Senin, 31/8/26 | 04:29 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Makanan Jadul

Minggu, 01/1/23 | 11:14 WIB
Oleh: Ria Febrina (Dosen Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu-Ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada)

Tahun 2022 baru saja usai tadi malam. Ribuan orang menyaksikan kembang api di berbagai sudut kota. Selain kembang api, ada satu hal yang juga dicari masyarakat di antara desakan orang-orang pada malam tahun baru, yaitu makanan cepat saji. Aneka makanan cepat saji dijual di pinggir jalan atau di sepanjang jalan orang-orang yang menyaksikan kembang api. Di antara makanan cepat saji tersebut ada kebab, sandwich, pizza, burger, salad, ramen, waffle, dimsum, odeng, dan ttokpokki. Makanan tersebut berasal dari luar negeri, seperti Italia, Jepang, dan Korea.

Di antara makanan cepat saji tersebut, ada juga makanan Indonesia, seperti bakso tusuk, bakso bakar, mie ayam, jagung bakar, pisang bakar, dan indomie. Namun, yang menarik perhatian masyarakat adalah kehadiran makanan yang dulu populer pada 1980-an atau 1990-an. Makanan ini kembali muncul seiring kehadiran istilah makanan jadul. Kehadiran makanan jadul menjadi cerminan bahwa pengguna bahasa Indonesia merindukan makanan yang diolah secara tradisional pada masa lampau. Di antara makanan jadul tersebut, ada mie lidi, rambut nenek, es gabus, kue jaring laba-laba, roti sisir, kue pukis, cimol kopong, telur gulung, cilok, kue leker, martabak manis, gulali cetak (bentuk bunga atau hewan), gulali sutra, dan gulali permen kapas.

Kata jadul pada makanan jadul sebenarnya bukan kata baru. Kata ini sudah lama dipakai oleh pengguna bahasa Indonesia, tetapi kata jadul baru dimasukkan sebagai sebuah kata pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Daring. Dalam KBBI cetak yang terbit sejak 1988 s.d. 2018 (KBBI Edisi I, KBBI Edisi II, KBBI Edisi III, KBBI Edisi IV, dan KBBI Edisi V), kata jadul belum masuk sebagai lema. Jadul merupakan kata yang dibentuk melalui akronim jaman dahulu. Kata jaman merupakan kata tidak baku dalam bahasa Indonesia. Kata bakunya adalah zaman. Namun, tidak seorang pun pengguna bahasa Indonesia menggunakan kata zaman dahulu atau zadul. Meskipun demikian, kepopuleran kata jadul ini menjadi penanda bahwa bahasa Indonesia berkembang melalui cara baru.

Dalam bahasa Indonesia, hampir setiap saat muncul kata-kata baru. Dahulu kata-kata baru berasal dari bahasa daerah dan bahasa asing (Badudu, 1984, 1986, 1995; Macdonal & Darjowidjojo, 1967). Kini kata-kata baru semakin banyak muncul melalui proses akronim. Dalam KBBI, akronim adalah singkatan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar (misalnya ponsel telepon seluler, sembako sembilan bahan pokok, dan Kemendikbud Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan).

BACAJUGA

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Perbedaan kata Pas, Cocok, Sesuai, dan Relevan

Minggu, 30/8/26 | 16:13 WIB
Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Psikologi Bahasa: Kompetisi dan Kolaborasi

Minggu, 16/8/26 | 22:38 WIB

Selain ponsel, sembako, dan Kemendikbud, juga ada sejumlah kata baru yang terbentuk melalui akronim, yaitu tilang ‘bukti pelanggaran’, berdikari ‘berdiri di atas kaki sendiri’, biduk ‘pembinaan penduduk’, bimas ‘bimbingan masal’, dirjen ‘direktur jenderal’, dirut ‘direktur utama’, Dolog ‘depot logistik’, gerpol ‘gerilya politik’, hansip ‘pasukan pertahanan sipil’, juklak ‘petunjuk pelaksanaan’, jurkam ‘juru kampanye’, jurpen ‘juru penerang’, moko ‘mobil toko’, pos-el ‘pos elektronik’, pramuka ‘Praja Muda Karana’, rubanah ‘ruang bawah tanah’, rudal ‘peluru kendali’, satpam ‘satuan pengaman’, dan warnet ‘warung internet’.

Kata-kata tersebut terbentuk melalui pengekalan huruf atau suku kata pada masing-masing kata. Pengekalan tersebut diambil dari kata baku yang membentuknya. Sementara itu, kata jadul terbentuk melalui pengekalan kata tidak baku, yaitu jaman. Dalam KBBI, kata jaman dilabeli sebagai kata tidak baku dari zaman. Namun, pengguna bahasa Indonesia justru menggunakan jadul daripada zadul.

Jika dicermati lagi, dapat dilihat bahwa kehadiran kata jadul dalam bahasa Indonesia sebenarnya tidak murni dari akronim, tetapi cenderung dipengaruhi oleh kepopuleran kata tersebut di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat akrab dengan kata jadul dan digunakan secara aktif dalam kehidupan sehari-hari untuk menunjukkan sesuatu yang berasal dari masa lampau. Karena belum ada dalam KBBI, kata jadul ini pun diserap dan dianggap sebagai sebuah kata dengan makna ‘zaman dahulu’. Dalam KBBI, kehadiran kata baru memang semakin beragam. Kata baru tidak hanya diserap dari bahasa daerah dan bahasa asing, tetapi juga dibentuk dari proses kreatif, serta konteks sosial dan budaya pengguna bahasa Indonesia.

Kehadiran kata jadul pada makanan jadul setidaknya memberi kesadaran kepada kita bahwa Indonesia memiliki sejumlah makanan khas. Makanan tersebut layak dinikmati sebagai makanan sehari-hari. Di samping pada malam tahun baru, makanan jadul ini bisa dinikmati sebagai jajanan sore hari; jajanan pada bazar-bazar tertentu, seperti pasar seni, pasar rakyat, pasar malam, dan juga pasar kaget pada hari Minggu; serta menjadi oleh-oleh untuk wisatawan daerah dan wisatawan asing. Makanan jadul menjadi titik balik bagi kita untuk kembali mencintai makanan Indonesia.

Tags: #Ria Febrina
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Resolusi

Berita Sesudah

Puisi-puisi R.S. Mila dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Berita Terkait

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Perbedaan kata Pas, Cocok, Sesuai, dan Relevan

Minggu, 30/8/26 | 16:13 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies) Kata pas, cocok, sesuai, dan...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Psikologi Bahasa: Kompetisi dan Kolaborasi

Minggu, 16/8/26 | 22:38 WIB

Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Universitas Andalas baru saja menyambut...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Tele- dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan

Senin, 03/8/26 | 07:33 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Kali ini, kita akan membahas bentuk terikat...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Dari Ejaan menjadi Humor Kritik

Senin, 27/7/26 | 05:28 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan Linguistik FIB Universitas Andalas) Ada yang menarik dari konten...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Kata “sudah” dan “telah” Bentuk Lampau dalam Bahasa Asing Lainnya

Minggu, 19/7/26 | 21:01 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Bahasa didefinisikan sebagai...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Wacana Digital dan Dinamika Istilah dalam Bahasa Indonesia

Senin, 06/7/26 | 07:21 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Dunia hari ini tidak lagi sekadar dibatasi...

Berita Sesudah
Puisi-puisi R.S. Mila dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Puisi-puisi R.S. Mila dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Discussion about this post

POPULER

  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepala Biro PBJ Akui Ada dalam Rekaman Video Mesra dan Mundur dari Jabatan, Sekda : Tetap Diperiksa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ibu Kota Nusantara (IKN)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bianglala: Menelusuri Makna, Sejarah, dan Jejak Kebudayaan dalam Sebuah Kata

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026