
Oleh: Annisa Aulia Amanda
(Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)
Mahasiswa sebagai bagian dari komunitas akademik memiliki kecenderungan untuk menciptakan bentuk komunikasi yang efisien, cepat, dan praktis. Dalam interaksi sehari-hari, terutama di lingkungan perkuliahan, mahasiswa membutuhkan penyampaian informasi yang ringkas tanpa menimbulkan ambiguitas. Oleh karena itu, mahasiswa sering memanfaatkan bentuk-bentuk pemendekan yang umumnya dipahami oleh kalangan mahasiswa tersebut. Fenomena ini juga terlihat pada mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia di Universitas Andalas, khususnya dalam penyebutan nama-nama mata kuliah yang seringkali mengalami pemendekan atau disebut juga dengan abreviasi.
Kridalaksana (2010) berpendapat bahwa abreviasi adalah proses penanggalan bagian kata atau gabungan kata sehingga tercipta bentuk baru serupa kata. Sejalan dengan itu, Chaer (2014) dengan menggunakan istilah pemendekan berpendapat bahwa proses penanggalan yang dilakukan untuk mendapat sebuah bentuk singkat yang masih memiliki makna bentuk utuhnya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa abreviasi adalah proses pembentukan kata dengan cara menanggalkan sebagian kata atau gabungan kata sehingga menghasilkan bentuk baru yang lebih singkat tanpa menghilangkan makna bentuk utuhnya.
Dalam kajian linguistik, abreviasi memiliki beberapa jenis. Chaer (2014) mengelompokkan abreviasi menjadi tiga jenis, yaitu penggalan, singkatan, dan akronim. Sementara itu, Kridalaksana (2010) berpendapat bahwa abreviasi terdiri atas lima jenis, yaitu singkatan, penggalan, akronim, kontraksi, dan lambang huruf. Perbedaan masing-masingnya dapat dilihat sebagai berikut.
- Singkatan adalah pemendekan dengan gabungan huruf yang ditulis atau dieja huruf demi huruf, contohnya DP dari Drop Out.
- Penggalan adalah pemendekan dengan mengekalkan salah satu bagian kata, contohnya Prof dari Profesor.
- Akronim adalah pemendekan dengan menggabungkan huruf atau suku kata dengan huruf atau suku kata yang lain yang dilafalkan serupa kata, contohnya Unand dari Universitas Andalas.
- Kontraksi adalah pemendekan dengan meringkas kata atau gabungan kata sehingga mengalami perubahan bunyi, contohnya tak dari tidak.
- Lambang huruf adalah pemendekan dengan pengekalan huruf atau gabungan huruf yang mewakili konsep tertentu (kuantitas, satuan, unsur), contohnya L dari liter.
Dalam praktiknya, penggunaan abreviasi pada nama-nama mata kuliah di Program Studi Sastra Indonesia Universitas Andalas didominasi oleh bentuk singkatan dan akronim. Hal ini disebabkan oleh sifat kedua jenis tersebut yang relatif mudah diingat, diucapkan, dan digunakan dalam komunikasi lisan maupun tulisan. Berikut ini beberapa contoh singkatan dan akronim yang digunakan beserta proses pembentukan yang terjadi di baliknya.
IAD
IAD adalah singkatan dari Ilmu Alamiah Dasar. IAD terbentuk dengan proses pengekalan huruf pertama tiap komponen. Huruf i dari komponen pertama ilmu, huruf a dari komponen kedua alamiah, dan huruf d dari komponen ketiga dasar. Dari proses tersebut, terbentuk IAD yang lebih pendek daripada Ilmu Alamiah Dasar.
PLU
PLU adalah singkatan dari Pengantar Linguistik Umum. PLU terbentuk dengan proses pengekalan huruf pertama tiap komponen. Huruf p dari komponen pertama pengantar, huruf l dari komponen kedua linguistik, dan huruf u dari komponen ketiga umum. Dari proses tersebut, terbentuk PLU yang lebih pendek daripada Pengantar Linguistik Umum.
Anawa
Anawa adalah akronim dari Analisis Wacana. Anawa terbentuk dengan proses pengekalan dua suku kata pertama komponen pertama dan pengekalan suku kata pertama komponen kedua. Dua suku kata pertama ana dari komponen pertama analisis dan suku kata pertama wa dari komponen kedua wacana. Dari proses tersebut, terbentuk Anawa yang lebih pendek daripada Analisis Wacana.
Antrosen
Antrosen adalah akronim dari Antropologi Seni. Antrosen terbentuk dengan proses pengekalan dua suku kata pertama komponen pertama dan pengekalan tiga huruf pertama komponen kedua. Dua suku kata pertama antro dari komponen pertama antropologi dan tiga huruf pertama sen dari komponen kedua seni. Dari proses tersebut, terbentuk Antrosen yang lebih pendek daripada Antropologi Seni.
Bakor
Bakor adalah akronim dari Bahasa Korea. Bakor terbentuk dengan proses pengekalan suku kata pertama komponen pertama dan pengekalan tiga huruf pertama komponen kedua. Suku kata pertama ba dari komponen pertama bahasa dan tiga huruf pertama kor dari komponen kedua korea. Dari proses tersebut, terbentuk Bakor yang lebih pendek daripada Bahasa Korea.
LHK
LHK adalah singkatan dari Linguistik Historis Komparatif. LHK terbentuk dengan proses pengekalan huruf pertama tiap komponen. Huruf pertama l dari komponen pertama linguistik, huruf pertama h dari komponen kedua historis, dan huruf pertama k dari komponen ketiga komparatif. Dari proses tersebut, terbentuk LHK yang lebih pendek daripada Linguistik Historis Komparatif.
MPL
MPL adalah singkatan dari Metode Penelitian Linguistik. MPL terbentuk dengan proses pengekalan huruf pertama tiap komponen. Huruf pertama m dari komponen pertama metode, huruf pertama p dari komponen kedua penelitian, dan huruf pertama l dari komponen ketiga linguistik. Dari proses tersebut, terbentuk MPL yang lebih pendek daripada Metode Penelitian Linguistik.
MPK
MPK adalah singkatan dari Metode Penelitian Kesusastraan. MPK terbentuk dengan proses pengekalan huruf pertama tiap komponen. Huruf pertama m dari komponen pertama metode, huruf pertama p dari komponen kedua penelitian, dan huruf pertama k dari komponen ketiga kesusastraan. Dari proses tersebut, terbentuk MPK yang lebih pendek daripada Metode Penelitian Kesusastraan.
Semli
Semli adalah akronim dari Seminar Linguistik. Semli terbentuk dengan proses pengekalan tiga huruf pertama komponen pertama dan suku kata pertama komponen kedua. Tiga huruf pertama sem dari komponen pertama seminar dan suku kata pertama li dari komponen kedua linguistik. Dari proses tersebut, terbentuk Semli yang lebih pendek daripada Seminar Linguistik.
Semsas
Semsas adalah akronim dari Seminar Sastra. Semsas terbentuk dengan proses pengekalan tiga huruf pertama komponen pertama dan suku kata pertama komponen kedua. Tiga huruf pertama sem dari komponen pertama seminar dan suku kata pertama sas dari komponen kedua sastra. Dari proses tersebut, terbentuk Semsas yang lebih pendek daripada Seminar Sastra.
Berdasarkan paparan tersebut, dapat dilihat bahwa penggunaan singkatan dan akronim dalam penamaan mata kuliah di Program Studi Sastra Indonesia Universitas Andalas merupakan wujud nyata dari adaptasi bahasa terhadap tuntutan komunikasi yang efisien dan praktis di kalangan mahasiswa. Selain itu, variasi proses pembentukan yang ditemukan tidak hanya mencerminkan kreativitas penutur, tetapi juga memperlihatkan sifat bahasa yang dinamis dan senantiasa berkembang mengikuti kebutuhan komunikatif penggunanya. Lebih lanjut, fenomena abreviasi ini tidak terbatas pada lingkup Program Studi Sastra Indonesia Universitas Andalas semata, melainkan juga berpotensi ditemukan pada berbagai program studi dan institusi pendidikan lainnya.
Padang, Sabtu, 25 April 2026









