Senin, 08/6/26 | 01:30 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Minggu, 08/3/26 | 22:51 WIB

Oleh: Amanda Restia
(Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

 

Nama Siti Nurbaya sering kali langsung dilibatkan dengan kisah cinta yang gagal. Banyak orang mengenalnya sebagai cerita klasik tentang perempuan malang yang terpaksa menikah demi menyelamatkan keluarga. Namun, jika dibaca lebih dalam, novel karya Marah Rusli ini sebenarnya menyimpan potret kehidupan sosial yang jauh lebih luas. Tragedi Siti Nurbaya bukan hanya persoalan perasaan, melainkan juga cerminan masyarakat yang sedang mengalami benturan nilai.

BACAJUGA

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Minggu, 31/5/26 | 23:50 WIB
Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Kue Asida: Makanan Para Raja Riau yang Hampir Punah

Minggu, 31/5/26 | 23:45 WIB

Novel Siti Nurbaya yang terbit pertama tahun 2022 lahir pada masa masyarakat Minangkabau mulai menghadapi perubahan besar. Pendidikan Barat mulai masuk, cara berpikir rasional tumbuh, tetapi adat masih memegang kendali kuat dalam kehidupan sosial. Di tengah situasi inilah, Marah Rusli menulis Siti Nurbaya yang seolah ingin menunjukkan bahwa adat yang tidak dikaji ulang bisa berubah menjadi alat penindasan.

Siti Nurbaya digambarkan sebagai perempuan yang lembut, cerdas, dan penuh pengertian. Ia mencintai Samsul Bahri dengan tulus namun cintanya tidak pernah diberi ruang untuk tumbuh secara bebas. Keputusan hidupnya ditentukan oleh kondisi ekonomi keluarga dan tekanan adat. Ketika ayahnya terlilit utang, tubuh dan masa depan Siti Nurbaya menjadi “jaminan” untuk menyelamatkan kehormatan keluarga dari utang. Di sinilah cerita ini terasa begitu menyentuh sekaligus menyakitkan. Siti Nurbaya tidak memberontak secara keras, tetapi justru kepasrahannya memperlihatkan betapa kuatnya sistem sosial yang mengekangnya. Ia bukan lemah, melainkan tidak diberi kesempatan untuk memilih.

Tokoh Datuk Maringgih sering diposisikan sebagai penjahat utama. Namun, ia bukan sekadar individu yang serakah. Datuk Maringgih adalah gambaran dari kekuasaan ekonomi yang tumbuh dalam masyarakat saat itu. Ia memanfaatkan adat, utang, dan posisi sosial untuk menguasai orang lain. Dengan uang dan statusnya, ia mampu menentukan nasib keluarga Siti Nurbaya.

Melalui tokoh ini, Marah Rusli seakan ingin mengatakan bahwa adat tidak selalu salah, tetapi bisa menjadi berbahaya ketika jatuh ke tangan orang-orang yang hanya mengejar kepentingan pribadi. Kekuasaan sosial dan ekonomi yang tidak diimbangi nilai-nilai kemanusiaan akan melahirkan ketidakadilan.

Berbeda dengan Datuk Maringgih, Samsul Bahri mewakili generasi muda yang mulai berpikir kritis saat itu. Ia memperoleh pendidikan dan melihat dunia dengan cara yang lebih terbuka. Ketidakberdayaannya menghadapi adat dan sistem sosial menunjukkan bahwa perubahan tidak mudah dilakukan secara individual. Meskipun memiliki kesadaran, Samsul Bahri tetap terjebak dalam struktur masyarakat yang lebih besar darinya.

Pertentangan antara Samsulbahri dan Datuk Maringgih sebenarnya mencerminkan pertentangan dua zaman yaitu zaman lama yang berpegang teguh pada tradisi tanpa kompromi dan zaman baru yang mulai mempertanyakan makna keadilan dan kebebasan. Kekuatan Siti Nurbaya terletak pada kemampuannya menghadirkan cerita yang terasa sangat dekat dengan realitas kehidupan masyarakat. Marah Rusli tidak menulis kisah ini di ruang kosong. Ia menyerap kegelisahan masyarakat pada masanya, terutama kelompok terpelajar yang mulai melihat bahwa beberapa praktik adat perlu dikaji dan ditinjau ulang.

Melalui tragedi yang dialami tokoh-tokohnya, pembaca diajak merenungkan bagaimana sebuah sistem sosial bisa membentuk bahkan menghancurkan kehidupan individu. Novel ini menjadi semacam cermin sosial yang memperlihatkan bahwa perubahan zaman selalu melahirkan konflik dan seringkali perempuan menjadi objek dan menjadi pihak yang paling dirugikan.

Meski ditulis lebih dari seabad yang lalu, nilai-nilai yang ada dalam novel Siti Nurbaya masih terasa relevan hingga hari ini. Persoalan tentang kebebasan memilih, tekanan sosial, dan ketimpangan kekuasaan masih dapat ditemui dalam berbagai bentuk di masyarakat modern. Kisah ini mengingatkan kita bahwa tradisi seharusnya menjaga manusia bukan sebaliknya. Marah Rusli melalui novelnya tidak hanya bercerita tentang cinta yang gagal, tetapi juga menyampaikan kritik sosial yang halus namun tajam. Siti Nurbaya menjadi bukti bahwa sastra mampu merekam denyut kehidupan masyarakat dan menyuarakan kegelisahan zamannya.

Pada akhirnya, Siti Nurbaya bukan hanya sekadar cerita sedih tentang perempuan yang terpaksa menikah. Ia adalah kisah tentang masyarakat, tentang perubahan, dan tentang harga yang harus dibayar ketika kemanusiaan dikalahkan oleh sistem yang kaku. Novel ini mengajak pembaca untuk bertanya: sampai kapan adat dan kekuasaan dibiarkan untuk menentukan nasib manusia?

Tags: #Amanda Restia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Safari Ramadan di Batipuh Panjang Iqra Chissa Tegaskan Komitmen Perjuangkan Kebutuhan Pembangunan Masyarakat

Berita Sesudah

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Berita Terkait

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Minggu, 31/5/26 | 23:50 WIB

Oleh: Najwa Maliha Zharfa (Mahasiswa Prodi S1 Akuntansi dan Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia Universitas Andalas)   Siapa yang tidak mengenal...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Kue Asida: Makanan Para Raja Riau yang Hampir Punah

Minggu, 31/5/26 | 23:45 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Ironi Nasib Anak Perempuan di Tengah Himpitan Ekonomi

Kebebasan Perempuan dalam Film “Gowok” Analisis Semiotika Christian Metz

Minggu, 31/5/26 | 23:30 WIB

Oleh: Adela Damanik (Mahasiswi Sastra Indonesia dan  Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Film Gowok:...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Manusia yang Selalu Kekurangan Tiga Puluh Peso

Minggu, 31/5/26 | 23:11 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   "Membaca Ulang “Surat buat Tuhan” di Tengah Budaya Tak Pernah...

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Minggu, 24/5/26 | 20:02 WIB

Oleh: Intan Rhaudhatul Jannah (Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik Universitas Andalas) Kekerasan berbasis gender di lingkungan kampus bukanlah sebuah cerita...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Sumpah Pemuda: Tonggak Perkembangan Sastra Indonesia

Minggu, 24/5/26 | 19:17 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Berita Sesudah
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

POPULER

  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Depan “dari” dan “daripada” yang Tidak Tepat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Bersama DPRD Padang Sahkan Perdav Penguatan Lembaga Adat dan Pelestarian Nilai Budaya Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wawako Padang Maigus Nasir Sampaikan Ranperda LKPD 2025 Kepada DPRD Kota Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026