Kamis, 18/6/26 | 08:39 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Parliamentary Threshold Daerah dan Pemerataan Pembangunan

Minggu, 03/5/26 | 22:20 WIB

Oleh: Syamsul Bahri
(Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Eka Sakti, Sumatera Barat)

 

Pemerataan pembangunan di Indonesia selama ini lebih banyak dipahami sebagai persoalan distribusi anggaran dan program pemerintah. Padahal, ada faktor mendasar yang kerap luput dari perhatian, yaitu kualitas sistem politik di tingkat daerah. Tanpa sistem politik yang efektif, sebesar apa pun sumber daya yang dialokasikan, hasil pembangunan sulit mencapai pemerataan yang diharapkan.

BACAJUGA

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Minggu, 14/6/26 | 22:37 WIB
Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Sapardi dan Seni Berdamai dengan Kefanaan

Minggu, 14/6/26 | 22:24 WIB

Dalam praktiknya, banyak daerah menghadapi persoalan yang sama: kebijakan pembangunan tidak fokus, program tersebar, dan prioritas sering berubah. Salah satu penyebabnya adalah struktur politik lokal yang terfragmentasi. Komposisi DPRD yang terdiri dari banyak partai dengan kekuatan terbatas membuat proses pengambilan keputusan menjadi panjang, kompromistis, dan tidak jarang kehilangan arah strategis.

Fenomena ini terlihat dari maraknya fraksi gabungan di DPRD. Partai-partai kecil yang tidak memiliki kursi cukup tetap masuk dalam struktur parlemen, tetapi tidak memiliki kekuatan yang memadai untuk membentuk arah kebijakan. Akibatnya, proses legislasi dan penganggaran lebih banyak diwarnai oleh negosiasi jangka pendek dibandingkan perencanaan pembangunan jangka panjang.

Dalam perspektif ekonomi politik, kondisi tersebut mencerminkan tingginya biaya transaksi dalam sistem politik lokal. Setiap keputusan membutuhkan kompromi yang lebih luas, sementara hasilnya tidak selalu optimal. Dampaknya, kebijakan pembangunan menjadi kurang efektif dan cenderung tidak terintegrasi.

Di sinilah pentingnya melihat ambang batas di tingkat daerah sebagai bagian dari strategi pembangunan. Gagasan parliamentary threshold selama ini dikenal dalam konteks nasional untuk menyaring partai yang masuk ke DPR RI. Namun, dalam konteks daerah, konsep serupa dapat dikembangkan dengan pendekatan yang lebih substantif, yaitu berbasis kemampuan partai untuk membentuk satu fraksi penuh di DPRD.

Dengan pendekatan ini, hanya partai yang memiliki dukungan signifikan yang dapat berperan dalam proses legislasi. Struktur parlemen daerah menjadi lebih sederhana, tetapi juga lebih efektif. Jumlah aktor politik yang lebih terkonsolidasi memungkinkan proses pengambilan keputusan berjalan lebih cepat dan terarah.

Konsolidasi politik ini memiliki implikasi langsung terhadap pembangunan. Dengan struktur politik yang lebih solid, pemerintah daerah memiliki ruang yang lebih besar untuk menjalankan program prioritas secara konsisten. Anggaran tidak lagi terfragmentasi ke dalam berbagai kepentingan sempit, tetapi dapat difokuskan pada sektor-sektor strategis yang berdampak luas terhadap masyarakat.

Lebih dari itu, ambang batas daerah juga mendorong perubahan perilaku partai politik. Partai tidak cukup hanya hadir secara administratif, tetapi dituntut untuk membangun basis dukungan yang nyata di masyarakat. Mereka harus memperkuat kaderisasi, memperluas jaringan, dan meningkatkan kualitas representasi. Dalam jangka panjang, hal ini akan meningkatkan akuntabilitas politik sekaligus kualitas kebijakan publik.

Keterkaitan antara ambang batas daerah dan pemerataan pembangunan juga semakin kuat jika dikaitkan dengan desain pemilu nasional dan lokal yang terpisah, sebagaimana dimungkinkan oleh Putusan MK Nomor 135/PUU-XXII/2024. Dalam desain ini, partai politik dituntut untuk membangun sinergi antara kekuatan nasional dan lokal.

Pada pemilu nasional, dukungan dari daerah menjadi penentu utama keberhasilan partai. Sebaliknya, pada pemilu lokal, dukungan struktur nasional menjadi faktor penting bagi kandidat di daerah. Relasi timbal balik ini mendorong partai untuk tidak lagi bekerja secara parsial, melainkan membangun integrasi organisasi yang lebih kuat dari pusat hingga daerah.

Sinergi tersebut pada akhirnya memperkuat institusionalisasi partai politik. Partai tidak hanya menjadi kendaraan elektoral, tetapi juga menjadi organisasi yang memiliki kapasitas dalam merumuskan dan mengawal kebijakan pembangunan. Dalam konteks ini, ambang batas daerah berfungsi sebagai mekanisme seleksi yang memastikan hanya partai dengan kapasitas organisasi yang memadai yang dapat bertahan.

Tentu, penerapan ambang batas daerah harus dirancang secara hati-hati agar tidak menutup ruang partisipasi politik. Prinsip demokrasi tetap harus dijaga dengan memberikan kesempatan yang adil bagi semua partai. Namun, tanpa upaya untuk mengurangi fragmentasi, sulit mengharapkan terwujudnya pembangunan yang merata dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, pemerataan pembangunan bukan hanya soal seberapa besar anggaran yang tersedia, tetapi juga tentang seberapa efektif sistem politik bekerja dalam mengelola sumber daya tersebut. Ambang batas daerah, jika dirancang dengan tepat, dapat menjadi instrumen penting untuk memperkuat konsolidasi politik sekaligus mendorong pembangunan yang lebih terarah, efisien, dan berkeadilan.

 

Biodata Penulis
Syamsul Bahri
adalah doktor Ilmu Ekonomi dan dosen di Universitas Eka Sakti. Aktif dalam kajian ekonomi politik, pembangunan daerah, serta penguatan kelembagaan partai dan demokrasi lokal.

Tags: Syamsul Bahri
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Sumpah Pemuda: Tonggak Perkembangan Sastra Indonesia

Berita Sesudah

Hijau di Atas Kertas: Penerapan Green Accounting di Indonesia

Berita Terkait

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Minggu, 14/6/26 | 22:37 WIB

Oleh: Satria Efendi Tuanku Kuniang (Ulama dan Tokoh Nahdlatul Ulama Sumatera Barat)   Nahdlatul Ulama (NU) sedang berada di sebuah...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Sapardi dan Seni Berdamai dengan Kefanaan

Minggu, 14/6/26 | 22:24 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran)   Pada masa ini, ada puisi yang justru berbahaya karena tampak...

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Minggu, 14/6/26 | 22:16 WIB

Oleh: Nayla Aprilia (Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Universitas Andalas, Padang)   Di tengah masyarakat, penampilan fisik sering kali menjadi dasar...

Batu dan Zaman

Memakanai Ulang Kata “Kecubung” dalam Dongeng

Minggu, 14/6/26 | 21:59 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Kecubung (Datura metel) merupakan sejenis tumbuhan dengan bunga...

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Minggu, 31/5/26 | 23:50 WIB

Oleh: Najwa Maliha Zharfa (Mahasiswa Prodi S1 Akuntansi dan Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia Universitas Andalas)   Siapa yang tidak mengenal...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Kue Asida: Makanan Para Raja Riau yang Hampir Punah

Minggu, 31/5/26 | 23:45 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Berita Sesudah
Hijau di Atas Kertas: Penerapan Green Accounting di Indonesia

Hijau di Atas Kertas: Penerapan Green Accounting di Indonesia

POPULER

  • PKB Umumkan Susunan KSB DPC se-Sumbar

    PKB Umumkan Susunan KSB DPC se-Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Minta SPPG se Kota Padang Persiapkan Diri Hadapi Sistem Penilaian atau Grading dari Badan Gizi Nasional (BGN)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Meninjau Kembali Ejaan Jepang dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Ganti Engkau, Kau, Dia, dan Ia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026