Minggu, 30/8/26 | 22:00 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand)

Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk mewawancarai para maestro, petani sepuh, tokoh adat, dan pelaku tradisi yang masih menjaga praktik kebudayaan pertanian Minangkabau. Saya mendengarkan kisah tentang tradisi lisan seperti ratik tolak bala, kaue, malimauan padi, dan manantang ari dan lainnya. Dari pertemuan-pertemuan itu, saya belajar bagaimana tradisi lisan tetap hidup dalam keseharian dunia pertanian.

Di Minangkabau, bertani bukan sekadar menanam dan memanen. Di balik setiap ayunan sabit dan langkah di sawah, ada kata-kata yang hidup: doa-doa, pantun, mantra, nyanyian rakyat, dan pepatah adat. Ungkapan-ungkapan itu bukan hanya hiasan bahasa, melainkan bagian dari cara masyarakat memahami alam, menghormati tanah, dan menjaga hubungan antarsesama.

Namun, tradisi lisan yang tumbuh di dunia pertanian ini semakin jarang terdengar. Banyak di antara tradisi itu, kini hanya diingat oleh para petani lanjut usia. Perubahan zaman, pergeseran pola kerja, dan melemahnya peran komunitas adat membuat warisan tutur ini perlahan memudar. Jika tidak segera didokumentasikan, bukan tidak mungkin ia akan hilang tanpa jejak.

BACAJUGA

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB
Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

Dari hasil wawancara yang saya lakukan terungkap kenyataan yang cukup menggetarkan bahwa sejumlah tradisi itu tidak lagi dipraktikkan sebagaimana mestinya melainkan tinggal sebagai cerita yang dikenang. Ia hidup dalam ingatan bukan lagi dalam tindakan disebut sebagai yang dulu pernah ada tetapi jarang benar benar dilaksanakan. Seorang maestro yang saya temui menyampaikan dengan nada lirih bahwa persoalan utamanya terletak pada terputusnya regenerasi.

Yang muda tidak mau bertanya yang tua enggan memberitahu ujarnya mengulang sebuah ungkapan yang sarat makna. Kalimat itu seolah merangkum jarak antargenerasi yang kian melebar ketika tradisi tidak lagi diwariskan melalui praktik langsung melainkan berhenti pada pengalaman personal para pelaku sepuh. Di titik inilah warisan tutur menjadi rapuh bukan karena ia kehilangan nilai tetapi karena ruang pewarisannya kian menyempit.

Barangkali yang perlu kita lakukan bukan sesuatu yang rumit tetapi sesuatu yang tulus. Membuka ruang agar cerita cerita itu kembali diucapkan di sawah di rumah di sekolah dan di balai adat sehingga generasi muda tidak merasa asing dengan bahasanya sendiri. Tradisi lisan akan tetap hidup jika ia didengar dihafal dipraktikkan dan dirasakan manfaatnya bersama. Selama masih ada yang mau bertanya dan ada yang bersedia berbagi maka suara petani tidak akan benar benar hilang. Ia akan tetap tumbuh seperti padi yang dirawat dengan sabar mengakar kuat di tanahnya sendiri dan menguning memberi harapan bagi masa depan.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pemprov Sumbar Genjot Geopark Silokek ke UNESCO

Berita Sesudah

Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

Berita Terkait

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa hari belakangan, saya membeli beberapa buku cerita bergambar...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah) Belajar sesuatu yang baru ternyata bukan hanya soal seberapa...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Belajar Lagi dari Tombol Undo

Minggu, 02/8/26 | 18:43 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Beberapa minggu terakhir ini, ada satu kegiatan baru yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Banyak Mendengar, Banyak Belajar

Minggu, 19/7/26 | 19:50 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu waktu, saya dan tim melakukan penelitian lapangan di...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Makan Dulu, Baca Kemudian

Minggu, 12/7/26 | 20:03 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Setelah beberapa kali memperhatikan slogan-slogan di rumah makan, saya mulai menyadari bahwa tulisan-tulisan itu...

Tentang Kipas Angin dan Perbedaan yang Sederhana

Minggu, 28/6/26 | 20:08 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Tinggal bersama orang lain dalam satu ruang yang sama sering kali memperlihatkan hal-hal...

Berita Sesudah
Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

POPULER

  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepala Biro PBJ Akui Ada dalam Rekaman Video Mesra dan Mundur dari Jabatan, Sekda : Tetap Diperiksa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bianglala: Menelusuri Makna, Sejarah, dan Jejak Kebudayaan dalam Sebuah Kata

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026