Minggu, 13/9/26 | 09:47 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Sintaksis: Sulit, tetapi Diam-Diam Menyenangkan

Minggu, 16/8/26 | 23:09 WIB

Oleh: Bunga Amelia
(Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

Bagi sebagian orang, mendengar kata sintaksis mungkin terasa menakutkan. Mata kuliah terdengar rumit, penuh aturan, dan identik dengan teori bahasa yang kaku. Namun, bagi saya sebagai seorang mahasiswa bahasa, sintaksis justru menghadirkan pengalaman belajar yang unik, yaitu sulit, tetapi menyenangkan.

BACAJUGA

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Modernisme dan Dunia yang Dinamis dalam Karya Sastra

Minggu, 13/9/26 | 09:35 WIB
Benarkah Onomatope Arbitrer?

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Minggu, 13/9/26 | 08:48 WIB

Secara sederhana, sintaksis adalah ilmu yang mempelajari bagaimana kata disusun menjadi kalimat. Sintaksis berasal dari kata Belanda syntaxis dan bahasa Inggris syntax. Bidang ilmu ini berfokus pada struktur bahasa mulai dari kata, frasa, klausa, hingga kalimat utuh. Menurut Tarigan (1983), sintaksis membahas struktur kalimat, klausa, dan frasa. Sementara itu, Keraf (1984) menekankan bahwa sintaksis adalah bagian dari tata bahasa yang mempelajari proses pembentukan kalimat.

Awalnya, saya mengira sintaksis hanya soal teori yang harus dihafal. Namun, semakin dipelajari, saya menyadari bahwa sintaksis sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Setiap kali kita berbicara atau menulis, kita sedang menggunakan aturan sintaksis, sadar atau tidak, misalnya dalam memahami frasa, gabungan dua kata atau lebih yang memiliki satu fungsi dalam kalimat, kita belajar bahwa susunan kata memengaruhi makna. “Baju kotor” berbeda dengan “kotor baju”, meskipun terdiri dari kata yang sama. Hal kecil seperti ini membuka wawasan bahwa bahasa bukan sekadar kumpulan kata, melainkan sistem yang teratur.

Begitu juga dengan klausa, yang setidaknya memiliki subjek dan predikat, tetapi belum tentu menjadi kalimat utuh. Dari sini, saya belajar membedakan mana kalimat lengkap dan mana yang belum. Hal ini sangat membantu dalam menulis, terutama agar tulisan menjadi lebih jelas dan tidak membingungkan pembaca.

Yang paling menarik adalah ketika membahas kesalahan makna dalam kalimat. Contohnya, kalimat “kemarin kambing Budi sedang makan ayam goreng di belakang rumah” secara struktur bentuk tersebut memang benar dapat disebut sebagai kalimat, tetapi secara logika terasa janggal dan tidak berterima. Dari sini, saya belajar bahwa sintaksis bukan hanya soal benar atau salah secara bentuk, tetapi juga tentang kewajaran makna.

Sintaksis juga melatih kemampuan berpikir secara sistematis. Kita diajak memahami urutan kata (SPOK), memilih bentuk kata yang tepat, serta menggunakan intonasi atau tanda baca yang sesuai. Semua hal yang membuat kalimat menjadi benar disebut dengan “alat sintaksis”. Alat sintaksis membantu kita menghasilkan kalimat yang baik dan benar.

Sebagai mahasiswa prodi bahasa , saya merasa sangat bersyukur bisa mempelajari sintaksis. Ilmu ini tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga meningkatkan kemampuan menulis secara signifikan. Saya menjadi lebih peka terhadap struktur kalimat, lebih teliti dalam memilih kata, dan lebih sadar akan makna yang ingin disampaikan.

Memang tidak bisa dipungkiri, sintaksis adalah salah satu mata kuliah yang cukup menantang. Banyak aturan yang harus dipahami dan banyak konsep yang harus dianalisis. Namun, justru di situlah letak kesenangannya. Saya merasa tertantang. Tantangan tersebut membuat proses belajar menjadi lebih bermakna.

Bagi saya, sintaksis adalah contoh nyata bahwa sesuatu yang terasa sulit belum tentu tidak menyenangkan. Justru, di balik kesulitan itu, terdapat kepuasan tersendiri ketika kita mulai memahaminya. Pada akhirnya, sintaksis bukan hanya tentang kalimat, tetapi juga tentang bagaimana kita menyusun pikiran menjadi sesuatu yang mempunyai makna, logis, dan dapat dipahami oleh orang lain.

Tags: #Bunga Amelia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Bupati Solok Kukuhkan Paskibraka 2026, Tekankan Disiplin dan Semangat Kebangsaan

Berita Sesudah

Firdaus Bacakan Teks Proklamasi di MAN Insan Cendekia Padang Pariaman

Berita Terkait

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Modernisme dan Dunia yang Dinamis dalam Karya Sastra

Minggu, 13/9/26 | 09:35 WIB

Oleh: Maharani Syifa Ramadhan (Alumni Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Mahasiswa Program Magister Sastra Kontemporer, Universitas Padjajaran)   Modernisme...

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Minggu, 13/9/26 | 08:48 WIB

Oleh: Ahmad Hamidi dan Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)    Seekor anjing sedang menggonggong di...

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Minggu, 06/9/26 | 11:00 WIB

Oleh: Hasbi Witir (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Kata pulang merupakan kata yang sangat dekat dengan kehidupan...

Puisi-puisi M. Subarkah

Jangan Tunggu Hutan Habis untuk Sadar

Minggu, 06/9/26 | 10:37 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik FIB Universitas Andalas) Kita sering baru mengingat hutan ketika bencana datang. Ketika hujan turun...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Bianglala: Menelusuri Makna, Sejarah, dan Jejak Kebudayaan dalam Sebuah Kata

Minggu, 30/8/26 | 16:29 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif FIB Universitas Andalas)   Ketika melihat lengkungan warna-warni yang...

Puisi-puisi M. Subarkah

Eksistensi Bahasa Melayu Riau di Tengah Dominasi Bahasa Indonesia di Era Digital

Selasa, 25/8/26 | 22:59 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)    Bahasa Melayu Riau tidak sekadar kumpulan kata yang digunakan...

Berita Sesudah
Firdaus Bacakan Teks Proklamasi di MAN Insan Cendekia Padang Pariaman

Firdaus Bacakan Teks Proklamasi di MAN Insan Cendekia Padang Pariaman

POPULER

  • DPC PKB Padang Gelar Musancab Serentak

    DPC PKB Padang Gelar Musancab Serentak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Musancab dan UKK DPAC PKB Padang Selesai, Yusri Latif: PKB Solusi Untuk Bangsa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026