
Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)
Perkembangan teknologi informasi membuat banyak aktivitas akademik menjadi lebih praktis. Laptop, tablet, dan berbagai aplikasi digital kini membantu pekerjaan berlangsung lebih cepat dan efisien. Saya pun berusaha mengikuti perubahan itu. Namun, di tengah berbagai kemudahan tersebut, kertas dan pena tetap sulit saya tinggalkan. Saat berada di kelas, seminar, atau mendengarkan ceramah, tangan saya justru lebih spontan mencari buku catatan daripada membuka gawai.
Ada kenyamanan tersendiri ketika menulis langsung di atas kertas. Kebiasaan itu rupanya masih bertahan sampai sekarang. Saat berada di kelas atau mengikuti seminar, tangan saya sering kali bergerak lebih cepat mengambil buku catatan daripada membuka aplikasi di gawai.
Ada saja hal yang terasa lebih pas ketika ditulis langsung di atas kertas. Kadang hanya berupa potongan kalimat, tanda panah, atau coretan kecil yang bentuknya bahkan nyaris tidak rapi. Namun anehnya, catatan sederhana seperti itu justru lebih mudah mengingatkan saya pada ide, suasana, bahkan hal-hal penting yang baru saja didengar.
Barangkali karena itulah menulis dengan tangan selalu terasa berbeda. Ada sesuatu yang lebih hidup ketika pena mulai bergerak di atas kertas. Pikiran terasa lebih tenang, sementara ide-ide datang tanpa terlalu dipaksa. Tidak jarang, hal-hal yang awalnya hanya ingin dicatat singkat justru berkembang menjadi gagasan baru.
Coretan kecil di pinggir halaman kadang malah lebih berkesan daripada catatan panjang di layar laptop. Mungkin sebab menulis tangan membuat kita tidak sekadar merekam informasi, tetapi juga ikut menikmati proses memahami setiap gagasan yang hadir.
Tentu saja saya tidak sedang “bermusuhan” dengan teknologi. Laptop tetap menjadi teman bekerja, tablet membantu membaca jurnal, dan berbagai aplikasi digital sangat memudahkan urusan akademik. Banyak pekerjaan memang terasa lebih cepat selesai dengan bantuan teknologi.
Namun, secanggih apa pun perangkat yang digunakan, saya merasa kertas dan pena tetap punya tempat sendiri. Bukan karena sulit menerima perubahan, melainkan karena ada kebiasaan lama yang sampai sekarang masih terasa nyaman dan akrab untuk menemani proses berpikir.
Mungkin itu pula yang membuat kertas dan pena masih sulit tergantikan. Buku catatan tidak pernah sibuk mengirim notifikasi, tidak tiba-tiba kehabisan baterai, dan tidak membuat perhatian mudah teralihkan. Saat sebuah ide muncul, saya hanya perlu membuka halaman kosong lalu menuliskannya begitu saja. Kadang sederhana sekali, hanya beberapa kata atau coretan kecil. Namun justru dari hal-hal sederhana seperti itulah banyak gagasan sering berawal.
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa kertas dan pena bukan sekadar alat untuk menulis, melainkan ruang kecil tempat pikiran merasa lebih leluasa bertumbuh. Teknologi boleh terus bergerak maju dengan segala kecanggihannya, tetapi beberapa kebiasaan lama rupanya tetap menyimpan kenyamanan yang sulit dijelaskan. Sebab bagi saya, tidak semua hal harus selalu berpindah ke layar. Kadang, sebuah gagasan justru terasa lebih dekat, lebih hangat, dan lebih mudah diingat ketika lahir dari coretan sederhana di atas selembar kertas.




