Minggu, 31/5/26 | 11:52 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand)

Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk mewawancarai para maestro, petani sepuh, tokoh adat, dan pelaku tradisi yang masih menjaga praktik kebudayaan pertanian Minangkabau. Saya mendengarkan kisah tentang tradisi lisan seperti ratik tolak bala, kaue, malimauan padi, dan manantang ari dan lainnya. Dari pertemuan-pertemuan itu, saya belajar bagaimana tradisi lisan tetap hidup dalam keseharian dunia pertanian.

Di Minangkabau, bertani bukan sekadar menanam dan memanen. Di balik setiap ayunan sabit dan langkah di sawah, ada kata-kata yang hidup: doa-doa, pantun, mantra, nyanyian rakyat, dan pepatah adat. Ungkapan-ungkapan itu bukan hanya hiasan bahasa, melainkan bagian dari cara masyarakat memahami alam, menghormati tanah, dan menjaga hubungan antarsesama.

Namun, tradisi lisan yang tumbuh di dunia pertanian ini semakin jarang terdengar. Banyak di antara tradisi itu, kini hanya diingat oleh para petani lanjut usia. Perubahan zaman, pergeseran pola kerja, dan melemahnya peran komunitas adat membuat warisan tutur ini perlahan memudar. Jika tidak segera didokumentasikan, bukan tidak mungkin ia akan hilang tanpa jejak.

BACAJUGA

Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB
Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tiga Belas Persen Lagi!

Minggu, 17/5/26 | 19:57 WIB

Dari hasil wawancara yang saya lakukan terungkap kenyataan yang cukup menggetarkan bahwa sejumlah tradisi itu tidak lagi dipraktikkan sebagaimana mestinya melainkan tinggal sebagai cerita yang dikenang. Ia hidup dalam ingatan bukan lagi dalam tindakan disebut sebagai yang dulu pernah ada tetapi jarang benar benar dilaksanakan. Seorang maestro yang saya temui menyampaikan dengan nada lirih bahwa persoalan utamanya terletak pada terputusnya regenerasi.

Yang muda tidak mau bertanya yang tua enggan memberitahu ujarnya mengulang sebuah ungkapan yang sarat makna. Kalimat itu seolah merangkum jarak antargenerasi yang kian melebar ketika tradisi tidak lagi diwariskan melalui praktik langsung melainkan berhenti pada pengalaman personal para pelaku sepuh. Di titik inilah warisan tutur menjadi rapuh bukan karena ia kehilangan nilai tetapi karena ruang pewarisannya kian menyempit.

Barangkali yang perlu kita lakukan bukan sesuatu yang rumit tetapi sesuatu yang tulus. Membuka ruang agar cerita cerita itu kembali diucapkan di sawah di rumah di sekolah dan di balai adat sehingga generasi muda tidak merasa asing dengan bahasanya sendiri. Tradisi lisan akan tetap hidup jika ia didengar dihafal dipraktikkan dan dirasakan manfaatnya bersama. Selama masih ada yang mau bertanya dan ada yang bersedia berbagi maka suara petani tidak akan benar benar hilang. Ia akan tetap tumbuh seperti padi yang dirawat dengan sabar mengakar kuat di tanahnya sendiri dan menguning memberi harapan bagi masa depan.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pemprov Sumbar Genjot Geopark Silokek ke UNESCO

Berita Sesudah

Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

Berita Terkait

Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Belakangan ini, saya menyadari bahwa kehidupan modern sering melekat pada benda-benda kecil yang selalu...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tiga Belas Persen Lagi!

Minggu, 17/5/26 | 19:57 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada banyak benda kecil yang sering diremehkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengisi daya, atau...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Coretan di Pinggir Halaman

Minggu, 10/5/26 | 20:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Perkembangan teknologi informasi membuat banyak aktivitas akademik menjadi lebih praktis. Laptop, tablet, dan berbagai...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Dari Niat ke Langkah Pagi

Minggu, 03/5/26 | 18:17 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Pagi bagi saya bukan ajakan yang mudah untuk segera bergerak, tetapi selalu memberi kesempatan...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah...

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Berita Sesudah
Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

POPULER

  • Gempuran Hiburan Modern, Dendang Saluang Kian Terlupakan

    Gempuran Hiburan Modern, Dendang Saluang Kian Terlupakan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Tanda Hubung (-) dan Tanda Pisah (—)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Pintar, Cerdas, Pandai, Cakap, Cerdik, dan Mahir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berbagai Istilah Urutan Waktu dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • APBD Sumbar Tahun 2025 Ditetapkan Rp6,4 Triliun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026