Kamis, 25/6/26 | 04:20 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Galgah dan Kapitil Kata Baru yang Viral Tahun 2026

Minggu, 10/5/26 | 21:59 WIB
Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)

Tahun 2026, beberapa kata baru muncul dan viral dalam bahasa Indonesia.  Kata tersebut adalah galgah dan kapitil. Kedua kata yang sempat viral di media sosial hadir karena pertanyaan kritis para pengguna bahasa. Salah satunya kata galgah yang viral karena pertanyaan selebgram dan Tiktokers, Bunga Reyzaa. Ia mempertanyakan apa lawan kata dari kata ‘haus’? Kalau lapar, ada lawannya, yaitu kenyang. Secara logika, seharusnya kata haus memiliki lawan atau antonim.

Kemudian, Bunga Reyzaa menyebutkan kata galgah sebagai lawan kata haus yang diambil dari bunyi yang muncul saat seseorang haus dan meneguk air. Di sana, muncul bunyi galgah atau lega. Lalu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa cepat menanggapi dan memasukkan kata tersebut ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Sejak itu, resmilah kata galgah menjadi salah satu kata dalam KBBI dengan arti ‘sudah lega atau segar kerongkongan karena minum; tidak dahaga; palum’.

Dalam waktu yang berdekatan, kata kapitil juga viral sebagai lawan dari kata kapital (huruf besar). Kata kapitil dalam KBBI memiliki dua arti, yaitu 1. Ragam hias pada puncak pilar atau kolom, 2. Kecil (tentang huruf a, b, c, d, dan seterusnya). Arti kata kapitil yang kedua dijadikan sebagai antonim dari kata kapital yang menurut peneliti kosakata dalam KBBI, Dr. Ria Febrina dalam artikelnya yang berjudul “Kapitil Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia”  (Scientia.id, 11/1/2026) menyebut bahwa penggunaan kata kapitil sebagai salah satu kosakata baru dalam bahasa Indonesia terkesan dipaksakan karena tidak dapat dirumuskan alasan logisnya, tetapi ia percaya bahwa Badan Bahasa punya pertimbangan tersendiri tentang itu.

Kehadiran kata galgah dan kapitil memang mendapat tanggapan yang beragam dari masyarakat. Hal itu dapat dilihat dari komentar-komentar yang muncul di media sosial. Ada yang merasa itu cukup asing terdengar di telinga, seperti kata galgah.

BACAJUGA

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Minggu, 21/6/26 | 14:59 WIB
Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Gaya Bahasa dalam Cerpen “Beki Bebek” Karya Vanda Parengkuan

Minggu, 21/6/26 | 14:42 WIB

@ngobrolsosiologi : Gen Z dengan kontennya mampu membuat kosakata baru tanpa disengaja.

Ronald_sampe      : Palem, galgah, cukluk, blubub. .. Nah udah sama itu..

Abdul.cobain04    : Anak 70 kalau haus lawan katanya seret, tapi ga masuk KBBI. Beda dengan kaum genset (gen z), dikit-dikit ada bahasa baru.

Komentar-komentar di atas ada yang pro dan ada juga yang kontra. Komentar pertama bernada positif dan bangga terhadap kreativitas berbahasa Gen Z yang tanpa sengaja melahirkan kosakata baru dalam bahasa Indonesia. Komentar kedua terlihat netral, namun ada indikasi setuju dengan kata galgah dengan menyebutkan kata-kata lain yang menjadi sinonimnya, seperti kata palem, cukluk, dan blubub. Sementara itu, komentar ketiga bernada keberatan karena begitu mudahnya kata-kata baru yang digunakan oleh Gen Z masuk ke dalam KBBI.

Sebelumnya, kata lain yang memiliki arti mirip (bersinonim) dengan kata galgah sudah ada dalam KBBI. Kata tersebut adalah palum yang mempunyai arti ‘sudah puas minum, sudah hilang rasa haus’. Kata palum berasal dari bahasa daerah, yaitu bahasa Batak Pakpak. Kata ini dimutakhirkan ke dalam KBBI pada akhir tahun 2024 dan awal tahun 2025.

Kata galgah dan kapitil yang sudah ada dalam KBBI menunjukkan bahwa para pengambil kebijakan di Badan Bahasa yang bertugas untuk menyeleksi kata-kata baru untuk masuk ke dalam KBBI cepat menanggapi, mempertimbangkan, dan memutuskan kata-kata tersebut sebagai bagian dari bahasa Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan sudah adanya kata-kata tersebut dalam entri kata Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dari situasi tersebut, pertanyaan muncul? Mengapa begitu mudah Badan Bahasa menyetujui sebuah kata sebagai kata baru dalam KBBI? Apakah tidak ada pertimbangan atau sejenis seleksi sebelum sebuah kata masuk sebagai kata baru dalam KBBI.

Masuknya sebuah kosakata dalam bahasa Indonesia mempunyai pertimbangan alasan, di antaranya tingginya frekuensi penggunaan kata tersebut di masyarakat, kejelasan dan kestabilan makna, kemudahan pengucapan, dan kesesuaian dengan kaidah bahasa Indonesia. Selain itu, bahasa juga bersifat arbitrer atau mana suka yang artinya penamaan sebuah benda atau suatu keadaan terserah atau suka-suka, atau acak, atau tidak ada hubungan logis atau wajib antara lambang bunyi dengan benda/konsep yang dilambangkan.

Sebagai bentuk terkecil dari satuan lingual yang bebas dan mempunyai makna, bahasa Indonesia juga merupakan jenis bahasa yang bersifat aglutinatif atau terbuka terhadap perubahan. Jadi, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi komunikasi, dan informasi juga membawa pengaruh besar terhadap perkembangan bahasa, khususnya kosakata dalam bahasa Indonesia.

ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Coretan di Pinggir Halaman

Berita Sesudah

Ironi Nasib Anak Perempuan di Tengah Himpitan Ekonomi

Berita Terkait

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Minggu, 21/6/26 | 14:59 WIB

Oleh: Puty Mahira Zahrani (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Andalas)   Hidup di abad ke-21 rasanya...

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Gaya Bahasa dalam Cerpen “Beki Bebek” Karya Vanda Parengkuan

Minggu, 21/6/26 | 14:42 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif FIB Universitas Andalas)           "Kata yang...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Peduli di Layar, Abai di Jalan: Ironi Aktivisme Lingkungan di Era Digital

Minggu, 21/6/26 | 14:31 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Di era digital, menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan tidak pernah semudah...

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Minggu, 14/6/26 | 22:37 WIB

Oleh: Satria Efendi Tuanku Kuniang (Ulama dan Tokoh Nahdlatul Ulama Sumatera Barat)   Nahdlatul Ulama (NU) sedang berada di sebuah...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Sapardi dan Seni Berdamai dengan Kefanaan

Minggu, 14/6/26 | 22:24 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran)   Pada masa ini, ada puisi yang justru berbahaya karena tampak...

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Minggu, 14/6/26 | 22:16 WIB

Oleh: Nayla Aprilia (Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Universitas Andalas, Padang)   Di tengah masyarakat, penampilan fisik sering kali menjadi dasar...

Berita Sesudah
Ironi Nasib Anak Perempuan di Tengah Himpitan Ekonomi

Ironi Nasib Anak Perempuan di Tengah Himpitan Ekonomi

POPULER

  • DPRD Kota Padang prihatin, terhadap semrawutnya Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di Kota Padang, khususnya berpusat pada kendala sistem aplikasi yang error.

    Ketua DPRD Kota Padang Muharlion Menilai Kurangnya Persiapan Disdik Dalam Pelaksanaan Sistem SPMB Tahun 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kesalahan Bahasa yang Diproduksi AI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penyelesaian Konflik PT SAK dengan Suku Anak Dalam, Sekda Dharmasraya Apresiasi Polisi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Peduli di Layar, Abai di Jalan: Ironi Aktivisme Lingkungan di Era Digital

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bahasa, Kejiwaan, dan Mental dalam Ranah Psikolinguistik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026