Rabu, 29/4/26 | 19:56 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

Minggu, 15/3/26 | 15:41 WIB

‎Oleh: Alfan Raseva
(Ketua Ketua Taruna Nagari Aie Tajun, Kecamatan Lubuk Alung)

 

Kepemimpinan dalam kacamata Minangkabau adalah perpaduan antara kerendahan hati untuk mendengar dan keberanian untuk menegakkan kebenaran. Pemimpin adalah sosok yang “ditinggikan seranting, didahulukan selangkah”, namun memiliki pandangan yang lebih jauh ke depan. ‎Seorang pemimpin bukan sekadar pemegang tampuk kekuasaan, melainkan sosok yang memikul beban moral dan sosial yang berat.

BACAJUGA

Dari ‘Rakyat’ ke ‘Masyarakat’: Pergeseran Kata dan Ideologi

Dari ‘Rakyat’ ke ‘Masyarakat’: Pergeseran Kata dan Ideologi

Minggu, 19/4/26 | 22:40 WIB
Batu dan Zaman

Memaknai Ulang Sukses dalam Film “Tunggu Aku Sukses Nanti”

Minggu, 19/4/26 | 22:16 WIB

Konsep kepemimpinan ini tertuang dalam  pepatah “Kayu Gadang di Tangah Padang, Tampek Bataduah Katiko Paneh, Tampek Balinduang Katiko Hujan”. ‎Dalam masyarakat Minangkabau, idealnya pemimpin harus memiliki kriteria yang memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan berinteraksi dalam berbagai lingkungan sosial. Seorang pemimpin sejati diharapkan memiliki karakter matang seperti yang tertuang dalam konsep 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau).
‎
‎1. Palapau
‎Lapau (kedai) bagi masyarakat Minangkabau bukan hanya tempat makan atau minum dan membeli keperluan sehari-hari, tetapi juga berfungsi sebagai pusat interaksi sosial, pertukaran informasi dan ruang diskusi politik informal bagi laki-laki. Lapau juga  menjadi tempat belajar bagi pemuda tentang tata krama, retorika, cara bernegosiasi, dan kepemimpinan dalam masyarakat Minangkabau.

Pemimpin palapau menandakan sebuah analogi dari sikap seorang pemimpin yang harus merakyat, paham kondisi lapangan, mudah bergaul dengan masyarakat biasa, tidak eksklusif, dan memiliki wawasan luas. Di lapau (di kedai), pemimpin belajar mendengar aspirasi dan memahami denyut nadi kehidupan rakyat. ‎Lapau juga menjadi simbol intelektual, pemimpin palapau artinya pemimpin yang memiliki kecerdasan, memiliki banyak rencana, dan pemikiran untuk kepentingan masyarakat serupa ungkapan berikut ini, “Alun bakilek lah bakalam, bulan lah langkok tigo puluah, alun takilek lah tapaham, raso lah tibo dalam tubuah.
‎
‎2. Pasurau
‎Surau dalam masyarakat Minangkabau adalah institusi adat dan agama fundamental yang berfungsi sebagai pusat pendidikan karakter, tempat mengaji, pusat ibadah, serta sarana musyawarah bagi masyarakat nagari.
‎Surau juga menjadi simbol spritualitas. Pemimpin Pasurau menandakan seorang pemimpin yang memiliki landasan agama dan moral yang kuat. Pemimpin Pasurau melambangkan kepemimpinan yang berintegritas, beriman, dan berilmu agama sesuai dengan filosofi “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”.
‎
‎3. Pagurau
‎Gurau (bagurau) bagi masyarakat Minangkabau tidak hanya sekadar bercanda, tetapi juga merupakan ruang silaturahmi yang hangat, tempat bertukar pikiran, dan berbagi cerita di lapau (kedai) atau surau.
‎Masyarakat Minangkabau ketika bergurau paham dengan kato nan ampek, pepatah petitih, dan filosofi masyarakat Minangkabau lainnya.

Gurau menjadi simbol emosional artinya menandakan pemimpin pandai bergaul dengan masyarakatnya, fleksibel, tidak kaku, memiliki selera humor, pandai mencairkan suasana (humanis), dan mampu menempatkan diri sebagai penengah di tengah perbedaan atau konflik sebagaimana pepatah Minangkabau “Alah bauriah bak sipasan, kok bakiek alah bajajak, muluik panghulu nak nyo masin pandai bagaua jo rang banyak”. ‎Ketiga kriteria ini (palapau, pasurau, pagurau) memastikan pemimpin Minangkabau yang seimbang antara kecerdasan, keagamaan, dan kerakyatan.

Tags: #Alfan Raseva
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Berita Sesudah

Puisi-puisi Delivia Nazwa Syafiariza

Berita Terkait

Dari ‘Rakyat’ ke ‘Masyarakat’: Pergeseran Kata dan Ideologi

Dari ‘Rakyat’ ke ‘Masyarakat’: Pergeseran Kata dan Ideologi

Minggu, 19/4/26 | 22:40 WIB

Oleh: M. Subarkah dan Maharani Syifa Ramadhan (Mahasiswa Program Magister Linguistik Universitas Andalas dan Mahasiswi Program Magister Sastra Universitas Padjajaran)...

Batu dan Zaman

Memaknai Ulang Sukses dalam Film “Tunggu Aku Sukses Nanti”

Minggu, 19/4/26 | 22:16 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)    Idulfitri merupakan frasa  bahasa Arab, terdiri...

Makna Konotasi dan Denotasi Kata Cabe-Cabean

Makna Konotasi dan Denotasi Kata Cabe-Cabean

Minggu, 12/4/26 | 16:27 WIB

Oleh: Alya Najwa Abdillah (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan S1 Teknik Lingkungan Universitas Andalas)   Bahasa berkembang seiring dengan berjalannya...

Peran Sintaksis dalam Kehidupan Sehari-hari

Peran Sintaksis dalam Kehidupan Sehari-hari

Minggu, 12/4/26 | 15:54 WIB

Oleh: Gilang Nindra (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Dalam Tarmini dan Sulistyawati (2019: 1-2), sintaksis...

Membongkar Rahasia Kalimat Menurut Para Ahli

Membongkar Rahasia Kalimat Menurut Para Ahli

Minggu, 12/4/26 | 15:41 WIB

Oleh: Febby Gusmelyyana (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Bahasa adalah sistem komunikasi paling sempurna yang...

Batu dan Zaman

Lebih dari Ego: Membaca Bawang Merah Bawang Putih melalui Psikoanalisis

Minggu, 05/4/26 | 11:04 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Cerita Bawang Merah Bawang Putih dalam antologi berjudul...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Delivia Nazwa Syafiariza

Puisi-puisi Delivia Nazwa Syafiariza

POPULER

  • Laka Lantas di Sungai Dareh, Pengendara Sepeda Motor Pingsan

    Laka Lantas di Sungai Dareh, Pengendara Sepeda Motor Pingsan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketatnya Persaingan CPNS-BUMN, GJCI Tawarkan Jalur Karier Alternatif di Sektor Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Bukittinggi Lahirkan Sejumlah Rekomendasi atas LPJ Wali Kota Tahun Anggaran 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pelajar SMP di Dharmasraya Diimbau Tidak Membawa Kendaraan Bermotor Sendiri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026