Kamis, 23/4/26 | 15:08 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir tentang satu istilah yang sering didengar yaitu “satu-satu”. Kedengarannya sederhana, bahkan terlalu biasa sampai saya jarang memikirkannya. Kalau dilihat sepintas, kata ini hanya pengulangan dari angka yang sama yaitu satu, lalu satu lagi.

Justru dari kesederhanaan itulah menariknya. Dalam percakapan sehari-hari, istilah “satu-satu” sering kali tidak lagi sekadar menunjuk pada angka. Ia berubah menjadi cara kita menenangkan situasi, mengatur pembicaraan, atau sekadar mengingatkan bahwa segala sesuatu sebaiknya dijalani dengan pelan-pelan.

BACAJUGA

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Saat berada di sebuah kedai kopi, seorang teman berkata akan membahas persoalan tersebut satu-satu. Pernyataan itu bukan bermakna sedang menghitung angka, maksudntya pelan-pelan dan berurutan, tidak sekaligus. Ada rasa sabar di dalamnya, ada ajakan untuk tidak tergesa-gesa.

Dalam banyak percakapan, “satu-satu” juga sering menjadi cara halus untuk menenangkan keadaan. Ketika pekerjaan terasa menumpuk misalnya, seseorang akan berkata, “Kerjakan saja satu-satu”. Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menyimpan kebijaksanaan kecil. Ia mengingatkan kita bahwa banyak persoalan terasa berat bukan karena mustahil diselesaikan, tetapi karena kita ingin menanganinya sekaligus.

Menariknya lagi, istilah ini sering muncul dalam nada yang agak bercanda. Misalnya ketika teman-teman sedang berebut bercerita. Tiba-tiba ada yang berkata, “Eh, satu-satu dulu, ini bukan lomba pidato”. Semua tertawa. Dalam situasi seperti ini, “satu-satu” menjadi semacam “rem sosial” yang ringan, tidak menggurui, tapi cukup ampuh untuk membuat suasana kembali tertib.

Kalau kita perhatikan lebih jauh, “satu-satu” sebenarnya menggambarkan cara berpikir yang cukup bijak dalam kehidupan. Banyak hal memang lebih mudah dijalani jika dilakukan secara bertahap. Belajar, bekerja, bahkan menyelesaikan konflik, semuanya sering kali membutuhkan proses yang tidak bisa dilompati begitu saja.

Lucunya, nasihat sederhana ini kadang justru sering kita abaikan. Kita ingin semuanya selesai sekaligus, pekerjaan cepat beres, masalah cepat hilang, rencana cepat berhasil. Padahal hidup jarang berjalan seperti itu. Ia lebih sering berjalan seperti antrean di loket, maju sedikit demi sedikit. Di situlah “satu-satu” terasa relevan. Ia bukan hanya soal urutan, tetapi juga soal ritme. Ia mengajarkan bahwa tidak semua hal harus diselesaikan dalam satu tarikan napas.

Jadi, lain kali ketika seseorang berkata, “Sudah, satu-satu saja dulu”, mungkin kita tidak perlu menganggapnya sekadar kalimat penunda. Bisa jadi itu adalah nasihat hidup yang disampaikan dengan cara paling santai. Sebab hidup memang jarang selesai sekaligus. Tagihan datang satu-satu, masalah muncul satu-satu, bahkan kebahagiaan pun sering hadir satu-satu.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Berita Sesudah

Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

Berita Terkait

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah...

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Berita Sesudah
Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

POPULER

  • Afrina Hanum

    Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Penghubung “tetapi” dan “sedangkan”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemilu Indonesia: Antara Demokrasi Substantif dan Demokrasi Prosedural

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aksi Sosial Jana Sandra Refleksi Semangat Kartini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026