
Beberapa waktu lalu, saya menyunting beberapa buku. Satu buku menyajikan bahasa yang amat sulit dipahami atau memiliki maksud yang tidak jelas. Asumsi saya, kalimat yang dipakai adalah bahasa lisan sebagaimana data berikut.
(1) Berdirilah bila berjabat tangan dengan orang lain yang datang bersalaman dalam posisi berdiri.
Bagi pembaca yang bukan ahli bahasa, kalimat ini amat rumit dipahami karena maksudnya tidak jelas dan bertele-tele. Namun, kalimat tersebut dapat diperbaiki menjadi kalimat berikut.
(1a) Apabila seseorang datang untuk bersalaman, berdirilah sebagai bentuk penghormatan.
Sementara itu, buku yang lain, kalimatnya sangat rapi, tetapi kalimat yang sama muncul lagi dalam paragraf berikutnya. Ketika saya membaca dan menyelesaikan mengedit buku ini, akhirnya ditemukan kesalahan bahasa yang terpola. Saya mengasumsikan bahwa tulisan tersebut hasil reproduksi dari AI. AI bekerja dengan mempelajari sejumlah besar data. Dari data tersebut, AI menemukan pola dan aturan tertentu. Setelah belajar, AI memberikan jawaban berdasarkan pola yang telah dipelajarinya.
Karena pencipta AI bukan ahli bahasa, sejumlah besar teks yang ditulis oleh orang yang tidak memahami kaidah kebahasaan mengakibatkan muncul kesalahan bahasa yang terpola dalam teks yang dihasilkannya. Kesalahan terpola itulah yang ditemukan dalam buku yang saya sunting.
Pertama, Ai tidak dapat membedakan kata hubung dan dan serta. Hampir semua kalimat yang menghubungkan dua klausa atau lebih cenderung menggunakan kata serta, padahal seharunya kata hubung yang dipakai adalah kata dan. Kita dapat melihatnya dalam contoh berikut.
(2) Selain itu, keris atau tongkat melambangkan kekuatan, keberanian, serta keadilan dalam menegakkan kebenaran.
Pada kalimat (2) tersebut, frasa kekuatan, keberanian, serta keadilan merupakan objek. Frasa tersebut merupakan rincian yang menjabarkan bahwa ada tiga hal yang dilambangkan oleh keris, yaitu kekuatan, keberanian, dan keadilan. Kata dan dipakai sebagai kata penghubung unsur yang setara yang menggabungkan kekuatan, keberanian, dan keadillan. Pada penggabungan unsur setara tersebut, tidak tepat digunakan kata serta. Kata hubung serta baru akan dipakai jika kata hubung dan telah digunakan sebelumnya. Hal ini dapat dilihat dalam contoh berikut.
(3) Dalam fungsi edukatif, orang tua mengajarkan aturan dan konsep sopan santun melalui nasihat, serta menjelaskan pentingnya etika dalam menjaga hubungan sosial.
Karena Ai mengambil dari korpus data, AI tidak mengetahui bahwa kata penghubung dan dan serta memiliki fungsi yang berbeda.
Kedua, AI tidak mengetahui fungsi negasi berpasangan. Dalam bahasa Indonesia, terdapat negasi berpasangan berupa (1) … tidak …, tetapi …. dan (2) … bukan …, melainkan …. Negasi tidak dipakai untuk kata kerja dan kata sifat, sedangkan negasi bukan dipakai untuk kata benda. Dalam buku yang saya sunting, negasi bukan selalu dipasangkan dengan tetapi. Hal ini bisa dilihat pada data berikut.
(3) Sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga tempat menumbuhkan kebijaksanaan.
(4) Pepatah ini bukan sekadar ungkapan, tetapi pandangan hidup yang membimbing manusia agar berpikir bijak, berbuat baik, dan hidup seimbang dengan sesama serta lingkungan.
(5) Belajar membaca dan menulis huruf Arab Melayu bukan sekadar latihan menulis, tetapi juga cara untuk menghargai warisan budaya bangsa.
Saya menemukan 60 kesalahan yang sama untuk negasi berpasangan bukan-tetapi yang dipakai dalam buku tersebut. Ai tidak mengetahui bahwa bentuk tulisan yang benar adalah sebagai berikut.
(3a) Sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, melainkan juga tempat menumbuhkan kebijaksanaan.
(4a) Pepatah ini bukan sekadar ungkapan, melainkan pandangan hidup yang membimbing manusia agar berpikir bijak, berbuat baik, dan hidup seimbang dengan sesama serta lingkungan.
(5a) Belajar membaca dan menulis huruf Arab Melayu bukan sekadar latihan menulis, melainkan juga cara untuk menghargai warisan budaya bangsa.
Dalam kalimat (3), (4), dan (5) tersebut, kata yang mengiringi kata bukan merupakan kata benda, yakni tempat, ungkapan, dan latihan. Oleh karena itu, negasi yang tepat dipakai adalah … bukan …, melainkan ….
Selain itu, karena hampir semua negasi bukan dipasangkan dengan melainkan, ini menunjukkan bahwa AI tidak mampu membedakan fungsi negasi tidak dan bukan.
Ketika sudah menemukan pola, saya juga mencoba membuat prompt atau perintah terkait materi yang sudah dituliskan dalam buku. Ketika tulisan AI muncul, tulisan tersebut menunjukan bahwa tulisan dalam buku adalah hasil dari AI. Lucunya, ketika saya membaca secara teliti satu per satu kalimat dalam buku, saya menemukan kalimat yang memuat bahasa AI berupa:
Ketiga, AI juga tidak mampu memahami kaidah bahasa Indonesia bahwa kata sehingga dan karena merupakan kata hubung sebab akibat yang diletakkan di tengah-tengah kalimat dan tidak membutuhkan tanda koma (,). Dalam buku yang saya sunting, kata hubung sehingga ada yang diletakkan di awal kalimat sebagaimana contoh (6) dan menggunakan tanda koma sebelum kata sehingga sebagaimana contoh (7) berikut.
(6) Berbicaralah untuk hal-hal yang penting dan sekiranya mengenai hal yang benar-benar kedua saling memahami satu dengan yang lainnya. Sehingga arah pembicaraan menjadi lebih terarah.
(7) Pakailah nada suara yang datar-datar saja, sehingga setiap orang dapat mendengarnya dengan baik.
Padahal, kata sehingga pada kalimat (6) dan kalimat (7) seharusnya berada di tengah-tengah kalimat dan tidak perlu menggunakan tanda koma. Berikut perbaikan kalimat yang tepat.
(6a) Berbicaralah untuk hal-hal yang penting dan sekiranya mengenai hal yang benar-benar kedua saling memahami satu dengan yang lainnya sehingga arah pembicaraan menjadi lebih terarah.
(7a) Pakailah nada suara yang datar-datar saja sehingga setiap orang dapat mendengarnya dengan baik.
Hal yang sama juga terjadi pada kata hubung karena yang diletakkan di awal kalimat sebagaimana contoh (8) dan menggunakan tanda koma sebelum kata karena sebagaimana contoh (9) berikut.
(8) Aksara ini berkembang pesat seiring dengan masuknya agama Islam ke Nusantara, karena huruf Arab digunakan untuk menulis Al-Qur’an dan berbagai kitab keagamaan.
(9) Membiasakan makan dengan tangan, tidak menggunakan sendok dan garpu. Karena makan dengan tangan hanya mulut kita sendiri yang menggunakannya, sedangkan makan menggunakan sendok dan garpu sudah ribuan mulut yang memakainya.
Padahal, kata karena pada kalimat (8) dan kalimat (9) seharusnya berada di tengah-tengah kalimat dan tidak perlu menggunakan tanda koma. Berikut perbaikan kalimat yang tepat.
(8a) Aksara ini berkembang pesat seiring dengan masuknya agama Islam ke Nusantara karena huruf Arab digunakan untuk menulis Al-Qur’an dan berbagai kitab keagamaan.
(9) Membiasakan makan dengan tangan karena makan dengan tangan tidak menggunakan media yang berulang kali dipakai orang lain.
Bahkan, dalam buku yang saya sunting, terdapat sebuah kalimat yang menjawab kesimpulan saya terhadap kesalahan bahasa tersebut. Saya menemukan kalimat di bawah ini:
Beriku permintaan Anda terkait ini.
Kalimat tersebut menunjukkan bahwa bahasa yang dipakai dalam buku adalah bahasa AI yang tidak mampu membedakan fungsi kata hubung dan tidak mengetahui kaidah bahasa Indonesia. Hal ini menjelaskan jika guru atau dosen menemukan tulisan siswa atau mahasiswa dengan kesalahan bahasa yang terpola ini, guru dapat menyimpulkan bahwa tugasnya merupakan tugas yang diproduksi oleh AI.
Jika ditanya lebih lanjut kepada saya, mana yang paling menyenangkan, apakah mengedit buku yang ditulis dengan mengikuti pola bahasa lisan manusia atau mengedit buku yang diproduksi oleh AI? Saya lebih suka mengedit bahasa hasil pemikiran manusia karena kita hanya merapikan bahasa dan membuatnya menjadi logis. Dalam setiap kalimat yang dihasilkan biasanya kaya dengan pengetahuan dan informasi.
Sementara pada karya yang diproduksi AI, kita disuguhkan kalimat yang terpola, informasi cenderung terbatas, dan tidak ada kekayaan pengalaman dan hal-hal baru yang pernah dialami manusia. Sepintar-pinyar AI, aplikasi ini hanya menyajikan ulang yang sudah ada dalam korpus. Sementara, manusia punya seribu cerita dan seribu pengalaman yang sangat penting dan mampu membuka cakrawala berpikir kreatif dan kritis. Dengan demikian, menulis merupakan salah satu cara untuk melatih kepekaan dan tingkat kekritisan seseorang dalam berpikir. Ai sebenarnya salah satu penyebab penurunan fungsi otak dalam berpikir.





