
Oleh: Alfitri
(Departemen Sosiologi FISIP Universitas Andalas)
Kendati sempat delay sekitar 45 menit dari jadwal take off 16:25, akhirnya burung besi yang saya tumpangi terbang juga menembus awan. Selepas Selat Sunda pesawat stabil di ketinggian sekitar 30.000 kaki meninggalkan hiruk-pikuk Jakarta menuju Bandara Internasional Minangkabau.
Di samping saya, di kursi tengah duduk seorang perempuan muda berusia late-twenties duduk menggendong bayinya yang tertidur lelap dalam dekapan kain panjang batik bercorak gelap. Ia berpenampilan sederhana dan nyaris tanpa make-up. Di kursi samping jendela, anak laki-lakinya yang berusia sekitar lima tahun sibuk memandangi gumpalan awan putih sambil sesekali bertanya polos tentang pesawat.
Saya tersenyum, lalu membuka percakapan ringan sekadar memecah kekakuan di ketinggian 30.000 kaki itu. Dari sapaan sederhana tentang usia sang bayi, percakapan kami mengalir pelan namun berangsur dalam, membedah realita kehidupannya yang tak pernah tercatat dalam angka-angka statistik pertumbuhan ekonomi nasional.
“Pulang kampung, Bu?” tanya saya lembut.
Ibu muda itu tersenyum tipis. Sebuah senyum yang tampak lebih banyak menyimpan keletihan daripada kebahagiaan.
“Iya, Pak. Pulang untuk waktu yang tak tentu. Sudah lelah rasanya bertahan di Tangerang.”
Kalimat itu menjadi kran pembuka dari sebuah kisah merantau yang harus terhenti. Selama tujuh tahun terakhir, ia dan suaminya mengadu nasib mengelola toko pakaian anak-anak di sebuah pasar daerah Tangerang.
Bisnis kecil yang dulu sempat memberi harapan itu perlahan runtuh, digilas roda ekonomi yang makin hari makin tak ramah bagi pedagang kecil.
“Sejak COVID dulu, ekonomi kami terus merosot,” kenangnya dengan tatapan menerawang.
“Kami pikir setelah pandemi selesai dan pemerintahan berganti, keadaan bakal membaik. Ternyata malah makin berat. Pelanggan kami itu orang menengah ke bawah, sebagiannya orang-orang pabrik. Banyak dari mereka yang terkena PHK. Kalau dapur mereka saja megap-megap, bagaimana mau beli baju anak?”
Keputusan pahit pun akhirnya diambil. Toko kecil pakaian anak-anak itu mereka tutup. Karena sewa toko dan biaya hidup di pinggiran Jakarta yang tak kompromi, mereka memutuskan untuk membagi daya bertahan: sang suami kembali menjadi buruh jahit dengan upah harian di kawasan Tanah Abang, sementara ia membawa kedua buah hatinya pulang ke kampung halaman orang tuanya di sebuah desa kecil di pinggiran Pariaman.
“Untuk sementara kami LDR dulu, Pak,” ujarnya berbisik seolah takut terdengar oleh anaknya yang sedang asyik bermain.
“Suami saya tinggal di kontrakan sempit dekat pasar bersama sesama buruh jahit. Saya dan anak-anak pulang kampung dulu supaya biaya hidup bisa ditekan. Kalau di kampung, setidaknya beras ada dari sawah orang tua.”
“Tapi kenapa ibu pulang naik pesawat?”, tanya saya menyela ceritanya.
“Kebetulan kami dapat tiket promo Pak dan si abang yang sejak lahir belum pernah pulang kampung pengen mencoba naik pesawat,” jawab si ibu sambil mengelus kepala anak laki-lakinya yang duduk dekat jendela itu.
Dalam penuturannya, terselip pula keluhannya yang mendalam terhadap serangkaian kebijakan publik yang ia rasakan kian jauh dari realitas orang kecil. Ia menyebutkan bagaimana kenaikan harga bahan pokok, pajak, hingga daya beli yang remuk seperti dibiarkan begitu saja tanpa perlindungan nyata bagi pedagang mandiri kelas gurem seperti dirinya. Suasana usaha makin tidak kondusif, sementara ruang hidup terus menyempit.
“Saya ini rakyat bodoh, Pak, tak paham teori ekonomi tinggi-tinggi,” tuturnya lagi, kali ini dengan nada sedikit lebih berani. “Tapi kalau malam, waktu anak-anak sudah tidur dan saya kecapekan habis membereskan dagangan yang sepi, hiburan saya cuma menonton televisi atau kanal YouTube. Saya paling suka kalau ada talk show yang menghadirkan Pak Rocky Gerung.”
Mata perempuan itu mendadak menyala saat menyebut nama pengamat terkemuka tersebut. Baginya, Rocky Gerung bukan sekadar pengamat yang gemar bersilat lidah dengan istilah-istilah filsafat yang rumit, melainkan sebuah saluran atas amarah dan keputusasaan yang tak sanggup ia suarakan sendiri.
“Saya mengidolakan beliau,” akunya lugas. “Dia berani. Dia konsisten membongkar kalau ada kebijakan pemerintah yang tidak adil dan tidak berpihak pada rakyat kecil seperti kami. Dia berani mengkritik kelirunya cara berpikir dan juga perilaku pejabat. Dengarnya saja sudah membuat hati saya agak lega, terasa ada yang mewakili suara orang-orang tersisih seperti saya.”
Saya tertegun sejenak, menatap wajah ibu muda yang memangku bayinya yang sedikit menggeliat. Saya bertanya-tanya dalam hati, rupanya Rocky Gerung tidak hanya digandrungi oleh sebagian mahasiswa saja, tetapi juga oleh pedagang-pedagang kecil yang terdampak oleh kehidupan ekonomi yang suram seperti ibu ini.
Pesawat mulai menurunkan ketinggian tanda bahwa daratan Sumatra Barat sudah makin dekat. Roda-roda pesawat sebentar lagi akan menyentuh landasan Bandara Internasional Minangkabau, membawa ibu muda ini kembali ke tanah kelahirannya —membawa sekeranjang mimpi yang tertunda, keputusasaan yang dibungkus ketabahan, serta sebuah tanya besar tentang arah negeri ini yang kian sulit ditebak oleh orang-orang kecil sepertinya.
Kini lebih kurang setahun kemudian, beberapa hari yang lalu Rocky Gerung dilantik menjadi bagian dari lingkaran pemerintah yang dulu sering dikritiknya. Saya teringat kembali pada ibu muda dengan bayi dan anak laki-lakinya di pesawat itu. Apakah ibu itu kini masih akan menggantungkan harapan pada kritik berani yang sering dilontarkan Rocky Gerung. Apakah Pak Rocky akan tetap jadi idolanya? Entahlah. Time will tell. Waktu yang akan membuktikannya.









