Rabu, 24/6/26 | 15:46 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Mengenal Mandeh Sako dalam Adat Minangkabau

Minggu, 10/5/26 | 12:15 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra
(Guru SMAN 1 Ranah Pesisir)

 

Salah satu prinsip kekerabatan matrilineal adalah sumber keturunan berasal dari ibu. Berdasarkan prinsip matrilineal ini dikenal istilah mandeh sako. Mandeh sako merupakan perempuan tertua atau perempuan yang dituakan dalam suatu kaum di Minangkabau. Ratmil (2024: 107) mendefinisikan mandeh sako adalah ibu yang menjadi sumber atau puncak ranji. Ia adalah perempuan memegang peranan yang sangat penting dalam struktur adat, berdampingan dengan penghulu sebagai pemimpin kaum laki-laki.

BACAJUGA

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Minggu, 21/6/26 | 14:59 WIB
Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Gaya Bahasa dalam Cerpen “Beki Bebek” Karya Vanda Parengkuan

Minggu, 21/6/26 | 14:42 WIB

Ernatip dan Silvia Devi (2014: 71) dalam bukunya yang berjudul Kedudukan dan Peran Bundo kanduang dalam Sistem Kekerabatan di Minangkabau menyebutkan perempuan yang menjadi mandeh sako ialah perempuan yang memiliki pengetahuan, wawasan yang luas, dan berkemampuan dalam segala hal, terutama yang berkaitan dengan kaum yang bersangkutan. Tidak hanya itu, mandeh sako juga menjadi suri teladan bagi anggota kaumnya, serta harkat dan martabat kaum yang juga berada di tangannya. Dalam kehidupan adat, mandeh sako—dalam perkembangan zaman—lebih akrab atau lebih dikenal sebagai bundo kanduang, yaitu simbol perempuan Minangkabau yang bijaksana, arif, dan sosok ibu sejati yang menjadi panutan bagi anak kemenakan, baik dalam keluarga, kaum, suku, maupun masyarakat.

Bundo kanduang sebagai mandeh sako memiliki peran yang sangat strategis dalam setiap pengambilan keputusan di dalam kaum. Kedudukannya tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga nyata dalam mengatur kehidupan sosial, adat, serta kesejahteraan kaum. Peran-peran tersebut dapat dilihat dari beberapa fungsi penting berikut.

1. Bundo kanduang sebagai limpapeh rumah nan gadang

Dalam posisi ini, bundo kanduang menjadi tiang utama dalam rumah gadang, yaitu pusat kehidupan kaum. Ia berperan dalam mengatur, membimbing, serta mengarahkan seluruh anak kemenakan yang berada di dalam rumah gadang. Ia memiliki sifat yang tegas namun tetap lembut dan penuh kasih sayang. Hal ini sesuai dengan pepatah Minangkabau “samuik tapijak indak mati, alu tataruang patah tigo”, yang menggambarkan kebijaksanaan dalam bersikap adil dan penuh pertimbangan.

2. Bundo kanduang sebagai amban puruak

Amban puruak berarti tempat menyimpan harta pusaka kaum. Dalam hal ini, bundo kanduang dipercaya sebagai penjaga dan pengelola harta serta pusaka yang dimiliki oleh kaum. Ia harus bersikap arif dan bijaksana dalam mengelola kekayaan tersebut, serta mengetahui dengan jelas penggunaannya untuk kepentingan kaum.

3. Bundo kanduang sebagai alu bunian.

Alu bunian dimaknai sebagai tempat menyimpan seluruh keputusan adat yang telah disepakati dalam kaum, kampung, maupun nagari. Segala bentuk keputusan penting biasanya dikembalikan kepada bundo kanduang sebagai rujukan. Hal ini sejalan dengan ungkapan adat “ka pai tampek batanyo, ka pulang tampek babarito”, yang berarti bundo kanduang adalah tempat bertanya ketika pergi dan tempat memberi kabar ketika pulang.

4. Bundo kanduang sebagai penjaga kunci lumbuang padi

Lumbuang padi atau lumbung padi merupakan sumber kehidupan kaum yang menyimpan kebutuhan pangan. Bundo Kanduang bertanggung jawab memastikan ketersediaan dan pemanfaatan hasil lumbung tersebut agar kehidupan anak kemenakan tetap terjamin. Selain itu, terdapat pula lumbuang-lumbuang lain seperti lumbuang Sitinjau Lauik dan lumbuang Sibayau-bayau yang juga menjadi bagian dari tanggung jawab pengelolaan sumber kehidupan kaum.

5. Bundo kanduang sebagai penentu sako dan pusako.

Dalam struktur adat, Bundo Kanduang memiliki peran penting dalam penentuan sako (gelar adat) dan pusako (harta warisan). Ia ikut serta dalam menjaga keberlanjutan adat serta memastikan bahwa pewarisan nilai, gelar, dan harta berjalan sesuai dengan ketentuan adat Minangkabau. Jadi, bundo kanduang sebagai mandeh sako tidak hanya sebagai simbol perempuan dalam adat Minangkabau, tetapi juga sebagai pilar utama dalam menjaga keharmonisan, keberlanjutan adat, serta kesejahteraan kaum. Perannya mencerminkan kedudukan perempuan yang sangat dimuliakan dalam sistem adat Minangkabau.

Referensi:

Ernatip & Silvia Dewi. 2014. Kedudukan dan Peran Bundo Kanduang dalam Sistem Kekekrabatan Matrilineal di Minangkabau. Padang: Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang

Ratmil, Muhammad. 2024. Buku Mata Pelajaran Muatan Lokal Keminangkabauan SMA/SMK/SMALB Sumatera Barat. Padang: Visigraf

Tags: #Yori Leo Saputra
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pemko Padang Pastikan Tidak Ada Anak Putus Sekolah Menekan Angka Tidak Sekolah (ATS) Hingga Titik Nol

Berita Sesudah

Ciri Khas Gaya Komunikasi Donald Trump di Depan Publik

Berita Terkait

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Minggu, 21/6/26 | 14:59 WIB

Oleh: Puty Mahira Zahrani (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Andalas)   Hidup di abad ke-21 rasanya...

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Gaya Bahasa dalam Cerpen “Beki Bebek” Karya Vanda Parengkuan

Minggu, 21/6/26 | 14:42 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif FIB Universitas Andalas)           "Kata yang...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Peduli di Layar, Abai di Jalan: Ironi Aktivisme Lingkungan di Era Digital

Minggu, 21/6/26 | 14:31 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Di era digital, menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan tidak pernah semudah...

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Minggu, 14/6/26 | 22:37 WIB

Oleh: Satria Efendi Tuanku Kuniang (Ulama dan Tokoh Nahdlatul Ulama Sumatera Barat)   Nahdlatul Ulama (NU) sedang berada di sebuah...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Sapardi dan Seni Berdamai dengan Kefanaan

Minggu, 14/6/26 | 22:24 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran)   Pada masa ini, ada puisi yang justru berbahaya karena tampak...

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Minggu, 14/6/26 | 22:16 WIB

Oleh: Nayla Aprilia (Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Universitas Andalas, Padang)   Di tengah masyarakat, penampilan fisik sering kali menjadi dasar...

Berita Sesudah
Puisi-puisi M. Subarkah

Ciri Khas Gaya Komunikasi Donald Trump di Depan Publik

POPULER

  • DPRD Kota Padang prihatin, terhadap semrawutnya Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di Kota Padang, khususnya berpusat pada kendala sistem aplikasi yang error.

    Ketua DPRD Kota Padang Muharlion Menilai Kurangnya Persiapan Disdik Dalam Pelaksanaan Sistem SPMB Tahun 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kesalahan Bahasa yang Diproduksi AI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Peduli di Layar, Abai di Jalan: Ironi Aktivisme Lingkungan di Era Digital

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penyelesaian Konflik PT SAK dengan Suku Anak Dalam, Sekda Dharmasraya Apresiasi Polisi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gaya Bahasa dalam Cerpen “Beki Bebek” Karya Vanda Parengkuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026