
Oleh: Tri Sutrisman
(Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)
Apa yang terjadi ketika perempuan kehilangan pekerjaan, tetapi tetap dituntut untuk mampu memenuhi kebutuhan hidupnya? Apakah perempuan harus selalu mengikuti jalan yang telah ditentukan keluarga dan masyarakat? Atau justru perempuan memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat ditemukan dalam film Agensi Rumah Tangga (2026), sebuah film drama-komedi yang tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memperlihatkan berbagai persoalan perempuan dalam kehidupan sehari-hari.
Film yang disutradarai oleh Naya Anindita ini mengisahkan Katia Amaranto yang diperankan oleh Enzy Storia. Katia merupakan seorang pekerja di perusahaan rintisan yang mengalami pemutusan hubungan kerja. Di tengah kondisi tersebut, ia masih harus memikirkan cicilan rumah dan menghadapi tekanan dari ibunya yang menginginkannya menjadi seorang pegawai negeri sipil. Katia kemudian mengambil pilihan yang berbeda. Ia mendirikan sebuah agensi penyalur asisten rumah tangga. Keputusan tersebut mempertemukannya dengan berbagai persoalan, mulai dari pekerja rumah tangga, klien, keluarga, hingga Kafka, seorang penyanyi terkenal yang diperankan oleh Afgansyah Reza.
Sekilas, film ini memang terlihat sebagai cerita ringan tentang perempuan yang berusaha membangun usaha setelah kehilangan pekerjaan. Namun, jika dilihat melalui perspektif feminisme, khususnya pemikiran Hélène Cixous, cerita tersebut mempunyai persoalan yang lebih dalam. Film ini dapat dibaca sebagai gambaran mengenai cara perempuan berusaha keluar dari posisi yang selama ini ditentukan oleh lingkungan sosial, keluarga, dan pandangan patriarkal.
Hélène Cixous merupakan salah satu pemikir feminisme Prancis yang banyak dikenal melalui gagasan écriture féminine atau “tulisan perempuan”. Gagasan ini berkembang melalui esainya yang terkenal, The Laugh of the Medusa, yang pertama kali diterbitkan dalam bahasa Prancis pada 1975 dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada 1976. Cixous mendorong perempuan untuk menemukan suara dan pengalaman dirinya sendiri serta tidak terus-menerus membiarkan identitas perempuan ditentukan oleh sistem yang berpusat pada laki-laki.
Dalam pemikiran Cixous, persoalan perempuan tidak hanya berkaitan dengan kedudukan sosial, tetapi juga dengan persoalan suara dan subjektivitas. Perempuan perlu hadir sebagai subjek yang mampu menyampaikan pengalaman, keinginan, dan pemikirannya sendiri. Karena itu, ketika digunakan untuk membaca sebuah film, teori Cixous dapat membantu melihat bagaimana tokoh perempuan berbicara, mengambil keputusan, menghadapi tekanan, dan menentukan identitasnya sendiri.
Katia merupakan tokoh yang menarik untuk dibaca melalui konsep tersebut. Setelah kehilangan pekerjaannya, ia tidak sekadar menunggu kesempatan baru datang. Katia justru menciptakan jalannya sendiri dengan membangun agensi penyalur asisten rumah tangga. Pilihan ini memperlihatkan bahwa perempuan tidak selalu harus berada dalam posisi sebagai pihak yang menunggu keputusan orang lain. Katia menjadi seseorang yang mengambil keputusan dan bertanggung jawab terhadap pilihannya.
Hal tersebut menjadi penting karena kehidupan Katia tidak berada dalam keadaan yang mudah. Ia harus menghadapi masalah ekonomi setelah PHK, cicilan KPR, serta tekanan dari ibunya yang menginginkannya menjadi PNS. Dengan demikian, keputusan Katia mendirikan usaha dapat dibaca sebagai bentuk usaha untuk menentukan kehidupannya sendiri. Ia tidak sepenuhnya mengikuti gambaran tentang masa depan perempuan yang telah ditentukan oleh keluarganya.
Tekanan dari keluarga juga menjadi salah satu persoalan yang menarik dalam film ini. Keinginan ibu Katia agar anaknya menjadi PNS memperlihatkan adanya harapan tertentu terhadap masa depan seorang perempuan. Pilihan pekerjaan tidak hanya menjadi persoalan pribadi, tetapi dapat menjadi bagian dari harapan keluarga. Dalam situasi seperti ini, perempuan dapat mengalami tekanan untuk mengikuti jalan yang dianggap aman, mapan, dan sesuai dengan harapan orang lain.
Melalui perspektif Cixous, persoalan tersebut dapat dibaca sebagai perjuangan perempuan untuk memperoleh ruang bagi dirinya sendiri. Perempuan tidak harus selalu menjadi objek dari keputusan keluarga. Ia juga mempunyai hak untuk menjadi subjek yang menentukan arah hidupnya. Katia memperlihatkan proses tersebut melalui keberanian mengambil pilihan yang berbeda dari harapan ibunya.
Persoalan perempuan dalam film ini juga tidak berhenti pada tokoh Katia. Kehadiran para asisten rumah tangga memperlihatkan kelompok perempuan lain yang memiliki persoalan masing-masing. Lembaga Sensor Film mencatat bahwa film ini mengangkat perempuan yang berusaha memenuhi kebutuhan keluarga melalui berbagai pekerjaan, termasuk menjadi asisten rumah tangga. Sutradara Naya Anindita juga menyampaikan bahwa film tersebut ingin memperlihatkan perempuan dari berbagai latar yang bekerja untuk menopang kebutuhan keluarga.
Di sinilah film Agensi Rumah Tangga menjadi menarik. Pekerjaan domestik yang sering kali dianggap sebagai pekerjaan biasa justru menjadi pusat cerita. Rumah tangga tidak hanya dipandang sebagai ruang pribadi, tetapi juga sebagai ruang tempat perempuan bekerja, bernegosiasi, menghadapi tuntutan, dan berusaha mendapatkan penghasilan.
Dalam kehidupan sosial, pekerjaan rumah tangga sering kali tidak mendapatkan penghargaan yang sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Pekerjaan tersebut juga kerap dilekatkan dengan perempuan. Film ini memberikan ruang bagi para asisten rumah tangga untuk tampil sebagai manusia yang mempunyai karakter, persoalan, kebutuhan, dan perjuangan masing-masing. Dengan demikian, mereka tidak hanya menjadi pelengkap kehidupan keluarga majikan.
Konsep écriture féminine Cixous dapat digunakan untuk melihat hal tersebut sebagai persoalan representasi. Perempuan perlu mendapatkan ruang untuk menghadirkan dirinya sendiri, bukan hanya menjadi gambaran yang dibentuk dari sudut pandang orang lain. Dalam konteks film, “suara perempuan” tidak harus selalu dimaknai sebagai kegiatan menulis secara harfiah. Suara tersebut dapat hadir melalui dialog, tindakan, keputusan, pengalaman, serta keberanian tokoh perempuan untuk menunjukkan siapa dirinya.
Hal tersebut terlihat dari cara Katia menghadapi berbagai masalah dalam menjalankan agensinya. Ia bukan tokoh perempuan yang hanya digambarkan sebagai korban keadaan. PHK memang menjadi titik awal masalahnya, tetapi keadaan tersebut justru mendorongnya untuk mencari kemungkinan lain. Ia mencoba membangun sesuatu yang baru meskipun harus berhadapan dengan berbagai persoalan.
Menariknya, film ini tidak menyampaikan persoalan perempuan melalui drama yang sepenuhnya berat. Cerita dikemas dalam bentuk drama-komedi sehingga persoalan pekerjaan, keluarga, dan kehidupan para pekerja rumah tangga dapat dibicarakan dengan cara yang lebih ringan. Penulis skenario Upi Avianto juga menjelaskan bahwa film tersebut ingin menggambarkan perempuan yang tangguh tanpa menjadikannya cerita yang terlalu menguras air mata.
Pilihan tersebut membuat perjuangan perempuan dalam film terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Perempuan tidak selalu harus digambarkan sebagai tokoh yang mengalami penderitaan besar untuk menunjukkan ketidakadilan. Perjuangan juga dapat muncul dalam keputusan sederhana: memilih pekerjaan, mempertahankan usaha, menghadapi keluarga, memperjuangkan penghasilan, atau berani mengatakan bahwa pilihan hidupnya berbeda dari keinginan orang lain.
Jika dibaca melalui pemikiran Cixous, keberanian untuk berbicara dan menentukan pilihan menjadi bagian penting dari pembentukan subjektivitas perempuan. Perempuan tidak lagi hanya menjadi “yang dibicarakan”, tetapi menjadi pihak yang berbicara tentang dirinya sendiri. Katia memperlihatkan proses tersebut ketika ia berusaha membuktikan bahwa dirinya mampu menentukan pilihan hidupnya.
Namun, film ini juga menunjukkan bahwa kebebasan perempuan tidak selalu hadir dengan mudah. Pilihan Katia tetap berhadapan dengan persoalan ekonomi, keluarga, pekerjaan, dan hubungan dengan orang lain. Artinya, menjadi perempuan yang mandiri bukan berarti terbebas sepenuhnya dari masalah. Justru, kemandirian dapat berarti keberanian menghadapi masalah sambil tetap mempertahankan hak untuk menentukan pilihan.
Pada akhirnya, Agensi Rumah Tangga dapat dibaca bukan hanya sebagai film tentang bisnis penyaluran asisten rumah tangga, tetapi juga sebagai cerita mengenai perempuan yang berusaha mendapatkan ruang bagi dirinya sendiri. Melalui tokoh Katia dan para perempuan lainnya, film ini memperlihatkan bahwa perempuan mempunyai pengalaman yang beragam dan tidak dapat ditempatkan dalam satu gambaran yang sama.
Perspektif Hélène Cixous membantu melihat bahwa persoalan utama bukan sekadar apakah perempuan bekerja atau tidak bekerja, tetapi apakah perempuan mempunyai kesempatan untuk menjadi subjek atas kehidupannya sendiri. Perempuan memiliki suara, pengalaman, keinginan, dan pilihan yang layak didengar. Karena itu, perjuangan Katia dalam Agensi Rumah Tangga dapat dipahami sebagai gambaran tentang usaha perempuan untuk keluar dari batas-batas yang telah ditentukan dan menciptakan ruang bagi dirinya sendiri.
Dengan demikian, film ini memperlihatkan bahwa rumah tangga dan dunia kerja bukanlah ruang yang netral dari persoalan gender. Di dalamnya terdapat harapan, tuntutan, pembagian peran, dan relasi yang dapat memengaruhi kehidupan perempuan. Agensi Rumah Tangga kemudian menawarkan satu gambaran bahwa perempuan dapat mengambil peran yang lebih aktif dalam menentukan kehidupannya. Bukan karena perempuan harus membuktikan bahwa dirinya lebih kuat daripada laki-laki, melainkan karena perempuan juga berhak menjadi subjek yang memiliki suara atas dirinya sendiri.








