Senin, 16/2/26 | 20:41 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Fungsi Tanda Asteris atau Tanda Bintang

Minggu, 28/11/21 | 07:00 WIB

 

Oleh: Elly Delfia, S.S., M.Hum. (Dosen Sastra Indonesia Unand dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu-Ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada)

Tanda merupakan bagian penting dalam konsep tata bahasa menurut ahli linguistik, Ferdinand de Saussure. Begitu pula dengan tanda baca. Tanda baca merupakan salah satu tanda yang mengatur lalu lintas atau tata cara berbahasa. Ada bermacam-macam tanda baca, seperti tanda titik (.),  tanda koma (,),  tanda titik dua (:), titik koma (;), tanda hubung (-), tanda pisah (–), tanda kutip atau petik dua (“…”), tanda petik satu atau apostrof (‘), dan tanda asteris/asterik atau tanda bintang. Tanda asteris atau tanda bintang merupakan salah satu di antara tanda baca yang digunakan dalam bahasa Indonesia, dalam bahasa Inggris, dan dalam bahasa lainnya.

Klinik bahasa edisi ini akan membahas tanda baca asteris (asterisk) atau tanda bintang (*). Asteris merupakan kata yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu asterikos yang berarti bintang kecil. Menurut sejarahnya, tanda asteris atau tanda bintang juga disebut glyph atau simbol tipografi (ilmu tata huruf/aksara). Bersama tanda belati (obelisk), asteris merupakan tanda baca tertua yang sudah berumur sekitar 5000 tahun di antara tanda tekstual dan anotasi lainnya (greenlane.com). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tanda asteris biasanya diletakkan setelah kata tertentu untuk menandakan bahwa ada  informasi tambahan yang diletakkan di tempat lain (kbbi.kemdikbud.go.id). 

Ada enam fungsi tanda asteris atau tanda bintang. Pertama, tanda asteris berfungsi sebagai penanda catatan kaki untuk menandai kata sulit-sulit atau kata-kata yang dipentingkan yang berasal dari bahasa daerah dan bahasa asing dan tidak umum digunakan dalam masyarakat. Tanda asteris berfungsi sebagai pengganti angka dalam catatan kaki yang diikuti dengan penjelasan yang terletak pada bagian kiri bawah teks atau karangan. Tanda ini bisa digunakan untuk teks karya ilmiah (artikel, laporan, dan tulisan ilmiah lainnya), maupun untuk karya fiksi (cerpen, novel, dan sejenisnya).

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB
Struktur Kalimat Peraturan Perundang-undangan

Problematika Penulisan Kata Majemuk

Minggu, 28/12/25 | 23:00 WIB

Contoh penggunaan tanda asteris pada kutipan artikel:
Beberapa kosakata dalam bahasa Indonesia mengandung nilai-nilai religiusitas. Nilai-nilai religius yang membangkitkan semangat, dorongan, dan rasa optimisme pada kehidupan. Salah satunya semangat dan dorongan untuk pembangunan Indonesia. Kosakata tersebut, di antaranya iman, halal, syariah, syar’i*, dan hijab* (Delfia, 2019:2).

Keterangan:
* syar’i : sesuai dengan ajaran agama Islam
** hijab : tabir, tirai, atau dinding pelindung wanita dari pandangan laki-laki.

Pada kutipan artikel di atas, tanda asteris digunakan untuk menjelaskan arti penggunaan kata-kata berbahasa asing, yaitu bahasa Arab.

Contoh penggunaan tanda asteris pada kutipan cerpen:
Pagi hari, di lapau-lapau* di kampung itu. Para lelaki mempunyai kesenangan lain,  yaitu saling bercerita tentang senjata yang mereka punya. Tentang arik, tentang sabit, dan juga ladiang.* Tentang di mana mereka mendapat kayu terbaik untuk tangkai senjata-senjata itu (Delfia, 2017:2).

Keterangan:
* lapau-lapau : kedai makanan dan  minuman.
** ladiang  : parang

Pada kutipan cerpen di atas, tanda asteris atau bintang digunakan untuk menjelaskan arti penggunaan kata-kata berbahasa daerah, yaitu kata-kata dari bahasa Minangkabau.

Kedua, tanda asteris berfungsi untuk mengoreksi kesalahan yang menunjukkan kelalaian dalam pengetikan atau penulisan kata. Fungsi tanda asteris yang kedua ini sering ditemukan dalam kesalahan pengetikan kata-kata atau kalimat saat berkomunikasi melalui pesan singkat di whatsapp, messenger, atau di media sosial lainnya.  Contohnya:

1) Nanti sore kita keteman ya?
* keteman > ketemuan

2) hraf kamu mengerti mksudku.
*hraf > harap

3) Angan lupa hubungi aku.
*angan > jangan

Ketiga, tanda asteris berfungsi menunjukkan bentuk yang tidak berterima (unacceptable)  karena kesalahan tata bahasa atau tata kalimat atau menunjukkan pola yang tidak benar atau tidak sesuai dengan pemrograman kalimat dalam sistem komputer.
Contohnya:
* yang makan nasi uduk.
Pola kalimat tersebut tidak lengkap dan hanya menunjukkan Subjek (S). Pola tersebut dapat diperbaiki menjadi: Yang makan nasi uduk itu adalah ibu saya.  Polanya berubah menjadi lengkap, yaitu Subjek Predikat Pelengkap.

* datang ke rumah kami.
Pola  tersebut hanya menunjukkan Predikat (P) dan  Keterangan (K) saja. Pola kalimat tersebut dapat diperbaiki menjadi: Mereka datang ke rumah kami. Polanya berubah menjadi lengkap, yaitu Subjek Predikat Keterangan.

Keempat, tanda asteris berfungsi untuk menunjukkan penafian/penafikkan/ penolakan/pengingkaran yang sering muncul dalam iklan.
Contohnya:
1) Dilelang 100 mobil dinas Camry 50 juta*
2) Dijual cepat rumah tipe 75 harga murah*

Tanda asteris atau tanda bintang pada bagian belakang contoh iklan di atas menunjukkan ada informasi yang dinafikkan atau ada informasi yang diingkarkan atau ada informasi yang tidak lengkap dan hanya dapat dibaca pakai kaca pembesar. Informasi tersebut bisa berbentuk tahun produksi mobil yang tidak disebutkan, atau kondisi mobil, warna, dan sebagainya. Demikian juga dengan iklan rumah. Ada informasi yang dinafikkan pada iklan tersebut, seperti apakah rumah tersebut ada sertifikat atau tidak, luas tanahnya berapa, posisinya di mana, dan sebagainya.

Kelima, tanda asteris berfungsi untuk mendandani logo perusahaan, seperti dikutip dari Bill Walsh, almarhum kepala fotokopi di  Washington Post, mengatakan dalam panduan referensinya, “The Elephants of Style” bahwa beberapa perusahaan menggunakan tanda bintang dalam nama mereka sebagai pengganti tanda hubung bergaya atau tanda apsotrof (‘) untuk dekorasi yang menarik perhatian (greenlane.com), seperti contoh:

1) E * Trade > E- Trade
2) Macy * s> Macy’s

Keenam, tanda asteris berfungsi untuk menyamarkan kata-kata kasar atau sumpah serapah yang dituliskan agar terkesan tidak terlalu kasar dan vulgar. Penggunaan tanda asteris seperti ini juga sering digunakan dalam komunikasi di media sosial atau dalam penulisan artikel semiilimiah maupun dalam pemberitaan di media massa untuk menghindari pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau UU ITE.
Contohnya:
1) f**kyou  > fuck you
2) an**ng   > anjing
3) mo***t   > monyet

Selain keenam fungsi di atas, tanda asteris atau tanda bintang  juga bisa mempunyai fungsi lain. Beberapa instansi atau lembaga di Indonesia maupun di negara lain menggunakan tanda bintang sesuai dengan kesepakatan instansi atau lembaga tersebut. Penggunaan tanda asteris atau bintang yang sesuai dengan kesepakatan ini dapat digolongkan ke dalam penggunaan tanda baca berdasarkan gaya selingkung. Gaya selingkung merupakan gaya penggunaan tanda baca atau tata bahasa berdasarkan kesepakatan yang dibuat suatu lingkungan tertentu dan fungsinya juga hanya berlaku dalam lingkungan tersebut atau tidak berlaku umum dan universal.
Demikian penjelasan mengenai fungsi tanda baca asteris atau tanda bintang. Semoga bermanfaat dan membantu dalam kegiatan tulis-menulis. Tanda baca adalah rambu-rambu lalu lintas dalam menulis. Agar tidak menimbulkan “tabrakan atau kecelakaan” dalam menulis, para penulis perlu memahami penggunaan setiap tanda baca dengan saksama. Salam sukses dan salam sehat pembaca klinik bahasa di mana pun berada.

Tags: #Elly Delfia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen “Terjebak Masa Lalu” karya Ulul Ilmi Arham dan Ulasannya oleh M. Adioska

Berita Sesudah

Pola Asuh Anak pada Masyarakat Jepang dalam Novel Penance

Berita Terkait

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

Minggu, 15/2/26 | 16:59 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Setelah kapitil, masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan definisi...

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Bon atau Bien? Dua Kata yang Sering Tertukar, tetapi Tidak Pernah Sama

Minggu, 01/2/26 | 14:54 WIB

Oleh: Nani Kusrini (Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung)   Bon dan bien adalah dua kosakata dalam bahasa Prancis yang...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Berbagai Istilah Tempat Perbelanjaan dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 25/1/26 | 17:00 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Berbelanja merupakan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Suatu sore, adik perempuan saya mendatangi saya dan berkata “Uni sudah...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Minggu, 11/1/26 | 09:57 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Tiba-tiba warganet Indonesia heboh...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Onde-Onde dan Klepon: Perbedaan Budaya, Perbedaan Nama

Minggu, 11/1/26 | 09:39 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Tidak...

Berita Sesudah
Pola  Asuh Anak pada Masyarakat Jepang dalam Novel  Penance

Pola Asuh Anak pada Masyarakat Jepang dalam Novel Penance

Discussion about this post

POPULER

  • Perspektif Ekologis dalam Berbahasa

    Ancaman Ekologis Krisis Air dari Tren Penggunaan AI di Media Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membaca Cerpen “Robohnya Surau Kami” dari Perspektif Psikoanalisis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gubernur Sumbar Turun ke Lapangan, Pastikan Pembenahan Sungai dan Air Bersih di Padang Berjalan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oleh sebab itu, Oleh karena itu, atau Maka dari Itu?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Pintar, Cerdas, Pandai, Cakap, Cerdik, dan Mahir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024