Selasa, 09/6/26 | 17:38 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Ngerumpi

Minggu, 12/6/22 | 10:13 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah Scientia.id)

 

Aktivitas ngerumpi, bergibah, bergunjing, dan lainnya yang sejenis dengan “ngomongin orang di belakang” seringkali diidentikkan dengan perempuan. Biasanya, aktivitas itu dipandang hanya dilakukan oleh sekumpulan ibu-ibu, entah itu ketika mereka sedang berbelanja sayur atau berkumpul di suatu tempat, seperti warung.

BACAJUGA

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Belajar dari Halaman Pertama

Minggu, 07/6/26 | 18:28 WIB
Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Warung atau dalam bahasa Minangkabau lebih dikenal dengan lapau, selain tempat berbelanja berbagai kebutuhan, juga dianggap sebagai tempat berdialog dan adu argumen. Akan tetapi, kedua hal itu cenderung disematkan kepada laki-laki. Lapau dianggap sebagai tempat bagi mereka untuk membicarakan seputar perpolitikan kampung. Namun, di kampung saya sendiri, saya tidak selalu menemukan hal itu. Saya justru menjumpai fenomena lain yang membuat saya agak geli sendiri.

Beberapa bulan terakhir, kampung saya disemarakkan oleh kampanye pemilihan Wali nagari. Obrolan-obrolan yang sengit sering saya jumpai tengah berlangsung di media sosial, terutama facebook. Tentu saja, obrolan dan adu argumen itu dilakukan oleh anak muda, entah mereka tinggal di rantau ataupun yang menetap di kampung halaman.

Saya kira, obrolan sengit seperti demikian juga berlangsung di lapau, tetapi pada salah satu lapau di kampung saya, tidak saya jumpai obrolan seperti demikian. Saya bilang hanya salah satu karena saya belum melakukan survei ke lapau-lapau yang lainnya. Kebetulan, lapau yang satu ini ialah lapau terdekat dari rumah saya.

Sering sekali, ketika berbelanja ke lapau itu, saya menjumpai sekumpulan bapak-bapak tengah mengobrol. Ketika saya tiba untuk berbelanja, mereka biasanya tiba-tiba diam seribu bahasa. Kadang, saya malah menjadi salah tingkah dengan keheningan itu, tetapi sekembalinya saya ke rumah, mereka tampak mengobrol kembali diselingi tawa, kadang terbahak-bahak kadang cengengesan juga. Kejadian serupa ini tidak hanya saya alami satu kali, tetapi teramat sering.

Hal itu membuat saya enggan untuk berbelanja ke lapau tersebut, terutama ketika terbentuk formasi sekumpulan bapak-bapak tengah mengobrol, tetapi suatu kali saya disuruh ibu untuk membelikannya bumbu memasak sup. Saya agak keberatan dan berkata agar membelinya nanti saja ketika formasi sekumpulan bapak-bapak telah bubar, tetapi sup ibu tengah terjerang dan itu harus disegerakan.

Saya memutuskan untuk masuk lapau lewat pintu belakang. Ternyata, bapak-bapak tetap mengobrol seperti biasanya. Sepertinya mereka tidak tahu ada orang lain yang tengah belanja ke lapau itu. Ketika mencari-cari bumbu pemasak sup, terdengarlah obrolan aneh di telinga saya.

“Lihatlah itu! Anaknya sudah digendong suaminya. Seharusnya ia mengerjakan pekerjaannya!”

“Padahal, banyak pekerjaan lain yang bisa dikerjakan.”

“Seperti menyapu, memasak, dan mencuci. Iya kan?” Lalu mereka tertawa terbahak-bahak.

Rupanya, bapak-bapak ini tengah membicarakan sebuah keluarga yang berada di seberang lapau. Ketika saya lihat, keluarga yang dibicarakan itu tengah baik-baik saja. Anak mereka yang masih balita tengah digendong oleh ayahnya. Ibunya tengah duduk di salah satu kursi yang ada di lapau sembari menggoda anaknya dengan ekspresi lucu. Dalam hati saya menggerutu, lagi pula tahu dari mana bapak-bapak ini persoalan keluarga itu.

Lalu saya menjulurkan kepala ke arah depan lapau. Saya pura-pura mencari bumbu pemasak sup (padahal sudah saya temukan). Bapak-bapak yang tadi terbahak-bahak itu tiba-tiba diam. Mereka seperti kehabisan bahan obrolan. Kali ini, yang salah tingkah justru mereka.

Begitulah kira-kira asal-mula saya menamai mereka “Bapak-Bapak Ngerumpi”. Aktivitas mereka itu juga seperti rutin dilakukan. Biasanya di pagi menjelang siang dan sore hari menjelang Magrib. Ngerumpi dua kali sehari. Asupan rumpi yang teratur. Eh, sudah seperti aturan minum obat saja.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Modal Sosial dan Ketahanan Pangan

Berita Sesudah

Puisi-puisi Ria Febrina

Berita Terkait

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Belajar dari Halaman Pertama

Minggu, 07/6/26 | 18:28 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa waktu terakhir, saya sering memandangi tumpukan buku yang belum selesai dibaca. Sebagian sudah...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Belakangan ini, saya menyadari bahwa kehidupan modern sering melekat pada benda-benda kecil yang selalu...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tiga Belas Persen Lagi!

Minggu, 17/5/26 | 19:57 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada banyak benda kecil yang sering diremehkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengisi daya, atau...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Coretan di Pinggir Halaman

Minggu, 10/5/26 | 20:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Perkembangan teknologi informasi membuat banyak aktivitas akademik menjadi lebih praktis. Laptop, tablet, dan berbagai...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Dari Niat ke Langkah Pagi

Minggu, 03/5/26 | 18:17 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Pagi bagi saya bukan ajakan yang mudah untuk segera bergerak, tetapi selalu memberi kesempatan...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Ria Febrina

Puisi-puisi Ria Febrina

Discussion about this post

POPULER

  • Operasi Patuh Singgalang 2026 di Pariaman Ditunda, Polisi Tunggu Instruksi Mabes

    Operasi Patuh Singgalang 2026 di Pariaman Ditunda, Polisi Tunggu Instruksi Mabes

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Firdaus Soroti Usulan Larangan BBM Subsidi bagi Kendaraan Menunggak Pajak: Fokus Awasi Mafia BBM, Bukan Membatasi Rakyat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kesalahan Bahasa yang Diproduksi AI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tingkat Literasi Keuangan di Sumbar Masih Rendah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026