
Oleh: Hilda Septriani
(Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)
“Membaca Ulang “Surat buat Tuhan” di Tengah Budaya Tak Pernah Cukup” (Hilda Septriani)
Ada satu momen dalam kehidupan digital kita yang rasanya sangat familiar. Kita membuka media sosial, melihat sesuatu yang tidak sesuai harapan, lalu menumpahkan kekecewaan itu di kolom komentar atau setidaknya dalam gumaman kesal di dalam hati. Bukan karena kita orang jahat. Tapi karena kita tanpa sadar sudah terlatih untuk melihat apa yang kurang, bukan apa yang ada.
Ia adalah Lencho. Ia bukan warga internet. Ia menjadi representasi petani miskin dalam cerpen klasik Meksiko karya Gregorio López y Fuentes dengan judul asli Una Carta a Dios, yang dalam terjemahan bahasa Indonesia dikenal sebagai Surat buat Tuhan. Cerpen ini ditulis lebih dari seabad lalu, pendek, sederhana, dan bila kita jujur akan terasa sangat menohok hari ini. Kisah itu bermula dari ladang jagung Lencho yang diporak-porandakan badai es. Tak ada yang tersisa. Dalam kepasrahan total, ia menulis surat langsung kepada Tuhan, meminta seratus peso agar keluarganya tidak mati kelaparan. Para pegawai kantor pos yang menyortir surat itu tersentuh. Mereka patungan dari kantong sendiri, mengumpulkan tujuh puluh peso, lalu mengirimkannya seolah itu adalah balasan dari langit. Lencho menerima amplop itu. Ia membacanya. Lalu ia marah.
Baginya, Tuhan mustahil salah hitung. Maka ia menulis surat kedua: “Tuhan, dari uang yang kuminta, hanya tujuh puluh peso yang sampai. Lain kali, jangan kirimkan lewat kantor pos, sebab pegawai-pegawai itu adalah segerombolan bajingan.”
Tangan-tangan yang tulus berkorban, tetapi justru dibalas dengan tuduhan mencuri. Di sinilah letak kekuatan cerpen ini. Ia bukan hanya satire tentang seorang petani naif. Ia adalah cermin yang tidak mau kita lihat terlalu lama.
Kepuasan yang Tak Pernah Cukup
Dalam psikologi sosial, ada konsep yang disebut hedonic treadmill yang diartikan sebagai roda hedonis. Teori ini menjelaskan kecenderungan manusia untuk terus mengejar kepuasan baru, namun tidak pernah benar-benar mencapai rasa cukup karena setiap kali sebuah harapan terpenuhi, standar kepuasan langsung melompat lebih tinggi. Kita berjalan dan terus berjalan, tapi tidak pernah benar-benar bergerak dari tempat semula dalam hal syukur.
Lencho adalah subjek dari roda hedonis itu, meski ia tidak pernah mendengar istilah tersebut dalam hidupnya. Tujuh puluh peso yang ia terima, yang sesungguhnya adalah keajaiban kecil dari solidaritas orang-orang asing yang kalah telak oleh bayang-bayang tiga puluh peso yang tak kunjung datang. Berkah itu ada. Nyata. Bisa dipegang. Tapi Lencho hanya melihat kekurangannya.
Kita mungkin tertawa membaca itu. Tapi kemudian ingat. Bukankah kita juga pernah pulang berlibur ke tempat yang indah, lalu yang paling banyak kita ceritakan justru restoran yang lambat, kamar hotel yang sedikit berisik, atau cuaca yang tidak sempurna? Bukankah kita pernah mendapat pekerjaan yang baik, lalu lebih cepat mengeluhkan bosnya daripada mensyukuri gajinya?
Di era media sosial, roda hedonis ini berputar dengan kecepatan yang belum pernah ada sebelumnya. Algoritma dirancang untuk memperlihatkan kepada kita hal-hal yang membuat kita merasa kurang. Setidaknya itu yang dirasakan oleh segelintir manusia yang pada akhirnya membuatnya selalu tidak cukup. Liburan orang lain yang lebih mewah, tubuh yang lebih ideal, karier yang lebih gemilang, rumah yang lebih besar. Setiap gulir layar adalah undangan untuk membandingkan. Perbandingan yang sepertinya sudah lama kita tahu sebagai pencuri kebahagiaan yang mematikan rasa syukur dalam diri. Kita menulis surat buat Tuhan setiap hari dalam bentuk keluhan di status, umpatan di kolom komentar, dan ratapan di cerita singkat, tanpa pernah berhenti sejenak untuk menghitung apa yang sudah datang.
Solidaritas yang Tidak Terlihat
Ada lapisan lain dalam cerpen ini yang sering terlewat yaitu tindakan para pegawai kantor pos itu sendiri. Sosiolog klasik Émile Durkheim pernah mendeskripsikan apa yang ia sebut solidaritas mekanis yakni ikatan sosial yang lahir spontan dari rasa kebersamaan yang murni, tanpa kalkulasi, tanpa birokrasi. Para pegawai pos itu tidak memverifikasi apakah Lencho layak menerima bantuan. Mereka tidak membuka formulir pengajuan. Mereka hanya melihat satu jiwa yang sedang menderita dan karena itu mereka bergerak.
Itulah wajah kebaikan yang paling sering hadir dalam hidup kita dan datang bukan melalui kantor atau institusi, melainkan melalui tangan-tangan sederhana yang tidak kita harapkan. Pengemudi ojek yang tetap sabar meski kita rewel soal rute. Kasir yang memberikan senyum di saat antrean panjang. Tetangga yang menyapu halaman depan tanpa diminta. Berapa sering kita mengenali mereka sebagai kanal kebaikan dalam hidup kita? Atau lebih sering kita berlaku seperti Lencho yang mencurigai niatnya, mengeluhkan kekurangannya dan menganggap kontribusi nyata mereka tidak cukup baik untuk diapresiasi?
Tragedi Lencho bukan terjadi saat badai menghancurkan ladangnya. Itu adalah bencana alam. Tragedi sesungguhnya terjadi saat ia gagal melihat kebaikan manusiawi yang sedang mengulurkan tangan dan mengubahnya menjadi tuduhan yang tak berdasar.
Iman yang Kehilangan Empati
Yang membuat cerpen ini terasa lebih menyengat adalah dimensi spiritualnya. Lencho bukan tokoh yang tidak beriman. Ia justru digambarkan sebagai orang yang imannya sangat kuat dan yakin sepenuhnya bahwa Tuhan akan menjawab suratnya, tidak ragu setitik pun. Tapi imannya berjalan di ruang hampa. Ia percaya kepada Tuhan, tapi tidak percaya kepada sesama manusia. Baginya, Tuhan harus bekerja secara langsung dan mekanis dari atas dan bukan melalui tangan-tangan fana yang berkeringat di bumi.
Max Weber dalam kajian sosiologi menegaskan bahwa keyakinan religius yang matang seharusnya melahirkan etos sosial yang nyata berupa kepedulian, keterlibatan, dan penghargaan terhadap sesama sebagai bagian dari ekspresi iman itu sendiri. Keyakinan yang memutuskan tali hubungan manusia dari dunia sosialnya bukanlah iman yang utuh. Ia adalah iman yang cacat.
Lencho percaya kepada Tuhan, tapi tidak percaya bahwa Tuhan bisa bekerja melalui manusia. Dan dari sanalah seluruh tragedi itu bermula. Fenomena ini bukan milik Lencho seorang. Di era sekarang, kita sering menjumpai orang-orang yang rajin berdoa, rajin beribadah, rajin memamerkan kesalehan di ruang publik, tetapi tetap cepat marah ketika dilayani terlambat, tetap mudah menuduh ketika merasa dirugikan, tetap sulit mengucapkan terima kasih kepada yang telah membantu. Kesalehan yang steril dari empati itu dan pada akhirnya hanya melahirkan apa yang paling sulit kita akui yaitu kita adalah Lencho.
Jika Lencho hidup hari ini, ia tidak akan lagi berjalan kaki ke kantor pos dengan selembar kertas. Ia akan membuka ponselnya, mengetik panjang lebar di kolom status, mengutuk sistem, menyalahkan orang-orang di sekitarnya, dan menyebarkan tuduhan kepada siapa saja yang dianggap bertanggung jawab atas kekurangannya.
Ia akan mendapat likes dan retweet dari sesama Lencho. Dan lingkaran itu akan terus berputar. Tentu saja, ini bukan berarti kita tidak boleh mengkritik, menuntut keadilan, atau menyuarakan ketidakpuasan. Keberanian untuk bicara adalah hal yang berbeda dari kebiasaan mengeluh. Yang pertama berasal dari kesadaran dan kepedulian. Yang kedua, seperti yang ditunjukkan Lencho, seringkali hanya berasal dari ego yang merasa tidak pernah cukup dilayani.
Membaca ulang Surat buat Tuhan hari ini bukan sekadar latihan apresiasi sastra. Ia adalah undangan untuk berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri. Surat apa yang selama ini kita kirimkan ke langit dan ke dunia?Apakah isinya hanya daftar tuntutan yang tak pernah selesai? Ataukah di sela-sela tuntutan itu, kita masih menyisakan sedikit ruang untuk mengakui bahwa banyak dari yang kita minta sudah datang dan kita dapatkan. Hanya saja, seperti pegawai pos dalam cerita itu, ia datang melalui tangan-tangan yang kita sepelekan?
López y Fuentes menulis cerpen ini pada awal abad ke-20, tapi pertanyaan yang ia tinggalkan terasa sangat relevan hari ini. Bukan karena manusia tidak berubah, tapi karena kecenderungan untuk tak pernah merasa cukup rupanya adalah salah satu warisan paling tua yang kita bawa bersama. Mungkin langkah paling radikal yang bisa kita ambil hari ini, di tengah budaya yang terus mendorong kita untuk meminta lebih, adalah belajar menulis surat ucapan terima kasih. Kepada Tuhan. Kepada semesta. Terutama kepada tangan-tangan manusia yang diam-diam menopang hidup kita setiap hari, meski kita tidak selalu mau mengakuinya.








