Minggu, 14/6/26 | 05:33 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

Minggu, 15/3/26 | 15:41 WIB

‎Oleh: Alfan Raseva
(Ketua Ketua Taruna Nagari Aie Tajun, Kecamatan Lubuk Alung)

 

Kepemimpinan dalam kacamata Minangkabau adalah perpaduan antara kerendahan hati untuk mendengar dan keberanian untuk menegakkan kebenaran. Pemimpin adalah sosok yang “ditinggikan seranting, didahulukan selangkah”, namun memiliki pandangan yang lebih jauh ke depan. ‎Seorang pemimpin bukan sekadar pemegang tampuk kekuasaan, melainkan sosok yang memikul beban moral dan sosial yang berat.

BACAJUGA

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Minggu, 31/5/26 | 23:50 WIB
Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Kue Asida: Makanan Para Raja Riau yang Hampir Punah

Minggu, 31/5/26 | 23:45 WIB

Konsep kepemimpinan ini tertuang dalam  pepatah “Kayu Gadang di Tangah Padang, Tampek Bataduah Katiko Paneh, Tampek Balinduang Katiko Hujan”. ‎Dalam masyarakat Minangkabau, idealnya pemimpin harus memiliki kriteria yang memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan berinteraksi dalam berbagai lingkungan sosial. Seorang pemimpin sejati diharapkan memiliki karakter matang seperti yang tertuang dalam konsep 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau).
‎
‎1. Palapau
‎Lapau (kedai) bagi masyarakat Minangkabau bukan hanya tempat makan atau minum dan membeli keperluan sehari-hari, tetapi juga berfungsi sebagai pusat interaksi sosial, pertukaran informasi dan ruang diskusi politik informal bagi laki-laki. Lapau juga  menjadi tempat belajar bagi pemuda tentang tata krama, retorika, cara bernegosiasi, dan kepemimpinan dalam masyarakat Minangkabau.

Pemimpin palapau menandakan sebuah analogi dari sikap seorang pemimpin yang harus merakyat, paham kondisi lapangan, mudah bergaul dengan masyarakat biasa, tidak eksklusif, dan memiliki wawasan luas. Di lapau (di kedai), pemimpin belajar mendengar aspirasi dan memahami denyut nadi kehidupan rakyat. ‎Lapau juga menjadi simbol intelektual, pemimpin palapau artinya pemimpin yang memiliki kecerdasan, memiliki banyak rencana, dan pemikiran untuk kepentingan masyarakat serupa ungkapan berikut ini, “Alun bakilek lah bakalam, bulan lah langkok tigo puluah, alun takilek lah tapaham, raso lah tibo dalam tubuah.
‎
‎2. Pasurau
‎Surau dalam masyarakat Minangkabau adalah institusi adat dan agama fundamental yang berfungsi sebagai pusat pendidikan karakter, tempat mengaji, pusat ibadah, serta sarana musyawarah bagi masyarakat nagari.
‎Surau juga menjadi simbol spritualitas. Pemimpin Pasurau menandakan seorang pemimpin yang memiliki landasan agama dan moral yang kuat. Pemimpin Pasurau melambangkan kepemimpinan yang berintegritas, beriman, dan berilmu agama sesuai dengan filosofi “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”.
‎
‎3. Pagurau
‎Gurau (bagurau) bagi masyarakat Minangkabau tidak hanya sekadar bercanda, tetapi juga merupakan ruang silaturahmi yang hangat, tempat bertukar pikiran, dan berbagi cerita di lapau (kedai) atau surau.
‎Masyarakat Minangkabau ketika bergurau paham dengan kato nan ampek, pepatah petitih, dan filosofi masyarakat Minangkabau lainnya.

Gurau menjadi simbol emosional artinya menandakan pemimpin pandai bergaul dengan masyarakatnya, fleksibel, tidak kaku, memiliki selera humor, pandai mencairkan suasana (humanis), dan mampu menempatkan diri sebagai penengah di tengah perbedaan atau konflik sebagaimana pepatah Minangkabau “Alah bauriah bak sipasan, kok bakiek alah bajajak, muluik panghulu nak nyo masin pandai bagaua jo rang banyak”. ‎Ketiga kriteria ini (palapau, pasurau, pagurau) memastikan pemimpin Minangkabau yang seimbang antara kecerdasan, keagamaan, dan kerakyatan.

Tags: #Alfan Raseva
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Berita Sesudah

Puisi-puisi Delivia Nazwa Syafiariza

Berita Terkait

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Minggu, 31/5/26 | 23:50 WIB

Oleh: Najwa Maliha Zharfa (Mahasiswa Prodi S1 Akuntansi dan Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia Universitas Andalas)   Siapa yang tidak mengenal...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Kue Asida: Makanan Para Raja Riau yang Hampir Punah

Minggu, 31/5/26 | 23:45 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Ironi Nasib Anak Perempuan di Tengah Himpitan Ekonomi

Kebebasan Perempuan dalam Film “Gowok” Analisis Semiotika Christian Metz

Minggu, 31/5/26 | 23:30 WIB

Oleh: Adela Damanik (Mahasiswi Sastra Indonesia dan  Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Film Gowok:...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Manusia yang Selalu Kekurangan Tiga Puluh Peso

Minggu, 31/5/26 | 23:11 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   "Membaca Ulang “Surat buat Tuhan” di Tengah Budaya Tak Pernah...

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Minggu, 24/5/26 | 20:02 WIB

Oleh: Intan Rhaudhatul Jannah (Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik Universitas Andalas) Kekerasan berbasis gender di lingkungan kampus bukanlah sebuah cerita...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Sumpah Pemuda: Tonggak Perkembangan Sastra Indonesia

Minggu, 24/5/26 | 19:17 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Delivia Nazwa Syafiariza

Puisi-puisi Delivia Nazwa Syafiariza

POPULER

  • PKB Umumkan Susunan KSB DPC se-Sumbar

    PKB Umumkan Susunan KSB DPC se-Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Annisa Harapkan Sinergi Baru di Pelantikan PC PMII Dharmasraya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Andre Kresna Kembali Pimpin PKB Bukittinggi, Bidik Tiga Kursi DPRD dan Posisi Pimpinan Dewan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengawasan dan Pengendalian BBM di Dharmasraya Akan Diperketat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tradisi antara Identitas dan Media Kritik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026