Senin, 01/6/26 | 09:22 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Lampu Emergency dan Sumber Tawa

Minggu, 12/1/25 | 17:08 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Saya masih teringat jelas sebuah celetukan spontan dari seorang teman tentang lampu emergency yang sukses mengundang gelak tawa tanpa henti. Bukan sekadar candaan biasa, ucapannya yang absurd itu menciptakan suasana hangat di tengah persiapan serius untuk sebuah agenda kegiatan. Ironis dan tak terduga, celetukan tersebut menjadi momen tak terlupakan yang terus kami kenang dengan senyuman.

Waktu itu, saat kami berkumpul dan serius mempersiapkan agenda kegiatan, seorang teman tiba-tiba melontarkan celetukan. “Kalau nanti mati lampu, jangan lupa bawa lampu emergency. Tapi ingat, pastikan sudah dicolok ke listrik dulu supaya nyala!”, begitu celetukannya. Seketika, ruangan yang semula penuh konsentrasi berubah menjadi tempat ledakan tawa. Beberapa teman tertawa hingga wajah memerah, ada pula yang hampir tersedak minuman.

BACAJUGA

Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB
Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tiga Belas Persen Lagi!

Minggu, 17/5/26 | 19:57 WIB

Bayangkan situasinya, kami sedang mendiskusikan persiapan untuk kegiatan di alam terbuka yang jauh dari jangkauan sumber listrik. Namun, salah satu teman justru mengungkapkan kekhawatirannya tentang lampu emergency yang membutuhkan sambungan listrik untuk berfungsi. Logika pernyataan tersebut terasa melenceng dari konteks, tetapi justru itulah yang membuatnya begitu menggelikan.

Momen itu tidak hanya mencairkan suasana, tetapi juga menjadi semacam “ritual humor” dalam setiap persiapan kegiatan kami selanjutnya. Setiap kali ada yang menyebut lampu emergency, pasti disambut dengan candaan, “sudah dicas belum?”. Dan itu selalu berulang kami lakukan.

Lebih dari itu, celetukan tersebut mengajarkan kami untuk tidak terlalu larut dalam keseriusan. Kadang, kita memang butuh sejenak berhenti, melepaskan tawa, dan menyadari bahwa tidak semua hal harus berjalan sesuai logika yang sempurna. Justru ketidaksempurnaan itulah yang sering kali menghadirkan cerita berkesan. Dan siapa sangka, lampu emergency yang biasanya hanya dianggap alat fungsional kini memiliki “nyawa” lain, bukan hanya sebagai sumber penerangan, tetapi juga sebagai sumber tawa yang terus menyala di antara kami.

Pada akhirnya, celetukan sederhana tentang lampu emergency mengingatkan kami bahwa hidup, seperti perjalanan yang sedang kami rencanakan, tidak selalu harus sempurna atau sepenuhnya terencana. Ada ruang untuk tawa, spontanitas, dan ketidaksempurnaan yang justru memberikan warna dalam kebersamaan. Momen kecil yang dipenuhi humor ini menjadi refleksi bahwa di tengah kesibukan dan tanggung jawab, kita tetap membutuhkan jeda untuk menikmati kebahagiaan sederhana.

Terkadang, makna kehidupan tidak ditemukan dalam hal-hal besar, tetapi dalam detail kecil yang menyentuh hati dan menyatukan kita. Dan siapa tahu, mungkin humor adalah lampu emergency yang sejati. Selalu siap menyala di saat kita membutuhkan cahaya untuk menerangi perjalanan hidup yang kadang penuh gelap dan tantangan.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

Berita Sesudah

Cerpen “Kepingan Puzzle yang Hilang” karya Athifaleaa dan Ulasannya Oleh M. Adioska

Berita Terkait

Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Belakangan ini, saya menyadari bahwa kehidupan modern sering melekat pada benda-benda kecil yang selalu...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tiga Belas Persen Lagi!

Minggu, 17/5/26 | 19:57 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada banyak benda kecil yang sering diremehkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengisi daya, atau...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Coretan di Pinggir Halaman

Minggu, 10/5/26 | 20:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Perkembangan teknologi informasi membuat banyak aktivitas akademik menjadi lebih praktis. Laptop, tablet, dan berbagai...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Dari Niat ke Langkah Pagi

Minggu, 03/5/26 | 18:17 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Pagi bagi saya bukan ajakan yang mudah untuk segera bergerak, tetapi selalu memberi kesempatan...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah...

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Berita Sesudah
Cerpen “Kepingan Puzzle yang Hilang” karya Athifaleaa dan Ulasannya Oleh M. Adioska

Cerpen "Kepingan Puzzle yang Hilang" karya Athifaleaa dan Ulasannya Oleh M. Adioska

POPULER

  • Diksi Cantik sebagai Identitas Perempuan di Instagram

    Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kue Asida: Makanan Para Raja Riau yang Hampir Punah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kebebasan Perempuan dalam Film “Gowok” Analisis Semiotika Christian Metz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Manusia yang Selalu Kekurangan Tiga Puluh Peso

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026