Minggu, 06/9/26 | 21:33 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Memaknai Ulang Sukses dalam Film “Tunggu Aku Sukses Nanti”

Minggu, 19/4/26 | 22:16 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa
(Dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas) 

 

Idulfitri merupakan frasa  bahasa Arab, terdiri dari kata id berasal dari ya’uudu artinya kembali dan al fitri memiliki makna suci atau bersih. Adapun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, id berarti perayaan, dan fitri bermakna kembali ke fitrah. Dengan demikian, frasa Idulfitri tidak hanya bermakna kembali kepada kesucian, tetapi juga merupakan sesuatu yang dirayakan umat Islam setelah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan. Karena jatuh pada tanggal merah, perayaan Idulfitri juga kerap menjadi momen untuk mengunjungi sanak saudara. Berbagai pertanyaan seputar kehidupan saling dilontarkan untuk menyambung jarak. Sebuah fenomena yang sangat lumrah terjadi di Indonesia ketika bersilaturahmi. Tidak jarang hal ini menjadi momok ketika momen Idulfitri digunakan untuk adu pencapaian atau perbandingan antarsaudara. Hal ini dialami Arga, tokoh utama dalam film Tunggu Aku Sukses Nanti yang rilis pada Maret 2026.

BACAJUGA

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Minggu, 06/9/26 | 11:00 WIB
Puisi-puisi M. Subarkah

Jangan Tunggu Hutan Habis untuk Sadar

Minggu, 06/9/26 | 10:37 WIB

Arga terpaksa mengurut dada karena ditanyakan hal yang sama setiap tahunnya, tentang status pekerjaan dan penyebab terlalu lama menganggur. Bukannya Arga tidak melakukan usaha, tetapi memang rezeki belum menghampiri. Setelah mencari ke sana ke mari, akhirnya Arga mendapatkan pekerjaan sebagai agen properti. Ia bekerja sungguh-sungguh. Namun, setelah sukses dan berhasil menaikkan perekonomian keluarga, mengapa Arga tidak merasa puas? Film ini tidak hanya bercerita tentang perjuangan dalam meraih kesuksesan, tetapi juga tentang bagaimana kesuksesan itu kemudian dijadikan alat pemuas ego. Semakin seseorang mengejar hal-hal yang berada di luar diri, semakin ia menjauh dari dirinya sendiri. Motivasi terbesar Arga dalam mencari pekerjaan tidak didasarkan pada pencapaian dan aktualisasi diri, tetapi pada upaya mendapatkan validasi dari orang-orang yang selalu merendahkannya.

Pada dasarnya, sudah sepatutnya seseorang mengejar sebuah validasi. Sejak kecil, manusia dikondisikan untuk mencari pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Permasalahan terjadi ketika seseorang tidak mampu memvalidasi dirinya sendiri, sehingga muncul perasaan tidak cukup. Kecenderungan seseorang untuk mencari validasi eksternal tidak tumbuh begitu saja. Selama hidupnya, Arga terbiasa melihat keluarganya direndahkan oleh sanak-saudaranya yang lebih mapan. Akhirnya, ia meyakini bahwa nilai dirinya ditentukan oleh pengakuan orang-orang, sehingga merasa harus membuktikan bahwa dirinya layak.

Akibatnya, berbagai pencapaian yang sudah diraih terasa tidak berarti apabila dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain. Walaupun sudah mampu memberi, ia tetap dianggap kurang. Kepercayaan diri yang dibangun dengan susah payah setelah berhasil menaikkan perekonomian dan derajat keluarga seketika runtuh karena komentar-komentar sambil lalu. Inilah pergulatan terbesar dalam diri Arga: perasaan tidak berharga di hadapan orang lain.

Arga berpikir bahwa ia harus bekerja lebih giat lagi untuk membuktikan kesuksesannya. Ia berhasil. Namun, hal itulah yang justru membuatnya kehilangan arah. Fokus Arga yang semula bertujuan menaikkan taraf hidup, perlahan bergeser menjadi bentuk ambisi dan mengikis koneksinya dengan orang-orang di sekitarnya. Hal ini terlihat pada kandasnya hubungannya dengan Andin yang sudah terjalin selama empat tahun, juga renggangnya persahabatannya dengan Fanny, sahabat masa kecilnya. Tanpa sadar, ambisi Arga untuk membuktikan diri membuatnya mengorbankan orang-orang yang selama ini selalu hadir untuknya.

Dalam upaya mencari pengakuan dan membuktikan diri, terkadang seseorang cenderung berfokus pada sisi buruk dari dirinya yang menjadi penyebab luka. Pada Arga, luka tersebut muncul dalam sosok Tante Yuli yang tidak henti-henti berkomentar apa saja. Arga menyimpan rasa marah, sehingga ia tidak pernah memberi ruang untuk melihat sisi lain dari tantenya itu. Di balik nyinyirnya, Tante Yuli ternyata adalah orang yang paling peduli, mengikuti perkembangan keponakannya, serta membantu Arga diam-diam. Namun, hal itu justru baru disadari Arga setelah tantenya meninggal karena ia telah mencap Tante Yuli buruk. Terkadang, seseorang harus kehilangan terlebih dahulu untuk dapat benar-benar melihat segala sesuatu yang selama ini tertutup oleh luka dan ego.

Kematian Tante Yuli membuat Arga sadar bahwa kasih sayang tidak selalu hadir dalam bentuk pujian dan sanjungan. Arga terlalu sibuk mencari pengakuan dari luar, sehingga ia lupa bahwa pengakuan sejati sesungguhnya berasal dari penerimaan terhadap diri sendiri. Kesuksesan kerap diidentikan dengan pencapaian lahiriah seperti pekerjaan dan penghasilan. Namun, melalui Tunggu Aku Sukses Nanti, makna sukses didefinisikan ulang sebagai proses menerima, menjalani proses, serta memahami bahwa kelayakan seseorang tidak ditentukan oleh penilaian orang lain.

Pada akhirnya, Arga yang selama ini diam-diam menantikan pengakuan dari keluarga memahami bahwa ia selalu memiliki tempat untuk pulang, di mana ia akan selalu dicintai dan diterima tanpa syarat, bahkan ketika keadaan tidak berpihak padanya. Sebab fitri merupakan salah satu sifat dasar yang dimiliki setiap manusia, maka kebahagiaan sejati sesungguhnya ketika seseorang dapat menerima dirinya secara utuh, jauh sebelum pengakuan dari luar itu didapat.  Maka dalam konteks ini, frasa Idulfitri tidak  hanya bermakna perayaan, tetapi juga momen untuk kembali, kepada keluarga dan diri sendiri.

Tags: #Andina Meutia Hawa
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Persoalan “ini” dan “itu” di dalam Berbagai Konteks

Berita Sesudah

Dari ‘Rakyat’ ke ‘Masyarakat’: Pergeseran Kata dan Ideologi

Berita Terkait

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Minggu, 06/9/26 | 11:00 WIB

Oleh: Hasbi Witir (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Kata pulang merupakan kata yang sangat dekat dengan kehidupan...

Puisi-puisi M. Subarkah

Jangan Tunggu Hutan Habis untuk Sadar

Minggu, 06/9/26 | 10:37 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik FIB Universitas Andalas) Kita sering baru mengingat hutan ketika bencana datang. Ketika hujan turun...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Bianglala: Menelusuri Makna, Sejarah, dan Jejak Kebudayaan dalam Sebuah Kata

Minggu, 30/8/26 | 16:29 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif FIB Universitas Andalas)   Ketika melihat lengkungan warna-warni yang...

Puisi-puisi M. Subarkah

Eksistensi Bahasa Melayu Riau di Tengah Dominasi Bahasa Indonesia di Era Digital

Selasa, 25/8/26 | 22:59 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)    Bahasa Melayu Riau tidak sekadar kumpulan kata yang digunakan...

Makna Pulih dalam Lagu “Seperti Tulang” Karya Nadin Amizah

Makna Pulih dalam Lagu “Seperti Tulang” Karya Nadin Amizah

Minggu, 23/8/26 | 22:08 WIB

Oleh: Indri Rahmadani (Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Di tengah padatnya aktivitas dan tekanan yang dihadapi anak...

Sintaksis: Sulit, tetapi Diam-Diam Menyenangkan

Sintaksis: Sulit, tetapi Diam-Diam Menyenangkan

Minggu, 16/8/26 | 23:09 WIB

Oleh: Bunga Amelia (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Bagi sebagian orang, mendengar kata sintaksis mungkin terasa menakutkan. Mata...

Berita Sesudah
Dari ‘Rakyat’ ke ‘Masyarakat’: Pergeseran Kata dan Ideologi

Dari ‘Rakyat’ ke ‘Masyarakat’: Pergeseran Kata dan Ideologi

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran,  hadiri Konferensi Kerja Provinsi (Konkerprov) I Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) Tahun 2026, di Hotel Truntum, Jumat (4/9).

    Walikota Padang Apresiasi Pembukaan Konferensi Kerja Provinsi (Konkerprov) I Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) Tahun 2026.

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepala Biro PBJ Akui Ada dalam Rekaman Video Mesra dan Mundur dari Jabatan, Sekda : Tetap Diperiksa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Pintar, Cerdas, Pandai, Cakap, Cerdik, dan Mahir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yusri Latif Makan Bajamba di Luar Dapil, Sebut Dirinya Wakil Seluruh Warga Kota Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kesantunan Berbahasa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Hierarki Satuan Kebahasaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026