Minggu, 25/10/26 | 19:38 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Peran Ibu Tunggal dalam Film “Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu?”

Minggu, 25/10/26 | 18:30 WIB

Oleh: Noor Alifah
(Mahasiswi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya dan Anggota Labor Penulisan Kreatif, Universitas Andalas)

Ada film yang berakhir begitu layar menggelap. Ada pula yang baru benar-benar dimulai setelah kita pulang. Film berjudul Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? termasuk yang kedua. Saat menontonnya, saya seperti duduk di dua kursi sekaligus: kursi seorang anak kecil yang akan ditinggal ibunya dan kursi seorang ibu yang tahu waktunya tidak lama lagi. Ia akan meninggalkan anaknya sendirian di dunia ini.

BACAJUGA

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Minggu, 18/10/26 | 16:21 WIB
Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Minggu, 18/10/26 | 15:52 WIB

Tulisan ini mengulas film tersebut lewat kacamata feminis, untuk melihat bagaimana ibu tunggal digambarkan sebagai subjek, bukan sekadar sosok yang berkorban. Film drama keluarga arahan Herwin Novianto itu diproduksi oleh Falcon Pictures dengan skenario dari Alim Sudio dan merupakan adaptasi resmi dari film Korea Selatan yang berjudul Wedding Dress (2010). Marsha Timothy berperan sebagai Stella, ibu tunggal yang bekerja sebagai perancang gaun pengantin dan Fara Shakila berperan sebagai Rere, putrinya.

Di awal cerita, Rere adalah anak yang dingin dan tertutup. Ia bahkan tidak mau berbagi minuman atau makanan dengan siapa pun. Stella mencoba menjangkaunya lewat hadiah: PlayStation terbaru, televisi, dan trampolin. Ia ingin memenuhi semua keinginan putrinya seakan cintanya bisa dibuktikan lewat barang-barang.

Stella menyembunyikan penyakitnya dari Reren agar Rere tidak cemas. Namun, anak kecil sering kali lebih peka daripada dugaan. Rere melihat ibunya minum obat, lalu mendapati kotak obat itu kosong. Ia tidak berhenti pada rasa curiga. Ia bertanya kepada pelatih wushunya dan kepada dokter ibunya tentang obat apa yang diminum oleh ibunya. Dari sanalah ia tahu.

Sejak saat itu, arah cinta berbalik. Rere yang kini mau memenuhi permintaan ibunya. Stella tidak ingin putrinya hidup kesepian. Ia ingin melihat Rere tampil di pertunjukan balet dan memiliki teman. Anak yang semula menutup diri itu perlahan belajar membuka diri demi ibunya. Relasi ibu dan anak di film ini tidak berjalan satu arah: ibu memberi dengan caranya sendiri dan anak membalas dengan caranya sendiri.

Satu adegan membuat saya tersenyum sambil menahan air mata. Rere bertanya kepada ibunya apakah dulu ia mengenakan gaun pengantin saat menikah. Jawabannya tidak. Rere lalu meminta Stella memakai gaun, sementara ia sendiri mengenakan jas dan menempelkan kumis. Mereka pun berdansa di ruangan tempat orang-orang biasanya selesai mencoba gaun pengantin mereka.

Tempat itu terasa tepat. Ruang tersebut biasanya menjadi saksi perempuan lain saat bersiap menyambut hari bahagianya. Kali ini, ruang yang sama menjadi panggung bagi Stella sendiri. Seorang ibu yang seumur hidup menyiapkan gaun untuk orang lain akhirnya mengenakannya dan putrinya yang dulu tertutup menjadi pasangan dansanya.

Momen lain yang membekas adalah ketika kedua ibu dan anak itu bermain di pantai. Di sana mereka tidak sedang melawan kenyataan. Mereka memilih menikmati waktu yang tersisa: pasir, ombak, dan tawa. Cinta tidak diukur dari lamanya kebersamaan, tetapi juga dari seberapa hadir kita di dalamnya.

Kita kerap memuliakan ibu sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”. Kedengarannya indah, tetapi dalam kajian feminis dijelaskan bahwa pujian itu bisa menyempitkan. Adrienne Rich, dalam Of Woman Born, membedakan menjadi ibu sebagai pengalaman hidup perempuan dari motherhood sebagai institusi yang dibentuk oleh tuntutan masyarakat.

Di Indonesia, Julia Suryakusuma lewat gagasan “ibuisme negara” menunjukkan bagaimana peran ibu pernah dikonstruksi untuk menuntut perempuan mengabdi dan berkorban. Kedua gagasan ini mengajak kita bertanya: apakah kita mencintai ibu sebagai manusia atau hanya sebagai perannya?

Film ini menarik karena Stella bukan sekadar ibu. Ia perempuan pekerja dengan keahlian sendiri. Gaun pengantin adalah dunianya: ia merancangnya untuk orang lain, dan kelak untuk putrinya. Ia tidak hanya merawat, tetapi juga mencipta. Sebagai ibu tunggal, Stella memikul semuanya sendirian: mencari nafkah, membesarkan anak, dan menghadapi penyakitnya. Ia menyembunyikan kondisinya demi ketenangan Rere.

Di sini tampak beban emosional yang sering dianggap “kodrat” ibu, yaitu menahan sakit sendirian supaya orang lain tenang. Upayanya untuk memenuhi keinginan Rere akan PlayStation, televisi, dan trampolin juga bisa dibaca sebagai rasa bersalah yang kerap ditanggung oleh seorang ibu pekerja. Dari kajian feminis, muncul pertanyaan terkait dengan mengapa ibu begitu mudah merasa kurang, dan siapa yang berhak merawat perempuan yang selalu merawat anak ataupun keluarga?

Adegan dansa menjawabnya dengan indah. Stella bukan yang memberi. Ia justru diberi: sebuah gaun, sebuah momen, dan sebuah dansa dari anaknya sendiri. Perempuan yang selalu merawat akhirnya dirawat dan dirayakan sebagai dirinya sendiri oleh anaknya.

Judul film ini berbentuk pertanyaan, dan sepanjang cerita kita sadar bahwa pertanyaan itu bukan hanya milik sang anak. Sang ibu pun menanyakannya dalam diam. Jawabannya tidak pernah lengkap. Hal yang bisa kita lakukan hanyalah seperti ibu dan anak di pantai itu: hadir, saling menggenggam tangan, dan menikmati waktu bersama selagi masih ada kesempatan. Jadi, kalau ibumu masih ada, peluklah ia sedikit lebih lama hari ini.

Tags: #Noor Alifah
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Sepanjang Segelas Kopi Susu

Berita Terkait

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Minggu, 18/10/26 | 16:21 WIB

Oleh: Lili Herlina (Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas) Ketika membicarakan masalah pertanian, perhatian sering kali tertuju pada...

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Minggu, 18/10/26 | 15:52 WIB

Oleh: Puspandhari Ilsa Pinasty (Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas)   Bayangkan seorang anak rantau yang akhirnya mampu...

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB

Taufiq Muhammad Akbar ‎Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas (UNAND) Undang-undang berubah, Pasal diperbaiki, Ancaman pidana disesuaikan, Istilah hukum diperbarui. Tetapi...

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Ilustrasi: Hukum dan regulasi hanyalah pagar luar, namun kesadaran dan etika digital masyarakat adalah benteng utama yang sesungguhnya dalam menangkal...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa, Miskomunikasi, dan Konflik Rumah Ibadah

Senin, 12/10/26 | 06:40 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Bahasa memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman, hubungan sosial, dan sikap...

Penentu Arah Perubahan Zaman

Penentu Arah Perubahan Zaman

Minggu, 11/10/26 | 20:39 WIB

Oleh: Arza Kailla Chaerani (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Dunia terus berubah, begitu pula cara manusia memahami identitas,...

POPULER

  • Tiga Hari Pencarian, Balita yang Hilang di Padang Pariaman Ditemukan Meninggal

    Tiga Hari Pencarian, Balita yang Hilang di Padang Pariaman Ditemukan Meninggal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menaker Yassierli Jadi Keynote Speech di Acara Temu Akbar Alumni IKIP Padang/UNP, Ini Pesannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa 5.000 Hektare Tanah Ulayat di Dharmasraya Digugat, Penggugat Tuntut Ganti Rugi Rp1,3 Triliun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sidak Bupati Dharmasraya, Lahan dan Hutan Terbakar Sudah Ditanami Sawit

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Road Show ke Fakultas, Ketum DPP ILUNI UNP Ajak Alumni Berjejaring dan Saling Dukung Sesama Alumni

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jelang Kongres XX IPPNU, Ketum PP IPPNU Sumbar Tri Ramadhani Siap Maju Caketum PP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rumah Singgah Sahabat Donizar, Menjaga Harapan Warga Perantauan di Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026