Senin, 15/6/26 | 00:59 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Memakanai Ulang Kata “Kecubung” dalam Dongeng

Minggu, 14/6/26 | 21:59 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa
(Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

 

Kecubung (Datura metel) merupakan sejenis tumbuhan dengan bunga menyerupai terompet serta buah berbentuk bulat dan berduri. Kecubung biasanya dijadikan tanaman hias, warnanya beraneka ragam; ada yang putih, kuning, dan ungu. Selain bentuknya yang indah, konon bunga kecubung juga memiliki sejumlah khasiat, dapat mengobati berbagai penyakit seperti memar, sakit gigi, demam, rematik, asam urat, hingga asma. Namun, di balik itu semua, apabila konsumsinya disalahgunakan, zat-zat yang terkandung dalam bunga kecubung tersebut berubah menjadi racun serta mengakibatkan berbagai gangguan kesehatan seperti halusinasi, kecanduan, dan sebagainya.

BACAJUGA

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Minggu, 14/6/26 | 22:37 WIB
Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Sapardi dan Seni Berdamai dengan Kefanaan

Minggu, 14/6/26 | 22:24 WIB

Dalam konteks cerita rakyat Jawa Timur, tepatnya di Desa Pala di pinggir Danau Watur, dikenal dongeng yang tokoh utamanya terdapat unsur kecubung pada namanya. Dongeng tersebut berjudul Dua Putri Kecubung (selanjutnya disebut sebagai DPK), dengan dua tokoh utama Kecubung Putih dan Kecubung Merah. Secara alur dan penokohan, dapat dikatakan bahwa dongeng Dua Putri Kecubung ini memiliki kemiripan dengan Bawang Merah Bawang Putih (selanjutnya disebut sebagai BMBP). Namun, popularitas DPK tidak sebesar BMBP yang menjadi ikon nasional – sudah muncul dengan berbagai versi dalam buku cerita anak; dialihwahanakan ke dalam bentuk, mulai dari sastra lisan, buku cerita, animasi, film, hingga digital; bahkan dianggap memiliki kesamaan dengan dongeng populer dunia seperti Cinderella.

Tulisan ini bukan untuk membahas bagaimana sebuah cerita dapat tersebar di berbagai daerah, hingga ditemukan sejumlah persamaan dan perbedaan; atau mengkaji mengapa satu cerita dapat mengalahkan kepopuleran cerita lainnya. Oleh karena dongeng DPK belum terlalu banyak diketahui, justru pada titik ini ditemukan celah untuk diteliti lebih lanjut, khususnya mengapa tanaman cantik tapi beracun ini justru dijadikan judul dan nama dua tokoh utamanya.

Dongeng DPK dan BMBP sama-sama mengangkat formula oposisi biner antara tokoh baik, tulus, pekerja keras; dan tokoh jahat, serakah, malas. Tokoh Kecubung Putih dan Bawang Putih sama-sama memiliki watak yang rajin dan tulus membantu sosok nenek tua, bahkan tetap baik setelah dijahati saudara-saudara mereka. Kebaikan keduanya sama-sama membuahkan hasil berupa kenikmatan material di akhir cerita seperti diangkat menjadi anak raja pada DPK dan labu berisi emas pada BMBP. Sebaliknya, tokoh Kecubung Merah dan Bawang merah pada akhirnya harus menerima ganjaran karena karakter mereka yang licik dan tamak. Tokoh Kecubung Merah harus mendekam di dalam penjara karena telah menipu raja, serta Bawang Merah dan ibunya digigit oleh kawanan hewan berbisa yang terdapat di dalam labu.

Oposisi biner juga terletak pada penggunaan diksi warna merah dan putih untuk melambangkan karakter tokoh. Sejumlah penelitian tentang psikologi warna menunjukkan peran warna dalam membentuk emosi, persepsi, hingga penentu perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya penelitian Handayani, dkk. (2026) yang menunjukkan Ā warna merah cenderung dikaitkan dengan energi, gairah, dan simulasi; sedangkan warna putih dianggap sebagai simbol kemurnian dan kebersihan pada budaya tertentu. Pada konteks dongeng, makna dari simbol warna-warna ini kemudian mengalami pergeseran peran dalam membingkai watak tokoh, seperti pada tokoh-tokoh dalam dongeng DPK dan BMBP.

Di sinilah dongeng memainkan perannya dalam memunculkan pergeseran makna kecubung itu sendiri. Dalam dongeng, watak tokoh Kecubung Merah dan Kecubung Putih digambarkan sebagai oposisi biner. Adalah sebuah ironi ketika warna putih yang sering menjadi lambang kesucian itu ternyata di dalam bunganya justru mengandung zat-zat bercaun. Namun di dalam dongeng, tokoh Kecubung Putih justru menjadi penawar racun bagi watak buruk tokoh Kecubung Merah – walaupun pada hakikatnya tanaman kecubung tetap mengandung racun.

Dalam konteks dongeng, racun sesungguhnya terletak pada watak tokoh Kecubung Merah dan Bawang Merah. Hal ini direpresentasikan melalui sifat tokoh Kecubung Merah yang licik dan suka berbohong membuatnya harus mendekam di penjara; serta kemalasan dan ketamakan Bawang Merah pada akhirnya berujung pada ganjaran berupa digigit hewan berbisa. Tokoh Kecubung Putih dan Bawang Putih kemudian bertransformasi sebagai penawar racun bagi keburukan saudara-saudaranya. Pada manusia, apabila kita terus memelihara sifat-sifat negatif seperti iri, dengki, dendam, dan seterusnya, maka pada akhirnya hanya akan menjadi racun bagi jiwa.

Pada hakikatnya, sebagai bagian dari sastra anak, dongeng maupun cerita anak memiliki berbagai keutamaan. Selain menjadi hiburan yang menyenangkan, di dalam keduanya juga terdapat nilai-nilai kehidupan, ajaran moral, hingga pembentukkan karakter anak. Cerita DPK mungkin tidak sebesar BMBP dari segi popularitas. Namun, pada keduanya terdapat kesamaan nilai-nilai universal, sebab dalam kehidupan sehari-harinya, manusia di berbagai belahan dunia menghadapi persoalan hidup yang kurang lebih mirip, yaitu beinteraksi manusia lain dengan berbagai watak.

Kemiripan yang terjadi secara sengaja atau tidak disengaja ini juga disebabkan oleh dongeng diceritakan ulang dengan cara menyesuaikannya dengan latar budaya masyarakat penuturnya. Sebuah cerita dapat diceritakan dengan berbagai versi, bentuknya dapat berubah, penambahan dan pengurangan adalah sebuah keniscayaan. Namun, pada dongeng-dongeng yang pernah ada, sedang dibacakan ataupun dikaji, maupun yang akan ditemukan di kemudian hari, akan selalu menyampaikan pesan agar kita tidak menjadi racun bagi orang lain dan diri sendiri.

Tags: #Andina Meutia Hawa
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

PNM Salurkan Rp12,6 Triliun untuk 384 Ribu Nasabah di Sumbar, Pemprov Dorong UMKM Naik Kelas

Berita Sesudah

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Berita Terkait

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Minggu, 14/6/26 | 22:37 WIB

Oleh: Satria Efendi Tuanku Kuniang (Ulama dan Tokoh Nahdlatul Ulama Sumatera Barat)   Nahdlatul Ulama (NU) sedang berada di sebuah...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Sapardi dan Seni Berdamai dengan Kefanaan

Minggu, 14/6/26 | 22:24 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran)   Pada masa ini, ada puisi yang justru berbahaya karena tampak...

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Minggu, 14/6/26 | 22:16 WIB

Oleh: Nayla Aprilia (Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Universitas Andalas, Padang)   Di tengah masyarakat, penampilan fisik sering kali menjadi dasar...

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Minggu, 31/5/26 | 23:50 WIB

Oleh: Najwa Maliha Zharfa (Mahasiswa Prodi S1 Akuntansi dan Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia Universitas Andalas)   Siapa yang tidak mengenal...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Kue Asida: Makanan Para Raja Riau yang Hampir Punah

Minggu, 31/5/26 | 23:45 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Ironi Nasib Anak Perempuan di Tengah Himpitan Ekonomi

Kebebasan Perempuan dalam Film “Gowok” Analisis Semiotika Christian Metz

Minggu, 31/5/26 | 23:30 WIB

Oleh: Adela Damanik (Mahasiswi Sastra Indonesia danĀ  Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Film Gowok:...

Berita Sesudah
Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel "Dawuk"

POPULER

  • PKB Umumkan Susunan KSB DPC se-Sumbar

    PKB Umumkan Susunan KSB DPC se-Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Annisa Harapkan Sinergi Baru di Pelantikan PC PMII Dharmasraya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PNM Salurkan Rp12,6 Triliun untuk 384 Ribu Nasabah di Sumbar, Pemprov Dorong UMKM Naik Kelas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pembukaan Jambore Kelompok Siaga Bencana (KSB) Kota Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Kukuhkan Pengurus Asosiasi Wali Nagari Dharmasraya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Galanggang Arang, Perhelatan Warisan Dunia WTBOS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nasib Mapel Sejarah dalam Kurikulum Merdeka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026