
Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)
Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir tentang satu istilah yang sering didengar yaitu “satu-satu”. Kedengarannya sederhana, bahkan terlalu biasa sampai saya jarang memikirkannya. Kalau dilihat sepintas, kata ini hanya pengulangan dari angka yang sama yaitu satu, lalu satu lagi.
Justru dari kesederhanaan itulah menariknya. Dalam percakapan sehari-hari, istilah “satu-satu” sering kali tidak lagi sekadar menunjuk pada angka. Ia berubah menjadi cara kita menenangkan situasi, mengatur pembicaraan, atau sekadar mengingatkan bahwa segala sesuatu sebaiknya dijalani dengan pelan-pelan.
Saat berada di sebuah kedai kopi, seorang teman berkata akan membahas persoalan tersebut satu-satu. Pernyataan itu bukan bermakna sedang menghitung angka, maksudntya pelan-pelan dan berurutan, tidak sekaligus. Ada rasa sabar di dalamnya, ada ajakan untuk tidak tergesa-gesa.
Dalam banyak percakapan, “satu-satu” juga sering menjadi cara halus untuk menenangkan keadaan. Ketika pekerjaan terasa menumpuk misalnya, seseorang akan berkata, “Kerjakan saja satu-satu”. Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menyimpan kebijaksanaan kecil. Ia mengingatkan kita bahwa banyak persoalan terasa berat bukan karena mustahil diselesaikan, tetapi karena kita ingin menanganinya sekaligus.
Menariknya lagi, istilah ini sering muncul dalam nada yang agak bercanda. Misalnya ketika teman-teman sedang berebut bercerita. Tiba-tiba ada yang berkata, “Eh, satu-satu dulu, ini bukan lomba pidato”. Semua tertawa. Dalam situasi seperti ini, “satu-satu” menjadi semacam “rem sosial” yang ringan, tidak menggurui, tapi cukup ampuh untuk membuat suasana kembali tertib.
Kalau kita perhatikan lebih jauh, “satu-satu” sebenarnya menggambarkan cara berpikir yang cukup bijak dalam kehidupan. Banyak hal memang lebih mudah dijalani jika dilakukan secara bertahap. Belajar, bekerja, bahkan menyelesaikan konflik, semuanya sering kali membutuhkan proses yang tidak bisa dilompati begitu saja.
Lucunya, nasihat sederhana ini kadang justru sering kita abaikan. Kita ingin semuanya selesai sekaligus, pekerjaan cepat beres, masalah cepat hilang, rencana cepat berhasil. Padahal hidup jarang berjalan seperti itu. Ia lebih sering berjalan seperti antrean di loket, maju sedikit demi sedikit. Di situlah “satu-satu” terasa relevan. Ia bukan hanya soal urutan, tetapi juga soal ritme. Ia mengajarkan bahwa tidak semua hal harus diselesaikan dalam satu tarikan napas.
Jadi, lain kali ketika seseorang berkata, “Sudah, satu-satu saja dulu”, mungkin kita tidak perlu menganggapnya sekadar kalimat penunda. Bisa jadi itu adalah nasihat hidup yang disampaikan dengan cara paling santai. Sebab hidup memang jarang selesai sekaligus. Tagihan datang satu-satu, masalah muncul satu-satu, bahkan kebahagiaan pun sering hadir satu-satu.







