Kamis, 04/6/26 | 00:44 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Kisah Sukses Petani Organik di Bukit Gompong

Minggu, 20/2/22 | 12:58 WIB

 

Oleh:
Silvia Permata Sari
(Dosen Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas)

 

BACAJUGA

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Minggu, 31/5/26 | 23:50 WIB
Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Kue Asida: Makanan Para Raja Riau yang Hampir Punah

Minggu, 31/5/26 | 23:45 WIB

Sahabat pembaca, beberapa pekan yang lalu tulisan saya pernah mengulas tentang pertanian terpadu. Kali ini, tulisan saya mengupas kisah sukses petani organik di Bukit Gompong Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat. Kisah ini diangkat agar bisa menjadi contoh bagi kaum milenial dan petani di daerah lain. Usaha tani yang terletak di Bukit Gompong, Kabupaten Solok, Sumatera Barat tersebut dikelola oleh Pak Ilham Yudha Putra, M.Kn, Datuak Nan Sabatang. Yang merupakan alumni Universitas Andalas dari Fakultas Hukum. Akan tetapi beliau beralih ke bidang pertanian karena melihat bidang pertanian yang tidak memiliki banyak peminat padahal pertanian sendiri memiliki hal yang menjanjikan.

Usaha pertanian di Bukit Gompong ini adalah usaha pertanian organik yang dilakukan dibudidayakan tanpa menggunakan pupuk buatan, pestisida sintetik (insektisida, fungisida, herbisida dan bahan kimia lainnya). Luas lahan pertanian organik yang dikembangkannya yaitu sekitar 1,5 hektar, dimana lahan tersebut dibagi menjadi empat wilayah yaitu 0,25 hektar untuk tanaman hortikultura, 0,25 hektar untuk tanaman penyegar, 0,25 hektar untuk tanaman aksiri dan 0,25 hektar utuk peternakan, sisanya untuk sarana dan prasarana pertanian. Tanaman yang dibudidayakan di kawasan Bukit Gompong ini beranekaragam, mulai dari strawberry, terung, cabai, daun bawang, selada, tanaman ekor kuda, serai wangi, nilam, eukaliptus, dan lavender.

Foto Pertanian Organik Bukit Gompong

Tanaman lavender yang ditanam itu berperan sebagai refugia, yaitu tanaman yang digunakan sebagai tempat bermainnya serangga hama sehingga tidak menyerang tanaman utama yang dibudidayakan. Tetapi tanaman lavender tersebut juga digunakan sebagai penghasil rupiah dengan cara diolah menjadi minyak atsiri dan juga hiasan untuk pembuatan lilin sabun. Dilahan tersebut juga  ditanami dengan tanaman ekor kuda yang mana tanaman ini berfungsi untuk penangkal jamur akar,  kemudian juga ditanami dengan tanaman bunga-bungaan yang tujuannya untuk penarik serangga  agar tanaman cabe bisa dibantu penyerbukkannya oleh serangga dan ada juga tanaman sereh wangi  yang berfungsi untuk penangkal kutu-kutu daun dan disamping itu sereh wangi juga menghasilkan  rupiah tambahan. Kemudian tanaman Titonia atau dikasih nama joker wajib ada diareal kawasan budidaya pertanian  beliau karena tanaman titonia memiliki unsur nitrogen yang tinggi serta titonia ini sebagai bahan  utama pembuatan pupuk serta pembuatan pestisida nabati.

Pada umumnya budidata tanaman di Bukit Gompong tersebut dilakukan dengan pola tumpag sari. Selain pertanian, juga ada peternakan kambing dan ayam. Kotoran ayam dan urine kambing dimanfaatkan sebagai pupuk organik (input) untuk tanaman yang dibudidayakan di kasawan pertanian organik Bukit Gompong tersebut. Sedangkan di sisi lain, sisa-sisa tanaman hasil panen  akan digunakan untuk bahan pakan ternak kambing dan ayam. Sehingga pada usaha pertanian organik tersebut tidak ada limbah yang dihasilkan dari usaha pertanianya. Itulah dikatakan dengan sistem pertanian terpadu, yaitu sistem pertanian yang menerapkan prinsip zero waste karena limbah peternakan nantinya akan menjadi pupuk, dan limbah pertanian dapat menjadi pakan ternak.

Kawasan Pertanian Organik Bukit Gompong tersebut juga memiliki greenhouse yang digunakan sebagai tempat pembibitan tanaman krisan yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Usaha pertanian di Bukit Gompong, Kabupaten Solok tersebut diolah secara organik dna memaksimalkan fungsi lahan. Tanah tidak ada yang kosong selau ditanami. Terdapat kurang lebih 45 tanaman dalam satu lahan yang sama dan saling menguntungkan. Hasil pertanian organik sangat menjanjikan dimana harganya lebih tinggi. Tidak hanya itu pola tanaman polikultur juga sangat bermanfaat dimana akan terjadi hubungan saling menguntungkan. Pertanian organik lebih menguntungkan dibandingkan pertanian konvensional biasa. Jadi, bagi sahabat pembaca setia dimana pun berada, mulai sekarang jika kawasan tempat tinggal anda mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi pertanian organik..Salam sehat pertanian…!!!

Tags: #Silvia Permata Sari
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

“Sultan” di Media Sosial

Berita Sesudah

“Amin” atau “Aamiin”

Berita Terkait

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Minggu, 31/5/26 | 23:50 WIB

Oleh: Najwa Maliha Zharfa (Mahasiswa Prodi S1 Akuntansi dan Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia Universitas Andalas)   Siapa yang tidak mengenal...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Kue Asida: Makanan Para Raja Riau yang Hampir Punah

Minggu, 31/5/26 | 23:45 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Ironi Nasib Anak Perempuan di Tengah Himpitan Ekonomi

Kebebasan Perempuan dalam Film “Gowok” Analisis Semiotika Christian Metz

Minggu, 31/5/26 | 23:30 WIB

Oleh: Adela Damanik (Mahasiswi Sastra Indonesia dan  Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Film Gowok:...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Manusia yang Selalu Kekurangan Tiga Puluh Peso

Minggu, 31/5/26 | 23:11 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   "Membaca Ulang “Surat buat Tuhan” di Tengah Budaya Tak Pernah...

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Minggu, 24/5/26 | 20:02 WIB

Oleh: Intan Rhaudhatul Jannah (Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik Universitas Andalas) Kekerasan berbasis gender di lingkungan kampus bukanlah sebuah cerita...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Sumpah Pemuda: Tonggak Perkembangan Sastra Indonesia

Minggu, 24/5/26 | 19:17 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Berita Sesudah
Jelajah Kata: Ramadhan atau Ramadan?

“Amin” atau “Aamiin”

Discussion about this post

POPULER

  • Diksi Cantik sebagai Identitas Perempuan di Instagram

    Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Manusia yang Selalu Kekurangan Tiga Puluh Peso

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bentuk-Bentuk Singkatan dalam Surat Resmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Disdik Kota Padang Resmi Umumkan Pelaksanaan SPMB SD/SMP Tahun 2026/2027

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kota Padang Menjadi Terpilih Tuan Rumah Kunker PDPI ke XVIII

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026