Jumat, 31/7/26 | 09:30 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Menikmati Perjalanan, Meski Terhenti

Minggu, 24/11/24 | 13:52 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

“Apa yang biasanya kamu pikirkan saat terjebak macet?” tanya seorang teman, sambil menghela napas panjang. Pertanyaan itu meluncur di tengah obrolan santai kami, tapi nada suaranya menyiratkan kelelahan. Rupanya, ia baru saja pulang dari kampung halaman dan terjebak dalam kemacetan panjang yang melelahkan.

Saya membayangkan ia duduk di balik kemudi, dikelilingi kendaraan yang bergerak seperti siput, dengan klakson bersahutan seolah memperparah suasana hati. Pertanyaan itu mungkin bukan sekadar iseng, melainkan luapan frustrasi yang tak terucap, hasil dari berjam-jam yang dihabiskan dalam perjalanan yang terasa tak berujung.

BACAJUGA

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Banyak Mendengar, Banyak Belajar

Minggu, 19/7/26 | 19:50 WIB
Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Makan Dulu, Baca Kemudian

Minggu, 12/7/26 | 20:03 WIB

Bagi saya, terjebak macet dalam perjalanan bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Macet adalah cerminan nyata dari kehidupan moder dengan populasi kendaraan yang terus meningkat, sejalan dengan mobilitas masyarakat yang semakin dinamis. Kalau dipikir-pikir, macet itu seperti potret kecil bagaimana dunia terus bergerak, meski kadang tersendat. Ada yang terburu-buru mengejar waktu, ada pula yang santai menikmati perjalanan.

Namun, yang menarik dari kemacetan bukan hanya soal penuhnya jalan raya. Di balik deretan kendaraan yang berhenti dan melaju perlahan, ada beragam cerita dan emosi. Mungkin ada seorang ibu yang gelisah karena anaknya rewel di kursi belakang, atau seseorang yang justru merasa bersyukur bisa menikmati waktu berhenti sejenak dari hiruk-pikuk rutinitas. Beragam tanggapan orang dalam menghadapi kemacetan. Dan semuanya sesuai dengan kondisi mereka.

Bagi saya, macet adalah kesempatan untuk merenung. Dalam kemacetan, ada ruang untuk berpikir, memaknai perjalanan, dan mungkin belajar sedikit lebih sabar. Meski tetap terasa melelahkan, terkadang macet mengingatkan kita untuk melambat, melihat ke luar jendela, dan menyadari betapa sibuknya dunia di sekitar kita.

Tak bisa dimungkiri, macet sering kali memantik rasa kesal dan gelisah. Rasanya seperti terjebak dalam perangkap waktu, melihat jarum jam terus berputar sementara kendaraan hanya merayap perlahan. Ada kalanya klakson yang bersahut-sahutan seolah memperburuk suasana, mengingatkan bahwa kita semua sama-sama tidak berdaya menghadapi situasi ini.

Namun, apa pun perasaan yang muncul, macet adalah bagian tak terhindarkan dari perjalanan darat. Entah suka atau tidak, kita harus menghadapinya. Dalam setiap perjalanan, macet ibarat sebuah ujian kecil yang mengajarkan banyak hal—kesabaran, keikhlasan, hingga kemampuan untuk berdamai dengan keadaan.

Pada akhirnya, kemacetan bukan sekadar tentang kendaraan yang berhenti atau bergerak perlahan. Ia adalah cermin kecil kehidupan yang mengajarkan kita bahwa tidak semua perjalanan selalu mulus, tidak semua tujuan bisa dicapai dengan cepat. Di tengah deru mesin dan aroma aspal yang panas, kita diajak untuk merenungi ritme waktu, memahami bahwa setiap jeda memiliki arti.

Macet, bagaimanapun menyebalkannya, mengingatkan kita akan pentingnya melambat, menarik napas, dan mensyukuri momen kecil yang sering terabaikan. Sebab dalam setiap perjalanan, entah itu di jalan raya atau dalam hidup, bukan hanya tentang seberapa cepat kita sampai, tetapi tentang bagaimana kita belajar menikmati setiap detiknya.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Berbagai Hal yang Berkaitan dengan Kata Lagi

Berita Sesudah

Toreh Prestasi di Fornas, Pemprov Apresiasi Positif FYBI Sumbar

Berita Terkait

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Banyak Mendengar, Banyak Belajar

Minggu, 19/7/26 | 19:50 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu waktu, saya dan tim melakukan penelitian lapangan di...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Makan Dulu, Baca Kemudian

Minggu, 12/7/26 | 20:03 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Setelah beberapa kali memperhatikan slogan-slogan di rumah makan, saya mulai menyadari bahwa tulisan-tulisan itu...

Tentang Kipas Angin dan Perbedaan yang Sederhana

Minggu, 28/6/26 | 20:08 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Tinggal bersama orang lain dalam satu ruang yang sama sering kali memperlihatkan hal-hal...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Selalu Ada Jalan Kembali

Minggu, 21/6/26 | 19:40 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Memulai kembali kebiasaan membaca ternyata menghadirkan pengalaman yang berbeda dari yang saya bayangkan. Saya...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Belajar dari Halaman Pertama

Minggu, 07/6/26 | 18:28 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa waktu terakhir, saya sering memandangi tumpukan buku yang belum selesai dibaca. Sebagian sudah...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Belakangan ini, saya menyadari bahwa kehidupan modern sering melekat pada benda-benda kecil yang selalu...

Berita Sesudah
Toreh Prestasi di Fornas, Pemprov Apresiasi Positif FYBI Sumbar

Toreh Prestasi di Fornas, Pemprov Apresiasi Positif FYBI Sumbar

POPULER

  • DPC PKB Kota Payakumbuh Resmikan Kantor Baru

    DPC PKB Kota Payakumbuh Resmikan Kantor Baru

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dampak Kecerdasan Buatan (AI) bagi Dunia Pendidikan di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lestarikan Budaya Minangkabau, Festival Sipak Rago Piala Bergilir Evi Yandri Kembali Digelar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lisda Hendrajoni Dukung Skema Baru Biaya Haji 2027, Jamaah Diusulkan Hanya Bayar 40 Persen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026