Jumat, 17/4/26 | 03:31 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Lampu Emergency dan Sumber Tawa

Minggu, 12/1/25 | 17:08 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Saya masih teringat jelas sebuah celetukan spontan dari seorang teman tentang lampu emergency yang sukses mengundang gelak tawa tanpa henti. Bukan sekadar candaan biasa, ucapannya yang absurd itu menciptakan suasana hangat di tengah persiapan serius untuk sebuah agenda kegiatan. Ironis dan tak terduga, celetukan tersebut menjadi momen tak terlupakan yang terus kami kenang dengan senyuman.

Waktu itu, saat kami berkumpul dan serius mempersiapkan agenda kegiatan, seorang teman tiba-tiba melontarkan celetukan. “Kalau nanti mati lampu, jangan lupa bawa lampu emergency. Tapi ingat, pastikan sudah dicolok ke listrik dulu supaya nyala!”, begitu celetukannya. Seketika, ruangan yang semula penuh konsentrasi berubah menjadi tempat ledakan tawa. Beberapa teman tertawa hingga wajah memerah, ada pula yang hampir tersedak minuman.

BACAJUGA

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

Bayangkan situasinya, kami sedang mendiskusikan persiapan untuk kegiatan di alam terbuka yang jauh dari jangkauan sumber listrik. Namun, salah satu teman justru mengungkapkan kekhawatirannya tentang lampu emergency yang membutuhkan sambungan listrik untuk berfungsi. Logika pernyataan tersebut terasa melenceng dari konteks, tetapi justru itulah yang membuatnya begitu menggelikan.

Momen itu tidak hanya mencairkan suasana, tetapi juga menjadi semacam “ritual humor” dalam setiap persiapan kegiatan kami selanjutnya. Setiap kali ada yang menyebut lampu emergency, pasti disambut dengan candaan, “sudah dicas belum?”. Dan itu selalu berulang kami lakukan.

Lebih dari itu, celetukan tersebut mengajarkan kami untuk tidak terlalu larut dalam keseriusan. Kadang, kita memang butuh sejenak berhenti, melepaskan tawa, dan menyadari bahwa tidak semua hal harus berjalan sesuai logika yang sempurna. Justru ketidaksempurnaan itulah yang sering kali menghadirkan cerita berkesan. Dan siapa sangka, lampu emergency yang biasanya hanya dianggap alat fungsional kini memiliki “nyawa” lain, bukan hanya sebagai sumber penerangan, tetapi juga sebagai sumber tawa yang terus menyala di antara kami.

Pada akhirnya, celetukan sederhana tentang lampu emergency mengingatkan kami bahwa hidup, seperti perjalanan yang sedang kami rencanakan, tidak selalu harus sempurna atau sepenuhnya terencana. Ada ruang untuk tawa, spontanitas, dan ketidaksempurnaan yang justru memberikan warna dalam kebersamaan. Momen kecil yang dipenuhi humor ini menjadi refleksi bahwa di tengah kesibukan dan tanggung jawab, kita tetap membutuhkan jeda untuk menikmati kebahagiaan sederhana.

Terkadang, makna kehidupan tidak ditemukan dalam hal-hal besar, tetapi dalam detail kecil yang menyentuh hati dan menyatukan kita. Dan siapa tahu, mungkin humor adalah lampu emergency yang sejati. Selalu siap menyala di saat kita membutuhkan cahaya untuk menerangi perjalanan hidup yang kadang penuh gelap dan tantangan.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

Berita Sesudah

Cerpen “Kepingan Puzzle yang Hilang” karya Athifaleaa dan Ulasannya Oleh M. Adioska

Berita Terkait

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Berita Sesudah
Cerpen “Kepingan Puzzle yang Hilang” karya Athifaleaa dan Ulasannya Oleh M. Adioska

Cerpen "Kepingan Puzzle yang Hilang" karya Athifaleaa dan Ulasannya Oleh M. Adioska

POPULER

  • Afrina Hanum

    Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tim Lupak Polres Dharmasraya Sikat 5 Pelaku Narkoba di Sungai Kambut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Meriah! Dharmasraya Gelar CFD dan Bazaar UMKM 18–19 April

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KAN Pauh Kamba Diduga Cegah Pencalonan Warga, Status Adat Jadi Penghalang Pilwana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waspada Psikolog Gadungan, HIMPSI Sumbar Imbau Masyarakat Cek Keabsahan dan Legalitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 65 Kandidat Ketua DPC PKB se-Sumbar Bakal Ikuti UKK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Jenis-jenis Pola Pikir Manusia, Begini Penjelasan Para Ahli Psikologi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026