Minggu, 10/5/26 | 06:01 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Menikmati Perjalanan, Meski Terhenti

Minggu, 24/11/24 | 13:52 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

“Apa yang biasanya kamu pikirkan saat terjebak macet?” tanya seorang teman, sambil menghela napas panjang. Pertanyaan itu meluncur di tengah obrolan santai kami, tapi nada suaranya menyiratkan kelelahan. Rupanya, ia baru saja pulang dari kampung halaman dan terjebak dalam kemacetan panjang yang melelahkan.

Saya membayangkan ia duduk di balik kemudi, dikelilingi kendaraan yang bergerak seperti siput, dengan klakson bersahutan seolah memperparah suasana hati. Pertanyaan itu mungkin bukan sekadar iseng, melainkan luapan frustrasi yang tak terucap, hasil dari berjam-jam yang dihabiskan dalam perjalanan yang terasa tak berujung.

BACAJUGA

Menemukan Waktu dalam Langkah

Dari Niat ke Langkah Pagi

Minggu, 03/5/26 | 18:17 WIB
Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Bagi saya, terjebak macet dalam perjalanan bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Macet adalah cerminan nyata dari kehidupan moder dengan populasi kendaraan yang terus meningkat, sejalan dengan mobilitas masyarakat yang semakin dinamis. Kalau dipikir-pikir, macet itu seperti potret kecil bagaimana dunia terus bergerak, meski kadang tersendat. Ada yang terburu-buru mengejar waktu, ada pula yang santai menikmati perjalanan.

Namun, yang menarik dari kemacetan bukan hanya soal penuhnya jalan raya. Di balik deretan kendaraan yang berhenti dan melaju perlahan, ada beragam cerita dan emosi. Mungkin ada seorang ibu yang gelisah karena anaknya rewel di kursi belakang, atau seseorang yang justru merasa bersyukur bisa menikmati waktu berhenti sejenak dari hiruk-pikuk rutinitas. Beragam tanggapan orang dalam menghadapi kemacetan. Dan semuanya sesuai dengan kondisi mereka.

Bagi saya, macet adalah kesempatan untuk merenung. Dalam kemacetan, ada ruang untuk berpikir, memaknai perjalanan, dan mungkin belajar sedikit lebih sabar. Meski tetap terasa melelahkan, terkadang macet mengingatkan kita untuk melambat, melihat ke luar jendela, dan menyadari betapa sibuknya dunia di sekitar kita.

Tak bisa dimungkiri, macet sering kali memantik rasa kesal dan gelisah. Rasanya seperti terjebak dalam perangkap waktu, melihat jarum jam terus berputar sementara kendaraan hanya merayap perlahan. Ada kalanya klakson yang bersahut-sahutan seolah memperburuk suasana, mengingatkan bahwa kita semua sama-sama tidak berdaya menghadapi situasi ini.

Namun, apa pun perasaan yang muncul, macet adalah bagian tak terhindarkan dari perjalanan darat. Entah suka atau tidak, kita harus menghadapinya. Dalam setiap perjalanan, macet ibarat sebuah ujian kecil yang mengajarkan banyak hal—kesabaran, keikhlasan, hingga kemampuan untuk berdamai dengan keadaan.

Pada akhirnya, kemacetan bukan sekadar tentang kendaraan yang berhenti atau bergerak perlahan. Ia adalah cermin kecil kehidupan yang mengajarkan kita bahwa tidak semua perjalanan selalu mulus, tidak semua tujuan bisa dicapai dengan cepat. Di tengah deru mesin dan aroma aspal yang panas, kita diajak untuk merenungi ritme waktu, memahami bahwa setiap jeda memiliki arti.

Macet, bagaimanapun menyebalkannya, mengingatkan kita akan pentingnya melambat, menarik napas, dan mensyukuri momen kecil yang sering terabaikan. Sebab dalam setiap perjalanan, entah itu di jalan raya atau dalam hidup, bukan hanya tentang seberapa cepat kita sampai, tetapi tentang bagaimana kita belajar menikmati setiap detiknya.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Berbagai Hal yang Berkaitan dengan Kata Lagi

Berita Sesudah

Toreh Prestasi di Fornas, Pemprov Apresiasi Positif FYBI Sumbar

Berita Terkait

Menemukan Waktu dalam Langkah

Dari Niat ke Langkah Pagi

Minggu, 03/5/26 | 18:17 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Pagi bagi saya bukan ajakan yang mudah untuk segera bergerak, tetapi selalu memberi kesempatan...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah...

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Berita Sesudah
Toreh Prestasi di Fornas, Pemprov Apresiasi Positif FYBI Sumbar

Toreh Prestasi di Fornas, Pemprov Apresiasi Positif FYBI Sumbar

POPULER

  • Afrina Hanum

    Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkab Dharmasraya Kembali Gelar Pasar Murah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tingkat Literasi Keuangan di Sumbar Masih Rendah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ruangan Tak Layak, Rumah Tahfidz Qur’an di Jorong Ranah Bakti Butuh Bantuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Padang Kunjungi Menteri Ekonomi Kreatif RI Garap Potensi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026