Rabu, 29/7/26 | 15:33 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

Minggu, 15/3/26 | 15:41 WIB

‎Oleh: Alfan Raseva
(Ketua Ketua Taruna Nagari Aie Tajun, Kecamatan Lubuk Alung)

 

Kepemimpinan dalam kacamata Minangkabau adalah perpaduan antara kerendahan hati untuk mendengar dan keberanian untuk menegakkan kebenaran. Pemimpin adalah sosok yang “ditinggikan seranting, didahulukan selangkah”, namun memiliki pandangan yang lebih jauh ke depan. ‎Seorang pemimpin bukan sekadar pemegang tampuk kekuasaan, melainkan sosok yang memikul beban moral dan sosial yang berat.

BACAJUGA

Jorong Mapun: Ruang Bertemunya Bahasa Mandailing Budaya dan Adat Minangkabau

Jorong Mapun: Ruang Bertemunya Bahasa Mandailing Budaya dan Adat Minangkabau

Minggu, 26/7/26 | 22:02 WIB
Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Minggu, 26/7/26 | 18:47 WIB

Konsep kepemimpinan ini tertuang dalam  pepatah “Kayu Gadang di Tangah Padang, Tampek Bataduah Katiko Paneh, Tampek Balinduang Katiko Hujan”. ‎Dalam masyarakat Minangkabau, idealnya pemimpin harus memiliki kriteria yang memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan berinteraksi dalam berbagai lingkungan sosial. Seorang pemimpin sejati diharapkan memiliki karakter matang seperti yang tertuang dalam konsep 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau).
‎
‎1. Palapau
‎Lapau (kedai) bagi masyarakat Minangkabau bukan hanya tempat makan atau minum dan membeli keperluan sehari-hari, tetapi juga berfungsi sebagai pusat interaksi sosial, pertukaran informasi dan ruang diskusi politik informal bagi laki-laki. Lapau juga  menjadi tempat belajar bagi pemuda tentang tata krama, retorika, cara bernegosiasi, dan kepemimpinan dalam masyarakat Minangkabau.

Pemimpin palapau menandakan sebuah analogi dari sikap seorang pemimpin yang harus merakyat, paham kondisi lapangan, mudah bergaul dengan masyarakat biasa, tidak eksklusif, dan memiliki wawasan luas. Di lapau (di kedai), pemimpin belajar mendengar aspirasi dan memahami denyut nadi kehidupan rakyat. ‎Lapau juga menjadi simbol intelektual, pemimpin palapau artinya pemimpin yang memiliki kecerdasan, memiliki banyak rencana, dan pemikiran untuk kepentingan masyarakat serupa ungkapan berikut ini, “Alun bakilek lah bakalam, bulan lah langkok tigo puluah, alun takilek lah tapaham, raso lah tibo dalam tubuah.
‎
‎2. Pasurau
‎Surau dalam masyarakat Minangkabau adalah institusi adat dan agama fundamental yang berfungsi sebagai pusat pendidikan karakter, tempat mengaji, pusat ibadah, serta sarana musyawarah bagi masyarakat nagari.
‎Surau juga menjadi simbol spritualitas. Pemimpin Pasurau menandakan seorang pemimpin yang memiliki landasan agama dan moral yang kuat. Pemimpin Pasurau melambangkan kepemimpinan yang berintegritas, beriman, dan berilmu agama sesuai dengan filosofi “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”.
‎
‎3. Pagurau
‎Gurau (bagurau) bagi masyarakat Minangkabau tidak hanya sekadar bercanda, tetapi juga merupakan ruang silaturahmi yang hangat, tempat bertukar pikiran, dan berbagi cerita di lapau (kedai) atau surau.
‎Masyarakat Minangkabau ketika bergurau paham dengan kato nan ampek, pepatah petitih, dan filosofi masyarakat Minangkabau lainnya.

Gurau menjadi simbol emosional artinya menandakan pemimpin pandai bergaul dengan masyarakatnya, fleksibel, tidak kaku, memiliki selera humor, pandai mencairkan suasana (humanis), dan mampu menempatkan diri sebagai penengah di tengah perbedaan atau konflik sebagaimana pepatah Minangkabau “Alah bauriah bak sipasan, kok bakiek alah bajajak, muluik panghulu nak nyo masin pandai bagaua jo rang banyak”. ‎Ketiga kriteria ini (palapau, pasurau, pagurau) memastikan pemimpin Minangkabau yang seimbang antara kecerdasan, keagamaan, dan kerakyatan.

Tags: #Alfan Raseva
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Berita Sesudah

Puisi-puisi Delivia Nazwa Syafiariza

Berita Terkait

Jorong Mapun: Ruang Bertemunya Bahasa Mandailing Budaya dan Adat Minangkabau

Jorong Mapun: Ruang Bertemunya Bahasa Mandailing Budaya dan Adat Minangkabau

Minggu, 26/7/26 | 22:02 WIB

Oleh: Tomi Pratama (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Pada saat ini, zaman semakin maju. Orang tua yang...

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Minggu, 26/7/26 | 18:47 WIB

Oleh: Maharani Syifa Ramadhan (Alumni Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Praktik-praktik kapitalis seperti penguasaan lahan, pembangunan infrastruktur, dan ekspansi...

Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

Menguji Sila Kemanusiaan: Representasi Pancasila dalam Polemik Pride Month SUMA UI

Minggu, 19/7/26 | 22:26 WIB

Oleh: Nikicha Myomi Chairanti  (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Pada awal Juni 2026, jagat media sosial Indonesia bergolak akibat...

Batu dan Zaman

Mencari Kehangatan di Era AI Melalui Boyfriend on Demand dan Esok Tanpa Ibu

Minggu, 19/7/26 | 21:31 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Beberapa tahun ke belakang, kemunculan kecerdasan buatan (Artificial...

Teknologi Digital Mengubah Cara Berbelanja

Teknologi Digital Mengubah Cara Berbelanja

Senin, 13/7/26 | 07:52 WIB

Oleh: Minas Salihin Iskandar (Mahasiswa Prodi Manajemen FEB Universitas Andalas) Bayangkan toko kelontong kecil di sudut jalan. Dulu, toko itu...

Dominasi Penggunaan Frasa Berdasarkan Tujuan Berbahasa

Dominasi Penggunaan Frasa Berdasarkan Tujuan Berbahasa

Senin, 13/7/26 | 07:38 WIB

Oleh : Hazizah Jafitra (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Penggunaan bahasa bukan hanya sebatas berfungsi...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Delivia Nazwa Syafiariza

Puisi-puisi Delivia Nazwa Syafiariza

POPULER

  • DPC PKB Kota Payakumbuh Resmikan Kantor Baru

    DPC PKB Kota Payakumbuh Resmikan Kantor Baru

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Ejaan menjadi Humor Kritik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026