
Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi
(Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)
Makanan dan minuman tradisional menjadi salah satu bentuk budaya penting bagi masyarakat. Makanan dan minuman tidak hanya untuk dinikmati kelezatan dan kenikmatannya, tetapi di dalamnya juga terkandung nilai sejarah dan budaya. Salah satu negara yang kaya akan budaya adalah Indonesia. Indonesia merupakan negara yang terdiri atas suku dan budaya yang beraneka ragam. Keragaman budaya itu meliputi pakaian adat, rumah adat, tarian adat, dan juga salah satunya makanan adat. Meskipun demikian, keragaman budaya yang ada tidak dilestarikan dengan baik. Kurangnya pelestarian budaya bisa menyebabkan budaya-budaya di Indonesia punah. Salah satu penyebab kebudayaan punah karena kurangnya popularitas budaya tersebut di lingkungan masyarakat, contohnya seperti salah satu kebudayaan yang ada di Provinsi Riau.
Provinsi Riau memiliki budaya yang beragam, namun budaya itu tidak semuanya dijaga dan diperkenalkan ke masyarakat luas, masih ada budaya-budaya ini yang jarang dan bahkan tidak pernah terdengar oleh masyarakat Riau sendiri. Salah satu contohnya terletak daerah Ukui. Ukui adalah salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Kecamatan ini dinamakan kecamatan “Ukui” karena di salah satu desa Kecamatan Ukui yaitu desa Ukui II, terdapat sungai melintas, masyarakat di sana menyebutnya dengan sungai Batang Ukui. Selain namanya yang unik, Kecamatan Ukui juga mempunyai makanan tradisional yang unik, yaitu kue Asida (Maghfiroh, Shakila, dan Lestari, 2025: 725).
Kue Asida adalah kue khas masyarakat kecamatan Ukui yang disajikan di acara-acara adat dalam budaya Melayu seperti akikah, kenduri, dan acara-acara keagamaan lainnya. Kue Asida memiliki rasa yang manis karena terbuat dari tepung terigu yang kemudian digabungkan dengan kayu manis, cengkeh, dan kapulaga. Selain itu, ditambahkan juga bawang goreng sebagai pelengkap sehingga menimbulkan rasa gurih dari kue Asida (Maghfiroh, Shakila, dan Lestari, 2025: 725).
Kue Asida bagi masyarakat Kecamatan Ukui menjadi simbol penting dalam upacara adat bagi suku Melayu sekaligus menjadi identitas budaya yang berharga. Kue Asida merupakan hasil adaptasi makanan khas Timur Tengah, yaitu Asida yang biasanya dimakan di pagi hari. Para pedagang di Timur Tengah yang berdagang di Riau memperkenalkan kue ini kepada masyarakat di sana sehingga memunculkan variasi dari kue ini yang menjadi asal-usul kue Asida khas Masyarakat Kecamatan Ukui. Pada Zaman dahulu, kue Asida merupakan makanan yang disajikan kepada raja-raja di Wilayah Melayu di acara tertentu saja seperti pernikahan keluarga kerajaan, syukuran, dan acara-acara besar yang ada di masyarakat (Maghfiroh, Shakila, dan Lestari, 2025:726-727: MONGABAY, 2025).
Kue Asida memiliki tekstur dan rasa yang manis, mirip dengan dodol. Dalam pembuatannya, kue Asida dibuat dari bahan-bahan pendukung seperti tepung terigu, minyak dan air yang dibentuk menyerupai gunung. Di negara-negara Timur Tengah, Kue Asida dinikmati dengan dicocolkan ke madu atau minyak samin, sedangkan di Kecamatan Ukui, kue Asida ini dinikmati dengan bawang goreng untuk menambah cita rasa gurih. Perkembangan zaman pada masyarakat di Provinsi Riau Khususnya di Kecamatan Ukui mempengaruhi bentuk dari Kue Asida yang bervariasi. Variasi ini meliputi bentuk Kue Asida yang berbentuk bulat, bunga mawar, dan bentuk variatif lainnya (Maghfiroh, Shakila, dan Lestari, 2025:726).
Kue Asida dibuat dari hasil gotong royong masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan sebagai sajian dalam upacara-upacara adat. Kue ini dinikmati dengan bagian bawahnya yang dipotong dahulu dan jika dilanggar maka wajib membayar denda kepada sang pemilik kue. Oleh karena itu, kue Asida mendapatkan julukan sebagai “raja” bagi kue-kue di masyarakat Melayu (Maghfiroh, Shakila, dan Lestari, 2025:726).
Kue Asida juga ditemukan di Kota Ambon, dimulai pada pada abad ke-14 yang dibawa oleh para pedagang dari Timur tengah untuk membeli rempah ke kepulauan Maluku yang sejak dahulu terkenal akan rempah-rempahnya sehingga mendapat julukan Jazirata Al Mulk atau Negeri Para Raja karena rempahnya yang mendunia (Santoso & Harmayani, 2025).
Menurut Clifford Wight yang merupakan sejarawan makanan Mediterania, Asida sudah terkenal sejak abad ke-13 dan 14 di Rif yang merupakan wilayah pegunungan di sepanjang pantai Mediterania Maroko. Di Rif, Asida dibuat menggunakan tepung jelai yang dipanggang. Selain itu, Asida menurut beberapa catatan sejarah berasal dari suku-suku Badui di Afrika Utara pada tahun 1465-1550 yang kemudian resepnya dicatat oleh Ibnu Sayyar al Warraq dari Bagdad (MONGABAY, 2025).
Dengan sejarahnya yang panjang dan peranannya yang vital dalam upacara adat masyarakat Melayu, Kue Asida tetap terpengaruh oleh dampak negatif dari perkembangan zaman di era globalisasi yang pesat. Para Generasi muda yang lebih memilih beralih ke makanan barat dan Asia Timur mulai meninggalkan kue Asida. Padahal, kue Asida merupakan warisan nenek moyang dari generasi ke generasi dari berbagai negara dunia yang harus dilestarikan. Oleh karena itu, peran dan dukungan dari berbagai pihak diperlukan untuk menjaga dan melestarikan budaya bangsa ini.
Pemerintah harus lebih giat dalam memberikan edukasi kepada masyarakat terutama di lingkungan sekolah sejak dini melalui peran guru-guru dalam mengajarkan murid-murid di sekolah. Selain itu, buku Budaya Melayu Riau (BMR) yang merupakan buku pembelajaran budaya melayu di jenjang sekolah harus diperbarui dengan menambahkan budaya-budaya yang kurang dikenal masyarakat luas seperti Kue Asida.
Peran masyarakat juga sangat penting melalui partisipasi aktif dalam pelestarian kue Aisda. Orang tua harus lebih menekankan mengenai pentingnya Kue Asida sebagai warisan budaya kepada anak-anak sedini mungkin. Para tetua adat juga harus lebih giat dalam menekankan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya masyarakat Melayu. Selain itu, generasi muda perlu menyadari bahwa dengan budaya dan identitasnya sebagai masyarakat Melayu. Dengan demikian, diharapkan Kue Asida dan budaya- budaya Melayu lainnya bisa terjaga dengan baik dan tidak punah ditelan zaman.









