Kamis, 23/4/26 | 11:16 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Ngerumpi

Minggu, 12/6/22 | 10:13 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah Scientia.id)

 

Aktivitas ngerumpi, bergibah, bergunjing, dan lainnya yang sejenis dengan “ngomongin orang di belakang” seringkali diidentikkan dengan perempuan. Biasanya, aktivitas itu dipandang hanya dilakukan oleh sekumpulan ibu-ibu, entah itu ketika mereka sedang berbelanja sayur atau berkumpul di suatu tempat, seperti warung.

BACAJUGA

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Warung atau dalam bahasa Minangkabau lebih dikenal dengan lapau, selain tempat berbelanja berbagai kebutuhan, juga dianggap sebagai tempat berdialog dan adu argumen. Akan tetapi, kedua hal itu cenderung disematkan kepada laki-laki. Lapau dianggap sebagai tempat bagi mereka untuk membicarakan seputar perpolitikan kampung. Namun, di kampung saya sendiri, saya tidak selalu menemukan hal itu. Saya justru menjumpai fenomena lain yang membuat saya agak geli sendiri.

Beberapa bulan terakhir, kampung saya disemarakkan oleh kampanye pemilihan Wali nagari. Obrolan-obrolan yang sengit sering saya jumpai tengah berlangsung di media sosial, terutama facebook. Tentu saja, obrolan dan adu argumen itu dilakukan oleh anak muda, entah mereka tinggal di rantau ataupun yang menetap di kampung halaman.

Saya kira, obrolan sengit seperti demikian juga berlangsung di lapau, tetapi pada salah satu lapau di kampung saya, tidak saya jumpai obrolan seperti demikian. Saya bilang hanya salah satu karena saya belum melakukan survei ke lapau-lapau yang lainnya. Kebetulan, lapau yang satu ini ialah lapau terdekat dari rumah saya.

Sering sekali, ketika berbelanja ke lapau itu, saya menjumpai sekumpulan bapak-bapak tengah mengobrol. Ketika saya tiba untuk berbelanja, mereka biasanya tiba-tiba diam seribu bahasa. Kadang, saya malah menjadi salah tingkah dengan keheningan itu, tetapi sekembalinya saya ke rumah, mereka tampak mengobrol kembali diselingi tawa, kadang terbahak-bahak kadang cengengesan juga. Kejadian serupa ini tidak hanya saya alami satu kali, tetapi teramat sering.

Hal itu membuat saya enggan untuk berbelanja ke lapau tersebut, terutama ketika terbentuk formasi sekumpulan bapak-bapak tengah mengobrol, tetapi suatu kali saya disuruh ibu untuk membelikannya bumbu memasak sup. Saya agak keberatan dan berkata agar membelinya nanti saja ketika formasi sekumpulan bapak-bapak telah bubar, tetapi sup ibu tengah terjerang dan itu harus disegerakan.

Saya memutuskan untuk masuk lapau lewat pintu belakang. Ternyata, bapak-bapak tetap mengobrol seperti biasanya. Sepertinya mereka tidak tahu ada orang lain yang tengah belanja ke lapau itu. Ketika mencari-cari bumbu pemasak sup, terdengarlah obrolan aneh di telinga saya.

“Lihatlah itu! Anaknya sudah digendong suaminya. Seharusnya ia mengerjakan pekerjaannya!”

“Padahal, banyak pekerjaan lain yang bisa dikerjakan.”

“Seperti menyapu, memasak, dan mencuci. Iya kan?” Lalu mereka tertawa terbahak-bahak.

Rupanya, bapak-bapak ini tengah membicarakan sebuah keluarga yang berada di seberang lapau. Ketika saya lihat, keluarga yang dibicarakan itu tengah baik-baik saja. Anak mereka yang masih balita tengah digendong oleh ayahnya. Ibunya tengah duduk di salah satu kursi yang ada di lapau sembari menggoda anaknya dengan ekspresi lucu. Dalam hati saya menggerutu, lagi pula tahu dari mana bapak-bapak ini persoalan keluarga itu.

Lalu saya menjulurkan kepala ke arah depan lapau. Saya pura-pura mencari bumbu pemasak sup (padahal sudah saya temukan). Bapak-bapak yang tadi terbahak-bahak itu tiba-tiba diam. Mereka seperti kehabisan bahan obrolan. Kali ini, yang salah tingkah justru mereka.

Begitulah kira-kira asal-mula saya menamai mereka “Bapak-Bapak Ngerumpi”. Aktivitas mereka itu juga seperti rutin dilakukan. Biasanya di pagi menjelang siang dan sore hari menjelang Magrib. Ngerumpi dua kali sehari. Asupan rumpi yang teratur. Eh, sudah seperti aturan minum obat saja.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Modal Sosial dan Ketahanan Pangan

Berita Sesudah

Puisi-puisi Ria Febrina

Berita Terkait

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah...

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Ria Febrina

Puisi-puisi Ria Febrina

Discussion about this post

POPULER

  • Afrina Hanum

    Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bentuk-Bentuk Singkatan dalam Surat Resmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Penghubung “tetapi” dan “sedangkan”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Uji Kelayakan Digelar Besok, PKB Saring 65 Calon Ketua DPC se-Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026