
Oleh: Bunga Amelia
(Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)
Bagi sebagian orang, mendengar kata sintaksis mungkin terasa menakutkan. Mata kuliah terdengar rumit, penuh aturan, dan identik dengan teori bahasa yang kaku. Namun, bagi saya sebagai seorang mahasiswa bahasa, sintaksis justru menghadirkan pengalaman belajar yang unik, yaitu sulit, tetapi menyenangkan.
Secara sederhana, sintaksis adalah ilmu yang mempelajari bagaimana kata disusun menjadi kalimat. Sintaksis berasal dari kata Belanda syntaxis dan bahasa Inggris syntax. Bidang ilmu ini berfokus pada struktur bahasa mulai dari kata, frasa, klausa, hingga kalimat utuh. Menurut Tarigan (1983), sintaksis membahas struktur kalimat, klausa, dan frasa. Sementara itu, Keraf (1984) menekankan bahwa sintaksis adalah bagian dari tata bahasa yang mempelajari proses pembentukan kalimat.
Awalnya, saya mengira sintaksis hanya soal teori yang harus dihafal. Namun, semakin dipelajari, saya menyadari bahwa sintaksis sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Setiap kali kita berbicara atau menulis, kita sedang menggunakan aturan sintaksis, sadar atau tidak, misalnya dalam memahami frasa, gabungan dua kata atau lebih yang memiliki satu fungsi dalam kalimat, kita belajar bahwa susunan kata memengaruhi makna. “Baju kotor” berbeda dengan “kotor baju”, meskipun terdiri dari kata yang sama. Hal kecil seperti ini membuka wawasan bahwa bahasa bukan sekadar kumpulan kata, melainkan sistem yang teratur.
Begitu juga dengan klausa, yang setidaknya memiliki subjek dan predikat, tetapi belum tentu menjadi kalimat utuh. Dari sini, saya belajar membedakan mana kalimat lengkap dan mana yang belum. Hal ini sangat membantu dalam menulis, terutama agar tulisan menjadi lebih jelas dan tidak membingungkan pembaca.
Yang paling menarik adalah ketika membahas kesalahan makna dalam kalimat. Contohnya, kalimat “kemarin kambing Budi sedang makan ayam goreng di belakang rumah” secara struktur bentuk tersebut memang benar dapat disebut sebagai kalimat, tetapi secara logika terasa janggal dan tidak berterima. Dari sini, saya belajar bahwa sintaksis bukan hanya soal benar atau salah secara bentuk, tetapi juga tentang kewajaran makna.
Sintaksis juga melatih kemampuan berpikir secara sistematis. Kita diajak memahami urutan kata (SPOK), memilih bentuk kata yang tepat, serta menggunakan intonasi atau tanda baca yang sesuai. Semua hal yang membuat kalimat menjadi benar disebut dengan “alat sintaksis”. Alat sintaksis membantu kita menghasilkan kalimat yang baik dan benar.
Sebagai mahasiswa prodi bahasa , saya merasa sangat bersyukur bisa mempelajari sintaksis. Ilmu ini tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga meningkatkan kemampuan menulis secara signifikan. Saya menjadi lebih peka terhadap struktur kalimat, lebih teliti dalam memilih kata, dan lebih sadar akan makna yang ingin disampaikan.
Memang tidak bisa dipungkiri, sintaksis adalah salah satu mata kuliah yang cukup menantang. Banyak aturan yang harus dipahami dan banyak konsep yang harus dianalisis. Namun, justru di situlah letak kesenangannya. Saya merasa tertantang. Tantangan tersebut membuat proses belajar menjadi lebih bermakna.
Bagi saya, sintaksis adalah contoh nyata bahwa sesuatu yang terasa sulit belum tentu tidak menyenangkan. Justru, di balik kesulitan itu, terdapat kepuasan tersendiri ketika kita mulai memahaminya. Pada akhirnya, sintaksis bukan hanya tentang kalimat, tetapi juga tentang bagaimana kita menyusun pikiran menjadi sesuatu yang mempunyai makna, logis, dan dapat dipahami oleh orang lain.








