Selasa, 27/10/26 | 12:25 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Jumlah Kosakata sebagai Bentuk Relativitas Bahasa

Minggu, 05/1/25 | 07:17 WIB

Oleh: Ahmad Hamidi
(Dosen Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

 

Klaim bahwa bahasa Indonesia miskin kosakata, yang uniknya hampir selalu
diperhadapkan dengan bahasa Inggris, merupakan pernyataan berulang. Apabila yang
dilihat adalah jumlah, secara ironis, mesti diakui bahwa klaim tersebut bukanlah sinisme
atau isapan jempol belaka. Berdasarkan jumlah, kosakata bahasa Indonesia memang
lebih sedikit daripada bahasa Inggris, sebagaimana tampak pada perbandingan jumlah
entri antara Kamus Besar Bahasa Indonesia (120.639) dan Webster’s Third New
International Dictionary (470.000).

BACAJUGA

Dari Sagu ke Pasar Digital: Peluang UMKM Lokal Menembus Batas

Dari Sagu ke Pasar Digital: Peluang UMKM Lokal Menembus Batas

Minggu, 25/10/26 | 20:14 WIB
Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Peran Ibu Tunggal dalam Film “Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu?”

Minggu, 25/10/26 | 18:30 WIB

Kosakata adalah produk budaya manusia dalam melambangkan dunianya.
Kekayaan kosakata suatu bahasa bergantung pada kemampuan masyarakatnya
memersepsikan ide, lingkungan, dan alamnya. Bahasa Indonesia, sebagai contoh, kalah
jumlah kata pada bidang teknologi karena revolusi industri tidak pernah datang dari
keduniaan masyarakat Nusantara. Kita hanya konsumen atas produk budaya modern
dunia luar, lantas berkesempatan “menukar bungkus” berbagai lambang asing tersebut.
Realitas serupa terjadi pada beberapa bidang-bidang lain, baik secara konkret maupun
abstrak.

Namun, pada bidang-bidang tertentu, bahasa Indonesia punya kosakata yang
melimpah. Sebagaimana contoh yang senantiasa didapatkan mahasiswa kelas-kelas
linguistik antropologis, masyarakat Indonesia mampu mengonseptualisasikan satu
tumbuhan, dari yang masih tertanam di sawah sampai yang tersaji di atas meja makan,
dalam empat lambang monomorfemik: padi, gabah, beras, dan nasi. Oleh masyarakat
berbahasa Inggris, keempatnya dirangkum dalam satu lambang, rice—kalau bukan
memfrasakannya (rice plant, unhulled rice, husked rice, dan cooked rice). Orang
Islandia, contoh lain, menyebut konsep padi sebagai villihrísgrjón yang secara literal
berarti ‘beras liar’ (villi, ‘liar’; hrísgrjón, ‘beras’).

Masyarakat Indonesia, konon, adalah kelompok yang menjunjung tinggi
kesantunan berbahasa dan memuliakan hubungan kekerabatan. Apabila hendak
membatasi bahwa “yang asing” bukanlah “identitas kita” dan “yang lokal” adalah
“identitas kita”, undak usuk bahasa dan keberagaman peristilahan kekerabatan adalah
manifestasinya (lihat Geertz, 1960; Uhlenbeck, 1978). Untuk kedua hal tersebut,
kosakata bahasa Indonesia lebih banyak daripada bahasa Inggris.

Kosakata bahasa Indonesia kaya bukan pada bidang teknologi informasi, filsafat, atau ilmu pengetahuan
modern, melainkan pada bidang yang merupakan dunia bagi masyarakatnya. Mereka berbahasa berdasarkan persepsi dan konseptualisasi terhadap dunianya, lainnya
hanyalah pinjaman atau padanan belaka—kita menyebutnya pengadaptasian,
penerjemahan, atau pengkreasian.

Tidak ada bahasa yang kaya sebagaimana tidak ada bahasa yang miskin
kosakata. Orang yang paham pembentukan bahasa, cara bahasa bekerja, dan
hubungannya dengan pikiran menyebutnya sebagai relativitas linguistik. “Die Grenzen
meiner Sprache bedeuten die Grenzen meiner Welt”, kata Wittgenstein (1922). Anda
tidak memahami maksud kata-kata itu? Berarti itulah batas dunia Anda. Bahasa suatu
masyarakat terbatasi oleh dunianya. Masyarakat Dani di Papua, umpamanya, hanya
mengenal dua konsep warna dasar, yakni modla untuk melambangkan warna
terang/cerah dan mili untuk warna gelap/kusam (Heider, 1970) karena pengaruh
dunianya.

Tidak seperti masyarakat Indonesia yang mengenal orientasi spasial relatif kiri,
kanan, depan, dan belakang, masyarakat Aborigin-Pormpuraaw di Australia hanya
mengenal orientasi spasial mutlak, yakni kuw (barat), ungkarr (utara), kaw (timur), dan
iparr (selatan), sebagaimana arah mata angin (Boroditsky, 2009). Ketika diminta untuk
mengurutkan foto-foto yang merekam proses pertumbuhan, mereka mengurutkannya
berdasarkan orientasi timur ke barat. Apabila menghadap ke selatan, mereka
mengurutkannya dari kiri ke kanan. Apabila menghadap ke utara, mereka
mengurutkannya dari kanan ke kiri. Bagaimana ketika menghadap ke timur? Mereka
mengurutkan ke arah mendekati tubuh. Sebaliknya, ketika menghadap ke barat, mereka
mengurutkan ke arah menjauhi tubuh.

Apakah itu berarti bahasa masyarakat Aborigin-Pormpuraaw miskin karena tidak
mengenal orientasi spasial relatif sebagaimana ditemukan pada sebagian besar bahasa
di dunia? Sungguh, bahasa tidak dapat dipandang menggunakan kacamata kuda seperti
itu. Apabila dibaca secara terbalik, mereka justru memiliki kekayaan yang sama sekali
tidak dimiliki masyarakat bahasa lain karena mampu bernavigasi secara presisi di mana
pun berada. Dengan kemampuan itu, mereka tidak akan mudah tersesat di hutan.
Orang Indonesia tidak perlu memperinci salju karena terbatasi oleh dunianya
yang tidak hidup bersama salju. Bagi orang Indonesia, bagaimana pun bentuknya, di
mana pun ditemukannya, sepanjang berupa “butiran uap air berwarna putih bagaikan
kapas yang membeku”, tetap disebut salju—kata yang diserap dari bahasa Arab (لج
,ثَthalj).

Bagi masyarakat Inuktitut di Nunavik, persoalan salju tidak sesederhana itu.
Sehari-hari hidup berselimut salju, mereka perlu mengidentifikasi salju secara detail
(Krupnik, 2010; Dorais, 2020), seperti pi’rtsirpoq (drifting snow/salju melayang), maujaq
(soft snow/salju lembut), aqilokoq (softly fallen snow/salju yang turun dengan lembut),
kinirtaq (salju padat), qaneq (falling snow/salju yang sedang turun), apun (snow on the
ground/salju di permukaan), savujua’rtuang (snow block/balok salju), dan seterusnya.
Yang unik, karena mendiami pergunungan yang puncaknya bersalju, masyarakat Yali di
Angguruk, Yahukimo, punya perbedaan bentuk ungkap daripada bahasa Indonesia,
yakni lek (salju) dan lekma (salju di puncak gunung) (Zöllner & Riesberg, 2021).

Kontak bahasa memungkinkan suatu bahasa memperkaya kosakatanya. Saling
serap kata antarbahasa adalah suatu keniscayaan. Sejarah kolonialisasi dan status
sebagai bahasa internasional menyediakan fleksibilitas bagi bahasa Inggris untuk
menyerap berbagai kata dari beragam bahasa. Karena daya serap yang tinggi, bahasa
Inggris “dianggap” superior daripada bahasa-bahasa lain.

Klaim bahwa bahasa Indonesia miskin kosakata membuktikan relativitas bahasa atau
linguistik. Cara berpikir yang inferior membuat seseorang memersepsikan kalah jumlah
kosakata daripada bahasa lain sebagai bentuk kemiskinan.

Tags: #Ahmad Hamidi#bahasa
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Fungsi Kata Saja dalam Tuturan Bahasa Indonesia

Berita Sesudah

Ribuan Warga Ramaikan Jalan Santai HUT ke-21 Kabupaten Dharmasraya

Berita Terkait

Dari Sagu ke Pasar Digital: Peluang UMKM Lokal Menembus Batas

Dari Sagu ke Pasar Digital: Peluang UMKM Lokal Menembus Batas

Minggu, 25/10/26 | 20:14 WIB

Oleh: Maryatul Kuptiah (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Di Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki potensi alam...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Peran Ibu Tunggal dalam Film “Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu?”

Minggu, 25/10/26 | 18:30 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya dan Anggota Labor Penulisan Kreatif, Universitas Andalas) Ada film yang berakhir...

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Minggu, 18/10/26 | 16:21 WIB

Oleh: Lili Herlina (Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas) Ketika membicarakan masalah pertanian, perhatian sering kali tertuju pada...

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Minggu, 18/10/26 | 15:52 WIB

Oleh: Puspandhari Ilsa Pinasty (Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas)   Bayangkan seorang anak rantau yang akhirnya mampu...

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB

Taufiq Muhammad Akbar ‎Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas (UNAND) Undang-undang berubah, Pasal diperbaiki, Ancaman pidana disesuaikan, Istilah hukum diperbarui. Tetapi...

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Ilustrasi: Hukum dan regulasi hanyalah pagar luar, namun kesadaran dan etika digital masyarakat adalah benteng utama yang sesungguhnya dalam menangkal...

Berita Sesudah
Ribuan Warga Ramaikan Jalan Santai HUT ke-21 Kabupaten Dharmasraya

Ribuan Warga Ramaikan Jalan Santai HUT ke-21 Kabupaten Dharmasraya

POPULER

  • Kasat Lantas Polres Pariaman, IPTU Afrizal Sahar.[foto:ist]

    Satlantas Polres Pariaman Siap Laksanakan Operasi Patuh Singgalang 2026, Kerahkan 26 Personel

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026