Minggu, 10/5/26 | 23:05 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Galgah dan Kapitil Kata Baru yang Viral Tahun 2026

Minggu, 10/5/26 | 21:59 WIB
Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)

Tahun 2026, beberapa kata baru muncul dan viral dalam bahasa Indonesia.  Kata tersebut adalah galgah dan kapitil. Kedua kata yang sempat viral di media sosial hadir karena pertanyaan kritis para pengguna bahasa. Salah satunya kata galgah yang viral karena pertanyaan selebgram dan Tiktokers, Bunga Reyzaa. Ia mempertanyakan apa lawan kata dari kata ‘haus’? Kalau lapar, ada lawannya, yaitu kenyang. Secara logika, seharusnya kata haus memiliki lawan atau antonim.

Kemudian, Bunga Reyzaa menyebutkan kata galgah sebagai lawan kata haus yang diambil dari bunyi yang muncul saat seseorang haus dan meneguk air. Di sana, muncul bunyi galgah atau lega. Lalu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa cepat menanggapi dan memasukkan kata tersebut ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Sejak itu, resmilah kata galgah menjadi salah satu kata dalam KBBI dengan arti ‘sudah lega atau segar kerongkongan karena minum; tidak dahaga; palum’.

Dalam waktu yang berdekatan, kata kapitil juga viral sebagai lawan dari kata kapital (huruf besar). Kata kapitil dalam KBBI memiliki dua arti, yaitu 1. Ragam hias pada puncak pilar atau kolom, 2. Kecil (tentang huruf a, b, c, d, dan seterusnya). Arti kata kapitil yang kedua dijadikan sebagai antonim dari kata kapital yang menurut peneliti kosakata dalam KBBI, Dr. Ria Febrina dalam artikelnya yang berjudul “Kapitil Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia”  (Scientia.id, 11/1/2026) menyebut bahwa penggunaan kata kapitil sebagai salah satu kosakata baru dalam bahasa Indonesia terkesan dipaksakan karena tidak dapat dirumuskan alasan logisnya, tetapi ia percaya bahwa Badan Bahasa punya pertimbangan tersendiri tentang itu.

Kehadiran kata galgah dan kapitil memang mendapat tanggapan yang beragam dari masyarakat. Hal itu dapat dilihat dari komentar-komentar yang muncul di media sosial. Ada yang merasa itu cukup asing terdengar di telinga, seperti kata galgah.

BACAJUGA

Ironi Nasib Anak Perempuan di Tengah Himpitan Ekonomi

Ironi Nasib Anak Perempuan di Tengah Himpitan Ekonomi

Minggu, 10/5/26 | 22:16 WIB
Puisi-puisi M. Subarkah

Ciri Khas Gaya Komunikasi Donald Trump di Depan Publik

Minggu, 10/5/26 | 12:22 WIB

@ngobrolsosiologi : Gen Z dengan kontennya mampu membuat kosakata baru tanpa disengaja.

Ronald_sampe      : Palem, galgah, cukluk, blubub. .. Nah udah sama itu..

Abdul.cobain04    : Anak 70 kalau haus lawan katanya seret, tapi ga masuk KBBI. Beda dengan kaum genset (gen z), dikit-dikit ada bahasa baru.

Komentar-komentar di atas ada yang pro dan ada juga yang kontra. Komentar pertama bernada positif dan bangga terhadap kreativitas berbahasa Gen Z yang tanpa sengaja melahirkan kosakata baru dalam bahasa Indonesia. Komentar kedua terlihat netral, namun ada indikasi setuju dengan kata galgah dengan menyebutkan kata-kata lain yang menjadi sinonimnya, seperti kata palem, cukluk, dan blubub. Sementara itu, komentar ketiga bernada keberatan karena begitu mudahnya kata-kata baru yang digunakan oleh Gen Z masuk ke dalam KBBI.

Sebelumnya, kata lain yang memiliki arti mirip (bersinonim) dengan kata galgah sudah ada dalam KBBI. Kata tersebut adalah palum yang mempunyai arti ‘sudah puas minum, sudah hilang rasa haus’. Kata palum berasal dari bahasa daerah, yaitu bahasa Batak Pakpak. Kata ini dimutakhirkan ke dalam KBBI pada akhir tahun 2024 dan awal tahun 2025.

Kata galgah dan kapitil yang sudah ada dalam KBBI menunjukkan bahwa para pengambil kebijakan di Badan Bahasa yang bertugas untuk menyeleksi kata-kata baru untuk masuk ke dalam KBBI cepat menanggapi, mempertimbangkan, dan memutuskan kata-kata tersebut sebagai bagian dari bahasa Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan sudah adanya kata-kata tersebut dalam entri kata Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dari situasi tersebut, pertanyaan muncul? Mengapa begitu mudah Badan Bahasa menyetujui sebuah kata sebagai kata baru dalam KBBI? Apakah tidak ada pertimbangan atau sejenis seleksi sebelum sebuah kata masuk sebagai kata baru dalam KBBI.

Masuknya sebuah kosakata dalam bahasa Indonesia mempunyai pertimbangan alasan, di antaranya tingginya frekuensi penggunaan kata tersebut di masyarakat, kejelasan dan kestabilan makna, kemudahan pengucapan, dan kesesuaian dengan kaidah bahasa Indonesia. Selain itu, bahasa juga bersifat arbitrer atau mana suka yang artinya penamaan sebuah benda atau suatu keadaan terserah atau suka-suka, atau acak, atau tidak ada hubungan logis atau wajib antara lambang bunyi dengan benda/konsep yang dilambangkan.

Sebagai bentuk terkecil dari satuan lingual yang bebas dan mempunyai makna, bahasa Indonesia juga merupakan jenis bahasa yang bersifat aglutinatif atau terbuka terhadap perubahan. Jadi, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi komunikasi, dan informasi juga membawa pengaruh besar terhadap perkembangan bahasa, khususnya kosakata dalam bahasa Indonesia.

ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Coretan di Pinggir Halaman

Berita Sesudah

Ironi Nasib Anak Perempuan di Tengah Himpitan Ekonomi

Berita Terkait

Ironi Nasib Anak Perempuan di Tengah Himpitan Ekonomi

Ironi Nasib Anak Perempuan di Tengah Himpitan Ekonomi

Minggu, 10/5/26 | 22:16 WIB

Oleh: Adela Damanik (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Sekolah atau Menikah? Ironi Nasib Anak Perempuan...

Puisi-puisi M. Subarkah

Ciri Khas Gaya Komunikasi Donald Trump di Depan Publik

Minggu, 10/5/26 | 12:22 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Dalam dunia politik modern, komunikasi menjadi salah satu...

Penulisan Jenjang Akademik dalam Bahasa Indonesia

Mengenal Mandeh Sako dalam Adat Minangkabau

Minggu, 10/5/26 | 12:15 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra (Guru SMAN 1 Ranah Pesisir)   Salah satu prinsip kekerabatan matrilineal adalah sumber keturunan berasal dari...

Hijau di Atas Kertas: Penerapan Green Accounting di Indonesia

Hijau di Atas Kertas: Penerapan Green Accounting di Indonesia

Minggu, 03/5/26 | 22:55 WIB

Oleh: Zhafirah Khalista Mewal (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Andalas)   Masalah lingkungan di Indonesia saat...

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Parliamentary Threshold Daerah dan Pemerataan Pembangunan

Minggu, 03/5/26 | 22:20 WIB

Oleh: Syamsul Bahri (Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Eka Sakti, Sumatera Barat)   Pemerataan pembangunan di Indonesia selama ini lebih banyak...

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Sumpah Pemuda: Tonggak Perkembangan Sastra Indonesia

Minggu, 03/5/26 | 22:12 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia & Anggota Labor Penulisan Kreatif Universitas Andalas)   Sumpah Pemuda yang diikrarkan...

Berita Sesudah
Ironi Nasib Anak Perempuan di Tengah Himpitan Ekonomi

Ironi Nasib Anak Perempuan di Tengah Himpitan Ekonomi

POPULER

  • Ramono Aryo Abilowo (Foto: Ist)

    Ketika Anak Muda Kita Memilih Pergi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Mandeh Sako dalam Adat Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkab Dharmasraya Kembali Gelar Pasar Murah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hijau di Atas Kertas: Penerapan Green Accounting di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ciri Khas Gaya Komunikasi Donald Trump di Depan Publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026