Senin, 06/7/26 | 08:52 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Senin, 06/7/26 | 05:43 WIB

Oleh: Maryatul Kuptiah
(Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia dan Anggota Aktif UKMF Labor Penulisan Kreatif FIB UNAND)

 

Bahasa adalah alat komunikasi kolektif sekaligus sebagai media penguatan identitas bangsa. Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional yang memiliki karakteristik yang berbeda dengan bahasa lainnya yaitu bersifat nongender. Termasuk dalam bahasa nongender, bahasa Indonesia tidak ada perbedaan bentuk kata berdasarkan jenis kelamin pada tuturan maupun subjek bicaranya. Namun, ketika bahasa ini berinteraksi dengan bahasa lain akan terjadi penyerapan unsur dengan pengambilan unsur kosakata-kosakata. Terjadinya fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa memiliki sistem yang netral dan dinamis, dalam artian dengan bentuk yang tetap tetapi dapat dipengaruhi oleh nilai dan budaya lain.

BACAJUGA

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Senin, 06/7/26 | 05:56 WIB
Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

Minggu, 05/7/26 | 16:04 WIB

Salah satu keunikan dari bahasa Indonesia adalah nonformalitas gender dalam pronomina (kata ganti orang) maupun  nomina (kata benda). Berbeda dengan bahasa Inggris yang memiliki sifat masculititas (laki-laki) dan feminine (perempuan) seperti antara he (dia laki-laki) dan she (dia perempuan). Sedangkan, dalam bahasa Indonesia hanya mengenal dia dan ia sebagai kata ganti untuk dia laki-laki sekaligus dia perempuan tanpa membedakan antara keduanya. Hal yang sama terjadi pada kata benda, seperti pada kata dokter yang merujuk pada seorang dokter laki-laki maupun perempuan tanpa penanda gender.

Keadaan semacam ini, mengartikan bahwa bahasa Indonesia bersifat inklusif dan egalitas yang bertujuan menciptakan lingkungan komunikasi yang adil serta menghargai keberagaman identitas penutur. Dalam artian lainnya, penutur tidak perlu menandai identitas gender dalam bertuturan, melainkan hanya cukup menyebutkan fungsi atau peran sosialnya, misalnya: Dia seorang guru yang mengispirasi murid-muridnya. Dalam kalimat tersebut tidak dapat spesifikasi apakah yang dimaksud adalah seorang guru laki-laki atau perempuan maka dapat dikatakan bahwa kata guru bisa merujuk pada guru laki-laki atau perempuan tanpa harus memberikan penanda gendernya kecuali jika penutur menambahkan keterangan lain yang menunjukkan maksud guru itu untuk laki-laki atau perempuan. Hal ini juga berlaku pada kata ganti kepemilikan seperti pada katanya yang dapat merujuk pada kepemilikan milik laki-laki maupun perempuan.

Adanya perbedaan dengan bahasa asing lain seperti bahasa Arab yang membedakan gender yaitu muzakki (kata benda laki-laki) dan muannas (kata benda perempuan) serta huwa (dia laki-laki) dan hiya (dia perempuan). Misalnya pada kata tholibun (siswa laki-laki) dan tholibatun (siswa perempuan), kursiyun (kursi) dan mistorotun (penggaris). Dalam bahasa Arab untuk membedakan gendernya, jika terdapat penggunaan thamarbutoh diakhir kata maka secara otomatis adalah kata benda atau kepemilikan perempuan. Dengan demikian, secara gramatikal, bahasa Indonesia tergolong dalam salah satu bahasa non gender. Bentuk neutralitas ini merupakan hasil dari perkembangan bahasa Melayu yang tidak mengenal konsep gender.

Meskipun begitu, bahasa Indonesia tetap terbuka untuk berinteraksi dengan dunia luar sehingga membawa kosakata-kosakata yang memiliki petanda gender. Sebagaimana mengenai sejarah perkembangan bahasa Indonesia yang menyerap banyak kosakata-kosakata dari bahasa Belanda, Sanskerta, Arab, Portugis, hingga Inggris. Beberapa kosakata-kosakata asing mengandung pertanda gender yang kuat, misalnya kata putri  dari bahasa Sanskerta bermakna anak perempuan dan putra yang bermakna anak laki-laki. Walaupun kosakata tersebut sudah dianggap bagian dari bahasa Indonesia, secara jelas tetap memberikan perbedaan gender. contoh lainnya dari bahasa Arab kita mengenal sebutan ustaz dan ustazah untuk merujuk pada guru agama laki-laki dan perempuan. Di sisi lain, dapat dilihat dari kata aktor dan aktris yang merupakan serapan bahasa Inggris untuk membedaka pemeran laki-laki dan perempuan. Akan tetapi dikesehariannya yang masih sering dipakai sebutan ustaz dan aktor untuk mencakup universal keduanya tanpa perbedaan.

Budaya Barat memperkenalkan konsep gender dalam istilah profesi seperti chairman dan chairwoman. Selaras dengan budaya Indonesia, terlihat pada istilah kepimpinan organisasi yang masih menerapkan penggunaan ketua pria dan perempuan, padahal dalam bahasa Indonesia cukup disebut ketua saja tanpa memandang gender. Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa Indonesia mengalami penyerapan, misalnya di budaya Jawa dikenal dengan istilah mas (laki-laki) dan mbak (perempuan) yang kemudian digunakan dalam percapakan sehari-hari. Akibatnya, penggunaan mas dan mbak lebih cenderung digunakan sebagai penanda gender. Tidak hanya itu, penanda gender juga ditemukan di peran sosial masyarakat, seperti istilah ibu rumah tangga mengacu khusus pada seorang perempuan berstatus sudah menikah yang mengelola rumah tangga, mendidik anak, dan memenuhi kebutuhan keluarga tanpa  bekerja di luar rumah. Penanda gender tersebut lebih kuat karena konstruksi budaya yang mengaitkan kata ibu dengan seorang perempuan.

Masuknya kosakata-kosakata baru yang berpenanda gender memperlihatkan bagaimana bahasa Indonesia bukan sekadar sistem linguistic semata, tetapi juga media antara nilai-nilai lokal dan budaya luar. Di satu sisi, bahasa Indonesia menunjukkan sifat netral akan pronominanya yang berbanding terbalik dengan sistem budaya masyarakat yang masih menuntut adanya perbedaan gender untuk mempertegas identitas sosial. Pengaruh budaya tersebut mencerminkan dinamika relasi gender di masyarakat, seperti istilah wanita karier muncul karena konstruksi budaya bahwa perempuan idealnya sebagai ibu rumah tangga sehingga jika perempuan bekerja di luar rumah diberikan tanda khusus. Sedangkan laki-laki tidak pernah disebut dengan istilah pria karier karena hakikatnya laki-laki memang bekerja di luar rumah. Oleh sebab itu, laki-laki yang bekerja lebih dikenal dengan istilah pekerja bukan pria karier. Artinya, bahasa bisa menjadi jejak untuk merekam ketidaksetaraan gender dalam lingkungan sosial.

Di era globalisasi ini, bahasa Indonesia harus menghadapi tantangan besar, terutama bahasa Inggris. Oleh sebab itu, bahasa Indonesia berada dipertengahan pertanyaan, apakah akan tetap bertahan sebagai bahasa nongender, atau perlahan muncul penanda gender? Beberapa upaya untuk menetralisasikan penanda gender ini tampak pada dunia perfilman dan profesi, misalnya kata aktor untuk semua pemeran dalam cerita.

Bahasa Indonesia perlu memberikan penegasan identitas sebagai bahasa inklusif. Netralisasi gender dalam tata bahasa Indonesia merupakan upaya mendorong kesetaraan gender di masyarakat. Kecenderungan budaya luar yang membawa masuk kosakata-kosakata yang mempengaruhi cara berpikir masyatakay akan satu sisi ideologi sehingga sering kali tidak adil dan tidak disadari. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia harus mengutamakan kesadaran kritis bahwa setiap kosakata-kosakatanya mengandung nilai-nilai pendukung karakter masyarakat akan pentingnya kesetaraan gender bukan untuk membentuk ketimpangan gender. Dengan demikian, pada dasarnya bahasa Indonesia adalah bahasa nongender, tanpa perbedaan pronomina, nomina maupun struktur kalimat. Namun, terjadi interaksi dengan budaya luar yang masuk, tanpa disadari telah memberikan penanda gender, seperti istilah kekerabatan, profesi, organisasi, dan peran sosial.

Tags: #Maryatul Kuptiah
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Eliza Nuzul Fitria

Berita Sesudah

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Berita Terkait

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Senin, 06/7/26 | 05:56 WIB

Oleh: Abdul Hamid Sajidurrahman (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Mahasiswa FEB Universitas Andalas)   Di era digital seperti sekarang, cara...

Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

Minggu, 05/7/26 | 16:04 WIB

Oleh: Mita Handayani (Alumni Magister Linguistik FIB Universitas Andalas)   Beberapa hari yang lalu, saya bersama tim EQUITY dan pimpinan...

Puisi-puisi M. Subarkah

Salindia atau PPT? Potret Sikap Bahasa Generasi Digital

Senin, 29/6/26 | 21:20 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)   “Besok presentasi pakai PPT, ya.” Kalimat tersebut hampir setiap...

Batu dan Zaman

Peran Podcast dalam Produksi Bahasa

Senin, 29/6/26 | 21:06 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Ada pengalaman yang menyenangkan setiap kali mengikuti episode...

Kreativitas Berbahasa yang Anomali

Kreativitas Berbahasa yang Anomali

Senin, 29/6/26 | 13:05 WIB

Oleh: Alex Darmawan (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Di zaman milenial sekarang ini, kreativitas adalah hal yang sangat...

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Minggu, 21/6/26 | 14:59 WIB

Oleh: Puty Mahira Zahrani (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Andalas)   Hidup di abad ke-21 rasanya...

Berita Sesudah
Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

POPULER

  • Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

    Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Eliza Nuzul Fitria

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Firdaus Angkat Budaya Piaman Lewat Film Dokumenter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wacana Digital dan Dinamika Istilah dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026