Minggu, 15/3/26 | 18:11 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

Minggu, 15/3/26 | 15:41 WIB

‎Oleh: Alfan Raseva
(Ketua Ketua Taruna Nagari Aie Tajun, Kecamatan Lubuk Alung)

 

Kepemimpinan dalam kacamata Minangkabau adalah perpaduan antara kerendahan hati untuk mendengar dan keberanian untuk menegakkan kebenaran. Pemimpin adalah sosok yang “ditinggikan seranting, didahulukan selangkah”, namun memiliki pandangan yang lebih jauh ke depan. ‎Seorang pemimpin bukan sekadar pemegang tampuk kekuasaan, melainkan sosok yang memikul beban moral dan sosial yang berat.

BACAJUGA

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Minggu, 08/3/26 | 22:51 WIB
Pandangan Khalil Gibran tentang Musik sebagai Bahasa Rohani

Analogi dan Lokalitas Lagu “Rindu Tebal” Karya Iwan Fals

Minggu, 08/3/26 | 18:27 WIB

Konsep kepemimpinan ini tertuang dalam  pepatah “Kayu Gadang di Tangah Padang, Tampek Bataduah Katiko Paneh, Tampek Balinduang Katiko Hujan”. ‎Dalam masyarakat Minangkabau, idealnya pemimpin harus memiliki kriteria yang memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan berinteraksi dalam berbagai lingkungan sosial. Seorang pemimpin sejati diharapkan memiliki karakter matang seperti yang tertuang dalam konsep 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau).
‎
‎1. Palapau
‎Lapau (kedai) bagi masyarakat Minangkabau bukan hanya tempat makan atau minum dan membeli keperluan sehari-hari, tetapi juga berfungsi sebagai pusat interaksi sosial, pertukaran informasi dan ruang diskusi politik informal bagi laki-laki. Lapau juga  menjadi tempat belajar bagi pemuda tentang tata krama, retorika, cara bernegosiasi, dan kepemimpinan dalam masyarakat Minangkabau.

Pemimpin palapau menandakan sebuah analogi dari sikap seorang pemimpin yang harus merakyat, paham kondisi lapangan, mudah bergaul dengan masyarakat biasa, tidak eksklusif, dan memiliki wawasan luas. Di lapau (di kedai), pemimpin belajar mendengar aspirasi dan memahami denyut nadi kehidupan rakyat. ‎Lapau juga menjadi simbol intelektual, pemimpin palapau artinya pemimpin yang memiliki kecerdasan, memiliki banyak rencana, dan pemikiran untuk kepentingan masyarakat serupa ungkapan berikut ini, “Alun bakilek lah bakalam, bulan lah langkok tigo puluah, alun takilek lah tapaham, raso lah tibo dalam tubuah.
‎
‎2. Pasurau
‎Surau dalam masyarakat Minangkabau adalah institusi adat dan agama fundamental yang berfungsi sebagai pusat pendidikan karakter, tempat mengaji, pusat ibadah, serta sarana musyawarah bagi masyarakat nagari.
‎Surau juga menjadi simbol spritualitas. Pemimpin Pasurau menandakan seorang pemimpin yang memiliki landasan agama dan moral yang kuat. Pemimpin Pasurau melambangkan kepemimpinan yang berintegritas, beriman, dan berilmu agama sesuai dengan filosofi “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”.
‎
‎3. Pagurau
‎Gurau (bagurau) bagi masyarakat Minangkabau tidak hanya sekadar bercanda, tetapi juga merupakan ruang silaturahmi yang hangat, tempat bertukar pikiran, dan berbagi cerita di lapau (kedai) atau surau.
‎Masyarakat Minangkabau ketika bergurau paham dengan kato nan ampek, pepatah petitih, dan filosofi masyarakat Minangkabau lainnya.

Gurau menjadi simbol emosional artinya menandakan pemimpin pandai bergaul dengan masyarakatnya, fleksibel, tidak kaku, memiliki selera humor, pandai mencairkan suasana (humanis), dan mampu menempatkan diri sebagai penengah di tengah perbedaan atau konflik sebagaimana pepatah Minangkabau “Alah bauriah bak sipasan, kok bakiek alah bajajak, muluik panghulu nak nyo masin pandai bagaua jo rang banyak”. ‎Ketiga kriteria ini (palapau, pasurau, pagurau) memastikan pemimpin Minangkabau yang seimbang antara kecerdasan, keagamaan, dan kerakyatan.

Tags: #Alfan Raseva
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Berita Sesudah

Puisi-puisi Delivia Nazwa Syafiariza

Berita Terkait

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Minggu, 08/3/26 | 22:51 WIB

Oleh: Amanda Restia (Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Nama Siti Nurbaya sering kali langsung dilibatkan dengan...

Pandangan Khalil Gibran tentang Musik sebagai Bahasa Rohani

Analogi dan Lokalitas Lagu “Rindu Tebal” Karya Iwan Fals

Minggu, 08/3/26 | 18:27 WIB

Oleh: Faathir Tora Ugraha (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Iwan Fals merupakan musisi legendaris Indonesia yang menjadi...

Puisi-puisi M. Subarkah

Pesan Tauhid dan Penyerahan Diri dalamPuisi “Sembahyang Rumputan”

Minggu, 01/3/26 | 15:51 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Puisi “Sembahyang Rumputan” karya Ahmadun Yosi Herfanda...

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Mencabut Tunggul: Transformasi Butuh Kekuatan Ekonomi

Minggu, 01/3/26 | 14:44 WIB

Oleh: Dr. Syamsul Bahri, M.M. (Dosen Universitas Ekasakti & Doktor Ilmu Ekonomi)   Masalah yang mengakar tak cukup ditebas dengan...

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Minggu, 22/2/26 | 20:10 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif) “Bahasa membentuk cara...

Batu dan Zaman

Memaknai Ulang Arti Kata Pensiun

Minggu, 22/2/26 | 19:58 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pensiun...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Delivia Nazwa Syafiariza

Puisi-puisi Delivia Nazwa Syafiariza

POPULER

  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waspada Psikolog Gadungan, HIMPSI Sumbar Imbau Masyarakat Cek Keabsahan dan Legalitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Padang Bakal Menggelar Lomba Kebersihan Tingkat RT se Kota Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Bakal Buka Jalur Dua Arah di Depan Plaza Andalas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Boleh Tidak Sebut Semua Merek Air Minum dalam Kemasan dengan Aqua?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Tanda Hubung (-) dan Tanda Pisah (—)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026