Minggu, 18/10/26 | 10:03 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Mengenal Polisemi dan Homonimi dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 20/9/26 | 15:43 WIB

Oleh: Noor Alifah
(Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

 

Pernahkah Anda mendengar kalimat “kepala sekolah itu sedang memegang kepalanya yang pusing”, lalu tertawa kecil karena satu kata “kepala” muncul dua kali dengan arti yang jauh berbeda? Atau pernahkah Anda bingung membedakan “bisa” pada kalimat: Dia bisa menari. dengan “bisa” pada kalimat: Ular kobra itu berbisa? Jika pernah, sebenarnya Anda sudah menyentuh dua konsep bahasa yang menarik sekaligus membingungkan: polisemi dan homonimi.

BACAJUGA

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB
Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Bahasa Indonesia, seperti bahasa-bahasa lain di dunia, menyimpan banyak keajaiban kecil yang sering luput dari perhatian penuturnya sehari-hari. Salah satunya adalah fenomena satu bentuk kata yang bisa memiliki lebih dari satu makna. Dalam kajian semantik, gejala ini dikenal dengan dua istilah yang kerap tertukar, yaitu polisemi dan homonimi. Sekilas keduanya tampak serupa, sama-sama menunjukkan satu bentuk kata dengan makna jamak. Namun akar perbedaannya justru terletak pada sesuatu yang tidak kasatmata, sejarah dan hubungan makna kata itu sendiri.

Polisemi berasal dari kata Yunani poly (banyak) dan sema (tanda atau makna). Secara sederhana, polisemi adalah kondisi ketika sebuah kata memiliki beberapa makna yang masih berkaitan atau berasal dari satu makna dasar yang sama. Makna-makna itu berkembang melalui proses perluasan, penyempitan, atau pengalihan makna secara metaforis maupun metonimis, namun tetap dapat ditelusuri benang merahnya.

Contoh paling populer adalah kata kepala. Kata ini bisa berarti bagian tubuh manusia paling atas (“kepalanya pusing”), bisa juga berarti pemimpin atau ketua (“kepala sekolah”), bahkan bagian utama dari suatu benda (“kepala surat”, “kepala paku”). Ketiganya berbeda konteks, tetapi jika ditelusuri, semuanya berakar dari gagasan “bagian atas” atau “bagian yang paling penting/menonjol”. Contoh lain adalah kata mulut: mulut manusia, mulut sungai, mulut gua. Semuanya menyiratkan makna “lubang atau bagian awal/keluar-masuk”. Kata kaki pun demikian: kaki manusia, kaki meja, kaki gunung, semuanya bertumpu pada gagasan “bagian penyangga paling bawah”.

Berbeda dengan polisemi, homonimi (dari homos, “sama”, dan onoma, “nama”) terjadi ketika dua kata atau lebih memiliki bentuk tulisan dan atau bunyi yang identik, tetapi maknanya sama sekali tidak berhubungan karena berasal dari asal-usul (etimologi) yang berbeda. Kemiripan bentuknya murni kebetulan sejarah bahasa, bukan hasil perkembangan makna dari satu sumber.

Contoh klasik adalah kata bisa. Dalam kalimat: Dia bisa berenang. Kata bisa bermakna “mampu”. Namun, dalam kalimat: Ular itu berbisa.  Kata bisa bermakna “racun”. Dua makna ini tidak memiliki hubungan konseptual apa pun. Keduanya kebetulan berbunyi dan dieja sama. Contoh lain adalah kata genting: bisa berarti “atap rumah dari tanah liat” atau “keadaan yang berbahaya atau kritis”. Begitu pula kata rapat: bisa berarti “pertemuan/musyawarah” atau “tidak berjarak atau tertutup rapat”. Semua pasangan makna ini berdiri sendiri-sendiri secara historis, hanya kebetulan bertemu dalam satu wujud kata yang sama.

Jika polisemi dan homonimi sama-sama menampilkan satu kata dengan makna ganda, lalu di mana sebenarnya garis pemisahnya? Para ahli semantik seperti Chaer (2009) dan Palmer (1981) sepakat bahwa kuncinya bukan pada bentuk kata, melainkan pada hubungan makna dan asal-usul kata.

Pertama, dari segi relasi makna, polisemi memiliki makna-makna yang masih dapat ditelusuri hubungan logis atau metaforisnya, sedangkan homonimi memiliki makna-makna yang sama sekali tidak berkaitan.

Kedua, dari segi etimologi, kata polisemi berasal dari satu kata yang sama, kemudian maknanya meluas atau bergeser seiring waktu. Sebaliknya, kata homonimi sesungguhnya berasal dari dua kata yang berbeda asal, yang secara kebetulan mengalami penyamaan bentuk akibat proses fonologis dalam sejarah bahasa.

Ketiga, secara praktis di dalam kamus, kata polisemi biasanya dicantumkan dalam satu lema (entri) dengan beberapa nomor makna, sedangkan kata homonimi dicantumkan sebagai dua lema terpisah karena dianggap sebagai kata yang berbeda, meski kebetulan sama tulisan atau bunyinya.

Perbedaan antara polisemi dan homonimi mungkin pada awalnya tampak sebagai perdebatan teknis di kalangan ahli bahasa. Namun, sesungguhnya pemahaman terhadap keduanya membantu kita menyadari betapa hidup dan dinamisnya sebuah bahasa. Kata tidak pernah benar-benar diam pada satu makna. Ia dapat tumbuh, berkembang, dan bercabang mengikuti pengalaman manusia, perubahan zaman, serta kebutuhan penuturnya dalam berkomunikasi. Dalam perjalanan tersebut, sebuah kata dapat melahirkan berbagai makna yang masih saling berkaitan, sebagaimana yang terjadi dalam polisemi. Di sisi lain, dua kata yang memiliki asal dan perjalanan berbeda juga dapat bertemu secara kebetulan dalam bentuk yang sama, sebagaimana yang kita temukan dalam homonimi.

Di balik kesederhanaan sebuah kata seperti kepala atau bisa, tersimpan perjalanan makna yang panjang dan menarik. Kata-kata tersebut menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar kumpulan tanda yang memiliki arti tetap, melainkan ruang yang terus bergerak bersama manusia yang menggunakannya. Makna dapat meluas, menyempit, bergeser, bahkan bertemu dengan makna lain dalam bentuk yang sama. Oleh karena itu, memahami polisemi dan homonimi tidak hanya membantu kita membedakan jenis-jenis makna dalam kajian linguistik, tetapi juga melatih kita untuk lebih peka terhadap konteks dan lebih cermat dalam menggunakan bahasa.

Pada akhirnya, bahasa mengajarkan bahwa satu bentuk tidak selalu berarti satu makna. Di dalam sebuah kata dapat tersimpan banyak kemungkinan, pengalaman, dan jejak perjalanan manusia. Barangkali, di situlah letak keindahan bahasa: ia selalu mampu mengatakan sesuatu yang sama, tetapi tidak pernah berhenti menemukan cara untuk memaknainya kembali. Maka, mempelajari bahasa berarti belajar membaca dunia dengan lebih teliti. Sebab setiap kata bukan sekadar bunyi atau rangkaian huruf, melainkan jejak pemikiran, sejarah, dan kehidupan yang terus bergerak bersama penuturnya.

Tags: #Noor Alifah
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Donizar: Pariwisata Tumbuh, Ekonomi Lokal Harus Ikut Bergerak

Berita Sesudah

“Nominalisasi” dalam Perspektif Analisis Wacana Kritis

Berita Terkait

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB

Taufiq Muhammad Akbar ‎Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas (UNAND) Undang-undang berubah, Pasal diperbaiki, Ancaman pidana disesuaikan, Istilah hukum diperbarui. Tetapi...

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Ilustrasi: Hukum dan regulasi hanyalah pagar luar, namun kesadaran dan etika digital masyarakat adalah benteng utama yang sesungguhnya dalam menangkal...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa, Miskomunikasi, dan Konflik Rumah Ibadah

Senin, 12/10/26 | 06:40 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Bahasa memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman, hubungan sosial, dan sikap...

Penentu Arah Perubahan Zaman

Penentu Arah Perubahan Zaman

Minggu, 11/10/26 | 20:39 WIB

Oleh: Arza Kailla Chaerani (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Dunia terus berubah, begitu pula cara manusia memahami identitas,...

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Minggu, 11/10/26 | 20:02 WIB

Oleh: Arina Isti’anah (Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)   Dalam ranah sosio-kognitif, bahasa merupakan piranti yang menjembatani memori dan...

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Minggu, 04/10/26 | 22:27 WIB

Oleh: Irfan Pandesta Putra, S.Hum (Sejarawan & Alumni S1 Ilmu Sejarah FIB Universitas Andalas)   Novel Siti Nurbaya: Kasih Tak...

Berita Sesudah
Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

"Nominalisasi" dalam Perspektif Analisis Wacana Kritis

POPULER

  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Paket Data Masih Aktif, Telkomsel Blokir Internet karena Tagihan Pulsa Darurat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026