peran komunitas adat membuat warisan tutur ini perlahan memudar. Jika tidak segera didokumentasikan, bukan tidak mungkin ia akan hilang tanpa jejak.

BACAJUGA

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

Dari hasil wawancara yang saya lakukan terungkap kenyataan yang cukup menggetarkan bahwa sejumlah tradisi itu tidak lagi dipraktikkan sebagaimana mestinya melainkan tinggal sebagai cerita yang dikenang. Ia hidup dalam ingatan bukan lagi dalam tindakan disebut sebagai yang dulu pernah ada tetapi jarang benar benar dilaksanakan. Seorang maestro yang saya temui menyampaikan dengan nada lirih bahwa persoalan utamanya terletak pada terputusnya regenerasi.

Yang muda tidak mau bertanya yang tua enggan memberitahu ujarnya mengulang sebuah ungkapan yang sarat makna. Kalimat itu seolah merangkum jarak antargenerasi yang kian melebar ketika tradisi tidak lagi diwariskan melalui praktik langsung melainkan berhenti pada pengalaman personal para pelaku sepuh. Di titik inilah warisan tutur menjadi rapuh bukan karena ia kehilangan nilai tetapi karena ruang pewarisannya kian menyempit.

Barangkali yang perlu kita lakukan bukan sesuatu yang rumit tetapi sesuatu yang tulus. Membuka ruang agar cerita cerita itu kembali diucapkan di sawah di rumah di sekolah dan di balai adat sehingga generasi muda tidak merasa asing dengan bahasanya sendiri. Tradisi lisan akan tetap hidup jika ia didengar dihafal dipraktikkan dan dirasakan manfaatnya bersama. Selama masih ada yang mau bertanya dan ada yang bersedia berbagi maka suara petani tidak akan benar benar hilang. Ia akan tetap tumbuh seperti padi yang dirawat dengan sabar mengakar kuat di tanahnya sendiri dan menguning memberi harapan bagi masa depan.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pemprov Sumbar Genjot Geopark Silokek ke UNESCO

Berita Sesudah

Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

Berita Terkait

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kecamatan Gunuang Omeh, khususnya Nagari Talang Anau bukan tempat...

Berita Sesudah
Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

POPULER

  • Representasi Kekerasan terhadap Perempuan dalam Film Darlings (2022)

    Pandangan Kematian dalam Film Marry My Death Body

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sastra Pariwisata di Padang Panjang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kantor MUIĀ Sumbar Bakal DibangunĀ dengan Dana APBD Rp24 Miliar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Selenggarakan Pelatihan Literasi AI bagi 500 Kepsek se Kota Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026