Senin, 28/9/26 | 11:02 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Irama Langkah

Minggu, 19/2/23 | 09:39 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Baru-baru ini, saya berulang kali mendengar kembali salah satu lagu kesukaan saya. Lagu tersebut berjudul “Negentropy 5 In E Major” yang dinyanyikan oleh Leilani Frau. Lirik lagu tersebut bagi saya begitu indah dan manis. Secara umum lagu ini bercerita soal langkah antara dua pribadi yang berjalan bersama.

Liriknya seperti dialog, entah antara kekasih, sahabat, atau dua orang yang bekerja sama demi tujuan tertentu. Rupanya di tengah jalan antara keduanya memiliki langkah yang berbeda. Salah Seorang menganggap langkah Seorang Lainnya begitu cepat sehingga ia terengah-engah menyusulnya. Namun, Seorang Lainnya justru menganggap langkah Salah Seoranglah yang lambat. Padahal, Seorang Lainnya sedang terburu-buru. Lalu, apa yang terjadi antara keduanya?

BACAJUGA

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Cerita yang Tak Bosan Diulang

Minggu, 27/9/26 | 16:58 WIB
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Halaman-Halaman yang Dibaca dengan Cara Berbeda

Minggu, 13/9/26 | 11:35 WIB

Antara Salah Seorang dengan Seorang Lainnya tidak menyimpan anggapan dalam diam. Keduanya sama-sama gelisah karena langkah yang tak seirama. Oleh sebab itu, keduanya saling mengutarakan keluh dan kesah. Ketika mengetahui anggapan yang rupanya juga bertentangan, apakah mereka memutuskan untuk melangkah masing-masing?

Tidak! Setelah saling mengutarakan, mereka juga saling mendengarkan. Salah Seorang dan Seorang Lainnya saling menyediakan telinga, entah itu untuk kekasih, sahabat, atau rekan. Setelah mendengarkan, keduanya saling merenungkan. Seperti dalam lirik lagu Leilani, muncullah pertanyaan-pertanyaan.

Selaraskah nada-nada napas kita?
Serasikah warna-warna watak kita?
Setimpalkah beban-beban berat kita?

Setidaknya, ketiga pertanyaan itulah yang menjadi renungan Salah Seorang dan Seorang Lainnya. Tentu pula, jawaban dari ketiga pertanyaan itu ialah ‘tidak’ maka adalah sebuah kewajaran bila sewaktu-waktu keduanya memiliki langkah yang berbeda dan sulit untuk beriringan. Setelah keduanya saling merenung, apakah mereka lekas saling memahami?

Berdasarkan lirik lagu, jawabannya ialah ‘belum’. Seorang Lainnya mengutarakan bahwa “Sabarku habis tunggu langkahmu”. Di sisi lain, Salah Seorang juga mengutarakan “Ah, begitu cepat. Tak tahukah ku, kau buru-buru. Kau buru-buru”. Setelah kembali tak menemukan kesepakatan karena gagal saling memahami, apa yang mereka lakukan?

Menurut saya, meskipun keduanya memiliki perpedaan hingga langkah mereka sulit diselaraskan dan diserasikan, keduanya melakukan hal terpenting dalam sebuah hubungan, yaitu dialog. Setiap kejanggalan tidak dipendam dalam diam sebab bila wadah itu penuh dapat menimbulkan ledakan dan membahayakan Salah Seorang dan Seorang Lainnya. Meskipun melangkah secara tak seirama, keduanya tidak lupa berdialog.

Benar pula kata Banda Neira lewat “Utarakan”, bahwa “Walau tak semua tanya, Datang beserta jawab, Dan tak semua harap terpenuhi”. Namun, yang paling penting dari semua itu ialah ‘utarakan’. Inilah yang dilakukan Salah Seorang dan Seorang lainnya dalam “Negentropy 5 In E Major”. Keduanya pun kembali saling merenungkan tiga pertanyaan sebelumnya.

Setelah dialog berkali-kali, pun setelah renungan berkali-kali, barulah keduanya dapat saling memahami. Langkah memang sulit seirama sebab “nada napas” yang tak selaras, “warna watak” yang tak serasi, dan “beban berat” yang tak setimpal. Meskipun demikian, irama langkah selalu dapat dibenahi.

Lirik yang berdialog dalam lagu ini berakhir dengan begitu manis. Sengaja tidak saya tulis di sini sebab kamu harus mendengarnya sendiri.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen “Salah  Taksir” Karya Liza Warni dan Ulasannya Oleh Azwar Sutan Malaka

Berita Sesudah

“Google Maps” dan Keramahan Orang Yogyakarta di Tebing Breksi

Berita Terkait

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Cerita yang Tak Bosan Diulang

Minggu, 27/9/26 | 16:58 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kisah buku-buku itu rupanya terus berjalan. Dahulu, saya yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Halaman-Halaman yang Dibaca dengan Cara Berbeda

Minggu, 13/9/26 | 11:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang pengalaman memilih buku...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa hari belakangan, saya membeli beberapa buku cerita bergambar...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah) Belajar sesuatu yang baru ternyata bukan hanya soal seberapa...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Belajar Lagi dari Tombol Undo

Minggu, 02/8/26 | 18:43 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Beberapa minggu terakhir ini, ada satu kegiatan baru yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Banyak Mendengar, Banyak Belajar

Minggu, 19/7/26 | 19:50 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu waktu, saya dan tim melakukan penelitian lapangan di...

Berita Sesudah

"Google Maps" dan Keramahan Orang Yogyakarta di Tebing Breksi

Discussion about this post

POPULER

  • Peluang Bisnis Fashion Halal bagi Anak Muda dalam Ekonomi Islam

    Peluang Bisnis Fashion Halal bagi Anak Muda dalam Ekonomi Islam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Semburat: Kajian Makna dalam Perspektif Semantik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Paket Data Masih Aktif, Telkomsel Blokir Internet karena Tagihan Pulsa Darurat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berbagai Istilah Uang Pemasukan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Set Masa Lampau Indonesia di Studio Alam Gamplong

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyusuri Luka Kanak-kanak dalam Kumpulan Puisi “Belajar Menanggalkan Bulan”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026