
Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)
Beberapa minggu terakhir ini, ada satu kegiatan baru yang diam-diam membuat saya bersemangat mempelajarinya, yaitu mengedit video. Bukan video yang rumit dengan berbagai efek, melainkan video-video pendek yang sederhana untuk dibagikan di instagram. Setiap kali satu video selesai, rasanya selalu ingin membuat yang berikutnya dengan hasil yang lebih baik.
Sebenarnya, dunia penyuntingan video bukanlah sesuatu yang benar-benar asing bagi saya. Saat masih kuliah sarjana, saya pernah mengambil mata kuliah pilihan Audio Visual. Di sanalah saya pertama kali mengenal dasar-dasar pengambilan gambar dan penyuntingan video.
Namun, terus terang saja, waktu itu saya tidak terlalu berminat. Mata kuliah tersebut saya ambil lebih karena harus memenuhi jumlah SKS, ditambah dosen pengampunya dikenal baik dan menyenangkan. Saya mengikuti perkuliahan, menyelesaikan tugas, lalu semuanya berlalu begitu saja.
Baru sekarang saya menyadari bahwa ketidakseriusan saya saat itu menyisakan sedikit penyesalan. Andai saja dulu saya lebih antusias, mungkin hari ini saya tidak perlu memulai lagi dari nol. Banyak hal yang sebenarnya pernah dipelajari, tetapi kini harus saya pelajari kembali.
Meski demikian, penyesalan itu tidak membuat saya berhenti. Justru sebaliknya, saya semakin bersemangat untuk belajar sedikit demi sedikit. Rasanya menyenangkan ketika berhasil memahami satu fitur baru atau menyelesaikan satu video dengan hasil yang lebih baik daripada sebelumnya.
Sayangnya, keinginan untuk belajar sering kali tidak berjalan semulus yang dibayangkan.
Padahal, kalau dipikir-pikir, kemampuan mengedit video bukan lagi sekadar hobi yang baru saya sukai. Dengan aktivitas yang saya jalani sekarang, rasanya kemampuan ini sudah menjadi kebutuhan. Saya ingin mampu mengolah dokumentasi kegiatan penelitian menjadi video singkat yang menarik sebagai bagian dari luaran penelitian, sekaligus menjadi media untuk menyampaikan hasil riset kepada masyarakat dengan cara yang lebih mudah dipahami.
Tidak semua orang memiliki waktu untuk membaca artikel ilmiah yang panjang. Karena itu, saya melihat video singkat sebagai jembatan agar hasil penelitian lebih mudah dipahami oleh masyarakat. Kemampuan ini juga akan sangat bermanfaat untuk berbagai keperluan publikasi dan dokumentasi kegiatan.
Dari pengalaman kecil ini, saya belajar bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai. Kesibukan memang sering menjadi alasan, tetapi kemampuan hanya akan tumbuh jika kita bersedia menyediakan waktu untuk belajar, meski sedikit demi sedikit. Jadi, kalau suatu hari hasil editan video saya terlihat lebih rapi, jangan buru-buru mengira saya sudah menjadi editor profesional. Bisa jadi, saya hanya sudah semakin akrab dengan tombol undo.






